Archive for April, 2011

Suasana Baru

Saturday, April 30th, 2011

Mulai tanggal 1 besok akhirnya saya bisa keluar dari suasana asrama yang telah ditinggali sejak September 2007. Yeah, it was long long ago and what the heck I was doing all this time?!?!? *angry with myself. Tenang… tenang… saya keluar bukan karena di-DO atau karena melakukan pelanggaran macem-macem semacem pelecehan seksual atau ketahuan pakai narkoba. As I announced before that my stay in Taipei was still in question, therefore I decided to get suspension for this semester. Which means, in this semester I am officially off. And I have finished the business with the academic affairs since Tuesday. The tuition and the dormitory’s deposit will be refund in three weeks. Well, I can allocate it to pay the rent of my “new home”. O ya, karena untuk dapet status cuti itu maka saya harus keluar dari dorm.

Sepertinya memang saya perlu suasana baru juga. Terus terang walaupun suasana di asrama sangat pewe, tapi membosankan juga kalo ditempati selama 3 tahun 8 bulan. Selain bosan dengan tata letak lemari-lemari yang segede-gede gaban dan nggak bisa dipindah-pindah, saya juga nggak leluasa untuk masak. Untuk urusan masak memasak ini, boleh diadu kalo mau tau. Yah, paling saya yang kalah. Tapi nggak bisa dipungkiri kalo saya punya passion dalam bidang ini. Kalo di rumah, apalagi kalo Ibu lagi masak, saya biasanya sesekali ke dapur buat ‘mengganggu’. Entah buat icip-icip, atau sekedar ngaduk-ngaduk masakan. Nah, di tempat yang baru nanti saya bisa melampiaskan passion ini.

Selain kebebasan untuk memasak, di ‘rumah’ baru nanti saya bisa leluasa menggunakan bahasa Indonesia. Karena hampir semua penghuninya orang Indonesia, kecuali satu orang Filipina. Walopun beberapa orang bilang bahasa Inggris saya bagus, yang padahal sebenernya hancur, tapi tetep saya lebih plong kalo ngomong pake bahasa Indonesia. Nggak perlu mikir vocab dan grammar. Meski saya juga bukan orang yang talkative, setidaknya saya bisa ngobrol-ngobrol yang penting nggak penting, becanda-becanda, yang intinya sih silaturrahmi dan bersosialisasi. Di asrama saya jarang sekali ngomong dengan room mate. Dalam seminggu, jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Biasanya kalo mau minta tolong atau ada hal-hal yang dirasakan cukup penting buat diobrolin. Bukan karena sentimen dengan negara tetangga, tapi memang karena saya bukan orang yang mudah memulai percakapan.

Seperti yang saya bilang tadi bahwa sebenarnya suasana asrama sangat pewe. Air minum gratis, mesin cuci dan mesin pengering yang harganya cukup terjangkau, dan internet cepat, adalah hal-hal yang perlu diantisipasi setelah nanti keluar dari asrama. Dan manajemen keuangan tampaknya perlu dimodifikasi supaya bisa mencukupi buat kebutuhan harian.

Terserah

Tuesday, April 19th, 2011

Akhir-akhir ini saya baru nyadar kenapa dulu kalo Bapak nanya “mau makan ke mana sekarang?”, terus anak-anaknya pada bilang “terserah”, biasanya Bapak me-reply, “mana ada makanan namanya terserah” (nada jengkel). Yeah, now I know and more understand about his feeling. Kalo buat saya sendiri, jawaban “terserah” itu bukan karena nggak mau mikir atau nggak pengen sesuatu. Tapi lebih karena ngasih kesempatan buat yang lain, kalo memang lagi ingin makan sesuatu. Kalo kemudian saya mengatakan keinginan saya, maka saudara saya yang lain bakal dapet saingan. Masalahnya adalah, akhirnya semua bilang “terserah”. Mungkin yang lain juga berpikiran sama, dan siapa tahu Bapak udah punya ide atau keinginan sendiri mau milih makan ke mana. Buntut-buntutnya, Bapak ngasih pilihan dan kemudian dilakukan voting. Atau, ada satu yang usul (dengan nada sedikit terpaksa) dan yang lain mengikuti.

Suatu saat saya berada di posisi Bapak, mencoba menginisiasi sebuah diskusi dengan sebuah pertanyaan. Diharapkan dari pertanyaan tersebut, akan lahir beragam pendapat yang dari situ akan diformulasikan menjadi sebuah keputusan. Kadangkala pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan terbuka. Seperti pertanyaan Bapak. Contoh, “ada ide nggak buat ini-itu?” Ketika pertanyaan ini buntu dan hanya membuat keheningan, maka pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan pilihan. Misal, “kalo ini gimana? kalo itu gimana?” Pertanyaan ini memang bisa memancing pendapat, tapi bisa juga tetap nihil hasil kalo yang ditanya bilang, “terserah deh.”

Nggak ada yang salah sih dengan jawaban terserah. Sisi baiknya, diskusi berjalan lebih cepat karena nggak ada pihak-pihak yang bertentangan (kalo dilihat dari sisi luar, walopun isi hati siapa yang tahu?). Tapi ya itu… c’mon lah, masa ngasih pendapat aja nggak bisa. So, I learned from it. Jadi, untuk ke depannya mungkin saya akan mengurangi menjawab “terserah”.

Ngirit to The Max

Wednesday, April 13th, 2011

Dari dulu-dulu saya nggak pernah merhatiin bahwa diskon yang ada di 7-11 atau diskon waktu naik transportasi di Taipei ternyata kalo diperhitungkan bener-bener, maka kita bisa sedikit lebih untung. Nggak seberapa memang, kalo di 7-11 maksimal untungnya cuma 3 kali muter di jalanan yang dijagain ‘Pak Ogah’. Dan kalo menggunakan sistem transportasi yang sudah terintegrasi di sini, maka untungnya bisa 2 kali lipat dari itu. Berarti bisa 6 kali muter.

Di 7-11 yang ada di kampus, setiap pembelian dengan kelipatan 10 NT, maka kita akan dapet diskon 10%. Dengan pembulatan ke atas apabila digit terakhirnya di atas 5. Misal, total harganya 74 NT, maka kita dapet diskon 7 NT (74 NT dibulatkan jadi 70 NT kemudian dikali 10%). Tapi kalo total harganya 75 NT, maka kita dapet diskon 8 NT (75 NT dibulatkan jadi 80 NT kemudian dikali 10%). Jadi sebenernya harga total 74 NT dan 75 NT itu bayarnya sama-sama 68 NT. Jadi tips pertama untuk jajan di 7-11 yang ada di areal kampus, usahakan total harga barang yang dibeli memiliki angka 5 di belakangnya.

Kemudian, kita ingin beli 2 jenis barang. Yang satu harganya 25 NT, dan yang satu lagi 35 NT. Apakah sebaiknya kita bayar satu-satu, atau kita bayar semuanya langsung? Silakan pilih sendiri, saya hanya akan mencontohkan hitung-hitungannya. Apabila dibayar langsung, maka kita akan dapat diskon 6 NT ((25 + 35) * 10%). Jadi kita harus membayar 54 NT. Sedangkan apabila kita bayar satu per satu, maka total diskon yang kita dapat adalah 7 NT, dan kita hanya perlu membayar 53 NT. Nah, kalau kita ingin membeli 3 barang dengan harga 23 NT, 24 NT, dan 25 NT, bagaimanakah cara membayar yang paling menguntungkan? Kalo kita bayar satu per satu, maka total diskonnya adalah 7 NT. Kalo kita bayar langsung, total diskonnya sama-sama 7 NT. Tapi kalo kita bayar yang 23 NT dan 24 NT dulu, kemudian baru bayar yang 25 NT, maka total diskonnya adalah 8 NT (hitung sendiri ya). Tips yang kedua, jangan malas menghitung. :D

Beda lagi dengan penggunaan transportasi di Taipei ini. Dengan catatan, hal ini hanya bisa dilakukan dengan yoyo card (kartu dengan RF-ID yang digunakan sebagai alat pra-bayar). Sistem transportasi yang terintegrasi antara moda MRT dan moda bus ini memberikan fasilitas potongan harga apabila kita berpindah dari MRT ke bus, atau dari bus ke MRT, dalam rentang waktu tertentu (kalo tidak salah 1 jam). Jadi apabila kita berpergian naik MRT, kemudian harus pindah menggunakan bus, maka saat membayar bus kita hanya dikenakan separuh harga dari harga yang harus kita bayar di bus itu. Tentunya selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan. Begitu juga apabila di awal kita menggunakan bus, kemudian berpindah naik MRT, maka di MRT tersebut kita hanya dikenai separuh harga. Hal ini nggak berlaku apabila kita menggunakan moda transportasi yang sama. Misal, dari bus ke bus atau MRT ke MRT, tidak ada pemotongan harga di sana.

Kebetulan, dari kampus saya ke Carrefour dilalui oleh 2 moda transportasi ini. Dengan MRT, dalam sekali jalan saya perlu mengeluarkan 16 NT. Dan apabila menggunakan bus, maka saya harus mengeluarkan 12 NT. Pertanyaannya, cara manakah yang lebih menguntungkan untuk bolak-balik dari kampus ke Carrefour apabila saya belanja di Carrefour kurang dari 1 jam?

A. Berangkat dan pulang naik MRT.
B. Berangkat dan pulang naik bus.
C. Berangkat naik MRT, pulang naik bus.
D. Berangkat naik bus, pulang naik MRT.
E. Berangkat dan pulang naik sepeda, atau jalan kaki. (Kalo ini menghabiskan 100 NT karena habis itu kelaperan)

*Mungkin ini pertanyaan yang akan saya ajukan dalam mencari calon “Menteri Keuangan” pribadi. :P

Sekilas memang terkesan apa yang saya bahas ini remeh temeh. 1 NT yang hanya sekitar Rp 300 tidak perlu segitunya diperjuangkan untuk bolak-balik ke kasir buat bayar. Kecuali kalo emang mau ngegodain yang jaga kasir. Tapi maksud saya, nggak ada salahnya memulai kebiasaan baik dari hal-hal yang kecil. Efisiensi 1 NT memang saat ini tidak terasa, namun apabila suatu saat nanti transaksi yang kita lakukan itu satuannya berubah menjadi ribuan, atau jutaan, it means a lot.

A(nother) Project

Sunday, April 10th, 2011

A few weeks ago, I just said yes to put myself into another challenging challenge. It is not about thesis, nor about the survival things that I faced lately. It is about realizing what I wanted to do for so long. The dream that almost buried. But for now on, I can’t say what it is. I will tell when the time has come. Just let says that I am in the middle of a project, and I was trusted to get it done. Besides this project is getting along with my desire, I accepted it because this won’t take my time as much as my previous “job”s. So yeah, I’ve considered all the risks. Moreover, in this project I have privilege to pick whoever up to cooperate with. What I can say is that I am so thankful for this opportunity, I can build my dream team to make my dream come true. It’s like how the Team Dragon (from Team Medical Dragon dorama movie) was built. Put the right person into the right place. A perfection.

Honestly, I do not have enough experience and comprehensive knowledge about the project. I will just count on my intuition and willingness to learn something new. Well, I can’t wait to see what my team can make.