The More I Read, The More I Feel Stupid

Thursday, February 17th 2011

Lumrahnya dengan semakin banyak membaca maka semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebenarnya otak juga dapat dilatih untuk mengingat. Ingatan yang ada dalam otak terjadi karena adanya hubungan antar neuron yang membentuk synapse, di mana neurotransmitter saling berinteraksi dan berkomunikasi layaknya dua orang yang sedang bertelepon [1]. Dengan semakin sering mengingat tentang suatu hal, maka synapse dan hubungan antar neuron di titik yang mengingat hal tersebut akan semakin kuat. Walaupun tidak ada jaminan untuk itu, sebab kompleksitas otak manusia yang sangat rumit.

Film Eternal Sunshine of The Spotless Mind [2] mengkhayalkan bagaimana kemajuan teknologi dapat memetakan ingatan-ingatan dalam otak seseorang dengan bantuan komputer. Diceritakan di sana tentang kisah Joel Barish (Jim Carrey) yang ingin melupakan Clementine (Kate Winslet) pasangannya. Joel mengunjungi klinik praktek ilegal yang menerima pasien yang ingatannya tentang sesuatu ingin dihilangkan. Si pasien dibius dan dipakaikan alat di kepalanya. Dan ketika si pasien tertidur, sang operator membidik titik-titik sinyal yang merepresentasikan tentang sesuatu itu dan menghapusnya dari peta otak yang terlihat di komputer. Seiring menghilangnya titik-titik sinyal tersebut, maka hilang pula ingatannya. Keadaan riilnya, synapse yang menyimpan ingatan tersebut diganggu sehingga tidak ada komunikasi antar neuron di titik tersebut.

Belum lama saya melihat status FB teman saya, “Albert Einstein just using 6% of his brain,… dst.” Untuk memastikannya, saya tanyakan pada Google. Google memang tahu segalanya, dari informasi yang benar sampai yang sampah. Ada yang bilang bahwa Einstein menggunakan 10% kemampuan otaknya, ada juga yang bilang 30%, tapi yang saya percayai adalah pendapat seorang dokter yang menyangkal semua angka-angka tersebut. Dengan alasan, tidak ada metode yang jelas untuk mengukur daya guna dari otak si Einstein. Sangat masuk akal, karena otak juga merupakan organ yang bisa tumbuh dan berkembang, dan juga bisa mengalami penurunan kemampuan seiring bertambahnya usia. Jadi kalau memang mau diteliti, harus diteliti dari dia lahir sampai meninggal.

Lalu bagaimana bisa dengan membaca, bukannya tambah pintar malah tambah bodoh? Mungkin lebih mudah dijelaskan dengan analagi air dan botol kosong. Diibaratkan botol ini adalah volume seluruh informasi mengenai suatu hal yang spesifik yang ada di alam raya, tentang fisika misalnya. Dan air adalah informasi-informasi tentang fisika. Lazimnya, apabila botol diisi air, maka ruang kosong di dalam botol itu semakin lama semakin berkurang. Jika dikembalikan pada keadaan riilnya, pengetahuan kita tentang fisika menjadi lebih banyak. Sedangkan hal yang tidak diketahui tentang fisika, semakin sedikit. Rasanya semakin pintar.

Sekarang bayangkan botol itu adalah botol yang telah direkayasa, jika diisi air maka botol itu ikut membesar. Misalkan, volume awal botol adalah 2 liter dan telah terisi 200 ml. Ketika saya menambahkan 100 ml ke dalamnya, volume botol itu berubah menjadi 5 liter. Dan ketika saya tambahkan lagi 50 ml, volumenya membengkak hingga 10 liter misalnya. Jadi di awal kondisi, saya merasa telah menguasai 10% dari semua ilmu fisika. Dan kemudian saya membaca lagi. Ketika saya membaca, terkuak informasi-informasi baru yang ternyata ada di dunia fisika. Padahal sebelumnya saya tidak mengira hal itu ada di dunia fisika. Jadi berikutnya saya hanya merasa menguasai 6%-nya. Dan setelah membaca untuk yang berikutnya, saya malah merasa baru menguasai 3,5%-nya saja. Merasa semakin bodoh.

Kalau boleh saya memiliki rasa iri tanpa dengki, maka rasa itu akan saya tujukan kepada tiga orang ini, Alm. Abdurrahman Wahid alias Gusdur, tokoh Raja yang ada di dalam novel Negeri 5 Menara, dan juga teman saya, panggil saja dia Kiky. Ketiganya lahir dari tiga generasi yang berbeda, dan hampir berbeda dalam segala hal kecuali satu, mereka sangat gila membaca.

Gusdur. Sosok penuh kontroversi yang pernah memimpin Republik ini. Humoris, pluralis, dan berwawasan luas. Tidak tanggung-tanggung, sisi humoris Beliau bahkan pernah memakan korban seorang kepala negara Amerika Serikat, yang saat itu dijabat oleh Bill Clinton. Ketika itu di White House, sewaktu Clinton dan Gusdur hanya sedang berdua, Gusdur bertanya pada Clinton, “ngomong-ngomong dulu waktu sama Lewisnky di sebelah mana?” [3] Sebagai seorang pluralis, Beliau disegani oleh tokoh-tokoh serta pemuka-pemuka agama. Dan sebagai orang yang berwawasan luas, masa muda Beliau banyak digunakan untuk membaca.

Lebih memilih membolos kelas demi membaca di perpustakaan sudah merupakan tanda tak wajar dari orang yang gila membaca. Di saat teman-teman sebayanya belajar materi pelajaran sekolah, Beliau malah memilih membaca Das Kapital, The Little Red Book (Quotations from Chairman Mao Tsetung), serta teori-teori Plato dan Aristoteles. Bukan itu saja, di meja kerjanya pernah ditemukan tumpukan buku-buku sastra, dan novel intelijen [4]. Satu hal lain yang membuat saya kagum dari Beliau adalah kemampuannya bergurau yang sangat cerdas.

Saya memang belum membaca buku Negeri 5 Menara. Namun dari wawancara yang pernah saya lakukan dengan tokoh Raja yang sebenarnya, Adnin Armas, saya bisa merasakan hausnya dia akan ilmu. Prinsip-prinsip yang diajarkan dalam ponpes seperti, “sebaik-baik teman duduk adalah buku” dan pesan Sayyidina Ali “ikatlah ilmu dengan menulis” benar-benar dia amalkan. Wajar saja dia bisa menguasai beberapa bahasa, karena selama di ponpes, tangannya tidak pernah lepas dari kamus. Buku itu dibacanya sambil menunggu giliran kamar mandi atau sambil menunggu antrian makan. Alasannya cukup menarik, yaitu karena buku-buku kecil atau buku-buku yang isinya cukup ringan, biasa dihabiskan dalam sehari dua hari. Sehingga dia membutuhkan buku yang lama untuk dihabiskan dibaca, yaitu kamus [5].

Kiky, pertama kali bertemu di jaman ketika masih berseragam putih abu-abu dulu. Saling mengenal di tahun pertama tapi baru di tahun kedua kita berkesempatan menempati ruang kelas yang sama. Di kelas 2 ini, tempat duduk langganan saya di baris kedua dari belakang, di deretan yang berhadapan dengan meja guru. Sedangkan Kiky, dia memiliki tempat favorit di pojok belakang tepat di belakang tempat duduk saya. Saya tahu kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukan sehari-harinya ketika di kelas. Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan anak ini, kecuali kebiasaannya meminjam buku di perpustakaan dengan judul dan tema yang terkadang membuat dahi berkerut. Dia pernah meminjam buku tentang wayang, buku kumpulan puisi, novel, buku sejarah, buku sastra lama, bahkan buku cerita dongeng. Cuma buku pelajaran saja yang enggak pernah dipinjamnya dari perpustakaan.

Menyenangkan mengajak dia berdikusi atau hanya sekedar ngobrol yang enggak penting. Karena dia akan meladeni setiap pertanyaan dan pernyataan yang dilemparkan, dan menjawabnya dari berbagai sisi. Dan jangan pernah takut kalau dia akan enggak nyambung dengan topik yang kita berikan. Percayalah, dia itu Google berwujud manusia. Jadi kita bisa ngobrol dengannya tentang film, olahraga, politik, budaya, fashion, sampai gosip artis.

Referensi :

  1. http://www.ted.com/talks/lang/eng/sebastian_seung.html
  2. http://www.imdb.com/title/tt0338013/
  3. http://www.youtube.com/watch?v=IVCpxOiye5o
  4. http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1149
  5. http://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/