Archive for February, 2011

Fit & Proportional

Monday, February 28th, 2011

Saya juga heran, giliran ada jadwal fitness, saya malah bisa ngelawan rasa malas di pagi hari. Padahal kalau nggak ada jadwal itu biasanya saya lebih milih menarik lagi selimut dan membetulkan posisi tidur senyaman mungkin. Agak di luar perkiraan, karena sebelum-sebelumnya konsistensi cuma mampir sekitar 2 mingguan. Sedangkan sebulan belakangan ini, saya cukup bisa konsisten 2-3 kali ke gym dalam seminggu. Tiga kali kalau rencana seminggu berjalan lancar, dan dua kali kalo memang ada hal-hal yang terjadi di luar perencanaan. Dengan lama exercise 1,5-2 jam. Hasilnya cukup terasa. Badan jadi lebih tahan dingin dan nggak gampang lemes. Berat badan juga berkurang +3 kg, masuk zona normal weight BMI walaupun masih di batas atas. Efek yang terakhir ini sebenarnya terbantu dengan program diet kantong secara ketat.

Menjaga konsistensi ternyata lebih mudah selama memiliki motivasi. Dan motivasi saya bukan cuma satu, ada beberapa. Ibarat lidi, sebatang lidi lebih mudah patah daripada seikat bukan? Motivasi pertama, saya nggak boleh sakit dalam beberapa bulan ke depan. I need to be fit. Ada segunung kerjaan di depan siap diselesaikan dengan waktu yang terbatas. Kedua, cukup banyak teman yang mengeluhkan bahwa perutnya mulai maju. Ada yang menghibur diri dengan berkilah bahwa kemajuan perut sebanding dengan kemajuan karir. Agak berbeda dengan saya yang kemajuan perut tidak ada hubungannya dengan karir. Jadi sebenernya saya takut kalo perut ini dibiarkan begitu saja tanpa dilatih dan dikeluarkan lemaknya, maka akan semakin maju tak terkendali. Takutnya nanti kalau kembali ke Indonesia untuk fitting baju, akan susah dapat ukuran yang pas. Motivasi ketiga adalah karena saya nggak mau rugi setelah membayar keanggotaan untuk 6 bulan. Masih ada 5 bulan kurang lagi.

Sambil latihan, saya suka memperhatikan tingkah orang-orang yang datang ke sana. Banyak macamnya. Ada yang bookaholic yang mana orang-orang ini adalah kutu buku sejati. Sambil exercise masih aja baca buku. Biasanya para bookaholic ini kelihatannya lebih serius membacanya daripada olahraganya. Ada juga yang memang datang untuk menjaga stamina. Terutama yang saya perhatikan adalah para atlet kampus dan mereka-mereka yang benar-benar care dengan vitalitas tubuhnya. Tentu ada juga bodybuilder-bodybuilder sejati yang datang untuk membentuk otot-otot tubuhnya. They really work out there. Ada juga pemula yang sekedar coba-coba, dan ada juga yang TP-TP. Dan tentu saja ada tipe-tipe yang datang musiman karena membawa misi khusus, seperti saya.

Biasanya saya memulai dengan treadmill. Waktunya sekitar 30-50 menit dengan kecepatan rendah sekitar 6 km/h. Menyesuaikan dengan program “loss weight” yang ada di treadmill. Gym di kampus memiliki beberapa jenis treadmill, biasanya saya memilih yang lebih cepat dan lebih banyak mengonsumsi kalori. Dan ternyata waktu berputar lebih lambat di atas treadmill. Beberapa kali saya sempat mencoba bermain sudoku di atas treadmill. Susah, saya baru berhasil 2 kali menyelesaikan sudoku di atas treadmill. Selanjutnya saya menyicipi alat-alat lain yang ada di sana. Untuk saat ini prioritasnya adalah alat-alat yang dapat melatih otot perut. Setelah selesai dengan itu semua, terakhir saya lanjutkan dengan alat cycling selama 20-30 menit atau berlari ringan lagi di treadmill.

Nggak tau juga apakah prosedur yang selama ini saya lakukan sudah benar atau belum. Karena pada dasarnya memang cuma bermodal sotoy dan coba-coba.

After 4 Years…

Tuesday, February 22nd, 2011

Nggak ada yang istimewa hari ini. Begitu juga empat tahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama. Saat demam blog lagi unyu2nya. Trend blogging waktu itu masih meningkat, walaupun sebenarnya sudah lama muncul ke permukaan. Seiring dengan membaiknya akses internet di Indonesia, bermunculanlah blog-blog pribadi sebagai ajang eksis (kalau tidak mau dikatakan narsis, tapi memang eksis dan narsis hanya beda tipis) di dunia maya. Social media seperti facebook dan twitter masih belum setenar sekarang. WordPress dan Blogspot menjadi platform yang mainstream untuk nge-blog. Dan setelah ditimbang-timbang dan dicoba-coba dengan segala kelebihan dan kekurangan dari masing-masing platform, akhirnya saya memilih WordPress sebagai CMS blog saya. Sampai saat ini.

Waktu itu saya memang lagi nganggur2nya, kelar Tugas Akhir dan lagi nunggu wisudaan. Jadi lah, blog sebagai sarana pelampiasan. Dengan motto “I share coz I care” alias pamer, saya coba menulis apa-apa yang terjadi di sekitar saya. Apa-apa yang saya pikir, saya lihat, saya dengar, saya makan, dan saya jalani, saya tulis di diary virtual ini. Lucu juga ketika ngeliat ke belakang, tulisan-tulisan tanpa konsistensi. Kadang sok formal, kadang sok gaul. Kadang sok serius, kadang sok main2. Tapi terus terang, sampai saat ini saya masih belum nemuin gaya tulisan saya. Karena kalau mau ditelusuri, sebenarnya saya terlalu mudah terpengaruh orang lain. Misalnya habis baca novel, maka tulisan saya bergaya layaknya novelis. Atau ketika menuntaskan tulisan bergaya opini dengan argumentasi kuat, maka tulisan saya terbawa seperti itu.

Dari segi konten, beberapa tulisan yang menurut saya tidak relevan atau basi, saya hapus. Kategorinya juga saya tambah-kurangi. Mengikuti apa yang saya pikirkan saat itu. Sedangkan dari segi desainnya sendiri, saya juga masih suka ganti2. Pengen bikin minimalis nan manis, tapi skill masih kurang. Jadi biasanya cuma ngutak-atik PHP sama CSS-nya aja. Itu pun cuma pindah2in letak dan minor editing. Tapi hasilnya lumayanlah, saya jadi belajar sedikit2 backend-nya website. Pun sampai sekarang, saya masih kurang sreg dengan tampilan yang ada.

Bagaimana dengan komentar dan popularitas? Dulu, saya pikir kayaknya seru juga kalau punya banyak pengunjung. Saling balas komen, berbalas kunjungan, dan berlanjut ke kopi darat. Saya pun rajin blogwalking dan meninggalkan jejak, berharap blog saya dikunjungi balik. Tak ada yang gratis di dunia, semua ada “take and give”-nya. Tapi ternyata capek juga berlaku seperti itu. Dan akhirnya, saya berhenti melakukan aktivitas yang tak ikhlas seperti itu. Saya hanya meninggalkan jejak, kalau memang benar2 ingin komen dan nggak bisa ditahan. Karena sebenarnya hasrat komen itu selalu ada, cuma sering saya tahan. Pernah juga mengikutkan blog ini untuk lomba. Namun hasilnya, nggak pernah ada yang nyangkut sebagai juara. Bukannya saya menyerah, tapi saya memang tidak bisa menulis dengan niat mencari hadiah.

Dan pada akhirnya, saya tidak ingin mencari apa-apa lagi dari blog ini. Selain sebagai sarana buat saya untuk belajar menulis, ditambah sedikit2 pamer dan ajang narsis.

The More I Read, The More I Feel Stupid

Thursday, February 17th, 2011

Lumrahnya dengan semakin banyak membaca maka semakin banyak informasi yang didapat, semakin pintar. Tapi itu kan kalau dilihat dari sisi yang sangat ideal. Tanpa memperhatikan adanya leakage memory, ingatan-ingatan yang menghilang seiring waktu dan ketidakterlatihannya. Karena seperti layaknya otot tubuh, sebenarnya otak juga dapat dilatih untuk mengingat. Ingatan yang ada dalam otak terjadi karena adanya hubungan antar neuron yang membentuk synapse, di mana neurotransmitter saling berinteraksi dan berkomunikasi layaknya dua orang yang sedang bertelepon [1]. Dengan semakin sering mengingat tentang suatu hal, maka synapse dan hubungan antar neuron di titik yang mengingat hal tersebut akan semakin kuat. Walaupun tidak ada jaminan untuk itu, sebab kompleksitas otak manusia yang sangat rumit.

Film Eternal Sunshine of The Spotless Mind [2] mengkhayalkan bagaimana kemajuan teknologi dapat memetakan ingatan-ingatan dalam otak seseorang dengan bantuan komputer. Diceritakan di sana tentang kisah Joel Barish (Jim Carrey) yang ingin melupakan Clementine (Kate Winslet) pasangannya. Joel mengunjungi klinik praktek ilegal yang menerima pasien yang ingatannya tentang sesuatu ingin dihilangkan. Si pasien dibius dan dipakaikan alat di kepalanya. Dan ketika si pasien tertidur, sang operator membidik titik-titik sinyal yang merepresentasikan tentang sesuatu itu dan menghapusnya dari peta otak yang terlihat di komputer. Seiring menghilangnya titik-titik sinyal tersebut, maka hilang pula ingatannya. Keadaan riilnya, synapse yang menyimpan ingatan tersebut diganggu sehingga tidak ada komunikasi antar neuron di titik tersebut.

Belum lama saya melihat status FB teman saya, “Albert Einstein just using 6% of his brain,… dst.” Untuk memastikannya, saya tanyakan pada Google. Google memang tahu segalanya, dari informasi yang benar sampai yang sampah. Ada yang bilang bahwa Einstein menggunakan 10% kemampuan otaknya, ada juga yang bilang 30%, tapi yang saya percayai adalah pendapat seorang dokter yang menyangkal semua angka-angka tersebut. Dengan alasan, tidak ada metode yang jelas untuk mengukur daya guna dari otak si Einstein. Sangat masuk akal, karena otak juga merupakan organ yang bisa tumbuh dan berkembang, dan juga bisa mengalami penurunan kemampuan seiring bertambahnya usia. Jadi kalau memang mau diteliti, harus diteliti dari dia lahir sampai meninggal.

Lalu bagaimana bisa dengan membaca, bukannya tambah pintar malah tambah bodoh? Mungkin lebih mudah dijelaskan dengan analagi air dan botol kosong. Diibaratkan botol ini adalah volume seluruh informasi mengenai suatu hal yang spesifik yang ada di alam raya, tentang fisika misalnya. Dan air adalah informasi-informasi tentang fisika. Lazimnya, apabila botol diisi air, maka ruang kosong di dalam botol itu semakin lama semakin berkurang. Jika dikembalikan pada keadaan riilnya, pengetahuan kita tentang fisika menjadi lebih banyak. Sedangkan hal yang tidak diketahui tentang fisika, semakin sedikit. Rasanya semakin pintar.

Sekarang bayangkan botol itu adalah botol yang telah direkayasa, jika diisi air maka botol itu ikut membesar. Misalkan, volume awal botol adalah 2 liter dan telah terisi 200 ml. Ketika saya menambahkan 100 ml ke dalamnya, volume botol itu berubah menjadi 5 liter. Dan ketika saya tambahkan lagi 50 ml, volumenya membengkak hingga 10 liter misalnya. Jadi di awal kondisi, saya merasa telah menguasai 10% dari semua ilmu fisika. Dan kemudian saya membaca lagi. Ketika saya membaca, terkuak informasi-informasi baru yang ternyata ada di dunia fisika. Padahal sebelumnya saya tidak mengira hal itu ada di dunia fisika. Jadi berikutnya saya hanya merasa menguasai 6%-nya. Dan setelah membaca untuk yang berikutnya, saya malah merasa baru menguasai 3,5%-nya saja. Merasa semakin bodoh.

Kalau boleh saya memiliki rasa iri tanpa dengki, maka rasa itu akan saya tujukan kepada tiga orang ini, Alm. Abdurrahman Wahid alias Gusdur, tokoh Raja yang ada di dalam novel Negeri 5 Menara, dan juga teman saya, panggil saja dia Kiky. Ketiganya lahir dari tiga generasi yang berbeda, dan hampir berbeda dalam segala hal kecuali satu, mereka sangat gila membaca.

Gusdur. Sosok penuh kontroversi yang pernah memimpin Republik ini. Humoris, pluralis, dan berwawasan luas. Tidak tanggung-tanggung, sisi humoris Beliau bahkan pernah memakan korban seorang kepala negara Amerika Serikat, yang saat itu dijabat oleh Bill Clinton. Ketika itu di White House, sewaktu Clinton dan Gusdur hanya sedang berdua, Gusdur bertanya pada Clinton, “ngomong-ngomong dulu waktu sama Lewisnky di sebelah mana?” [3] Sebagai seorang pluralis, Beliau disegani oleh tokoh-tokoh serta pemuka-pemuka agama. Dan sebagai orang yang berwawasan luas, masa muda Beliau banyak digunakan untuk membaca.

Lebih memilih membolos kelas demi membaca di perpustakaan sudah merupakan tanda tak wajar dari orang yang gila membaca. Di saat teman-teman sebayanya belajar materi pelajaran sekolah, Beliau malah memilih membaca Das Kapital, The Little Red Book (Quotations from Chairman Mao Tsetung), serta teori-teori Plato dan Aristoteles. Bukan itu saja, di meja kerjanya pernah ditemukan tumpukan buku-buku sastra, dan novel intelijen [4]. Satu hal lain yang membuat saya kagum dari Beliau adalah kemampuannya bergurau yang sangat cerdas.

Saya memang belum membaca buku Negeri 5 Menara. Namun dari wawancara yang pernah saya lakukan dengan tokoh Raja yang sebenarnya, Adnin Armas, saya bisa merasakan hausnya dia akan ilmu. Prinsip-prinsip yang diajarkan dalam ponpes seperti, “sebaik-baik teman duduk adalah buku” dan pesan Sayyidina Ali “ikatlah ilmu dengan menulis” benar-benar dia amalkan. Wajar saja dia bisa menguasai beberapa bahasa, karena selama di ponpes, tangannya tidak pernah lepas dari kamus. Buku itu dibacanya sambil menunggu giliran kamar mandi atau sambil menunggu antrian makan. Alasannya cukup menarik, yaitu karena buku-buku kecil atau buku-buku yang isinya cukup ringan, biasa dihabiskan dalam sehari dua hari. Sehingga dia membutuhkan buku yang lama untuk dihabiskan dibaca, yaitu kamus [5].

Kiky, pertama kali bertemu di jaman ketika masih berseragam putih abu-abu dulu. Saling mengenal di tahun pertama tapi baru di tahun kedua kita berkesempatan menempati ruang kelas yang sama. Di kelas 2 ini, tempat duduk langganan saya di baris kedua dari belakang, di deretan yang berhadapan dengan meja guru. Sedangkan Kiky, dia memiliki tempat favorit di pojok belakang tepat di belakang tempat duduk saya. Saya tahu kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukan sehari-harinya ketika di kelas. Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan anak ini, kecuali kebiasaannya meminjam buku di perpustakaan dengan judul dan tema yang terkadang membuat dahi berkerut. Dia pernah meminjam buku tentang wayang, buku kumpulan puisi, novel, buku sejarah, buku sastra lama, bahkan buku cerita dongeng. Cuma buku pelajaran saja yang enggak pernah dipinjamnya dari perpustakaan.

Menyenangkan mengajak dia berdikusi atau hanya sekedar ngobrol yang enggak penting. Karena dia akan meladeni setiap pertanyaan dan pernyataan yang dilemparkan, dan menjawabnya dari berbagai sisi. Dan jangan pernah takut kalau dia akan enggak nyambung dengan topik yang kita berikan. Percayalah, dia itu Google berwujud manusia. Jadi kita bisa ngobrol dengannya tentang film, olahraga, politik, budaya, fashion, sampai gosip artis.

Referensi :

  1. http://www.ted.com/talks/lang/eng/sebastian_seung.html
  2. http://www.imdb.com/title/tt0338013/
  3. http://www.youtube.com/watch?v=IVCpxOiye5o
  4. http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1149
  5. http://blog.dzaia-bs.com/2011/02/interview-bersama-ahmad-fuadi-radioppidunia/

Interview bersama Ahmad Fuadi @radioppidunia

Saturday, February 5th, 2011

Di tengah-tengah pencarian referensi untuk tulisan yang sedang saya buat, ingatan saya tersesat dalam tumpukan-tumpukan memori yang tumpang tindih. Ada sebuah cerita yang saya ingat, tapi saya lupa sumbernya dari mana. Untungnya pilihannya tidak banyak, hanya dua. Kalau tidak di youtube, berarti di arsip siaran radio. Ternyata di youtube tidak ada. Dan benar, ditemukan di arsip siaran-siaran saya. Karena saya pikir isinya sangat bermanfaat untuk dibagi, terutama untuk teman-teman yang suka menulis, maka arsip file tersebut saya edit-edit dulu agar content-nya lebih efektif dan efisien untuk diperdengarkan ulang.

Acara ini dulu disiarkan di Radio PPI Dunia pada tanggal 30 Mei 2010, sekitar pukul 9-12 WIB. Dan berikut ini adalah versi pendeknya, tanpa lagu-lagu.

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

What If

Wednesday, February 2nd, 2011

Yang pernah nonton film Mr.Nobody (2009) mungkin akan tahu ke mana arah pembicaraan kita kali ini. Nemo Nobody memang aneh untuk sebuah nama, tapi apa sih yang aneh untuk sebuah cerita fiksi? Dikisahkan di awal film tersebut, ketika Nemo tersadar dari tidur panjangnya dan ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berumur 118 tahun. Menariknya lagi Nemo tidak sedang di Bumi, teknologi saat itu memungkin manusia untuk bermigrasi ke Mars dan hidup di sana. Inti film ini adalah ketika Nemo didatangi seorang reporter. Nemo yang menjadi orang tertua yang ada saat itu diminta menceritakan kehidupannya yang dulu. Dan penonton pun diajak menebak-nebak, cerita mana yang merupakan cerita sebenarnya.

Percabangan cerita Nemo berawal ketika perpisahan kedua orangtuanya di stasiun kereta. Saat itu Nemo harus memutuskan untuk memilih tinggal bersama ayahnya, atau dengan ibunya. Nemo pun menceritakan kedua cabang hidupnya itu. Baik ketika ia memilih tinggal bersama ayahnya, dan juga ibunya. Ketika ia bersama ibunya, Nemo jatuh cinta dengan Anna yang merupakan saudara tirinya. Sedangkan dalam cerita Nemo-memilih-tinggal-bersama-ayahnya, cerita berkembang dengan percabangan berikutnya. Yaitu ketika cintanya ditolak oleh Elise (yang kemudian akhirnya Nemo menikahi Jean), dan ketika cintanya diterima oleh Elise meski tanpa akhir bahagia.

Akhir film ini sebenarnya agak kurang seru, karena kita diberi clue untuk menebak cerita mana yang sebenarnya dialami Nemo. Menurut saya akan lebih seru kalau penonton dibiarkan terombang-ambing dalam rasa penasarannya. Toh, pesan dari film ini (lagi-lagi menurut saya) juga agak buram. Yang menarik buat saya adalah idenya. Bahwa adanya kita sekarang ini, detik ini, di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, adalah merupakan sebuah hasil dari pilihan-pilihan kita yang tak terhitung banyaknya yang ada di masa lalu.

Bisa saja, saya misalnya, jika beberapa tahun yang lalu hanya membiarkan informasi tentang beasiswa di suatu milis itu lewat begitu saja, mungkin saat ini saya tidak berada di atas matras busa di sebuah asrama di suatu kampus di Taiwan sambil mengupdate isi blog. Atau, bisa saja pada tanggal 25 Agustus 8 September 2007 saya menuruti kegelisahan saya di atas pesawat dan memutuskan untuk langsung kembali ke Indonesia sesampainya di Chiang Kai-Shek Airport. Ada kemungkinan yang tak terhitung banyaknya yang membuat kita berada dalam kondisi begini saat ini. Dan itu semua adalah hasil pilihan kita entah itu merupakan pilihan yang tepat atau tidak. Pilihan buat kita adalah, merencanakannya dengan matang atau membiarkan waktu yang menentukannya tanpa tahu apakah itu baik atau buruk bagi kita.

Saya baru saja diingatkan oleh teman beberapa hari yang lalu tentang “connecting the dots”-nya Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford University dulu. Di akhir pesannya yang pertama Steve berkata,

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

Suatu hari jika kita mau melihat ke belakang, mungkin kita bisa melihat bagaimana benang merah bisa menyulam keadaan kita pada saat ini. Bagaimana kejadian-kejadian acak bisa membuat cerita menjadi manis atau sedih. Jadi rasanya nggak adil kalau ada yang menyalahkan keadaan. Sama saja dia menyalahkan pilihan-pilihannya sendiri.