Archive for 2010

Sepakbola dan Pendeteksi Cahaya

Friday, May 28th, 2010

Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai.

Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai saja dari klasifikasi materi/bahan berdasarkan sifatnya dalam menghantarkan listrik. Ada konduktor, semikonduktor, dan insulator. Konduktor adalah penghantar listrik yang baik, seperti kawat timah pada kabel contohnya, besi dan juga baja. Biasanya selain baik dalam menghantarkan listrik, dia juga bagus dalam menghantarkan panas. Berkebalikan dengan insulator. Insulator merupakan penghantar listrik yang buruk. Sebut saja kertas, kayu, plastik, dan kaca. Di antara kedua sifat itu, ada yang namanya semikonduktor. Sifatnya bisa sebagai insulator dan juga sebagai konduktor, bergantung pada situasi dan kondisi.

Sifat dari semikonduktor yang unik ini, membuat dia memiliki banyak sekali kegunaan. Dia bisa digunakan sebagai sumber cahaya (LED : Light Emitting Diode), sebagai penyearah arus, sebagai saklar, dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi cahaya. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang sifat unik semikonduktor (pada umumnya menggunakan Silikon) sebagai pendeteksi cahaya. Bagaimana cahaya dideteksi? Jawaban singkatnya, cahaya harus diubah dulu bentuknya menjadi arus listrik. Bagaimana cara mengubahnya? Bayangkan sebuah pertandingan sepakbola.

Dalam pertandingan sepakbola, ada pemain, ada lapangan bola, dan juga ada fans, atau supporter, atau penonton. Yah, kalau mau disebut semua sih bisa saja, ada wasit lah, ada pelatih lah, ada gawang, ada anak gawang, dan lain-lain, namun sesungguhnya yang saya perlukan dalam penjelasan kali ini adalah pemainnya itu sendiri, lapangan bolanya dan juga dukungan suara dari supporter.

Julukan pemain ke-12 sering kali dialamatkan untuk supporter. Mengapa? Karena walaupun dia tidak ikut masuk ke dalam lapangan, supporter sering menjadi faktor X dari kemenangan sebuah tim. Supporter lah yang membuat para pemain bersemangat, lupa bahwa dia sebetulnya sudah kehabisan energi untuk berlari. Para pemain menjadi berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati supporter yang telah membelanya. Pemain tim idaman aktif mengejar bola dan selalu bergerak tanpa henti, seakan-akan energi suara dan teriakan supporter mereka diserap oleh kaki-kaki para pemainnya, dan juga memperpanjang nafas para pemainnya yang hampir habis.

Peristiwa ini mirip halnya dengan sebuah pendeteksi cahaya. Pada sekeping Silikon, terdapat elektron-elektron yang memiliki ikatan kovalen (bisa diibaratkan sebuah wadah berisi bola-bola kecil yang terikat satu sama lain). Lupakan tentang kata kovalen, pada intinya ikatan ini membuat si elektron malas bergerak. Ibaratnya, dia pemain bola yang malas berlari. Lalu suatu saat, si keping Silikon ini mendapatkan cahaya. Asal cahayanya bisa dari mana-mana, bisa dari lampu atau pun dari sinar matahari. Sinar ini memiliki apa yang disebut dengan energi optik (optical energy). Ketika cahaya tersebut menimpa Silikon, sebagian cahaya itu diserap, sebagian lainnya dipantulkan. Energi optik dari cahaya yang diserap oleh Silikon ini membuat elektron-elektron di dalamnya memiliki energi yang lebih untuk melepaskan ikatan kovalennya, dan siap untuk bergerak. Masih ingat tentang para pemain yang mendapatkan energi tambahan dari teriakan supporter, kan?

Saat si elektron-elektron berubah dari keadaan terikat menjadi elektron-elektron bebas ini lah, Silikon yang tadinya bersifat sebagai insulator berubah sifatnya menjadi konduktor. Si elektron-elektron yang muncul dari penyerapan energi optik ini lah yang nantinya akan bertindak sebagai arus listrik.

Surat vs Email

Wednesday, May 26th, 2010

Salah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan mailing list dari kelompok organisasi tempat kita terlibat aktif di dalamnya. Mengunjungi inbox seakan bertransformasi menjadi kebutuhan primer. Karena jika inbox tidak ditengok beberapa hari saja, bisa-bisa gunungan email akan berjejalan di sana dan membuat malas untuk membacanya satu persatu serta mengikuti alur cerita yang sedang didiskusikan.

Email sangat menunjang pekerjaan baik dari segi efektivitas dan efisiensi. Cepat, praktis, mudah, murah. Kita tidak perlu lagi pergi ke kantor pos atau pun kotak surat terdekat hanya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Kita juga tidak perlu capek2 membeli perangko dan juga tidak perlu bingung memilih perangko yang mana yang bisa dipakai untuk mengirim ke kota A atau kota B, negara C atau negeri D.

Dengan email kita juga tidak perlu khawatir apakah pesan kita terkirim atau tidak, karena kalau ternyata alamat email tersebut tidak terdaftar, maka dengan seketika kita akan mendapatkan email yang menginformasikan bahwa email kita tertolak dan alamat email yang dikirim sebenarnya tidak lah ada. Dalam hitungan detik, email bisa langsung dibaca dan kemudian dikirim balasannya. Bandingkan dengan jasa pos. Jangankan segera dibalas, sekedar tahu kapan surat itu akan sampai pun masih menjadi teka-teki.

Namun dengan segala kemudahan dan keuntungan dari email serta berbagai kekurangan dari surat pos, ternyata kartu pos, kantor pos dan tukang pos masih bisa bertahan hingga saat ini. Kartu pos masih banyak dijual di toko buku-toko buku dan di tempat-tempat memperoleh souvenir, dengan berbagai variasi gambar dan bentuknya. Dan tukang pos, di hari-hari kerja dia masih sibuk mengantar surat atau pun paket dari rumah ke rumah, dari gedung satu ke gedung lainnya. Perangko, sebagai aksesoris dalam surat menyurat pun juga masih tetap sama eksisnya dengan segala keunikan gambar serta kelangkaannya.

Awalnya saya apatis terhadap hal-hal yang berbau pos tersebut. Ribet lah, nggak praktis lah, nggak bisa diandalkan lah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada kantor pos beserta perangkat penunjangnya, serta menemukan keasyikan tersendiri dalam berkorespondesi menggunakan jasa pos. Bukan karena pesimis, melainkan ada rasa kurang percaya dengan jasa pos karena banyak faktor manusia di sana. Mulai dari tulisan tangan pengirim yang bisa salah dibaca, kemudian pegawai pos yang bisa salah memilah milih surat sesuai dengan kategori tujuan, atau bisa saja surat itu terjatuh ketika dalam perjalanan sewaktu diantar tukang pos.

Nah, justru di situ lah menariknya. Surat konvensional melibatkan banyak orang. Atau bahasa Jawa-nya, nge-wongke. Lebih me-manusia-kan orang. Ada sapaan ramah ketika kita memasuki kantor pos, dan ketika kita bertanya, “saya mau mengirim surat ke sana dan sini, bagaimana caranya?” maka si petugas akan menjawab dengan lengkap dari A sampai Z. Ada juga lelah dari pengawai pos ketika mengelompokkan surat berdasarkan tujuan. Dan terakhir, ada tetesan keringat si tukang pos yang muter-muter ke pelosok-pelosok daerah demi menyampaikan amanah. Semua emosi itu terakumulasi dalam selembar kertas dalam timbangan gram.

Kemudian di saat menerima surat, ternyata emosi itu menular dan mengalir. Setidaknya begitu lah yang saya rasakan setelah beberapa kali menerima kartu pos dari teman-teman. Walaupun mungkin yang disampaikan hanya sekedar bertanya kabar, saling menyemangati dalam belajar, atau hal-hal tidak penting lainnya yang mungkin bisa kita lakukan ketika chatting. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu membuat kita senang, bagaimana dengan surat dari seseorang yang special. Pasti rasanya lebih dari sekedar senang.

Jadi teringat jauh ke masa-masa puber awal, ketika saya mendapatkan kartu pos (entah kartu lebaran atau ulang tahun ya?) buatan tangan dari seorang teman sekelas. Saya jawab surat itu dengan surat beramplop merah transparan buatan tangan. Saya masukkan ke dalam kotak pos berwarna jingga di dekat rumah. Entah terkirim atau tidak, sampai sekarang masih misteri.

I just knew what was happened to me…

Wednesday, April 21st, 2010
source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1301

source : http://www.phdcomics.com/comics/archive.php?comicid=1302

About Eat Pray and Love

Sunday, April 18th, 2010

Akhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku di radio, judulnya Eat, Pray, Love -One Woman’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia-. “Kenapa kok beli buku tentang Janda?”

Melihat dari judul buku dan sub-judulnya, maka yang ada dalam pikiran saya ketika kira-kira setahun yang lalu menemukan buku ini, ini adalah buku tentang jalan-jalan. Bagaimana si penulis menikmati hidup dan menikmati makanan-makanan di berbagai negara disertai pengalaman-pengalaman menarik di dalamnya. Yup, sebagian memang benar. Di dalamnya memang diceritakan bagaimana si Liz Gilbert menghabiskan waktunya di Itali dengan makan, makan, dan makan. Kemudian di India, Liz menghabiskan waktunya dengan bermeditasi dan mencari sesuatu yang dia sebut Tuhan.

Namun, sebagian yang lain menceritakan tentang keluh kesah dia dalam menghadapi hancurnya perkawinan yang baru seumur jagung. Ditambah curhat-curhat dia yang kadang-kadang saya anggap konyol dan bertanya-tanya, serumit itu kah persoalan cinta? Berkali-kali Liz terlihat seperti bimbang dalam menentukan. Ketika dia bercerai dengan suaminya, ketika dia bersama David, dan ketika dia bertemu Felipe yang akhirnya menjadi cintanya di akhir novel ini, semua diiringi kebimbangan. Dua kebimbangan pertama diatasi dengan bertanya kepada Tuhan, sedangkan kebimbangan ketiga diatasi oleh waktu.

Salah satu poin menarik dalam cerita ini, adalah bagaimana Liz merasakan pertemuan dengan Sang Pencipta. Yaitu ketika dia ditunjukkan sebuah tempat rahasia di Ashram oleh temannya si tukang pipa. Di tempat itu lah Liz berdoa agar masalah-masalah yang menjadi pikirannya selama ini dapat diselesaikan. Saat itu muncul suara-suara bisikan hati kecilnya, yang berduel dengan suara-suara ego dalam pikiran. Suara hati dan pikiran bertarung, suara hati dia lambangkan dengan suara malaikat, sedangkan suara pikiran digambarkan dengan suara setan. Dua suara dalam satu jiwa.

Di saat lain dalam meditasinya, imajinasi Liz akan Tuhan mungkin akan sulit untuk dibayangkan. Dia bertemu dengan Tuhan ketika bermeditasi, ketika ruh-nya meninggalkan tubuhnya, terbang melintasi angkasa dan tiba pada suatu ruang hampa. “The void was God, which means that I was inside God. But not in a gross, physical way-not like I was Liz Gilbert stuck inside a chunk of God’s thigh muscle. I just was part of God.” Begitu lah kira-kira Liz Gilbert mendeskripsikan pertemuannya dengan Tuhan.

Sesekali saya merasa, apa yang dilakukan Liz ketika bermeditasi mirip ketika saya berdoa dan merasa khusyuk. Berada dalam sebuah ruang kosong, hampa, gelap (karena merem), merasakan kesendirian di tengah keramaian, dan berdialog dengan sosok yang tak berwujud. Merasakan kedekatan dengan-Nya, merasakan segala curahan hati didengarkan oleh-Nya. Pengalaman rohani memang unik, karena berhubungan dengan hal yang tidak kasat mata. Perasaan dan pikiran kita lah yang merasakannya.

Poin menarik lainnya dari buku ini adalah cerita tentang Indonesia. Dan ya, ini lah salah satu alasan saya mencomot buku ini dari tumpukan buku yang dipajang. Selain memperkenalkan adat Bali yang patriarki dan budaya serta tradisi Bali, Liz juga sedikit menyoroti tentang sejarah Bali dan juga kebobrokan moral orang Indonesia, yang ternyata korupsi di Indonesia sudah begitu terasa oleh para wisatawan.

All in all, this is a good book, though not so awesome.

Untuk Suara Muda Indonesia

Thursday, April 1st, 2010

Memang susah ternyata untuk menjadi public speaker. Selain butuh pengalaman, public speaking menurut saya juga membutuhkan bakat. Membaca buku Seni Berbicara-nya Larry King ternyata tidak terlalu membantu saya untuk melakukan interview yang “enak” didengar. Bagaimana menyapa nara sumber, bridging, dan feedback spontan belum bisa saya lakukan dengan baik. Sampai-sampai nara sumber saya bilang, emang gak bakat kamu Jay…

Sekitar 2 minggu yang lalu, kenalan saya di M-Radio Surabaya meminta saya untuk menjadi salah satu pengisi acara “Suara Muda Indonesia”. Specifically, dia meminta untuk menceritakan tentang Taiwan dan juga tentang Radio PPI Dunia yang kemudian dikemas dalam sebuah file audio. Well, saya oke-kan tawaran tersebut walaupun agak merasa kurang pantas melihat prestasi-prestasi yang dicapai oleh pengisi-pengisi acara tersebut sebelumnya. Dan untuk mengatasi “demam di atas panggung”, sebuah skrip agak panjang saya siapkan. Hampir 2 halaman kertas A4 yang diketik rapi di laptop. Edit berkali-kali karena sering merasa nggak pas.

Ternyata walaupun persiapannya sudah matang, tetap saja ketika eksekusi rekaman masih sering melakukan kesalahan. Mungkin jari-jari ini kurang untuk menghitung lidah yang terselip berkali-kali. Kurang lebih waktu satu jam habis untuk sebuah rekaman berdurasi sekitar 10 menit.

Opening :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 1 :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 2 :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 3 : 

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 4 : 

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 5 : 

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 6 : 

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Part 7 : 

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Closing :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Dulu kakak saya pernah bilang kalau suara saya terdengar kemayu (genit). Setelah saya dengar lagi berkali-kali, dia ada benarnya juga. Untuk yang malas mendengarkan suara yang kemayu mendayu-dayu itu, tapi penasaran dengan apa yang saya sampaikan, berikut ini skrip-nya.

Assalamualaykum warrahmatullahi wabaraktuh.

Perkenalkan dulu nama saya Wijayanto Budi Santoso atau biasa dipanggil Jaya. Saat ini saya sedang mengambil kuliah S2 atau Master di jurusan Electrical Engineering di National Taiwan University, di Taiwan. Ada 2 hal yg ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini, pertama adalah mengapa saya bisa sampai di Taiwan, dan yg kedua adalah tentang Radio PPI Dunia tempat di mana saya ikut aktif berorganisasi.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa kok saya memilih Taiwan sebagai tempat persinggahan untuk menuntut ilmu. Well… memang ada pepatah yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai negeri Cina, tapi percayalah yang membuat saya terdampar di sini bukanlah karena mengikuti pepatah itu. Sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah S1 tingkat akhir di salah satu institut teknologi di Bandung, saya melakukan tugas akhir atau skripsi di salah satu lab yang mana di lab tersebut juga merupakan ruang kerja dari salah seorang guru besar. Prof Samaun Samadikun namanya, namun sekarang beliau sudah meninggal dunia. Saya kagum dengan integritas beliau dalam menekuni profesinya sebagai ilmuwan Indonesia yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap bangsanya. Hal lain yang saya kagumi adalah bahwa beliau merupakan lulusan Stanford University, murid langsung dari William Shockley si penemu transistor yang merupakan cikal bakal prosesor computer, otak dalam komputer. Sejak SMP saya selalu penasaran tentang apa sih isinya otak dari komputer itu… dan itu lah yang mendorong saya memilih jurusan teknik elektro ketika SPMB

Lalu mengapa saya tertarik dengan Stanford University? Di sanalah tempat di mana brand2 besar di bidang IT bermunculan, seperti Google, Hewlett Packard, Yahoo, NVidia, Sun Microsystem, dll. Jadi saya merasa suatu saat nanti saya harus ke sana. Karena ada sesuatu di sana yang saya kira bisa mengubah keadaan bangsa kita yang kalo boleh dikatakan keadaan kita saat ini sangat tertinggal dalam bidang teknologi. Namun kalo sekarang saya ditanya, apakah sesuatu itu, terus terang saya tidak tahu. Faktor-faktor ini lah yang membuat saya sebenarnya ingin sekali untuk sekolah di California sana. Itu lah salah satu impian saya.

Oke, sampai dengan cerita saya barusan, mungkin masih belum terjawab mengapa saya bisa sampai Taiwan. Selepas saya lulus dari S1, saya melamar kerja ke berbagai perusahaan-perusahaan besar. 3 kali melamar kerja, paling mentok hasilnya hanya sampai tahap kedua wawancara. Well, melihat sisi baiknya, mungkin saya tidak atau belum ditakdirkan untuk menjadi karyawan. Namun, selain saya melamar pekerjaan, saya juga coba-coba untuk melamar beasiswa. Saya bergabung dengan salah satu milis beasiswa. Saya cari-cari beasiswa yang sesuai dengan background pendidikan saya di S1. Hingga suatu hari di milis tersebut ada tawaran beasiswa bagi mahasiswa asing untuk bidang electrical engineering. Beasiswa tersebut datang dari Taiwan. Taiwan, hmmm… saya pikir ini pilihan yang baik, melihat teknologi di bidang semikonduktor saat ini mulai dikuasai oleh Taiwan. Laptop dan aksesoris komputer saat ini banyak yang diproduksi oleh Taiwan. Jadi saya berpikir tidak salah jika saya memilih Taiwan sebagai stepping stone saya menuju Amerika. I believe that I’m still walking on the right track. Dan ternyata, banyak sekali pengajar-pengajar di sini yang merupakan alumni dari Stanford University.

Sempat takut juga sih sebenarnya di awal2 kedatangan di Taiwan ini… ada keraguan bahwa saya akan sulit bersaing dengan mahasiswa2 lokal di sini… karena bukan hanya tampang mereka yang sudah kelihatan pintar, namun juga tipikal-tipikal mereka yang pekerja keras… yang menerapkan prinsip P4, Pergi Pagi Pulang Petang… Namun setelah semester demi semester berlalu, saya kira orang Indonesia tidak akan kalah dengan bangsa mana pun… kita bisa bersaing dengan mereka dan kita bisa maju seperti mereka.

Tapi sebuah kemajuan bangsa, tidak mungkin kan jika kita maju sendiri2? Harus ada wadah yang memuat semua potensi2 itu. Di pertengahan tahun 2009, muncul lah sebuah organisasi yg dipelopori oleh mahasiswa mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di seluruh penjuru dunia. Mereka menamakan dirinya Radio PPI Dunia, dengan slogannya Suara Anak Bangsa Satu Cinta Satu Indonesia. Radio ini menawarkan keberagaman, ke-bhineka tunggal ika-an. Awalnya saya penasaran dengan orang-orang kreatif di balik radio ini. Maka tidak lama setelah mereka launching, saya memberanikan diri untuk menggabungkan diri dengan mereka, karena hanya dengan begitu lah saya bisa bertemu dengan teman-teman yang mempunyai ketertarikan yang sama, dan tentunya dengan tujuan untuk membangun Indonesia. Itulah alasan saya bergabung dengan radioppidunia.

Alasan saya yang lain bergabung dengan Radio PPI Dunia adalah, saya juga ingin belajar bagaimana cara menyampaikan ide, pemikiran, dan informasi dengan baik kepada khalayak umum. Karena terus terang, saya agak kesulitan kalo disuruh berpidato, atau berbicara di depan umum.

Sekilas tentang Radio PPI Dunia, radio ini dijalankan 24 jam sehari 7 hari seminggu. Pendengar bisa mendengarkan radioppidunia melalui website www.radioppidunia.com. Radio PPI Dunia memang sedikit berbeda dengan radio frekuensi yang sudah ada selama ini, radioppidunia menggunakan internet sebagai media utamanya atau yang dikenal dengan radio streaming. Pendengar pun bisa bersilaturahmi dengan teman-teman Indonesia yang sedang tinggal di berbagai negara lewat fasilitas Chatbox yang ada di website tersebut. Kita harus berterimakasih pada teknologi yang membuat semuanya ini mungkin terjadi. Yang membuat informasi dapat disebarluaskan kapan saja di mana saja.

Hal yang menarik lainnya dari radioppidunia adalah konsep yang mereka buat. Edukatif, Informatif, dan Entertaining. Edukatif… Ya karena selain kru2nya tersebar dari 5 benua, background keilmuan yang dimiliki penyiarnya juga bermacam-macam. Dari mulai engineering, kedokteran, sains, sosial, ekonomi, dll. Informatif… karena di radioppidunia kita bisa sharing pengalaman dan pengetahuan ttg berita-berita di luar tanah air. Entertaining/menghibur… yes, karena didukung oleh penyiar2 yg berjiwa muda dan punya selera humor.

Oke… Untuk merangkum apa yang sudah saya utarakan panjang lebar tadi, Ahmad Fuadi dalam kunjungannya ke Malaysia kemarein kemarin untuk bedah bukunya Negeri 5 Menara memberikan pesan yang menarik, bahwa ia yang tidak mempunyai mimpi akan merugi 2 kali, pertama karena ia tidak pernah bermimpi, kedua karena impian-impiannya tidak akan pernah terwujud. Jadi bermimpilah karena bermimpi itu gratis, dan kemudian bersungguh-sungguhlah dengan mimpi itu!

Dan dalam meraih mimpi itu, akan lebih ringan bila kita memiliki banyak teman. Mengapa? Karena dengan banyak teman, akan banyak yang bisa membantu kita. Oleh karena itu, gunakan setiap kesempatan dan peluang yang ada untuk menambah teman.

Nggak terasa sudah satu jam saya berbagi cerita di Suara Muda Indonesia tentang kehidupan dan impian2 saya……senang sekali rasanya sudah bisa sharing sama teman-teman dan semoga apa yang share di sini bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi buat teman-teman semua. Ingin tahu lebih jauh tentang profil saya dan juga Radio PPI Dunia? Untuk lebih detail-nya, silakan add facebook-nya M RADIO di : mradiofm@yahoo.co.id…

Wassalam.