So Far So Good, Even Though Not So Smooth

Sunday, March 27th 2011

Lately my blog seems really boring, isn’t it? No more photos and videos. Well, right now I kinda feel like what Mr.Anang says in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite long time. We always shared our journeys and stories. But then, it had to go to its new Master in the name of sacrifice.

Hampir 3 bulan sejak saya mencoba menantang diri sendiri. Sampai saat ini hasilnya bisa dibilang cukup berhasil, walau nggak semulus yang dibayangin. Di bulan Januari lalu saya memutuskan untuk berhenti menerima uang saku dari ortu buat membiayai biaya hidup selama di Taiwan. Padahal waktu itu kondisi keuangan saya cukup kritis. Setelah dikurangi untuk membayar SPP di semester yang baru, sisa uang yang saya pegang kira-kira hanya cukup untuk 1-2 bulan. Hasil perhitungan saya, dengan menggunakan rata-rata pengeluaran rutin yang biasa saya keluarkan per bulan, maka uang itu cuma cukup sampai akhir Februari atau awal Maret. Buat mengatasi hal itu tentunya saya sudah menyiapkan rencana. Plan A-nya mencari part-time job, sedangkan plan cadangannya adalah dengan merelakan kamera kesayangan.

Plan A ternyata tidak berjalan mulus. Kebanyakan part-time job di Taipei memerlukan penguasaan bahasa Mandarin yang lancar. Pernah sih suatu saat saya nemuin restoran yang nggak terlalu mentingin bahasa Mandarin, tapi memang kalo bisa ya lebih baik. Restoran itu salah satu restoran halal yang ada di Taipei. Lokasinya juga nggak jauh dari kampus, sekitar 10 menitan naik sepeda. Sayangnya, kalah cepat. Waktu nanya ke owner-nya, dia bilang baru aja dia dapat pegawai baru. Padahal saya udah ngebayangin bisa dapet fasilitas makan gratis kalo jadi pegawai di sana, dan gajinya bisa buat saving. Rata-rata part time job di resto Taipei sekitar 95元/jam (1元 = +/- Rp 300), dan biasanya per shift-nya sekitar 4-5 jam per hari. MOS Burger atau McD deket kampus biasanya sering buka tuh. Tapi ya itu tadi, kendala di bahasa. Tapi saya nggak begitu khawatir karena plan A ini memang coba-coba. Kalo dapet syukur, kalo nggak ya juga nggak apa-apa.

Secara plan A nggak berjalan lancar, plan B terpaksa dieksekusi. Plan B ini sebenarnya memang rencana utama, karena saya yakin kemungkinan keberhasilannya akan cukup besar. Jadi kamera Nikon D90 yang dipingit 2 tahun yang lalu di toko kamera di dekat MRT Zhishan, mau nggak mau harus dipindahtangan alias dijual. Saya buka 2 jalur penjualan yang memang jamak dipakai buat ajang jual-beli kamera secara online yaitu, forum kaskus.us dan juga bursa.fotografer.net. Di bursa.fotografer kita nggak bisa bikin lapak jualan sebelum poin kita di fotografer.net sampai angka 300. Jadi di bulan Januari kemarin saya rajin ngasih komen di sana dan upload beberapa foto yang kira-kira bisa naikin poin lebih cepat. Perbandingan kedua jalur tersebut, respon dari kaskus di awal-awal sangat bagus. Banyak yang langsung nawar baik lewat japri atau posting di threadnya. Sedangkan dari bursa, responnya kurang cepat dan nggak banyak.

Untuk transaksinya saya nawarin 2 metode pembayaran, COD (Cash on Delivery) atau transfer rekening (barang dianter lewat jasa pengiriman). Untuk transfer rekening ini, di kaskus bisa menggunakan metode Rekber (rekening bersama). Hingga suatu saat di awal bulan Februari, habis bernegosiasi dengan beberapa orang, akhirnya tercapai juga deal dengan seorang pembeli potensial. Namun bukan berarti urusan selesai sampai di situ. Masalahnya adalah, barang jualan masih ada di Taiwan sedangkan transaksinya di Indonesia. Jadi mau nggak mau saya ngasih catatan di thread-nya bahwa barang baru bisa dianter pertengahan bulan Februari, setelah barangnya saya titipin ke teman yang mau balik ke Jakarta. Hingga sampai hampir saatnya tiba, ternyata teman saya nggak jadi balik ke Jakarta. O yeah…

Saya minta maaf ke calon pembeli itu lewat email bahwa barangnya belom bisa dikirim dan sekalian tanya apakah masih berminat atau nggak dengan kamera saya. Saya kasih batas waktu kalo memang masih berminat, tapi kalo nggak ya nggak apa-apa juga. Sampai batas waktunya lewat, email saya nggak dibalas, jadi saya anggap deal yang dulu disepakati sudah nggak berlaku lagi. Rencana sedikit saya ubah, 2 jalur penjualan saya tutup sementara dan memastikan dulu supaya barangnya sampai di Indonesia. Setelah mencari beberapa alternatif kemungkinan menggunakan jasa pengiriman barang yang semurah mungkin, akhirnya ada teman lain yang bisa dititipi. Lebih tepatnya, temannya teman yang adalah pilot di maskapai penerbangan berinisial CI. Tapi yang membuat sedikit gelisah adalah waktu pengirimannya yang melewati perkiraan waktu habisnya uang saku. Suka nggak suka, di bulan Maret saya harus me-manage pengeluaran supaya lebih efisien lagi.

Dunia dagang nggak seperti ilmu pasti. Bisa diprediksi, tapi tetap didominasi dengan ketidakpastian di sana. Sulit memprediksi kapan bertemunya penawaran dan permintaan. So, I prepared for the worst case. Katakanlah kamera itu akan laku di minggu akhir bulan Maret. Dengan sisa uang sekitar 3000-an di awal bulan Maret, berarti maksimal pengeluaran per hari tidak boleh lebih 100元. Sebagai gambaran untuk sekali makan dengan menu gizi seimbang di dalam kampus rata-rata diperlukan 50-70元, sedangkan kalo makan di luar memerlukan sekitar 80-100元. Strategi saya ada kembali bersahabat dengan mie instan dan makanan kaleng, 2 hal yang sebenarnya saya hindari. Tapi nggak terlalu sering juga. Untuk mie instan (50元 dapet 6) misalnya, dikonsumsi sekali dalam 5 hari. Sedangkan untuk mackarel (32元/kaleng di toserba kampus, 39元/kaleng di Welcome), 2 kaleng per minggu yang mana 1 kalengnya bisa untuk 2 kali makan. Sedangkan margin kelebihannya bisa digunakan untuk membeli buah atau cemilan.

Kembali lagi ke masalah kamera. Di sepertiga bulan Maret, akhirnya si kamera tiba di Indonesia. Dan saya harus melibatkan ibu saya (sorry Mom) dan beberapa orang untuk menjemput kamera itu ke rumah. I hate to bother anyone, but I needed someone who really can be trusted, and who else besides your family? Setelah kamera sudah dipastikan sampai di rumah, lapak jualan kembali saya buka. Tapi kali ini cuma yang di kaskus aja yang saya buka karena dari pengalaman sebelumnya permintaan di lapak bursa tidak begitu signifikan. Sehari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, lapak jualan sepi peminat. Jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, itu pun kayaknya nggak ada yang serius nawarnya. Harga yang ditawar masih terlalu rendah. Keadaan semakin meresahkan seiring menipisnya isi dompet. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa mendapatkan uang buat survive di bulan berikutnya bila the worst of the worst will happen, i.e. kameranya nggak laku.

Di hari ke-5 akhirnya saya buka lagi lapak baru di bursa. Bedanya dengan lapak sebelumnya, saya tambahkan kontak email di sana. Saya nggak terlalu berharap banyak. Paling responnya mirip seperti sebelum-sebelumnya. But such the love that moves in mysterious way, so does the life. When God put interventions in our life, impossible is nothing. Dalam 2 hari setelah lapak dibuka, masalah berikutnya muncul. Saya bingung menentukan kepada siapa kamera saya akan dijual karena email saya cukup kebanjiran peminat. Sempat dilema juga karena terkadang saya bingung apakah posisi penjual yang lebih kuat, atau pembeli yang lebih kuat. Sebagai penjual tentu saya menginginkan harga jual setinggi mungkin, berkebalikan dengan si pembeli. Di sini saya beranggapan posisi saya cukup kuat karena si pembeli menginginkan barang yang saya jual. Di sisi lain, dengan menetapkan harga tinggi maka para pembeli akan kabur. Menunjukkan titik lemah sebagai penjual.

Pelajaran yang saya dapat dari proses tersebut rasanya cukup berharga. Contoh kasusnya begini, saya menetapkan harga jual 1000 dan dari awal saya menyatakan membuka negosiasi. Jadi harga yang sebenarnya saya inginkan katakanlah 900. Suatu saat datanglah penawar pertama, yang pada akhirnya dia setuju dengan harga nett 900 yang saya tawarkan. Kemudian datang lagi penawar kedua. Karena dia tidak tahu kalo barang saya sudah di-take si penawar pertama, maka kita bilang ke penawar kedua kalo harga nett-nya adalah 950. Toh kalo penawar kedua ini menyerah, kita masih punya cadangan si penawar pertama. Namun kalo si penawar kedua ini setuju, kita bisa mengorbankan si penawar pertama. Begitu seterusnya hingga waktu yang kita tentukan. Dengan begitu kita bisa menjual dengan harga yang mendekati 1000. Dengan cara ini, keuntungan yang saya dapatkan bisa maksimal. Cara lainnya adalah, kita langsung menyatakan deal ketika harga nett sudah disetujui pembeli. Tapi dengan cara ini, maka keuntungannya sangat minimal. So, what is the lesson?

Apa yang salah dari cara yang pertama? Saya nggak mau menghakimi apakah ini salah atau benar, baik atau buruk. Cuma yang saya rasakan apabila saya melakukan cara yang pertama, kelihatan sekali sisi ketamakan sebagai seorang manusia. Selalu ingin lebih dan lebih. Dan terlebih lagi, tidak ada kejujuran di sana. Well, orang-orang itu juga sebenarnya kan nggak tahu berapa harga yang sebenarnya kita inginkan. Lagipula di dunia maya ini semua bisa disamarkan. Pakai saja account fiktif untuk melakukan penjualan. Jadi kesempatan melakukan kebohongan itu sebenarnya terbuka lebar. Tapi siapa yang bisa menutup mata Yang Maha Melihat? Kepada si penawar pertama kita bilang A, kepada si penawar kedua kita bilang B. Yang ada malaikat Atid jadi rajin nulis di kitab keburukan kita. Dan terus terang, saya punya pikiran untuk melakukan cara ini walaupun akhirnya saya melakukan cara yang kedua. Saya pikir kalau saya sudah cukup dengan sejumlah tertentu, buat apa punya lebih?

Berikutnya, lagi-lagi saya harus merepotkan pihak keluarga untuk masalah transaksinya. Kali ini saya melibatkan my big brother buat membawa barangnya ke pihak pembeli dan bertransaksi. Thanks to him. Hmmm… somehow I feel so naive. I want to learn being independent, however I am still bothering the people around me. Alhamdulillah transaksi berjalan lancar dan pembeli cukup puas. Terlihat dari SMS-nya dalam merespon pesan singkat yang saya kirimkan yang menanyakan tentang kondisi kamera itu.

Selanjutnya adalah bagaimana mengirimkan uang itu supaya bisa sampai ke Taiwan. Beberapa alternatif saya pertimbangkan. Apakah melalui pengiriman kilat, atau melalui transfer rekening yang dulu pernah dilakukan ortu saya. Tapi kedua opsi ini bisa dibilang sama sekali nggak menguntungkan karena biaya pengiriman dan tukaran kurs yang rendah. Bisa-bisa uang yang sampai di tangan nantinya jauh berkurang dari hasil penjualan kamera. Padahal jumlah itu sudah dipas-pasin paling nggak sampai saya balik ke Indonesia. Kalau dulu mungkin lebih menguntungkan menukar USD ke TWD di Taiwan. Sayangnya sekarang nilai USD lagi jeblok-jebloknya di Taiwan. Apalagi ditambah kalo dari USD ke TWD, kita melakukan dua kali penjualan (IDR ke USD kemudian USD ke TWD) yang menyebabkan semakin turunnya nilai uang kita. Sedangkan Rupiah walaupun lebih nggak tentu naik-turunnya, tapi kalo dihitung-hitung masih lebih menguntungkan menukar langsung dari IDR ke TWD di Taiwan.

Suatu hari saya teringat ada teman yang bekerja di sini yang sering mengirimkan uang untuk anaknya di Indonesia. Jadilah saya agen pengiriman uang dadakan. Saya menawarkan jasa pengiriman uang ke rekeningnya di Indonesia dengan nilai tambah yaitu, tanpa biaya pengiriman dan nilai tukar yang kompetitif. Nggak pake basa-basi lagi, dia langsung setuju dengan tawaran saya. Beberapa hari kemudian uang dalam jumlah yang telah disetujui langsung diberikan ke saya. Dan terakhir, sekali lagi saya harus meminta tolong kepada big brother buat mengirimkan uang hasil jual kamera itu ke rekening teman saya. Thanks to him again. And yes, at last if everything goes fine, at least I can survive until my way back into a place called home.

All in all, despite there were obstacles that I have faced and many more that I will face, I think that I’ve just found new excitement in life. :)