Archive for 2010

Aku Sebuah Buku

Friday, December 3rd, 2010

Ini semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti semut-semut dari ketinggian yang melebihi awan. Hingga akhirnya aku tiba di negerinya Chiang-Kai Sek seperti sekarang ini. Kini aku berada di sebuah pulau kecil yang mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah negara. Walaupun pengakuan itu tidak sepenuhnya diakui oleh semua negara. Maka dari itulah pemerintah negeri ini tidak lelahnya mengkampanyekan ‘U.N. for Taiwan’. Tapi kau tahu kan? Di dalam PBB sana ada sebuah kekuatan yang tidak akan membiarkan negeri kecil ini untuk bergabung. Sebuah kekuatan yang sangat besar. Namun begitu, negeri tempat aku berada kini diakui reputasinya dalam hal yang berkaitan dengan produk-produk yang dikonsumsi oleh orang-orang yang mengaku dirinya modern dan melek teknologi.

Ah, maafkan aku yang bertele-tele dan terlalu masyuk bercerita ke sana ke mari. Itu tadi hanyalah pelampiasanku yang terpendam -karena selama ini tak ada yang mendengarkanku- akan euforia bahwa aku sedang berada di luar negeri saat ini. Aku tahu kau telah menungguku menceritakan ringkasan dari imajinasi liar Orhan Pamuk si orang Turki, yang tertuang di dalam lembaran-lembaran kertas setebal tujuh ratus sekian halaman ini bukan? Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu tapi dengan suatu persyaratan yaitu, aku tidak akan menceritakannya kepadamu hingga tuntas. Dan jika kau bertanya mengapa aku melakukan itu, aku punya dua alasan yang sudah kupersiapkan. Pertama, karena aku menceritakan sebuah misteri tentang pembunuhan. Kedua, aku merasa tidak etis untuk menceritakan keseluruhan isi cerita yang kukandung. Sebab itu akan menghilangkan rasa penasaran para calon-calon pembacaku yang sudah tertarik dengan sampul depanku yang bertuliskan ‘Pemenang Hadiah NOBEL SASTRA 2006′, lalu dengan seketika membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mengambilku pada rak-rak atau di tumpukan-tumpukan yang ada di toko buku besar maupun kecil, di tumpukan-tumpukan toko buku second hand, taman-taman baca, atau di perpustakaan-perpustakaan. Aku tahu, kau semakin tidak sabar bukan? Aku bisa mendengar suara hatimu berkata, “hentikan omong kosong ini, dan mulailah bercerita!”

Semua ini diawali oleh cerita seorang mayat yang tersungkur di dasar sumur. Dan seperti semua mayat pada umumnya, ia juga memiliki nama ketika sukma masih menyatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultan kepadanya. Sebuah pekerjaan -yang aku tidak tahu apakah engkau mengenal profesi ilustrator atau tidak- untuk mendekorasi ‘Kitab Segala Pesta’. Dalam penyelesaian kitab ini, Enishte meminta kerabat-kerabatnya sesama ilustrator untuk membantunya. Ketiga kerabatnya itu memiliki panggilan Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Salah satu dari ketiganya inilah yang dicurigai membunuh Elok Effendi, dan di tengah cerita juga membunuh Enishte Effendi. Itulah bingkai besar dari ceritaku.

Kemudian, apakah engkau termasuk seseorang yang suka dengan kisah-kisah cinta? Jangan khawatir, aku akan melanjutkan bagian tentang kisah cinta yang terkandung dalam diriku. Tentu saja bukan kisah cinta seperti Romeo dan Juliet, atau Beauty and The Beast. Kisah cinta ini tentang seorang wanita yang kesepian. Shekure, anak perempuan satu-satunya dari Enishte Effendi, dikisahkan sebagai seorang istri yang telah ditinggal pergi suaminya selama 4 tahun ke medan perang. Wanita yang dikisahkan sangat cantik ini -mana ada sih tokoh utama wanita yang diberi karakter buruk rupa?- telah memiliki 2 orang anak yang masih kecil bernama Orhan dan Shevket. Mereka tinggal serumah dengan Enishte Effendi bersama seorang budak bernama Hayriye setelah rumah suami Shekure dirasakan mulai tidak nyaman sejak kepergian suaminya yang tak kembali. Alkisah kedatangan Hitam ke rumah Enishte berhasil membuncahkan kembali benih-benih cinta Shekure. Dulu Shekure pernah menolak Hitam. Namun kini cerita itu berbalik. Keduanya dilanda asmara. Sayangnya perasaan itu harus terhalang oleh status Shekure yang masih menjadi seorang istri dan juga ditunjang oleh ketidaksukaan Enishte kepada Hitam. Suatu ketika, Enishte dibunuh secara kejam oleh seorang kerabat ilustratornya. Momen ini dimanfaatkan Shekure dan Hitam untuk melangsungkan pernikahan mereka. Alasannya bukan hanya karena cinta, itu hanya salah satunya saja. Alasan lain pernikahan Hitam dan Shekure yaitu karena Shekure tidak ingin kembali ke rumah suaminya yang lama, di mana di sana ada adik iparnya yang bernama Hasan yang juga menginginkan Shekure. Walaupun Hitam dan Shekure telah menjadi pasangan suami istri, namun kewajiban Hitam sebagai suami dibatasi oleh Shekure sebagai syarat pernikahan. Hitam dilarang melakukan suatu hal yang layaknya dilakukan pasangan suami istri apabila ia belum bisa menemukan pelaku yang membunuh Enishte-nya.

Hingga akhirnya kabar kematian Enishte ini sampai ke kalangan istana. Hitam menyerahkan semua karya yang ditinggalkan Enishte-nya kepada Sultan. Sultan kemudian memerintahkan Tuan Osman -pemilik bengkel seni ketiga ilustrator yang diduga sebagai pembunuh Enishte- dan Hitam untuk mengusut kasus ini. Mereka hanya diberikan waktu 3 kali pergantian siang dan malam untuk menuntaskannya. Dan apabila dalam kurun waktu 3 hari tersebut Tuan Osman dan Hitam tidak dapat menemukan pembunuhnya, maka mereka lah yang akan menjalani hukuman dari Sultan, di mana nyawa menjadi taruhan. Langkah pertama yang dilakukan Tuan Osman adalah memeriksa karya-karya Enishte Effendi yang dikerjakan bersama-sama ketiga ilustratornya, Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Tuan Osman sangat mengerti sifat-sifat ilustratornya. Ia bisa menebak jitu siapa yang membuat suatu lukisan tanpa tandatangan hanya dengan mengamatinya, baik dengan mata telanjang maupun dengan kaca pembesar yang telah menjadi kawan sejatinya. Pada sebuah lukisan, Tuan Osman menyadari ada hal yang ganjil pada hidung kuda yang dia amati. Penemuan ini disampaikan pada Sultan yang kemudian Sultan memerintahkan untuk mengadakan sayembara kepada ketiga ilustrator dari bengkel seni Tuan Osman itu. Para ilustrator itu diminta untuk menggambarkan seekor kuda pada sebuah kertas kosong. Langkah ini ternyata tidak memberikan hasil yang berarti karena si pembunuh melukis kuda itu dengan cara yang berbeda setelah ia mencurigai sayembara dadakan itu. Di hari kedua, Tuan Osman meminta kepada Sultan untuk dapat memasuki Ruang Penyimpanan Harta. Setelah 2 hari lamanya, petunjuk itu akhirnya ditemukan oleh Hitam. Sebuah lukisan kuda dengan keanehan pada hidung. Bagian hidung kuda yang terpotong dalam lukisan itu mirip dengan hidung kuda yang ada pada salah satu karya Enishte Effendi yang dibantu oleh ilustrator-ilustratornya. Dengan pengamatan yang jeli dari Tuan Osman, pelaku pembunuhan itu akhirnya diketahui.

Setelah pelaku diketahui oleh Tuan Osman, Hitam pergi mencarinya. Namun sebelum itu, ia mencari istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Shekure dan anak-anaknya tidak ditemui di rumahnya. Atas informasi dari Esther, ternyata Shekure kembali ke rumah suaminya yang lama atas kemauan Shevket. Hitam mengambil kembali mereka dari sana. Dan dalam perjalanan pulang, Hitam mengamankan keluarganya di tempat kerabatnya. Hitam kemudian mengunjungi satu per satu rumah para ilustrator itu (Kupu-kupu, Bangau, dan Zaitun). Di sebuah tempat persembunyian salah satu ilustrator, akhirnya mereka berempat berkumpul. Terjadi perdebatan dan perkelahian yang cukup menarik di sana. Mata si pembunuh ditusuk oleh jarum yang pernah membuat mata Tuan Osman buta. Hitam yang bergelut dengan si pembunuh, mengalami luka yang cukup parah akibat tusukan belati. Hingga akhirnya si pembunuh itu berhasil meloloskan diri. Namun sayang, di tengah perjalanannya untuk pergi mengasingkan diri, si pembunuh itu harus mati mengenaskan di tangan Hasan. Bagaimana akhirnya nasib Hitam dan ilustrator lainnya itu? Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan karena kisah ini berakhir bahagia.

Beberapa paragraf di atas aku rasa cukup untuk memberikan gambaran kepadamu mengenai jalannya cerita. Sekarang aku ingin berbagi hal-hal lain yang ada dalam pikiran si pemilikku itu. Yang pertama, dia terasa menikmati sekali chapter ‘Aku adalah Esther’. Jika engkau tidak tahu siapa itu Esther, dia adalah perempuan Yahudi tua yang sering ditugaskan sebagai pengantar pesan dan surat. Ada kalanya ketika yang diantarkan adalah surat cinta, maka engkau bisa memanggilnya dengan sebutan Esther si Mak Comblang. Dalam chapter-chapter si Esther, kita akan dibawa untuk lebih memahami perasaan-perasaan yang tak terungkap. Sinyal-sinyal yang hanya dikirim lewat hati dan hanya bisa tertangkap oleh hati. Selain itu, chapter tentang Esther biasanya tidak membawakan hal-hal yang berat. Sedangkan yang kedua, pemilikku ini sangat seksama mencermati chapter ‘Aku adalah Shekure’. Aku tidak heran, karena dia memang senang mempelajari dan memahami tingkah laku manusia berkromosom XX. Shekure memiliki 2 peran di sini, sebagai ibu dari 2 orang anak, dan juga sebagai seseorang yang sedang jatuh cinta. Hal terakhir yang ingin kusampaikan mengenai si pemilikku ini adalah, percayalah bahwa dia tidak terlalu menyukaiku. Sebabnya, aku bukanlah buku yang mudah dibaca. Aku melihatnya yang terkadang bertampang bingung dengan sedikit kernyitan kecil di dahi. Sambil membaca sebuah kalimat berulang-ulang karena tidak mengerti maksud dari sebuah kalimat yang tertulis di sini. Jika pun akhirnya dia berhasil menyelesaikannya hingga lembar terakhir, itu hanya karena penasaran dengan si pelaku pembunuhan dan juga karena dia tidak ingin membiarkanku terlantar tak terbaca.

Terakhir, izinkan aku membekalimu dengan 2 buah pesan tersurat yang sedikit menohok pemilikku ketika membacanya. Dua buah kalimat yang penuh pelajaran akan arti cinta dan pernikahan.

Cinta akan muncul setelah pernikahan. (Hal. 339)

Cinta bukanlah penderitaan demi penderitaan, melainkan sebuah makna untuk meraih-Mu. (Hal. 379)

RDK

Sunday, November 28th, 2010

RDK bukan Rida-Dewi-Kita. Grup vokal itu kan sudah bubar lama. Saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat seorang teman saya yang baru melangsungkan siaran terakhirnya kemarin. Risma Diniar Kosasih alias DJ Imo. Saya kenal dengan cewek yang suaranya cempreng ketika siaran ini sudah cukup lama. Mungkin sudah berlangsung sekitar 1 tahun lebih 1 bulan lewat 1 hari. Seperti layaknya pertemanan yang terjadi di radio tempat kami pernah bekerja membanting tulang, memeras keringat, menyayat hati, serta menguras uang saku itu, kami belum pernah sekalipun bertemu secara fisik. Namun layaknya persahabatan di radio itu pula, kami bisa cepat akrab. Apalagi kami sama-sama masuk di seksi sibuk yang mengurusi urusan dapur radio itu.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan ketika kemarin diberi kesempatan untuk memberikan kata-kata terakhir. Tapi enggak tahu kenapa, mungkin karena terbawa suasana haru, jadinya enggak banyak yang saya sampaikan. Maka, sekarang ini lah saatnya untuk melengkapi kekurangan yang kemarin. Hitung-hitung jika suatu saat dia butuh surat rekomendasi dari saya, maka saya tinggal copy-paste saja postingan ini.

Imo yang saya kenal, punya komitmen tinggi terhadap tanggung jawab yang dia emban. Rasanya tiap jumat pagi di program ADUHAI (Arsitektur Dunia Hai hai hai -singkatan yang agak maksa-) atau senin pagi di program TRASI (Tradisional Sehat Ala Imo), anak ini jarang absen dan jarang telat. Kecuali memang ketika musim-musim ujian. Karena mau gimana juga study is priority. Imo juga seorang yang -saya kira- mudah bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Terbuka dan apa adanya. Ceplas-ceplos. Enggak suka ya bilang enggak suka.

Kalau kemarin dia baru saja mengakui dosanya yang seabrek-abrek karena kelakuannya yang suka ngerjain orang itu, itu sama sekali enggak aneh buat saya. Karena dulu dia pernah cerita kalau punya keinginan buat jadi intelijen. Intelijen dan tukang usil, sebelas-dua belas lah ya. Maka enggak heran juga kalau anak ini tergolong yang cukup cepat belajar. Bukannya mau menyulut perang gender, tapi biasanya kalau ada DJ cewek yang lagi ada masalah dengan teknis, rasanya sabar aja enggak cukup buat nahan kebawelan si DJ yang saking paniknya.

Selain sebagai partner in work, Imo juga bisa menempatkan diri sebagai tempat sharing. Dan kalau dia lagi kuliah masalah cinta, dengan semena-mena dia suka membodoh-bodohi saya. Mungkin kalau diibaratkan, seorang Profesor sedang menguliahi anak SD -atau anak TK?-. Sayang, advise-advise yang dia berikan belum berhasil. Memang enggak bisa disalahkan juga sih, karena terkadang yang saya lakukan tidak sesuai dengan arahan-arahan yang dia berikan.

Kalau tentang hobi sampingannya yang suka ngegosip dengan bibirnya yang menurut saya agak dower itu, saya rasa itu cuma bentuk kepedulian dan perhatiannya kepada teman-teman dan orang-orang di sekitarnya. Karena saya tahu, she treasures friendship.

Semoga sukses dalam cita dan cinta, Imo. Semoga kita bertemu, suatu saat nanti. إن شاء الله

Gading-Gading Ganesha

Tuesday, November 23rd, 2010

Sebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku ini dalam film garapan Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan seperti layaknya film yang diangkat dari novel, versi film Gading-Gading Ganesha juga memiliki alur yang cepat dan tidak rinci. Banyak adegan-adegan yang dipotong agar cerita yang setebal 390 halaman itu bisa rampung dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Seperti ketika Slamet akhirnya memutuskan untuk memilih Siti Zulaeha ketimbang Dewi, di saat Slamet mengalami kebimbangan antara pilihannya sendiri dengan pilihan ibunya. Proses yang melibatkan Pak dhe-nya dalam mengambil keputusan itu tidak diungkap dalam film, padahal di situlah titik krusial bagi Slamet yang akhirnya memilih Eha. Selain pemotongan adegan, ada juga yang perubahan-perubahan yang dilakukan dalam film tersebut. Seperti adegan ketika Ria marah di restoran hotel yang sebenarnya tidak diceritakan dalam novel, juga adegan Poltak yang terlambat masuk kelas yang mana dosen yang menegurnya saat itu seharusnya adalah dosen pria dan bukan dosen wanita -yang diperankan oleh Nurul Arifin-. Embel-embel cinta dan alur flashback yang coba dibawakan dalam versi filmnya juga sepertinya agak dipaksakan.

Dibandingkan versi filmnya -yang mana keadaan saat ini sudah terlalu modern untuk menghadirkan kembali suasana tempo dulu-, versi bukunya saya rasakan lebih banyak memanggil memori-memori lama seputar kampus ITB. Suasana OSPEK, praktikum, ekskul atau kegiatan unit, ujian, dosen killer (saya suka bagian joke tentang nilai, di mana nilai A hanya untuk Tuhan, nilai B untuk dosennya, maka mahasiswanya paling banter hanya dapat nilai C), semangat mengerjakan tugas akhir, menjadi kumpulan chapter yang cukup bisa merangkum segala kejadian yang dialami oleh mahasiswa ITB. Kemudian tentang acara Iota Tau Beta, memang dulu ada ya? Apa ini sama dengan Open House Unit? Mungkin karena setting waktunya yang berada jauh ke belakang -bahkan waktu saya belum direncanakan muncul ke dunia-, jadi ya dalam beberapa bagian saya sempat kehilangan bayangan untuk menggambarkannya dalam imajinasi saya.

Ria, Fuad, Slamet, Benny, Gun Gun, dan Poltak, enam tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berasal dari daerah dan budaya yang berbeda-beda, tingkat ekonomi yang berbeda, jurusan yang berbeda, seolah ingin menggambarkan keragaman yang ada di ITB. Perkenalan sesaat ketika pendaftaran yang berujung pada persahabatan abadi. Sangat disayangkan, novelnya sangat datar. Tidak jelas karakter mana yang mau dibangun. Terlalu memaksakan kalau keenamnya semua dijadikan karakter utama. Maka jadi lah novel ini seperti kumpulan cerita pendek dari enam tokoh yang memiliki masalahnya sendiri-sendiri yang kemudian dikemas dalam satu buku dan sengaja dicari-cari benang merah di antara keenamnya. Alur cerita yang terjadi juga tidak karuan. Lompat-lompat tidak jelas. Tidak ada surprise, bahkan bagian-bagian yang (mungkin) diharapkan bisa menjadi klimaks cerita jadi terkesan datar. Saya rasa bukan saya saja yang tidak terpancing emosinya. Di lain sisi, novel ini bisa menjadi bacaan yang ringan sambil ngeteh-ngeteh di sore hari sambil makan pisang goreng. Atau untuk menunggu pesanan makanan datang, atau juga untuk dibaca sambil menunggu MRT datang.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terbaca melalui pesan yang coba dibawakan oleh novel ini di akhir-akhir cerita.

Saya tidak bisa bilang buku ini jelek, tapi agak berat juga untuk mengatakan buku ini bagus. Karena walaupun banyak celah dalam buku ini, namun banyak juga knowledge baru, joke-joke yang baru saya tahu, dan sejarah ITB yang disampaikan oleh Pak Dermawan. Selain itu ada juga kutipan-kutipan hadist, dan salah satunya adalah hadist Nabi yang berbunyi,

Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberi tahu bahwa ia mencintainya
(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Volunteering

Monday, November 22nd, 2010

Sabtu kemarin saya menghadiri seminar kecil yang dihadiri kurang lebih sekitar 500-an orang di Yue-han Hall yang diadakan oleh Youth Vision Taiwan. Tentu saja bukan karena kurang kerjaan setelah kuliah saya di kampus yang sebenarnya sudah habis sejak setahun lebih yang lalu, melainkan karena topik yang dibawakan cukup menarik buat saya. Dan yang terpenting, seminar ini dibawakan dalam bahasa Inggris. Melihat bencana yang terjadi di Indonesia kurang lebih dalam sebulan belakangan ini (Mentawai, Wasior, dan Merapi) sedikit mengusik sisi keingintahuan saya dalam hal volunteering. Karena kejadian di Indonesia kemarin itu sempat membuat saya terpikir sesaat untuk menjadi relawan, suatu saat nanti. Pada kesempatan itu topik yang diambil adalah “Idealism or Self-interest? Critical Views on International Volunteerism.”

Seminar tersebut menghadirkan 2 orang tokoh yang sudah malang melintang di dunia volunteering. Sam Lai, lahir dan besar di Taiwan, mengenalkan dirinya sebagai seorang explorer dan suka berteman dengan orang-orang. Sam memulai petualangannya sebagai volunteer sejak dia bersekolah di Inggris ketika sedang melanjutkan studi masternya. Pengalamannya sebagai volunteer di perbatasan Thailand dan Burma (Myanmar) membuat dia kembali terjun ke dunia sosial setelah sekolahnya tuntas dan memutuskan untuk bergabung dengan Taipei Overseas Peace Service. Pembicara lainnya adalah Daniel Siegfried. Daniel berasal dari negerinya Roger Federer, ia adalah seorang mantan bankir yang meninggalkan pekerjaannya ketika ia berada di puncak sukses sebagai direktur termuda yang pernah dimiliki oleh sebuah bank terkemuka di Swiss, UBS. Terlahir di Eropa membuatnya mandiri lebih cepat. Mulai bekerja di usia 15 tahun, dan akhirnya bisa menghidupi dirinya sendiri sebelum usianya berkepala dua. Daniel mendirikan Child’s Dream Foundation, organasasi non-profit yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di Thailand dan sekitarnya. Sebagai moderator, seorang gadis Taiwan bernama Pei-Ru Kuo yang juga pernah mencicipi dunia volunteering dalam beberapa waktu.

Saya mulai dulu dari cerita yang disampaikan Sam. Kasus yang terjadi di perbatasan Thailand dan Burma -yang belum pernah saya dengar sebelumnya- adalah topik utama yang disampaikan oleh Sam sebagai pangalamannya selama menjadi volunteer. Daerah perbatasan Thailand-Burma merupakan daerah pengungsian yang sayangnya kebanyakan dari pengungsinya adalah ilegal. Pengungsi-pengungsi ilegal tanpa identitas ini seiring waktu membentuk komunitas yang makin lama makin membesar. Statusnya yang ilegal membuat mereka sulit bergerak, sulit mendapatkan pendidikan bagi anak-anak, serta sulit mendapatkan pekerjaan formal dan layak bagi yang berusia produktif. Di sini lah peran para pekerja sosial diperlukan, yaitu untuk memberikan pendampingan kepada para pengungsi dalam berbagai hal. Menjelang akhir sesi presentasinya, Sam menyampaikan bahwa pada akhirnya kita tetap tidak akan dapat merubah dunia walaupun dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Karena dunia tidak ingin kita merubahnya. Apa yang bisa didapat dari pengorbanannya sebagai volunteer adalah, learning and understanding. Belajar dan mengerti.

Sesi berikutnya giliran Daniel -si Swiss- yang mendapat kesempatan bercerita. Mendengar kisah-kisah awal Daniel terjun ke dunia sosial, mengingatkan saya pada orang terkaya yang juga mendirikan organisasi sosial bernama Bill & Melinda Gates Foundation. Saya sempat amazed dengan orang ini -seperti juga teman, kerabat, serta keluarganya yang terheran-heran dengan keputusannya-, meninggalkan seluruh kekayaan dan kesuksesannya untuk membantu anak-anak yang kesulitan mendapatkan pendidikan. Jika dulu uangnya bisa dikatakan lebih dari cukup, maka sekarang hanya cukup untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Orang-orang mengira seolah Daniel mendapatkan panggilan spiritual atau apa lah yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dalam pengakuannya dia mengatakan bahwa bekerja sebagai pekerja sosial adalah passion-nya. Daniel sedikit banyak bercerita tentang Child’s Dream Foundation yang didirikannya. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai volunteer, persiapan yang matang adalah hal yang terpenting.

Tak terasa satu putaran jarum panjang jam dinding berlalu. Di jam kedua ini saatnya para pengunjung mangajukan pertanyaan. Pertanyaan yang mengalir cukup beragam, mulai dari mengapa mendirikan organisasi baru dan tidak bergabung dengan yang sudah ada; kontribusi apa yang bisa dilakukan seorang wanita karir atau seorang anak di tingkat 9; kesulitan-kesulitan yang dihadapi; cerita-cerita menarik yang ditemui; dll. Sayang, beberapa kali acungan tangan saya di antara tangan-tangan yang terangkat tidak sempat mendapat perhatian dari moderator. Mungkin lain kali saya harus mengenakan pakaian yang lebih ngejreng supaya bisa mendapat kesempatan bertanya. Padahal saya ingin bertanya, “have you achieved what you want to achieve?” Saya amat penasaran.

Saya baru tahu kalau ada passion semacam yang dimiliki Daniel. Karena selama ini yang saya kira, bekerja sosial hanyalah panggilan hati nurani sebagai manusia. Wujud nyata dari empati dan simpati. Dan bukan passion. A lesson learned.

Musik

Wednesday, November 17th, 2010

Mini Orchestra at National Taiwan University

Sore tadi secara tidak sengaja saya melintasi sebuah mini orkestra yang dilakukan oleh anak-anak. Kebetulan letak pertunjukannya cukup dekat dengan asrama, maka saya cepat-cepat mencomot nikon D90 di kamar. Mereka memainkan lagu-lagu yang cukup familiar dengan telinga walaupun saya tidak tahu semua judulnya. Saya mengenali “A Whole New World” dan soundtrack dari Pirates of the Caribbean. Saya senang melihat orang mahir bermusik. Sayangnya tidak ada satu alat musik pun yang saya kuasai dengan baik. Sebenarnya saya ingin belajar bermusik, setidaknya untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Atau seperti Arai dalam Sang Pemimpi, memetikkan dawai gitar untuk menggetarkan hati Zakiah Nurmala.