Archive for December, 2010

2011 Projects

Thursday, December 30th, 2010

Detik-detik kepergian 2010 terasa semakin mendebarkan. Tahun yang mungkin bisa saya bilang sebagai tahun kegagalan sebentar lagi menghilang dan tak akan pernah kembali lagi. Kecuali ada mesin waktu. Tapi daripada menyesali, lebih baik diambil saja hikmahnya. Paling tidak di tahun ini saya jadi tahu apa yang mau saya lakukan dan apa yang saya inginkan ke depannya nanti. Maka tulisan kali ini akan saya jadikan sebagai pengingat. The to-do list of 2011.

Ada beberapa hal yang menumpuk di otak saya yang saya yakin tidak akan terwujud di tahun ini yang tinggal dalam hitungan jam. Ide-ide ini muncul secara tiba-tiba. Ada yang keluar ketika sedang bersepeda mencari makan malam misalnya. Ada yang timbul di balik bilik merenung. Ada yang terangsang setelah menonton film, membaca status dan mengintip tautan-tautan yang dibagi oleh teman melalui jejaring sosial. Ada juga yang seketika mengganggu ketika lampu kamar telah dimatikan dan hendak pergi ke dunia mimpi.

Ide-ide ini secara garis besar akan saya bagi menjadi 2 jenis proyek, komersil dan non-komersil. Proyek komersil tujuannya jelas untuk mencari sesuap dua suap berlian. Mencoba peruntungan di dunia bisnis yang katanya penuh intrik, namun juga menyediakan lautan peluang bagi orang-orang yang jeli. Sedangkan proyek non-komersil memiliki tujuan untuk mencari kepuasan batin. Walaupun kadang kala agak aneh juga ketika passion dan bakat tidak bertemu. Misalkan passionnya melukis, tapi lukisannya jauh dari bagus yang bahkan anak kecil bisa melukis lebih bagus darinya.

Untuk proyek komersil pertama, saya ingin memulai start-up di bidang multimedia seperti yang pernah tuliskan idenya di sini. Ini sebenarnya bukan bidang baru, namun saya melihat ada ceruk pasar untuk kalangan middle-end. Karena rata-rata bisnis ini dikelola untuk kalangan orang-orang yang mau-apa-tinggal-bilang-langsung-ada. Kalau melihat dari peralatan kerjanya, memang bisnis ini memerlukan modal awal lebih dari delapan digit rupiah. Tapi dengan kemajuan teknologi, maka saya yakin dengan teknologi yang ada saat ini, modal awal itu bisa ditekan serendah mungkin.

Proyek komersil kedua adalah membuat sistem terintegrasi baik itu untuk promosi dan database untuk bisnis futsal milik keluarga. Semoga saja bisa sedikit membantu untuk meningkatkan pemasukan. Syukur-syukur kalau sistemnya bisa dijual. Sedangkan proyek komersil ketiga adalah ingin bergabung dengan seorang teman dalam menjalankan bisnis kuliner. Saya kepikiran untuk mengadopsi cara berdagang orang Taiwan untuk diterapkan di sana. Goalnya adalah, membuat bisnis ini agar bisa dijadikan bisnis waralaba.

Mengenai proyek non-komersil, saya ingin membuat blog/website tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Latar belakangnya saya kira cukup jelas. Banyak sekali saya temui di internet baik media maupun personal yang sudah lupa berbahasa Indonesia, padahal tulisan tersebut disampaikan untuk publik secara formal. Mungkin saya akan menggandeng beberapa orang yang masih peduli akan bahasa Indonesia. Proyek non-komersil berikutnya adalah 30 hari menulis. Namun konsepnya akan saya buat semi-biography dan khusus membahas tentang kehidupan saya selama di Taiwan (narsis ya?). Kalau ide ini sih datangnya dari teman radio, Meity.

Apabila ada yang ingin membantu saya atau berkolaborasi dalam proyek-proyek (kecuali proyek ’30 Hari Menulis’) tersebut, dengan senang hati saya akan membuka diri.

Tidak lupa juga, selain proyek-proyek tersebut saya masih punya obsesi pribadi untuk bisa menjejakkan kaki di Stanford University. Jadi tahun 2011 nanti akan menjadi tahun persiapan untuk bisa menuju ‘Stanford 2012’.

Tentang (Film) Facebook

Thursday, December 23rd, 2010

Dalam suatu seminar tentang hubungan India-Cina yang diadakan di Taiwan, seorang Profesor wanita dari University of Hongkong yang saat itu bertindak sebagai moderator membuka sesi dialog seminar tersebut dengan sebuah perumpamaan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi salah satu daerah di Cina bagian utara, yang ketika itu ia temukan banyak sekali spanduk bernada ‘save our water’. Secara spontan ia pun beranggapan bahwa di daerah itu kekurangan air bersih. Demikian juga ketika ia menanggapi sebuah pernyataan seorang negarawan terhadap negara yang diduga memiliki konflik terhadap negaranya. Negarawan tersebut menyatakan bahwa mereka sesungguhnya bersaudara, ‘we are brothers’. Menurut intuisinya pernyataan tersebut justru memberikan makna sebaliknya. Maka ketika Mark Zuckerberg membantah bahwa film The Social Network adalah berdasarkan kisah nyata, saya malah merasa ia telah menegaskan bahwa film itu sangat mencerminkan dirinya.

The Social Network, saya ingin sedikit mengomentari filmnya David Fincher yang dibintangi oleh Jesse Eisenberg itu. Adegan percakapan cepat dan terdengar high-level antara Erica dan Mark langsung membuat saya menghakimi bahwa dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk menonton film ini hingga tuntas. Selama kurang lebih 2 jam film berlangsung, ternyata judging saya cukup tepat. David memainkan alur yang random, alur maju dan alur mundur yang sulit diprediksi yang dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas yang cukup padat. Kadang kita dibawa ke dalam sejarah, dan terkadang kita dibawa ke dalam plot saat sejarah itu dibawa di meja perundingan. Sedikit yang saya sayangkan adalah setting lokasi kampusnya yang tidak dilakukan di kampus Harvard yang sebenarnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harvard, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jesse menunjang untuk karakter seperti itu. Meski agak kontras dengan Mark yang sebenarnya bermata innocent. Andrew Garfield sebagai Eduardo juga berakting sangat bagus. Terasa natural. Mungkin hanya Justin Timberlake saja yang saya kira tidak bisa menutupi kepopulerannya saat bermain di film ini.

Mark sendiri tidak ambil pusing tentang film ini. Dalam sebuah talkshow tentang ‘The Facebook Effect with Mark Zuckerberg‘ ia menyatakan bahwa mungkin ia tidak akan menonton film tersebut. Alasannya, film itu diangkat dari sebuah buku yang seolah-olah menceritakan awal mula berdirinya facebook. Padahal Mark sama sekali tidak ikut dalam proses penulisannya. Salah satu hal yang disangkal Mark dari film tersebut adalah ide tercetusnya pembuatan facemash yang berasal dari pelariannya setelah diputus oleh pacarnya. Ia berdalih bahwa sejak dulu hingga kini, ia masih berpacaran dengan orang yang sama. Tapi sejauh ini, saya mempunyai sebuah anggapan tentang suatu karya, bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% fiksi dan tidak ada yang 100% nyata. Ada sisi-sisi yang diilhami dari pengalaman penulis dalam suatu fiksi, dan ada pula “bumbu-bumbu” agar cerita non-fiksi menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Kemudian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Bagaimana cara Mark membela diri dalam adegan perundingan cukup bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik ide. Bahwa ide saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi, tanpa tahu bagaimana cara membuatnya menjadi kenyataan. Winklevoss cs. boleh punya ide brilian, tapi hanya Mark yang tahu bagaimana ide itu bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga.

Gadis Penjual Kaos

Friday, December 17th, 2010

Trading at somewhere-night-market in Beijing © Hendra Kurniawan

Aku memperhatikan tanganmu yang tertutup sarung tangan wool yang robek. Aku sangsi bahwa itu cukup tebal untuk melindungi kulitmu dari udara dingin yang kala itu mendekati titik beku air. Aku melihatnya dari kulit ari di pangkal jari jemarimu yang banyak terkelupas. Sebagian bekas luka-luka itu ada yang tampak mengapal. Dingin telah membius semua sisi telapak tanganmu hingga mati rasa. Hingga kau tidak sadar bahwa kulit tanganmu sering bergesekan dan mambuatnya luka. Melihat keadaanmu, aku tak tega. Harga yang kami tawar terkadang memang tak masuk akal. Engkau meresponnya dengan wajah memelas. Sampai sekarang, aku masih tak mengerti jalan pikiranmu saat berdagang…

Remember The December

Tuesday, December 14th, 2010

Hadirnya bulan Desember gue rasa banyak membawa berkah, salah satunya sebagai pengingat, a reminder. Selain ngingetin kita bahwa musim dingin itu ada -terutama di belahan bumi bagian utara-, dia juga ngingetin kita bahwa introspeksi diri itu penting. Dari tingkat personal sampai perusahaan besar mulai itung-itungan bahwa apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau malah sebaliknya. Dan apakah resolusi-resolusi dan target-target yang udah dicanangkan di awal tahun sudah semuanya terlaksana, atau baru sebagian, atau bahkan belum sama sekali. Entah apa jadinya kalo semua bulan adalah bulan Juni atau Juli, mungkin yang ada kita bakal sering ke bioskop karena di bulan-bulan itu lah biasanya dirilis film-film Hollywood yang paling ditunggu-tunggu, dan kita jadi lupa bahwa hidup harus punya tujuan.

Kata ‘resolusi’ itu sendiri sebenernya jarang banget gue denger sebelom ketemu sama yang namanya internet. Gue baru ngeh ketika tiap akhir atau awal tahun orang-orang mulai nulis wishy washy mereka di website-website pribadinya. Dari dulu gue bukanlah orang yang punya resolusi tiap tahun dan rajin update tiap tahunnya berganti. Gue takut kalo kepingin yang muluk-muluk, kalo nantinya nggak kesampean malah akan bikin kecewa. Kalopun di awal tahun ini gue menyatakan sebuah resolusi, gue rasa itu bukanlah resolusi pribadi yang unik. Yang keluar dari mulut gue waktu itu jelas adalah hal-hal umum yang akan terucap dari seseorang yang lagi kuliah dan S3, alias Still Stay Single. Let the river flow kalo kata orang barat sih. Hidup yang mengalir laksana sungai.

Pernah punya temen yang agak eksentrik or a little bit extraordinary? That kind friend of mine pernah suatu saat nulis di status facebook-nya, ‘Aku tidak benci kegagalan. Aku hanya benci penyesalan.’ It stabbed me right onto my heart. Biasanya yah, orang-orang itu kan menyesal karena gagal, tapi dari 2 kalimat itu tersirat sebuah pertanyaan bahwa kenapa harus menyesal karena gagal? You’ve done at very best you could, then why should you regret? The problem is, have I done the best I could? I don’t think so.

Time does fly and clock is always ticking. Hoping there is no regret in the end. Thanks, December.

Berbalik

Tuesday, December 7th, 2010

Ada yang bilang bahwa “jangan terlalu membenci seseorang/sesuatu, karena mungkin suatu saat perasaan itu bisa berbalik.” Demikian juga sebaliknya. Sampai suatu saat, gue menemukan seorang teman yang menulis entah di mana dengan menggunakan prinsip ini yang kemudian dia buat hipotesa baru yang intinya, “buatlah seseorang jadi setengah mati benci kepadamu supaya dia menyukaimu.” Aneh ya? Tapi gue rasa, nggak ada yang aneh dalam hal perasaan. Nothing is impossible. Dan fenomena inilah yang bikin gue senyam-senyum sendiri waktu nonton film Flipped.

Film ini ceritanya sederhana down to earth, tapi juga cukup lengkap. Ada tentang keluarga, kehidupan bertetangga, childhood, friendship, love, dan yang nggak kalah penting, sarat dengan pesan moral. Runtutan adegannya juga oke banget, saling berganti antara sudut pandangnya Bryce Loski dan Juli Baker. Kita seolah-olah dibawa untuk mengerti gimana sebenarnya perasaan si Bryce ke Juli, dan Juli ke Bryce. Ceritanya sendiri katanya memang diangkat dari novel, tapi walaupun tanpa membaca novelnya, dengan nonton filmnya saja gue rasa cukup bisa mendapatkan keseluruhan isi cerita. Sangat-sangat beda dengan kebanyakan film yang diangkat dari novel yang bikin gue sering bertanya dalam hati, “apa nih maksudnya?”

Ini salah satu film yang membuat gue sangat-sangat terkesan, wow. Seperti waktu nonton Love Actually atau 500 Days of Summer. Memang sangat drama sekali, karena memang kekuatannya ada pada dialog-dialog yang terjadi dan juga monolog-monolog dari Bryce dan Juli. Tapi kok rasanya durasi 1,5 jam terasa sangat cepat, bahkan ketika progress bar di video player mendekati batas akhir, gue berharap film ini masih akan lebih panjang. I just like this movie so much -and I hope it won’t be flipped-.

Salah satu adegan yang gue suka adalah ketika Chet (kakeknya Bryce) menasehati Bryce tentang kejujuran,

Chet : I’d hate to see you swim out so far, you can’t swim back.
Bryce : Sir?
Chet : It’s about honesty, son.
Sometimes a little discomfort in the beginning…
…can save a whole lot of pain down the road.

Adegan lainnya adalah ketika Juli ngobrol dengan ayahnya (Richard) yang lagi melukis,

Richard : You have to look at the whole landscape.
Juli : What does that mean?
Richard : A painting is more than the sum of its parts.
A cow by itself is just a cow.
A meadow by itself is just grass, flowers.
And the sun peeking through the trees is just a beam of light.
But you put them all together…
…and it can be magic.