Archive for March, 2011

The Beginning is Half of The Whole

Thursday, March 31st, 2011

Kalimat ini baru saya dengar sewaktu mengikuti workshop kecil di kampus tentang bagaimana cara menulis introduction yang baik untuk sebuah paper atau proposal. Menurut sang pembicara saat itu, kata-kata ini berasal dari seorang filsuf Yunani yang terkenal dengan teori matematikanya tentang segitiga, Pythagoras. Menurut sumber yang lain, Pythagoras tidak mengatakannya persis demikian. Melainkan dia berkata, “The beginning is half of everything.” Intinya sih sama saja, permulaan adalah setengah dari semuanya, dari garis finish yang ingin kita tempuh. Dan karena yang mengatakan ini adalah seorang filsuf dan juga seorang matematikawan, rasanya sulit buat mengelak atau menyangkal pernyataan dia. Sebaliknya, yang saya rasakan dalam beberapa hari belakangan ini malah sangat sejalan. Dengan sisi yang agak sedikit berbeda, saya punya pandangan tersendiri tentang hal ini.

Dalam sebuah proses mencapai suatu tujuan, setelah melalui jalinan perenungan dan pemikiran panjang, saya merasa ada dua tembok besar yang siap menghadang kita. Tembok yang pertama adalah langkah awal, dan tembok kedua adalah pertengahan jalan. Salah satu contoh, hal ini sering saya rasakan di atas treadmill. Ketika tombol start sudah ditekan, maka mesin akan terus menyala sampai instruksi yang sudah disetel tadi selesai dieksekusi. Mau nggak mau menuntut kaki untuk terus berlari sampai treadmill itu berhenti. Tombol stop memang tersedia dan bisa ditekan sewaktu-waktu, namun saya menganggapnya sebagai “the button for the loser” yang kalau ditekan sebelum mesin berhenti maka saya akan mengecap diri saya sebagai pecundang.

Atau misalkan seorang petinju. Maka ketika ia sudah masuk ke dalam ring tinju, tidak ada pilihan lain selain bertanding. Begitu juga seorang pembalap yang telah memasuki lintasan balap, kesebelasan yang telah memasuki lapangan pertandingan, atau matador yang telah memasuki arena, tidak ada pilihan selain menuntaskan pertandingan dan permainan hingga usai jika tidak ingin disebut pecundang. Kita bisa mencontoh Rafael Nadal tentang bagaimana menjadi juara sesungguhnya. Nadal lebih memilih tetap bertanding hingga akhir walau terpincang-pincang dan tidak mungkin menang sewaktu menghadapi Andy Murray di sebuah pertandingan final di Belanda, daripada harus menyatakan menyerah kalah pada wasit. Padahal menyerah karena cedera adalah suatu hal yang bisa dimaklumi. Maka dalam hal ini, the winner is not always about who wins the game, melainkan tentang siapa yang bisa bertahan hingga akhir dan telah memberikan yang terbaik.

Keadaan-keadaan di atas sesungguhnya belum benar-benar membuat pemainnya tidak punya pilihan, karena pintu keluar selalu terbuka. Tapi karena contoh-contoh di atas adalah olahragawan yang punya jiwa sportivitas tinggi dan keinginan untuk menang, maka jarang ditemui yang memilih menyerah sebelum bertanding. Cerita heroik Tariq bin Ziyad mungkin merupakan cerita yang bisa menginspirasi kita tentang bagaimana caranya mengeluarkan semua kekuatan terpendam untuk memenangkan sebuah peperangan. Tariq bin Ziyad benar-benar menghilangkan pilihan untuk menyerah dengan membakar habis kapalnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar yang bisa ditempuh apabila mengalami kekalahan. Tidak ada pilihan selain hidup dan berjuang, atau mati fi sabilillah.

Kok, jadi agak ngelantur ya. Jadi pada intinya, ketika kita punya keinginan, cita-cita, atau tujuan yang sangat-sangat besar, maka segeralah lakukan langkah awal. Segera masuki ring tinju, lintasan balap, lapangan bola, dan arena pertandingan. Segera basah dan lanjutkan pesan dari Meggy Z dalam lagu ‘Terlanjur Basah’. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Selain itu, dengan segera memasuki arena bertanding, kita bisa melihat garis finish yang akan kita capai. Dengan begitu kita tahu berapa jarak yang diperlukan dari titik start hingga finish, sehingga kita bisa mengira-ngira tenaga yang kita perlukan. Susun strategi kapan dan di mana harus berlari kencang, kapan mengambil nafas, kapan harus melihat ke belakang melihat sejauh mana kompetitor kita mengejar.

Mengapa saya share tentang hal ini? Karena saya baru saja mencemplungkan diri dalam kolam cita-cita yang pernah terucap sebagai resolusi di awal tahun ini. Well, still a lot more to do. But, according to what Pythagoras said, I just need to do another half of it. :)

Prof, are you sure you want me to do this during weekend?

Sunday, March 27th, 2011

So Far So Good, Even Though Not So Smooth

Sunday, March 27th, 2011

Lately my blog seems really boring, isn’t it? No more photos and videos. Well, right now I kinda feel like what Mr.Anang says in his song which is titled “Separuh Jiwaku Pergi.” Not so that a part of my soul, actually. But yeah, I feel incomplete. I’m missing something that belong together for such quite long time. We always shared our journeys and stories. But then, it had to go to its new Master in the name of sacrifice.

Hampir 3 bulan sejak saya mencoba menantang diri sendiri. Sampai saat ini hasilnya bisa dibilang cukup berhasil, walau nggak semulus yang dibayangin. Di bulan Januari lalu saya memutuskan untuk berhenti menerima uang saku dari ortu buat membiayai biaya hidup selama di Taiwan. Padahal waktu itu kondisi keuangan saya cukup kritis. Setelah dikurangi untuk membayar SPP di semester yang baru, sisa uang yang saya pegang kira-kira hanya cukup untuk 1-2 bulan. Hasil perhitungan saya, dengan menggunakan rata-rata pengeluaran rutin yang biasa saya keluarkan per bulan, maka uang itu cuma cukup sampai akhir Februari atau awal Maret. Buat mengatasi hal itu tentunya saya sudah menyiapkan rencana. Plan A-nya mencari part-time job, sedangkan plan cadangannya adalah dengan merelakan kamera kesayangan.

Plan A ternyata tidak berjalan mulus. Kebanyakan part-time job di Taipei memerlukan penguasaan bahasa Mandarin yang lancar. Pernah sih suatu saat saya nemuin restoran yang nggak terlalu mentingin bahasa Mandarin, tapi memang kalo bisa ya lebih baik. Restoran itu salah satu restoran halal yang ada di Taipei. Lokasinya juga nggak jauh dari kampus, sekitar 10 menitan naik sepeda. Sayangnya, kalah cepat. Waktu nanya ke owner-nya, dia bilang baru aja dia dapat pegawai baru. Padahal saya udah ngebayangin bisa dapet fasilitas makan gratis kalo jadi pegawai di sana, dan gajinya bisa buat saving. Rata-rata part time job di resto Taipei sekitar 95元/jam (1元 = +/- Rp 300), dan biasanya per shift-nya sekitar 4-5 jam per hari. MOS Burger atau McD deket kampus biasanya sering buka tuh. Tapi ya itu tadi, kendala di bahasa. Tapi saya nggak begitu khawatir karena plan A ini memang coba-coba. Kalo dapet syukur, kalo nggak ya juga nggak apa-apa.

Secara plan A nggak berjalan lancar, plan B terpaksa dieksekusi. Plan B ini sebenarnya memang rencana utama, karena saya yakin kemungkinan keberhasilannya akan cukup besar. Jadi kamera Nikon D90 yang dipingit 2 tahun yang lalu di toko kamera di dekat MRT Zhishan, mau nggak mau harus dipindahtangan alias dijual. Saya buka 2 jalur penjualan yang memang jamak dipakai buat ajang jual-beli kamera secara online yaitu, forum kaskus.us dan juga bursa.fotografer.net. Di bursa.fotografer kita nggak bisa bikin lapak jualan sebelum poin kita di fotografer.net sampai angka 300. Jadi di bulan Januari kemarin saya rajin ngasih komen di sana dan upload beberapa foto yang kira-kira bisa naikin poin lebih cepat. Perbandingan kedua jalur tersebut, respon dari kaskus di awal-awal sangat bagus. Banyak yang langsung nawar baik lewat japri atau posting di threadnya. Sedangkan dari bursa, responnya kurang cepat dan nggak banyak.

Untuk transaksinya saya nawarin 2 metode pembayaran, COD (Cash on Delivery) atau transfer rekening (barang dianter lewat jasa pengiriman). Untuk transfer rekening ini, di kaskus bisa menggunakan metode Rekber (rekening bersama). Hingga suatu saat di awal bulan Februari, habis bernegosiasi dengan beberapa orang, akhirnya tercapai juga deal dengan seorang pembeli potensial. Namun bukan berarti urusan selesai sampai di situ. Masalahnya adalah, barang jualan masih ada di Taiwan sedangkan transaksinya di Indonesia. Jadi mau nggak mau saya ngasih catatan di thread-nya bahwa barang baru bisa dianter pertengahan bulan Februari, setelah barangnya saya titipin ke teman yang mau balik ke Jakarta. Hingga sampai hampir saatnya tiba, ternyata teman saya nggak jadi balik ke Jakarta. O yeah…

Saya minta maaf ke calon pembeli itu lewat email bahwa barangnya belom bisa dikirim dan sekalian tanya apakah masih berminat atau nggak dengan kamera saya. Saya kasih batas waktu kalo memang masih berminat, tapi kalo nggak ya nggak apa-apa juga. Sampai batas waktunya lewat, email saya nggak dibalas, jadi saya anggap deal yang dulu disepakati sudah nggak berlaku lagi. Rencana sedikit saya ubah, 2 jalur penjualan saya tutup sementara dan memastikan dulu supaya barangnya sampai di Indonesia. Setelah mencari beberapa alternatif kemungkinan menggunakan jasa pengiriman barang yang semurah mungkin, akhirnya ada teman lain yang bisa dititipi. Lebih tepatnya, temannya teman yang adalah pilot di maskapai penerbangan berinisial CI. Tapi yang membuat sedikit gelisah adalah waktu pengirimannya yang melewati perkiraan waktu habisnya uang saku. Suka nggak suka, di bulan Maret saya harus me-manage pengeluaran supaya lebih efisien lagi.

Dunia dagang nggak seperti ilmu pasti. Bisa diprediksi, tapi tetap didominasi dengan ketidakpastian di sana. Sulit memprediksi kapan bertemunya penawaran dan permintaan. So, I prepared for the worst case. Katakanlah kamera itu akan laku di minggu akhir bulan Maret. Dengan sisa uang sekitar 3000-an di awal bulan Maret, berarti maksimal pengeluaran per hari tidak boleh lebih 100元. Sebagai gambaran untuk sekali makan dengan menu gizi seimbang di dalam kampus rata-rata diperlukan 50-70元, sedangkan kalo makan di luar memerlukan sekitar 80-100元. Strategi saya ada kembali bersahabat dengan mie instan dan makanan kaleng, 2 hal yang sebenarnya saya hindari. Tapi nggak terlalu sering juga. Untuk mie instan (50元 dapet 6) misalnya, dikonsumsi sekali dalam 5 hari. Sedangkan untuk mackarel (32元/kaleng di toserba kampus, 39元/kaleng di Welcome), 2 kaleng per minggu yang mana 1 kalengnya bisa untuk 2 kali makan. Sedangkan margin kelebihannya bisa digunakan untuk membeli buah atau cemilan.

Kembali lagi ke masalah kamera. Di sepertiga bulan Maret, akhirnya si kamera tiba di Indonesia. Dan saya harus melibatkan ibu saya (sorry Mom) dan beberapa orang untuk menjemput kamera itu ke rumah. I hate to bother anyone, but I needed someone who really can be trusted, and who else besides your family? Setelah kamera sudah dipastikan sampai di rumah, lapak jualan kembali saya buka. Tapi kali ini cuma yang di kaskus aja yang saya buka karena dari pengalaman sebelumnya permintaan di lapak bursa tidak begitu signifikan. Sehari, 2 hari, 3 hari, 4 hari, lapak jualan sepi peminat. Jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, itu pun kayaknya nggak ada yang serius nawarnya. Harga yang ditawar masih terlalu rendah. Keadaan semakin meresahkan seiring menipisnya isi dompet. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya bisa mendapatkan uang buat survive di bulan berikutnya bila the worst of the worst will happen, i.e. kameranya nggak laku.

Di hari ke-5 akhirnya saya buka lagi lapak baru di bursa. Bedanya dengan lapak sebelumnya, saya tambahkan kontak email di sana. Saya nggak terlalu berharap banyak. Paling responnya mirip seperti sebelum-sebelumnya. But such the love that moves in mysterious way, so does the life. When God put interventions in our life, impossible is nothing. Dalam 2 hari setelah lapak dibuka, masalah berikutnya muncul. Saya bingung menentukan kepada siapa kamera saya akan dijual karena email saya cukup kebanjiran peminat. Sempat dilema juga karena terkadang saya bingung apakah posisi penjual yang lebih kuat, atau pembeli yang lebih kuat. Sebagai penjual tentu saya menginginkan harga jual setinggi mungkin, berkebalikan dengan si pembeli. Di sini saya beranggapan posisi saya cukup kuat karena si pembeli menginginkan barang yang saya jual. Di sisi lain, dengan menetapkan harga tinggi maka para pembeli akan kabur. Menunjukkan titik lemah sebagai penjual.

Pelajaran yang saya dapat dari proses tersebut rasanya cukup berharga. Contoh kasusnya begini, saya menetapkan harga jual 1000 dan dari awal saya menyatakan membuka negosiasi. Jadi harga yang sebenarnya saya inginkan katakanlah 900. Suatu saat datanglah penawar pertama, yang pada akhirnya dia setuju dengan harga nett 900 yang saya tawarkan. Kemudian datang lagi penawar kedua. Karena dia tidak tahu kalo barang saya sudah di-take si penawar pertama, maka kita bilang ke penawar kedua kalo harga nett-nya adalah 950. Toh kalo penawar kedua ini menyerah, kita masih punya cadangan si penawar pertama. Namun kalo si penawar kedua ini setuju, kita bisa mengorbankan si penawar pertama. Begitu seterusnya hingga waktu yang kita tentukan. Dengan begitu kita bisa menjual dengan harga yang mendekati 1000. Dengan cara ini, keuntungan yang saya dapatkan bisa maksimal. Cara lainnya adalah, kita langsung menyatakan deal ketika harga nett sudah disetujui pembeli. Tapi dengan cara ini, maka keuntungannya sangat minimal. So, what is the lesson?

Apa yang salah dari cara yang pertama? Saya nggak mau menghakimi apakah ini salah atau benar, baik atau buruk. Cuma yang saya rasakan apabila saya melakukan cara yang pertama, kelihatan sekali sisi ketamakan sebagai seorang manusia. Selalu ingin lebih dan lebih. Dan terlebih lagi, tidak ada kejujuran di sana. Well, orang-orang itu juga sebenarnya kan nggak tahu berapa harga yang sebenarnya kita inginkan. Lagipula di dunia maya ini semua bisa disamarkan. Pakai saja account fiktif untuk melakukan penjualan. Jadi kesempatan melakukan kebohongan itu sebenarnya terbuka lebar. Tapi siapa yang bisa menutup mata Yang Maha Melihat? Kepada si penawar pertama kita bilang A, kepada si penawar kedua kita bilang B. Yang ada malaikat Atid jadi rajin nulis di kitab keburukan kita. Dan terus terang, saya punya pikiran untuk melakukan cara ini walaupun akhirnya saya melakukan cara yang kedua. Saya pikir kalau saya sudah cukup dengan sejumlah tertentu, buat apa punya lebih?

Berikutnya, lagi-lagi saya harus merepotkan pihak keluarga untuk masalah transaksinya. Kali ini saya melibatkan my big brother buat membawa barangnya ke pihak pembeli dan bertransaksi. Thanks to him. Hmmm… somehow I feel so naive. I want to learn being independent, however I am still bothering the people around me. Alhamdulillah transaksi berjalan lancar dan pembeli cukup puas. Terlihat dari SMS-nya dalam merespon pesan singkat yang saya kirimkan yang menanyakan tentang kondisi kamera itu.

Selanjutnya adalah bagaimana mengirimkan uang itu supaya bisa sampai ke Taiwan. Beberapa alternatif saya pertimbangkan. Apakah melalui pengiriman kilat, atau melalui transfer rekening yang dulu pernah dilakukan ortu saya. Tapi kedua opsi ini bisa dibilang sama sekali nggak menguntungkan karena biaya pengiriman dan tukaran kurs yang rendah. Bisa-bisa uang yang sampai di tangan nantinya jauh berkurang dari hasil penjualan kamera. Padahal jumlah itu sudah dipas-pasin paling nggak sampai saya balik ke Indonesia. Kalau dulu mungkin lebih menguntungkan menukar USD ke TWD di Taiwan. Sayangnya sekarang nilai USD lagi jeblok-jebloknya di Taiwan. Apalagi ditambah kalo dari USD ke TWD, kita melakukan dua kali penjualan (IDR ke USD kemudian USD ke TWD) yang menyebabkan semakin turunnya nilai uang kita. Sedangkan Rupiah walaupun lebih nggak tentu naik-turunnya, tapi kalo dihitung-hitung masih lebih menguntungkan menukar langsung dari IDR ke TWD di Taiwan.

Suatu hari saya teringat ada teman yang bekerja di sini yang sering mengirimkan uang untuk anaknya di Indonesia. Jadilah saya agen pengiriman uang dadakan. Saya menawarkan jasa pengiriman uang ke rekeningnya di Indonesia dengan nilai tambah yaitu, tanpa biaya pengiriman dan nilai tukar yang kompetitif. Nggak pake basa-basi lagi, dia langsung setuju dengan tawaran saya. Beberapa hari kemudian uang dalam jumlah yang telah disetujui langsung diberikan ke saya. Dan terakhir, sekali lagi saya harus meminta tolong kepada big brother buat mengirimkan uang hasil jual kamera itu ke rekening teman saya. Thanks to him again. And yes, at last if everything goes fine, at least I can survive until my way back into a place called home.

All in all, despite there were obstacles that I have faced and many more that I will face, I think that I’ve just found new excitement in life. :)

In Between Difficult Choices

Sunday, March 20th, 2011

Hopefully that you might went wrong in guessing what I would talk. It is not about how to choose the best between the bads. Like for example, there is a condition when I must choose a girl who will be my future wife, and that condition does not let me say no. The choices are between two girls who are extremely good looking that can melt every heart of men, shaliha, clever and diligent, rich and generous, very down-hearted person, or in other words, both of them are almost perfect. But (I know you don’t like this word), one of them can not give you descendant. And another one, she can give you a child but she only has a year to live because she is suffering a deadly disease which there is no possible way to heal. Even if you did istikhara for many times, I believe you are still confuse to decide.

Gladly, the problem that I am facing right now is not as difficult as that, yet not easy to decide. As you know (or may don’t know), recently my daily life were always full of thinking about the you-know-what. I’ve tried to speed up to catch the deadline because I have to collect the abstract proposal in the beginning of May. (Indonesian mode : ON; takut kalo2 suatu saat dibaca sama lab mate atau bahkan sama si Prof). Mungkin perlu saya beritahu dulu topik dari thesis saya. Jadi ceritanya si Prof lagi tertarik membuat CMOS sensor. Para pecinta fotografi mungkin tau apa itu CMOS sensor. Sekilas saja, kamera digital saat ini didominasi oleh 2 teknologi sensor, CCD dan CMOS. Hal ini bisa diperhatikan pada data spesifikasi kamera di bagian jenis sensor. CCD adalah teknologi sensor yang lebih dulu ada, sedangkan CMOS baru muncul di awal-awal 1990-an. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, dan karena itulah keduanya masih dipakai sampai sekarang.

Nah, karena dulu saya datang ke Taiwan tanpa persiapan apa2, maksudnya saya tidak punya proposal research yang bisa ditawarkan kepada Prof, maka saya menyerahkan keputusan mengenai topik thesis ini kepada beliau. Awalnya dia ingin membuat sesuatu dengan OLED (Organic LED), namun karena topik itu bukan spesialisasinya dan saat itu saya juga mentok, maka akhirnya topik thesis saya berubah. Saya diminta membuat desain CMOS sensor. Terus terang saya bengong dong dikasih topik susah begitu, tapi saya nggak mau menolak karena topik ini juga cukup menarik buat saya. Singkat cerita, saya belajar sedikit demi sedikit tentang topik ini. Yang kebayang, kerjaan saya akan selesai hingga tahap simulasi. Tapi ternyata, lab meeting terakhir hari Rabu kemarin merubah bayangan saya selama ini…

Rabu kemarin saya dapat jatah presentasi progress. Lupa tepatnya, apakah di tengah-tengah atau di akhir presentasi saya, si Prof berdikusi dengan lab mate yang lain dalam bahasa yang nggak saya mengerti. Di akhir obrolannya itu, dia bilang ke saya yang pada intinya dia mau membuat proto-type dari desain yang lagi saya kerjain. Dan dia nggak peduli berapapun uang yang perlu dikeluarkan untuk membuat sensor yang terbaik. Kaget, senang, bingung, sedih, campur baur. Perasaannya nggak bisa diungkapkan dengan kata2.

Banyak hal yang bikin saya senang, dan ada juga yang mengganjal apabila saya mengiyakan permintaan si Prof. Mungkin sedihnya dulu kali ya. Dengan meneruskan topik ini hingga tahap pembuatan proto-type atau fabrikasi artinya, saya hampir nggak mungkin lulus di semester ini. Karena sekarang saja saya baru mempelajari software simulasinya, dan desainnya sendiri belum jadi. Estimasi saya, desain dan simulasi ini baru akan selesai di bulan Juni. Jadi di bulan Juli bisa fokus pada penulisan dan persiapan sidang. Berarti kan kalau sampai fabrikasi, butuh waktu lagi. Dan tingkat kerumitannya juga bertambah berkali-kali lipat. Tau sendiri kan kalo elektronik itu sering banyak “hantu”-nya. Maksudnya, pasti selalu saja ada faktor-X yang membuat si devais bekerja sedikit menyimpang dari yang diharapkan. Intinya, paling nggak harus nambah 2-3 bulan lagi untuk menyelesaikan masa fabrikasinya.

Lalu benefitnya di mana? Hmmm… saya ngerasa dapet kepercayaan yang luar biasa dari si Prof. Kepercayaan buat meng-handle sebuah kerjaan yang akan memakan biaya yang nggak sedikit, padahal masih tingkat master. Kesempatan yang mungkin hanya akan saya rasakan sekali seumur hidup untuk bisa mendesain sesuatu dari nothing menjadi something. Pengalaman yang didapat juga pasti akan berlipat-lipat daripada hanya melakukan simulasi di depan komputer. Tantangannya memang tinggi, tapi sebanding dengan hasil yang didapat nantinya. Selain itu, paling tidak hal ini bisa menghapus kekhawatiran saya di meja sidang. Saya agak trauma dengan skripsi saya yang juga berupa simulasi. Saat itu salah satu dosen penguji mengkritik saya yang cuma bisa menggunakan software tanpa memahami teori yang ada dibaliknya. Simulasi belum bisa menjamin bahwa desain kita baik. Jadi jika memang nanti berhasil diproduksi, ada kepuasan batin yang terpenuhi. Ah, pasti luar biasa.

Dilemanya adalah, saya takut mengecewakan ortu lagi dengan menunda-nunda kelulusan. Di sisi lain, saya juga nggak mau menyia2kan kepercayaan dari si Prof.

Massimiliano Allegri

Sunday, March 13th, 2011

Awal kedatangannya ke AC Milan sebagai suksesor Leonardo, saya sangat sangsi kalau dia bisa mengembalikan performa Milan ke level tertinggi. Allegri memang tergolong “cukup” memiliki pengalaman sebagai pelatih, namun minus pengalaman sebagai caretaker tim papan atas. Tim terbaik yang pernah dibesutnya hanya sekelas Cagliari. Jadi keraguan saya sebenarnya cukup beralasan. Namun setelah melihat performa AC Milan di separuh musim ini, saya puas. Allegri memberi warna yang berbeda dengan pelatih-pelatih Milan sebelumnya, Leonardo dan Ancelotti. Yang menyenangkan dari Allegri adalah dia sanggup memberi kepercayaan pada pemain-pemain muda. Karena masalah yang diderita Milan selama beberapa musim ke belakang tidak lepas dari umur pemain-pemain tumpuannya yang bisa dibilang mendekati masa-masa uzur.

Meski memang posisi pemain inti masih dipegang pemain-pemain senior, tapi dia kerap memasukkan beberapa pemain mudanya. Merkel, Emanuelson, dan Strasser adalah nama-nama yang agak asing namun kerap menjadi penyegar di lapangan tengah selain ada juga Boateng dan Flamini yang namanya lebih familiar di telinga. Lapangan tengah tidak melulu menjadi tempat buat Gattuso, Pirlo, Seedorf, Ambrosini, atau pemain jangkar baru berpengalaman, Van Bommel. Lini belakang juga lebih segar dengan masuknya Tiago Silva dan Abate. Walau memang di lini belakang ini pemain uzurnya bisa dibilang paling seabrek termasuk posisi penjaga gawang. Tanpa mengabaikan kondisi lini depan, tentunya semua setuju kalau Milan (hampir) punya segalanya di sana.

Kelebihan Allegri lainnya, ia cukup jeli melakukan rotasi dan juga mengutak-atik taktik. Pakem formasi 4-3-3 yang diterapkan cukup solid untuk menyerang sekaligus bertahan. Formasi ini memang sepertinya menjadi idola di berbagai klub Eropa belakangan ini, menyingkirkan formasi 4-4-2 yang sebelumnya lazim digunakan. Saya cukup kaget dengan starting line-up Milan ketika melawan Tottenham Hotspur di leg kedua Piala Champion kemarin. Mengatasi absennya Van Bommel dan Pirlo sebagai deep-playmaker, Allegri mempercayakan peran itu pada Seedorf. Hasilnya sama sekali not bad, Seedorf mampu dengan baik mengalirkan serangan dari tengah. Memang sudah nasib saja jika akhirnya langkah Milan harus terhenti di babak perdelapan final. Setidaknya Milan masih berpeluang merebut Scudetto dan Coppa Italia di musim ini.

Forza Milan!