The Beginning is Half of The Whole

Thursday, March 31st 2011

Kalimat ini baru saya dengar sewaktu mengikuti workshop kecil di kampus tentang bagaimana cara menulis introduction yang baik untuk sebuah paper atau proposal. Menurut sang pembicara saat itu, kata-kata ini berasal dari seorang filsuf Yunani yang terkenal dengan teori matematikanya tentang segitiga, Pythagoras. Menurut sumber yang lain, Pythagoras tidak mengatakannya persis demikian. Melainkan dia berkata, “The beginning is half of everything.” Intinya sih sama saja, permulaan adalah setengah dari semuanya, dari garis finish yang ingin kita tempuh. Dan karena yang mengatakan ini adalah seorang filsuf dan juga seorang matematikawan, rasanya sulit buat mengelak atau menyangkal pernyataan dia. Sebaliknya, yang saya rasakan dalam beberapa hari belakangan ini malah sangat sejalan. Dengan sisi yang agak sedikit berbeda, saya punya pandangan tersendiri tentang hal ini.

Dalam sebuah proses mencapai suatu tujuan, setelah melalui jalinan perenungan dan pemikiran panjang, saya merasa ada dua tembok besar yang siap menghadang kita. Tembok yang pertama adalah langkah awal, dan tembok kedua adalah pertengahan jalan. Salah satu contoh, hal ini sering saya rasakan di atas treadmill. Ketika tombol start sudah ditekan, maka mesin akan terus menyala sampai instruksi yang sudah disetel tadi selesai dieksekusi. Mau nggak mau menuntut kaki untuk terus berlari sampai treadmill itu berhenti. Tombol stop memang tersedia dan bisa ditekan sewaktu-waktu, namun saya menganggapnya sebagai “the button for the loser” yang kalau ditekan sebelum mesin berhenti maka saya akan mengecap diri saya sebagai pecundang.

Atau misalkan seorang petinju. Maka ketika ia sudah masuk ke dalam ring tinju, tidak ada pilihan lain selain bertanding. Begitu juga seorang pembalap yang telah memasuki lintasan balap, kesebelasan yang telah memasuki lapangan pertandingan, atau matador yang telah memasuki arena, tidak ada pilihan selain menuntaskan pertandingan dan permainan hingga usai jika tidak ingin disebut pecundang. Kita bisa mencontoh Rafael Nadal tentang bagaimana menjadi juara sesungguhnya. Nadal lebih memilih tetap bertanding hingga akhir walau terpincang-pincang dan tidak mungkin menang sewaktu menghadapi Andy Murray di sebuah pertandingan final di Belanda, daripada harus menyatakan menyerah kalah pada wasit. Padahal menyerah karena cedera adalah suatu hal yang bisa dimaklumi. Maka dalam hal ini, the winner is not always about who wins the game, melainkan tentang siapa yang bisa bertahan hingga akhir dan telah memberikan yang terbaik.

Keadaan-keadaan di atas sesungguhnya belum benar-benar membuat pemainnya tidak punya pilihan, karena pintu keluar selalu terbuka. Tapi karena contoh-contoh di atas adalah olahragawan yang punya jiwa sportivitas tinggi dan keinginan untuk menang, maka jarang ditemui yang memilih menyerah sebelum bertanding. Cerita heroik Tariq bin Ziyad mungkin merupakan cerita yang bisa menginspirasi kita tentang bagaimana caranya mengeluarkan semua kekuatan terpendam untuk memenangkan sebuah peperangan. Tariq bin Ziyad benar-benar menghilangkan pilihan untuk menyerah dengan membakar habis kapalnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar yang bisa ditempuh apabila mengalami kekalahan. Tidak ada pilihan selain hidup dan berjuang, atau mati fi sabilillah.

Kok, jadi agak ngelantur ya. Jadi pada intinya, ketika kita punya keinginan, cita-cita, atau tujuan yang sangat-sangat besar, maka segeralah lakukan langkah awal. Segera masuki ring tinju, lintasan balap, lapangan bola, dan arena pertandingan. Segera basah dan lanjutkan pesan dari Meggy Z dalam lagu ‘Terlanjur Basah’. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Selain itu, dengan segera memasuki arena bertanding, kita bisa melihat garis finish yang akan kita capai. Dengan begitu kita tahu berapa jarak yang diperlukan dari titik start hingga finish, sehingga kita bisa mengira-ngira tenaga yang kita perlukan. Susun strategi kapan dan di mana harus berlari kencang, kapan mengambil nafas, kapan harus melihat ke belakang melihat sejauh mana kompetitor kita mengejar.

Mengapa saya share tentang hal ini? Karena saya baru saja mencemplungkan diri dalam kolam cita-cita yang pernah terucap sebagai resolusi di awal tahun ini. Well, still a lot more to do. But, according to what Pythagoras said, I just need to do another half of it. :)