Bangkitnya Para Legenda

Friday, January 14th 2011

Safin vs Agassi

Sudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya yang saya ingat ada Christopher Rungkat, Hendri Susilo Pramono, Bonit Wiryawan, Ayu Vani, Jessy Rompies, Liza Andriyani, dan Sandy Gumulya. Dan kebetulan waktu itu melihat dari jarak yang sangat dekat, jadi kerasnya laju bola memang sangat terasa. Fotografer media yang duduk di sebelah saya selalu menggunakan mode multiple-shots di kameranya agar tidak kehilangan momen saat aksi-aksi terjadi.

Namun itu bukanlah untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya saya pernah merasakan menonton langsung pertandingan berkelas dunia yang berlangsung di lapangan tenis Senayan. Saat itu sedang berlangsung penyisihan Piala Davis dan Piala Fed. Tim Indonesia di antaranya diwakili oleh Suwandi, Prima Simpatiaji, Angelique Wijaya, Ayu Vani, dan Romana Tedjakusuma (yang lain saya lupa). Sayang kedua tim kita kalah. Tim Davis entah kalah oleh negara mana saya lupa. Tim Piala Fed dilumpuhkan oleh Cina yang memang memiliki pemain-pemain berkelas dunia. Ada Li Na dan Shuai Peng di nomor tunggal yang memang sangat aktif di kejuaraan-kejuaraan WTA. Di nomor ganda mereka juga sangat kuat. Bola hijau muda yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi dari raket ke raket itu membuat saya sering menggeleng heran dan mengucap “gila” atau “buset” saat para pemain mengarahkannya ke sudut-sudut lapangan yang melintas rendah di atas net.

Awal tahun ini di Taipei Arena dalam ajang Rise of Legends, sekali lagi saya merasakan bagaimana aura para atlet tenis itu berada dekat dengan saya. Walaupun, jarak dari tempat duduk saya dengan lapangan memang lumayan jauh. Adalah 2 mantan petenis dunia yang bertanding di sana, Andre Agassi dan Marat Safin. Adapula petenis peringkat 10 ATP saat ini, Mikhail Youzhny serta dua petenis tuan rumah, Lu Yen-Hsun (petenis nomor 1 Taiwan yang pernah mengalahkan Andy Roddick di Wimbledon 2010), dan Jimmy Wang. Ada tiga pertandingan, dua kali pertandingan tunggal dan sekali pertandingan double. Pertandingan pertama mempertemukan Yen-Hsun dengan Youzhny yang hanya berlangsung dalam satu set. Sedangkan pertandingan kedua mempertemukan Safin dan Agassi dengan menggunakan format ‘the best of three’. Pertandingan ketiga adalah pertandingan double. Agassi berdampingan dengan Yen-Hsun, dan Jimmy berpartner dengan Safin.

Di pertandingan pertama, game berlangsung cukup ketat. Meskipun judulnya eksebisi, namun Youzhny tetap mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tapi sepertinya memang tidak terlalu ngoyo jika melihat dalam beberapa minggu ke depan dia sudah harus siap dengan Grand Slam pertama di tahun ini di Melbourne. Yen-Hsun pun di depan ribuan pendukungnya tampak lebih percaya diri dan akhirnya memengkan pertandingan tersebut walau sempat terkatung-katung di awal permainan. Pertandingan ini dimenangkan oleh Yhen-Hsu dengan skor 7-5. Pertandingan berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Safin dengan pukulan-pukulan kerasnya dan Agassi dengan return service-nya yang sering membuat mati langkah lawan. Safin yang lebih muda 10 tahun dari Agassi, masih mempunyai pukulan-pukulan sisa-sisa kejayaannya dulu ketika menjadi pemain nomor satu sedunia. Pun begitu dengan Agassi. Walau usianya sudah berkepala empat, dia masih bisa mengimbangi forehand dan service keras Safin. Tidak jarang mereka bergurau, dan tidak jarang pula mereka pamer skill. Bahkan di tengah pertandingan ketika Safin memiliki kesempatan untuk memenangkan set ke-2 (yang berarti dia akan memenangkan pertandingan), Agassi masih sempat dengan pede-nya berkata, “I never lose to Russian.” Dan pertandingan pun akhirnya harus diakhiri dengan tie-break 10 poin di set ke-3, yang akhirnya dimenangkan oleh Agassi. Sayangnya di pertandingan terakhir, mereka terlalu banyak bercanda sehingga terkesan lebih mirip pertandingan dagelan daripada eksebisi.

Saya cukup puas dengan pertandingan Safin melawan Agassi, walaupun agak sedih juga karena harus merelakan 800 NT. Jadi pengen main tenis lagi, tapi masih bisa mukul nggak ya?

Tags: ,