RDK

Sunday, November 28th 2010

RDK bukan Rida-Dewi-Kita. Grup vokal itu kan sudah bubar lama. Saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat seorang teman saya yang baru melangsungkan siaran terakhirnya kemarin. Risma Diniar Kosasih alias DJ Imo. Saya kenal dengan cewek yang suaranya cempreng ketika siaran ini sudah cukup lama. Mungkin sudah berlangsung sekitar 1 tahun lebih 1 bulan lewat 1 hari. Seperti layaknya pertemanan yang terjadi di radio tempat kami pernah bekerja membanting tulang, memeras keringat, menyayat hati, serta menguras uang saku itu, kami belum pernah sekalipun bertemu secara fisik. Namun layaknya persahabatan di radio itu pula, kami bisa cepat akrab. Apalagi kami sama-sama masuk di seksi sibuk yang mengurusi urusan dapur radio itu.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan ketika kemarin diberi kesempatan untuk memberikan kata-kata terakhir. Tapi enggak tahu kenapa, mungkin karena terbawa suasana haru, jadinya enggak banyak yang saya sampaikan. Maka, sekarang ini lah saatnya untuk melengkapi kekurangan yang kemarin. Hitung-hitung jika suatu saat dia butuh surat rekomendasi dari saya, maka saya tinggal copy-paste saja postingan ini.

Imo yang saya kenal, punya komitmen tinggi terhadap tanggung jawab yang dia emban. Rasanya tiap jumat pagi di program ADUHAI (Arsitektur Dunia Hai hai hai -singkatan yang agak maksa-) atau senin pagi di program TRASI (Tradisional Sehat Ala Imo), anak ini jarang absen dan jarang telat. Kecuali memang ketika musim-musim ujian. Karena mau gimana juga study is priority. Imo juga seorang yang -saya kira- mudah bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Terbuka dan apa adanya. Ceplas-ceplos. Enggak suka ya bilang enggak suka.

Kalau kemarin dia baru saja mengakui dosanya yang seabrek-abrek karena kelakuannya yang suka ngerjain orang itu, itu sama sekali enggak aneh buat saya. Karena dulu dia pernah cerita kalau punya keinginan buat jadi intelijen. Intelijen dan tukang usil, sebelas-dua belas lah ya. Maka enggak heran juga kalau anak ini tergolong yang cukup cepat belajar. Bukannya mau menyulut perang gender, tapi biasanya kalau ada DJ cewek yang lagi ada masalah dengan teknis, rasanya sabar aja enggak cukup buat nahan kebawelan si DJ yang saking paniknya.

Selain sebagai partner in work, Imo juga bisa menempatkan diri sebagai tempat sharing. Dan kalau dia lagi kuliah masalah cinta, dengan semena-mena dia suka membodoh-bodohi saya. Mungkin kalau diibaratkan, seorang Profesor sedang menguliahi anak SD -atau anak TK?-. Sayang, advise-advise yang dia berikan belum berhasil. Memang enggak bisa disalahkan juga sih, karena terkadang yang saya lakukan tidak sesuai dengan arahan-arahan yang dia berikan.

Kalau tentang hobi sampingannya yang suka ngegosip dengan bibirnya yang menurut saya agak dower itu, saya rasa itu cuma bentuk kepedulian dan perhatiannya kepada teman-teman dan orang-orang di sekitarnya. Karena saya tahu, she treasures friendship.

Semoga sukses dalam cita dan cinta, Imo. Semoga kita bertemu, suatu saat nanti. إن شاء الله