Archive for 2010

Eid al-Adha 1431H

Tuesday, November 16th, 2010

First of all, Happy Eid for everyone. All the praise to الله Who gives us health and wealth, faith and spirit, so that we can breathe the freshness air of Eid al-Adha this year. Not much I would tell since it is the fourth Eid al-Adha that I celebrated in Taipei. Everything is almost the same as the three years before. Without surrounded by voice of Takbiran, without ketupat and opor in the morning as a breakfast, without barbecuing satay in the afternoon, without all kinds of mutton menu (gulai, tongseng, or tengkleng) for lunch and diner -today, I ate seafood burger and french fries for brunch; rames rice with fried chicken for diner-, worst of all, without family. Well, I guess I just get used to it. And as the year before, I wish it is gonna be my last Eid al-Adha in Taipei. The pictures below will show you the situation of Eid al-Adha at Taipei Grand Mosque.

Yesterday, a friend of mine sent an email to the mailing list that I follow. There are two links of videos that he took at Eid al-Adha two years ago. One of them contains my first experience in slaughtering the goat to be sacrificed. I was a little bit nervous at that time. Hesitated whether I could do this job in the right way, or not. Before the execution, I was given some advises by the expert fellow and ustadz Issa Chao about how to slaughter. I put the knife on the goat’s throat. Then by saying “Bismillahi Allahu Akbar” I started to move the knife forward with a deep pushing. I pulled it slowly and deep. And pushed it again forward for the second time by reducing the push. Pulled it again for the second time, not as strong as before. At last, I moved it again forward as the finishing touch and make it sure that the head was not cut off. Hopefully, I did it right at that time. إن شاء الله.

Nikon or Canon?

Saturday, November 6th, 2010

Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu bukan untuk melihat atau membeli produk-produk yang ditawarkan, melainkan mencari keturunan Hawa yang bersedia untuk direkam gambarnya ke dalam memori yang tertanam pada kamera DSLR mereka. Dari sekian wanita yang ditugaskan untuk mempromosikan produknya, saya menemukan dua yang termanis di booth milik dua produsen kamera yang paling banyak digunakan.

Rehal Modern

Thursday, November 4th, 2010

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.

Bahasa Indonesia (baca: Én.do.né.sya)

Saturday, October 30th, 2010

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali kalau sekolahnya di luar negeri. Tapi yang saya heran, kenapa hampir semua orang Indonesia di Indonesia ini -selain media massa-, dalam berkomunikasi jarang banget atau bahkan langka yang menggunakan bahasa Indonesia? Maksud saya, bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Perkara lama sih sebenarnya. Dari dulu sejak bisa ngomong sampai sekarang, saya juga begitu. Bahasa Indonesia hanya dipakai di ruang-ruang formal. Maksudnya begini, waktu saya belajar bahasa asing entah itu Inggris, Jerman, atau Mandarin, bahasa yang diajarkan itulah bahasa yang memang digunakan untuk menulis ataupun bercakap-cakap, baik ruang formal maupun non-formal. Teknik serta teori yang diajarkan di kelas bahasa itu secara langsung memang bisa dipraktikkan. Tapi kalau bahasa Indonesia? Kita mungkin akan aneh mendengar percakapan dalam keseharian yang menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya. Misalkan saja antara seorang tukang bajaj yang lagi bernegosiasi dengan calon penumpangnya, sebut saja namanya Mawar.

Mawar : “Pak, saya ingin pergi ke Pondok Indah Mall. Berapakah harga yang harus saya bayar?”

Tukang bajaj : “Dua puluh ribu rupiah, nona.”

Mawar : “Bagaimana jika sepuluh ribu rupiah saja, Pak? Karena jarak dari sini ke sana kan tidak sampai 2 kilometer.”

Tukang bajaj : “Mengapa nona tidak berjalan kaki saja kalau memang Anda merasa jaraknya dekat?”

Aneh, kan? Dan akan wajar kalau percakapan yang terjadi seperti ini,

Mawar : “Bang, ke PIM berapa duit?”

Tukang bajaj : “noban lah neng…”

Mawar : “ya elah bang… ceban aja lah, ke PIM doang ini… tuh, keliatan dari sini… ngesot dikit juga nyampe…”

Tukang bajaj : “muke lo deket! itu bulan juga keliatan dari sini…”

Nah, itu salah satu contoh keseharian kita di dunia nyata yang menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah diajarkan di bangku-bangku sekolah itu menjadi tidak praktikal ketika diterapkan dalam masyarakat. Dan sebelum kita melihat perilaku berbahasa di dunia maya, mari kita ambil telepon genggam kita masing-masing dan buka menu ‘Messages’ atau ‘SMS’. Kemudian pilih menu ‘inbox’. Yakin seyakin-yakinnya, akan banyak sekali ditemukan kata-kata yang disingkat. Dan karena kita sudah sangat terlatih, saya yakin pesan singkat di bawah ini akan sangat mudah terbaca maksudnya.

Oi, btw bsk jd ke bdg ga?

Jd, gmn lo jd mo brg ga?

Teknologi merubah budaya. Dulu kita mengenal pager. Teknologi yang belum sempat mem-booming dan segera tergantikan oleh telepon genggam yang laris manis bak kacang goreng. Pager dan fitur Short Message Service pada telepon genggam ini menuntut kita mengirimkan pesan sependek-pendeknya. Dan cara termudah adalah dengan menyingkat kata-kata yang bisa disingkat. Konsep sederhananya, menghilangkan huruf-huruf vokal pada sebuah kata. Sampai akhirnya tanpa disadari kita terbiasa menggunakan singkatan-singkatan itu.

Tidak cukup lama setelah kata SMS cukup sering terdengar, internet mulai mudah diraih. Berkenalanlah kita dengan salah satu produk internet yang memudahkan kita berhubungan dengan orang lain. Email dan chat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS dan ber-chatting ria di internet ini melebur. Keduanya ini dicurigai merupakan cikal bakal gaya berbahasa di dunia maya anak muda masa kini. Dengan sentuhan kreatifitas jiwa muda, terlepas dari namanya yang entah diambil dari mana, kita kini mengenal Bahasa Alay. Contoh sederhananya dengan mudah bisa kita temukan di status-status facebook anak-anak yang sedang menginjak usia remaja, yang sekarang ini lebih sering disebut ababil. Sebuah contoh di bawah ini saya kutip dari email seorang teman yang katanya dia dapat dari facebook seseorang. Percakapan virtual seorang alay, dengan seorang normal.

Alay : Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

Normal : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)

Alay : Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

Normal : Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

Alay : Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ’emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(

Males kan ya bacanya? Dan rasanya lebih layak disebut pesan rahasia yang terenkripsi dari pada sebuah bahasa suatu negara. Dengan bahasa yang disingkat-singkat saja kita masih harus mengira-ngira maksudnya, apalagi ini hurufnya diganti angka, simbol, dan huruf besar-kecil yang sifatnya acak. Hal lain lagi yang masih menyangkut gaya bahasa ber-facebook, mengapa pada komentar-komentar atau status, banyak sekali kita temukan deretan titik-titik hampir di setiap akhir kalimat?

Itu kesalahan mayor yang terjadi dalam tata bahasa kita dalam dunia digital. Sedangkan yang minor-minor juga ada, namun biasanya tidak kentara karena terlihat lazim. Kejadian ini sering saya temukan di blog, di note-note facebook, atau di artikel-artikel lepas yang ada di internet. Sekedar meluruskan, saya tidak sedang mempermasalahkan orang-orang yang mengadopsi gaya bahasa non-formal dalam blog-blognya, seperti menggunakan kata ‘ngerjain’, dan bukan ‘mengerjakan’; ‘nyupir’ dan bukan ‘mengendarai’; ‘make’ dan bukan ‘memakai’; dll. Tapi yang membuat saya sangat terganggu adalah penggunaan ‘di’ yang salah.

Banyak sekali yang masih tidak dapat membedakan bagaimana cara menggunakan ‘di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dan ‘di-’ sebagai imbuhan yang membuat sebuah kalimat menjadi pasif. Bahasa Indonesia saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu buruk, tapi setidaknya saya masih bisa menggunakan ‘di’ sesuai dengan fungsinya.

Seingat saya -dan saya yakin masih benar sampai saat ini-, penggunaan ‘di’ sebagai keterangan tempat itu dipisahkan dari nama benda atau nama tempat itu. Contoh:

  1. Teman saya membalas twitter temannya di kamar mandi.
  2. Kertas itu tertumpuk di meja.

Sedangkan ‘di’ sebagai imbuhan, cara menggunakannya adalah dengan menyambungkannya dengan kata yang diimbuhi. Contoh:

  1. Teman saya ditampar pacarnya.
  2. Mobil itu ditabrak sepeda.

Mudah sebenarnya untuk memeriksa apakah ‘di’ itu seharusnya disambung atau dipisah. Caranya dengan mengubah kalimat itu menjadi bahasa Inggris. ‘Di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dalam bahasa Inggris akan terpisah dengan sendirinya karena berubah menjadi ‘in’, ‘on’, atau ‘at’. Sedangkan ‘di’ yang digunakan sebagai imbuhan, tidak demikian.

Lucu juga ketika saya menemukan sebuah blog yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh seorang asing Australia di sini. Tidak tahu berapa lama telah dia habiskan waktu di Indonesia hingga bisa sefasih itu dalam menggunakan bahasa pergaulan. Yang jelas butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengadopsi bahasa Indonesia non-formal itu karena gaya bahasanya tidak akan ada di buku panduan berbahasa Indonesia.

Wajar saja kalau bahasa Indonesia selama ini selalu menjadi salah satu momok dalam Ujian Nasional. Banyak yang jatuh nilainya di mata pelajaran ini dibandingkan mata pelajaran eksak lainnya. Karena memang kita tidak pernah melatihnya, dan kita lebih sering mengacuhkannya karena kita merasa kita bisa. Padahal, bahasa yang biasa kita gunakan bukanlah bahasa Indonesia yang benar. Mungkin bahasa yang kita gunakan adalah bahasa sebuah negara yang sering diteriakkan para supporter sepakbolanya ketika bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Éndonésya!

Empathy and Sympathy for Diversity

Sunday, October 17th, 2010

Ketika ingin memulai menulis artikel ini, saya merasakan sedikit keraguan. Saya khawatir menggunakan judul yang sama dengan peserta writing contest Pesta Blogger 2010 lainnya. Sebab saya takut dikira nggak kreatif, atau bahkan disebut plagiat. Karena di era serba canggih sekarang ini, gampang sekali menyulap karya milik orang lain menjadi milik pribadi. Tinggal tekan Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada keyboard, dan voila! Maka dalam sekejap, jadilah karya plagiat milik kita. Oleh sebab itu, sebelum saya memulai menulis, saya perhatikan dulu satu per satu daftar karya peserta yang sudah masuk ke website. Sambil berdoa tentunya, semoga tidak ada judul yang sama dengan judul yang sedang saya pikirkan. Setelah sampai pada halaman akhir daftar peserta beserta judul karyanya, ternyata keraguan saya sama sekali tidak beralasan. Lebih dari 200 tulisan yang sudah masuk, tidak ada satupun judul yang sama dengan judul tulisan yang ada dalam benak saya. Saya bertanya dalam hati, apakah ada yang aneh dengan cara berpikir saya. Sebab saya mengira, dengan tema tulisan sudah ditentukan oleh panitia, maka akan besar kemungkinan para peserta akan memilih judul yang sama. Walaupun probabilitasnya sangat kecil, kemungkinan itu tetap saja ada.

Saya teringat dengan sebuah buku tentang tips berbicara yang pernah saya baca yang ditulis oleh Larry King, seorang Amerika yang malang melintang di dunia penyiaran. Dalam bukunya yang berjudul Seni Berbicara Kepada Siapa Saja 1, ia memberikan tips-nya untuk mencari teman ngobrol yang enak dengan orang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dan salah satu tips-nya adalah agar kita mencari tahu bidang ketertarikan yang disukai oleh lawan bicara. Galilah terus arah pembicaran hingga menemukan suatu hal atau bidang yang membuat kedua belah pihak sama-sama tertarik untuk membicarakannya. Dengan begitu akan terjalin pertukaran ide dan informasi yang berkesinambungan antara keduanya, karena mereka menyukainya. Tips yang gampang-gampang susah bukan?

Mungkin akan mudah, jika penampilan dan tingkah laku lawan bicara kita secara nampak langsung mencerminkan bidang ketertarikannya. Contoh, dia menggunakan kostum kesebelasan favorit misalnya, atau menggunakan gadget pemutar MP3 yang mencirikan bahwa dia menyukai musik. Mungkin itu juga sebabnya di halaman profil di Facebook atau di jaringan sosial lainnya mencantumkan kolom isian untuk “interest” agar kita dapat dengan mudah berteman dengan orang lain yang bidang ketertarikannya sama dengan kita. Gender juga sedikit banyak memberikan clue untuk membuka percakapan. Namun akan sulit bagi kita ketika kita bertemu seseorang yang tidak menonjolkan ketertarikannya melalui penampilan dan perilakunya. Satu kesimpulan kecil dari tips ini adalah, bahwa mencari kesamaan kita dengan orang lain sedikit lebih sulit dari pada mencari perbedaan.

Berbeda dengan Larry King, Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain 2, memberikan alternatif cara yang berbeda dalam berkenalan dengan orang yang baru kita kenal. Alih-alih mencari kesamaan antara kita dengan lawan bicara, tidak ada salahnya kita memelihara perbedaan itu tetap ada di dalam topik pembicaraan. Caranya yaitu dengan membuat lawan bicara kita merasa menguasai topik yang sedang dibicarakan. Buat lawan bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan oleh Dale dan Larry tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cara dari Larry mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama agar berhasil. Karena sekali lagi, mencari kesamaan lebih sulit dan membutuhkan proses. Tidak seperti saran dari Dale yang membiarkan perbedaan itu tetap ada dan apa adanya, sehingga kemungkinan berhasil menjadi lebih cepat. Lalu, apa keuntungan dari cara Larry? Saya kira cara itu bisa membuat ikatan pertemanan menjadi lebih kuat. Kita bisa langsung nyambung ketika bertemu dengannya di lain waktu. Sedangkan cara dari Dale, menurut saya hanya dapat bekerja sementara waktu saja. Setidaknya kita punya teman ngobrol di suatu tempat yang asing bagi kita ketika kita sedang merasa sendiri. Karena percayalah, kita tidak ingin selamanya merasa bodoh ketika berbicara dengan orang lain.

Namun tentunya akan lebih baik lagi apabila kita sanggup mengkombinasikan kedua cara itu -mencari kesamaan dan membiarkan perbedaan- agar bersinergi secara optimal. Sebuah grup street dance asal Inggris, Diversity, tahu benar cara memanfaatkan keragaman anggotanya menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengantarkan mereka menjuarai ajang Britain’s Got Talent di tahun 2009 lalu. Anggotanya terdiri dari anak-anak hingga remaja, dari anak sekolahan hingga mahasiswa strata dua di sebuah perguruan tinggi. Bermodalkan ketertarikan dan kecintaan yang sama pada street dance, mereka bisa bekerjasama merangkai tarian yang sangat asyik untuk dinikmati. Dan saya yakin mereka juga menikmatinya.

Kita, bangsa Indonesia, juga punya contoh yang nyata untuk itu. Seperti dulu ketika para pahlawan kita merebut kemerdekaan. Berbekal semangat persatuan dan kesatuan yang berlandaskan kesamaan nasib dan kesamaan tujuan, mereka berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Setelah merdeka, mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau. Agama yang dipeluk penduduknya pun berbeda-beda. Maka akan sangat bijak dengan menerima keragaman suku, agama, dan ras itu dalam suatu landasan dasar negara. Hingga terciptalah Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun belakangan ini, setelah negeri tetangga menobatkan dirinya sendiri sebagai the truly Asia, saya merasa bangsa kita latah dan terkesan sombong dengan mengklaim dirinya sebagai bangsa yang paling beragam, the ultimate in diversity. Tapi kalau sebutan keren itu hanya membuat bangsa ini semakin mundur, membuat kerusuhan semakin banyak, lalu apa gunanya?

Keragaman, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada. Karena toh, dari munculnya kita ke dunia ini saja kita sudah diciptakan berbeda. Masalah apakah keragaman itu nantinya akan menjadi anugerah atau musibah, hanya tinggal bagaimana kita memperlakukannya. Dengan sedikit empati dan simpati, rasanya cukup untuk menjadikan bumi Indonesia yang penuh keragaman ini menjadi penuh akan kedamaian dan kreatifitas.

*****

1. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere.
2. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Win Friends and Influence People.