Tentang (Film) Facebook

Thursday, December 23rd 2010

Dalam suatu seminar tentang hubungan India-Cina yang diadakan di Taiwan, seorang Profesor wanita dari University of Hongkong yang saat itu bertindak sebagai moderator membuka sesi dialog seminar tersebut dengan sebuah perumpamaan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi salah satu daerah di Cina bagian utara, yang ketika itu ia temukan banyak sekali spanduk bernada ‘save our water’. Secara spontan ia pun beranggapan bahwa di daerah itu kekurangan air bersih. Demikian juga ketika ia menanggapi sebuah pernyataan seorang negarawan terhadap negara yang diduga memiliki konflik terhadap negaranya. Negarawan tersebut menyatakan bahwa mereka sesungguhnya bersaudara, ‘we are brothers’. Menurut intuisinya pernyataan tersebut justru memberikan makna sebaliknya. Maka ketika Mark Zuckerberg membantah bahwa film The Social Network adalah berdasarkan kisah nyata, saya malah merasa ia telah menegaskan bahwa film itu sangat mencerminkan dirinya.

The Social Network, saya ingin sedikit mengomentari filmnya David Fincher yang dibintangi oleh Jesse Eisenberg itu. Adegan percakapan cepat dan terdengar high-level antara Erica dan Mark langsung membuat saya menghakimi bahwa dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk menonton film ini hingga tuntas. Selama kurang lebih 2 jam film berlangsung, ternyata judging saya cukup tepat. David memainkan alur yang random, alur maju dan alur mundur yang sulit diprediksi yang dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas yang cukup padat. Kadang kita dibawa ke dalam sejarah, dan terkadang kita dibawa ke dalam plot saat sejarah itu dibawa di meja perundingan. Sedikit yang saya sayangkan adalah setting lokasi kampusnya yang tidak dilakukan di kampus Harvard yang sebenarnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harvard, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jesse menunjang untuk karakter seperti itu. Meski agak kontras dengan Mark yang sebenarnya bermata innocent. Andrew Garfield sebagai Eduardo juga berakting sangat bagus. Terasa natural. Mungkin hanya Justin Timberlake saja yang saya kira tidak bisa menutupi kepopulerannya saat bermain di film ini.

Mark sendiri tidak ambil pusing tentang film ini. Dalam sebuah talkshow tentang ‘The Facebook Effect with Mark Zuckerberg‘ ia menyatakan bahwa mungkin ia tidak akan menonton film tersebut. Alasannya, film itu diangkat dari sebuah buku yang seolah-olah menceritakan awal mula berdirinya facebook. Padahal Mark sama sekali tidak ikut dalam proses penulisannya. Salah satu hal yang disangkal Mark dari film tersebut adalah ide tercetusnya pembuatan facemash yang berasal dari pelariannya setelah diputus oleh pacarnya. Ia berdalih bahwa sejak dulu hingga kini, ia masih berpacaran dengan orang yang sama. Tapi sejauh ini, saya mempunyai sebuah anggapan tentang suatu karya, bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% fiksi dan tidak ada yang 100% nyata. Ada sisi-sisi yang diilhami dari pengalaman penulis dalam suatu fiksi, dan ada pula “bumbu-bumbu” agar cerita non-fiksi menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Kemudian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Bagaimana cara Mark membela diri dalam adegan perundingan cukup bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik ide. Bahwa ide saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi, tanpa tahu bagaimana cara membuatnya menjadi kenyataan. Winklevoss cs. boleh punya ide brilian, tapi hanya Mark yang tahu bagaimana ide itu bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga.