Mestakung

Wednesday, January 26th 2011

Dari sebuah episode yang ditayangkan di Kick Andy yang menampilkan Prof. Yohanes Surya misalnya. Atau pernah membaca artikel Beliau tentang teori ini. Atau memang karena Anda adalah seorang fisikawan jenius sekelas Sheldon Cooper atau Leonard Hofstadter yang pastinya sudah tahu tentang semua teori fisika di luar kepala. Mestakung adalah semesta mendukung. Suatu konsep fisika tentang alam semesta. Yaitu ketika kita berada pada kondisi kritis, maka akan terjadi pengaturan diri agar kita bisa keluar dari kondisi kritis itu. Makin kritis kondisinya, maka makin besar pula peluang kita untuk bisa keluar dari kondisi tersebut. Kurang lebih seperti itu yang diutarakan oleh Prof. Yohanes.

Beliau mencontohkannya dengan membuat kondisi kritisnya sendiri pada saat membuat paspor untuk kuliah di luar negeri. Letak kritisnya agak absurd menurut saya. Worst case-nya adalah paspor itu jadi hangus tak terpakai. Contoh lain, ketika Beliau diharuskan mengajar di kampus yang menerimanya untuk lanjut kuliah di Amerika, padahal kemampuannya berbahasa Inggris saat itu sangat minim. Titik kritisnya saat itu adalah bahwa dia memiliki waktu 3 bulan untuk jumping ke program doktor, atau menjadi bahan tertawaan mahasiswa-mahasiswa di sana karena ketidakmahirannya berbahasa Inggris. Hasilnya, Beliau berhasil keluar dari titik kritis itu.

Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh sebenarnya, karena konsep ini menurut pengamatan empiris saya terjadi hampir pada setiap siswa dan mahasiswa. Biasanya semakin mendekati deadline, kreatifitas menjadi meningkat. Ketika tiba-tiba kita tahu jawaban-jawaban dari soal-soal ujian saat mendekati waktu yang hampir berakhir. Ketika banyak master berseliweran saat tugas pendahuluan praktikum harus segera dikumpulkan. Ketika otak yang tiba-tiba encer saat mendekati batas waktu proposal skripsi atau thesis dikirim.

Kisah-kisah sukses lain tentang para ilmuwan Indonesia di luar negeri yang juga pernah ditayangkan di program tv yang sedang mengalami ribut-ribut masalah eksploitasi anak itu, kalau mau ditelaah dari segi latar belakangnya, maka mayoritas didominasi oleh kondisi kritis. Latar belakang para ilmuwan sukses itu berawal dari keadaan susah. Orang tua mereka rata-rata harus berjuang untuk mencukupi periuk nasi di meja makan. Tidak ada yang merupakan anak pengusaha kaya, pejabat suskses, atau keturunan bangsawan. Kondisi kritis tersebut bagi mereka menjadi bahan bakar yang tak pernah habis. Maka ketika nasib baik datang bertubi-tubi menghampiri mereka kemudian, alam semesta mendukungnya.

Saya kira konsep ini juga yang melatarbelakangi cerita super saiya dalam kisah Dragon Balls. What does not kill you makes you stronger. Apa yang tidak membunuhmu, akan menjadikanmu lebih kuat. Keluar dari zona nyaman. Karena zona nyaman mematikan kreatifitas. Memang nyaman, tapi ya segitu-segitu saja. Tidak naik-naik, tidak berkembang. Bahkan lama kelamaan tidak mustahil malah menjadi tumpul. Dan akhirnya, useless. Tidak berguna dan tidak bermanfaat. Lalu apa bedanya dengan ada dan tiada? Fatalnya, saya merasa berada di dalam zona tersebut. Kedengarannya memang naif, lebih ingin susah dari pada nyaman. Ya, tapi begitulah yang saya rasakan.

Maka saya sedang mencoba mengkreasikan sendiri kondisi kritis saya. Walaupun sesungguhnya terjadi di luar perencanaan, melainkan terlanjur kadung. Empat tahun adalah batas waktu maksimal yang diizinkan untuk menetap di kampus saya sebagai mahasiswa strata dua. Dan sampai sekarang, after three and a half years, belum ada bayangan kapan bakal disidang. Boro-boro sidang, nulis aja belum. Jadi sekarang saya memang sedang tidak nyaman, selain ancaman dikeluarkan dari kampus karena kelamaan, pertanyaan dari kiri kanan tentang kapan sidang juga sangat2 mengusik. Saya buat lebih kritis lagi dengan tidak meminta bantuan dari orang tua dalam hal finansial saya ke depan. Bukan apa-apa, I just wanna try to stand on my own feet and not to bother them anymore.

Well, let see if this “Mestakung” theory will really work on me, or not?