In Between Difficult Choices

Sunday, March 20th 2011

Hopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between two girls who are extremely good looking that can melt every heart of men, shaliha, clever and diligent, rich and generous, very down-hearted person, or in other words, both of them are almost perfect. But (I know you don’t like this word), one of them can not give you descendant. And another one, she can give you a child but she only has a year to live because she is suffering a deadly disease which there is no possible way to heal. Even if you did istikhara for many times, I believe you are still confuse to decide.

Gladly, the problem that I am facing right now is not as difficult as that, yet not easy to decide. As you know (or may don’t know), recently my daily life were always full of thinking about the you-know-what. I’ve tried to speed up to catch the deadline because I have to collect the abstract proposal in the beginning of May. (Indonesian mode : ON; takut kalo2 suatu saat dibaca sama lab mate atau bahkan sama si Prof). Mungkin perlu saya beritahu dulu topik dari thesis saya. Jadi ceritanya si Prof lagi tertarik membuat CMOS sensor. Para pecinta fotografi mungkin tau apa itu CMOS sensor. Sekilas saja, kamera digital saat ini didominasi oleh 2 teknologi sensor, CCD dan CMOS. Hal ini bisa diperhatikan pada data spesifikasi kamera di bagian jenis sensor. CCD adalah teknologi sensor yang lebih dulu ada, sedangkan CMOS baru muncul di awal-awal 1990-an. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, dan karena itulah keduanya masih dipakai sampai sekarang.

Nah, karena dulu saya datang ke Taiwan tanpa persiapan apa2, maksudnya saya tidak punya proposal research yang bisa ditawarkan kepada Prof, maka saya menyerahkan keputusan mengenai topik thesis ini kepada beliau. Awalnya dia ingin membuat sesuatu dengan OLED (Organic LED), namun karena topik itu bukan spesialisasinya dan saat itu saya juga mentok, maka akhirnya topik thesis saya berubah. Saya diminta membuat desain CMOS sensor. Terus terang saya bengong dong dikasih topik susah begitu, tapi saya nggak mau menolak karena topik ini juga cukup menarik buat saya. Singkat cerita, saya belajar sedikit demi sedikit tentang topik ini. Yang kebayang, kerjaan saya akan selesai hingga tahap simulasi. Tapi ternyata, lab meeting terakhir hari Rabu kemarin merubah bayangan saya selama ini…

Rabu kemarin saya dapat jatah presentasi progress. Lupa tepatnya, apakah di tengah-tengah atau di akhir presentasi saya, si Prof berdikusi dengan lab mate yang lain dalam bahasa yang nggak saya mengerti. Di akhir obrolannya itu, dia bilang ke saya yang pada intinya dia mau membuat proto-type dari desain yang lagi saya kerjain. Dan dia nggak peduli berapapun uang yang perlu dikeluarkan untuk membuat sensor yang terbaik. Kaget, senang, bingung, sedih, campur baur. Perasaannya nggak bisa diungkapkan dengan kata2.

Banyak hal yang bikin saya senang, dan ada juga yang mengganjal apabila saya mengiyakan permintaan si Prof. Mungkin sedihnya dulu kali ya. Dengan meneruskan topik ini hingga tahap pembuatan proto-type atau fabrikasi artinya, saya hampir nggak mungkin lulus di semester ini. Karena sekarang saja saya baru mempelajari software simulasinya, dan desainnya sendiri belum jadi. Estimasi saya, desain dan simulasi ini baru akan selesai di bulan Juni. Jadi di bulan Juli bisa fokus pada penulisan dan persiapan sidang. Berarti kan kalau sampai fabrikasi, butuh waktu lagi. Dan tingkat kerumitannya juga bertambah berkali-kali lipat. Tau sendiri kan kalo elektronik itu sering banyak “hantu”-nya. Maksudnya, pasti selalu saja ada faktor-X yang membuat si devais bekerja sedikit menyimpang dari yang diharapkan. Intinya, paling nggak harus nambah 2-3 bulan lagi untuk menyelesaikan masa fabrikasinya.

Lalu benefitnya di mana? Hmmm… saya ngerasa dapet kepercayaan yang luar biasa dari si Prof. Kepercayaan buat meng-handle sebuah kerjaan yang akan memakan biaya yang nggak sedikit, padahal masih tingkat master. Kesempatan yang mungkin hanya akan saya rasakan sekali seumur hidup untuk bisa mendesain sesuatu dari nothing menjadi something. Pengalaman yang didapat juga pasti akan berlipat-lipat daripada hanya melakukan simulasi di depan komputer. Tantangannya memang tinggi, tapi sebanding dengan hasil yang didapat nantinya. Selain itu, paling tidak hal ini bisa menghapus kekhawatiran saya di meja sidang. Saya agak trauma dengan skripsi saya yang juga berupa simulasi. Saat itu salah satu dosen penguji mengkritik saya yang cuma bisa menggunakan software tanpa memahami teori yang ada dibaliknya. Simulasi belum bisa menjamin bahwa desain kita baik. Jadi jika memang nanti berhasil diproduksi, ada kepuasan batin yang terpenuhi. Ah, pasti luar biasa.

Dilemanya adalah, saya takut mengecewakan ortu lagi dengan menunda-nunda kelulusan. Di sisi lain, saya juga nggak mau menyia2kan kepercayaan dari si Prof.