What If

Wednesday, February 2nd 2011

Yang pernah nonton film Mr.Nobody (2009) mungkin akan tahu ke mana arah pembicaraan kita kali ini. Nemo Nobody memang aneh untuk sebuah nama, tapi apa sih yang aneh untuk sebuah cerita fiksi? Dikisahkan di awal film tersebut, ketika Nemo tersadar dari tidur panjangnya dan ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berumur 118 tahun. Menariknya lagi Nemo tidak sedang di Bumi, teknologi saat itu memungkin manusia untuk bermigrasi ke Mars dan hidup di sana. Inti film ini adalah ketika Nemo didatangi seorang reporter. Nemo yang menjadi orang tertua yang ada saat itu diminta menceritakan kehidupannya yang dulu. Dan penonton pun diajak menebak-nebak, cerita mana yang merupakan cerita sebenarnya.

Percabangan cerita Nemo berawal ketika perpisahan kedua orangtuanya di stasiun kereta. Saat itu Nemo harus memutuskan untuk memilih tinggal bersama ayahnya, atau dengan ibunya. Nemo pun menceritakan kedua cabang hidupnya itu. Baik ketika ia memilih tinggal bersama ayahnya, dan juga ibunya. Ketika ia bersama ibunya, Nemo jatuh cinta dengan Anna yang merupakan saudara tirinya. Sedangkan dalam cerita Nemo-memilih-tinggal-bersama-ayahnya, cerita berkembang dengan percabangan berikutnya. Yaitu ketika cintanya ditolak oleh Elise (yang kemudian akhirnya Nemo menikahi Jean), dan ketika cintanya diterima oleh Elise meski tanpa akhir bahagia.

Akhir film ini sebenarnya agak kurang seru, karena kita diberi clue untuk menebak cerita mana yang sebenarnya dialami Nemo. Menurut saya akan lebih seru kalau penonton dibiarkan terombang-ambing dalam rasa penasarannya. Toh, pesan dari film ini (lagi-lagi menurut saya) juga agak buram. Yang menarik buat saya adalah idenya. Bahwa adanya kita sekarang ini, detik ini, di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, adalah merupakan sebuah hasil dari pilihan-pilihan kita yang tak terhitung banyaknya yang ada di masa lalu.

Bisa saja, saya misalnya, jika beberapa tahun yang lalu hanya membiarkan informasi tentang beasiswa di suatu milis itu lewat begitu saja, mungkin saat ini saya tidak berada di atas matras busa di sebuah asrama di suatu kampus di Taiwan sambil mengupdate isi blog. Atau, bisa saja pada tanggal 25 Agustus 8 September 2007 saya menuruti kegelisahan saya di atas pesawat dan memutuskan untuk langsung kembali ke Indonesia sesampainya di Chiang Kai-Shek Airport. Ada kemungkinan yang tak terhitung banyaknya yang membuat kita berada dalam kondisi begini saat ini. Dan itu semua adalah hasil pilihan kita entah itu merupakan pilihan yang tepat atau tidak. Pilihan buat kita adalah, merencanakannya dengan matang atau membiarkan waktu yang menentukannya tanpa tahu apakah itu baik atau buruk bagi kita.

Saya baru saja diingatkan oleh teman beberapa hari yang lalu tentang “connecting the dots”-nya Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford University dulu. Di akhir pesannya yang pertama Steve berkata,

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

Suatu hari jika kita mau melihat ke belakang, mungkin kita bisa melihat bagaimana benang merah bisa menyulam keadaan kita pada saat ini. Bagaimana kejadian-kejadian acak bisa membuat cerita menjadi manis atau sedih. Jadi rasanya nggak adil kalau ada yang menyalahkan keadaan. Sama saja dia menyalahkan pilihan-pilihannya sendiri.