Aku Sebuah Buku

Friday, December 3rd 2010

Ini semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti semut-semut dari ketinggian yang melebihi awan. Hingga akhirnya aku tiba di negerinya Chiang-Kai Sek seperti sekarang ini. Kini aku berada di sebuah pulau kecil yang mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah negara. Walaupun pengakuan itu tidak sepenuhnya diakui oleh semua negara. Maka dari itulah pemerintah negeri ini tidak lelahnya mengkampanyekan ‘U.N. for Taiwan’. Tapi kau tahu kan? Di dalam PBB sana ada sebuah kekuatan yang tidak akan membiarkan negeri kecil ini untuk bergabung. Sebuah kekuatan yang sangat besar. Namun begitu, negeri tempat aku berada kini diakui reputasinya dalam hal yang berkaitan dengan produk-produk yang dikonsumsi oleh orang-orang yang mengaku dirinya modern dan melek teknologi.

Ah, maafkan aku yang bertele-tele dan terlalu masyuk bercerita ke sana ke mari. Itu tadi hanyalah pelampiasanku yang terpendam -karena selama ini tak ada yang mendengarkanku- akan euforia bahwa aku sedang berada di luar negeri saat ini. Aku tahu kau telah menungguku menceritakan ringkasan dari imajinasi liar Orhan Pamuk si orang Turki, yang tertuang di dalam lembaran-lembaran kertas setebal tujuh ratus sekian halaman ini bukan? Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu tapi dengan suatu persyaratan yaitu, aku tidak akan menceritakannya kepadamu hingga tuntas. Dan jika kau bertanya mengapa aku melakukan itu, aku punya dua alasan yang sudah kupersiapkan. Pertama, karena aku menceritakan sebuah misteri tentang pembunuhan. Kedua, aku merasa tidak etis untuk menceritakan keseluruhan isi cerita yang kukandung. Sebab itu akan menghilangkan rasa penasaran para calon-calon pembacaku yang sudah tertarik dengan sampul depanku yang bertuliskan ‘Pemenang Hadiah NOBEL SASTRA 2006’, lalu dengan seketika membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mengambilku pada rak-rak atau di tumpukan-tumpukan yang ada di toko buku besar maupun kecil, di tumpukan-tumpukan toko buku second hand, taman-taman baca, atau di perpustakaan-perpustakaan. Aku tahu, kau semakin tidak sabar bukan? Aku bisa mendengar suara hatimu berkata, “hentikan omong kosong ini, dan mulailah bercerita!”

Semua ini diawali oleh cerita seorang mayat yang tersungkur di dasar sumur. Dan seperti semua mayat pada umumnya, ia juga memiliki nama ketika sukma masih menyatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultan kepadanya. Sebuah pekerjaan -yang aku tidak tahu apakah engkau mengenal profesi ilustrator atau tidak- untuk mendekorasi ‘Kitab Segala Pesta’. Dalam penyelesaian kitab ini, Enishte meminta kerabat-kerabatnya sesama ilustrator untuk membantunya. Ketiga kerabatnya itu memiliki panggilan Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Salah satu dari ketiganya inilah yang dicurigai membunuh Elok Effendi, dan di tengah cerita juga membunuh Enishte Effendi. Itulah bingkai besar dari ceritaku.

Kemudian, apakah engkau termasuk seseorang yang suka dengan kisah-kisah cinta? Jangan khawatir, aku akan melanjutkan bagian tentang kisah cinta yang terkandung dalam diriku. Tentu saja bukan kisah cinta seperti Romeo dan Juliet, atau Beauty and The Beast. Kisah cinta ini tentang seorang wanita yang kesepian. Shekure, anak perempuan satu-satunya dari Enishte Effendi, dikisahkan sebagai seorang istri yang telah ditinggal pergi suaminya selama 4 tahun ke medan perang. Wanita yang dikisahkan sangat cantik ini -mana ada sih tokoh utama wanita yang diberi karakter buruk rupa?- telah memiliki 2 orang anak yang masih kecil bernama Orhan dan Shevket. Mereka tinggal serumah dengan Enishte Effendi bersama seorang budak bernama Hayriye setelah rumah suami Shekure dirasakan mulai tidak nyaman sejak kepergian suaminya yang tak kembali. Alkisah kedatangan Hitam ke rumah Enishte berhasil membuncahkan kembali benih-benih cinta Shekure. Dulu Shekure pernah menolak Hitam. Namun kini cerita itu berbalik. Keduanya dilanda asmara. Sayangnya perasaan itu harus terhalang oleh status Shekure yang masih menjadi seorang istri dan juga ditunjang oleh ketidaksukaan Enishte kepada Hitam. Suatu ketika, Enishte dibunuh secara kejam oleh seorang kerabat ilustratornya. Momen ini dimanfaatkan Shekure dan Hitam untuk melangsungkan pernikahan mereka. Alasannya bukan hanya karena cinta, itu hanya salah satunya saja. Alasan lain pernikahan Hitam dan Shekure yaitu karena Shekure tidak ingin kembali ke rumah suaminya yang lama, di mana di sana ada adik iparnya yang bernama Hasan yang juga menginginkan Shekure. Walaupun Hitam dan Shekure telah menjadi pasangan suami istri, namun kewajiban Hitam sebagai suami dibatasi oleh Shekure sebagai syarat pernikahan. Hitam dilarang melakukan suatu hal yang layaknya dilakukan pasangan suami istri apabila ia belum bisa menemukan pelaku yang membunuh Enishte-nya.

Hingga akhirnya kabar kematian Enishte ini sampai ke kalangan istana. Hitam menyerahkan semua karya yang ditinggalkan Enishte-nya kepada Sultan. Sultan kemudian memerintahkan Tuan Osman -pemilik bengkel seni ketiga ilustrator yang diduga sebagai pembunuh Enishte- dan Hitam untuk mengusut kasus ini. Mereka hanya diberikan waktu 3 kali pergantian siang dan malam untuk menuntaskannya. Dan apabila dalam kurun waktu 3 hari tersebut Tuan Osman dan Hitam tidak dapat menemukan pembunuhnya, maka mereka lah yang akan menjalani hukuman dari Sultan, di mana nyawa menjadi taruhan. Langkah pertama yang dilakukan Tuan Osman adalah memeriksa karya-karya Enishte Effendi yang dikerjakan bersama-sama ketiga ilustratornya, Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Tuan Osman sangat mengerti sifat-sifat ilustratornya. Ia bisa menebak jitu siapa yang membuat suatu lukisan tanpa tandatangan hanya dengan mengamatinya, baik dengan mata telanjang maupun dengan kaca pembesar yang telah menjadi kawan sejatinya. Pada sebuah lukisan, Tuan Osman menyadari ada hal yang ganjil pada hidung kuda yang dia amati. Penemuan ini disampaikan pada Sultan yang kemudian Sultan memerintahkan untuk mengadakan sayembara kepada ketiga ilustrator dari bengkel seni Tuan Osman itu. Para ilustrator itu diminta untuk menggambarkan seekor kuda pada sebuah kertas kosong. Langkah ini ternyata tidak memberikan hasil yang berarti karena si pembunuh melukis kuda itu dengan cara yang berbeda setelah ia mencurigai sayembara dadakan itu. Di hari kedua, Tuan Osman meminta kepada Sultan untuk dapat memasuki Ruang Penyimpanan Harta. Setelah 2 hari lamanya, petunjuk itu akhirnya ditemukan oleh Hitam. Sebuah lukisan kuda dengan keanehan pada hidung. Bagian hidung kuda yang terpotong dalam lukisan itu mirip dengan hidung kuda yang ada pada salah satu karya Enishte Effendi yang dibantu oleh ilustrator-ilustratornya. Dengan pengamatan yang jeli dari Tuan Osman, pelaku pembunuhan itu akhirnya diketahui.

Setelah pelaku diketahui oleh Tuan Osman, Hitam pergi mencarinya. Namun sebelum itu, ia mencari istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Shekure dan anak-anaknya tidak ditemui di rumahnya. Atas informasi dari Esther, ternyata Shekure kembali ke rumah suaminya yang lama atas kemauan Shevket. Hitam mengambil kembali mereka dari sana. Dan dalam perjalanan pulang, Hitam mengamankan keluarganya di tempat kerabatnya. Hitam kemudian mengunjungi satu per satu rumah para ilustrator itu (Kupu-kupu, Bangau, dan Zaitun). Di sebuah tempat persembunyian salah satu ilustrator, akhirnya mereka berempat berkumpul. Terjadi perdebatan dan perkelahian yang cukup menarik di sana. Mata si pembunuh ditusuk oleh jarum yang pernah membuat mata Tuan Osman buta. Hitam yang bergelut dengan si pembunuh, mengalami luka yang cukup parah akibat tusukan belati. Hingga akhirnya si pembunuh itu berhasil meloloskan diri. Namun sayang, di tengah perjalanannya untuk pergi mengasingkan diri, si pembunuh itu harus mati mengenaskan di tangan Hasan. Bagaimana akhirnya nasib Hitam dan ilustrator lainnya itu? Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan karena kisah ini berakhir bahagia.

Beberapa paragraf di atas aku rasa cukup untuk memberikan gambaran kepadamu mengenai jalannya cerita. Sekarang aku ingin berbagi hal-hal lain yang ada dalam pikiran si pemilikku itu. Yang pertama, dia terasa menikmati sekali chapter ‘Aku adalah Esther’. Jika engkau tidak tahu siapa itu Esther, dia adalah perempuan Yahudi tua yang sering ditugaskan sebagai pengantar pesan dan surat. Ada kalanya ketika yang diantarkan adalah surat cinta, maka engkau bisa memanggilnya dengan sebutan Esther si Mak Comblang. Dalam chapter-chapter si Esther, kita akan dibawa untuk lebih memahami perasaan-perasaan yang tak terungkap. Sinyal-sinyal yang hanya dikirim lewat hati dan hanya bisa tertangkap oleh hati. Selain itu, chapter tentang Esther biasanya tidak membawakan hal-hal yang berat. Sedangkan yang kedua, pemilikku ini sangat seksama mencermati chapter ‘Aku adalah Shekure’. Aku tidak heran, karena dia memang senang mempelajari dan memahami tingkah laku manusia berkromosom XX. Shekure memiliki 2 peran di sini, sebagai ibu dari 2 orang anak, dan juga sebagai seseorang yang sedang jatuh cinta. Hal terakhir yang ingin kusampaikan mengenai si pemilikku ini adalah, percayalah bahwa dia tidak terlalu menyukaiku. Sebabnya, aku bukanlah buku yang mudah dibaca. Aku melihatnya yang terkadang bertampang bingung dengan sedikit kernyitan kecil di dahi. Sambil membaca sebuah kalimat berulang-ulang karena tidak mengerti maksud dari sebuah kalimat yang tertulis di sini. Jika pun akhirnya dia berhasil menyelesaikannya hingga lembar terakhir, itu hanya karena penasaran dengan si pelaku pembunuhan dan juga karena dia tidak ingin membiarkanku terlantar tak terbaca.

Terakhir, izinkan aku membekalimu dengan 2 buah pesan tersurat yang sedikit menohok pemilikku ketika membacanya. Dua buah kalimat yang penuh pelajaran akan arti cinta dan pernikahan.

Cinta akan muncul setelah pernikahan. (Hal. 339)

Cinta bukanlah penderitaan demi penderitaan, melainkan sebuah makna untuk meraih-Mu. (Hal. 379)