Gading-Gading Ganesha

Tuesday, November 23rd 2010

Sebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku ini dalam film garapan Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan seperti layaknya film yang diangkat dari novel, versi film Gading-Gading Ganesha juga memiliki alur yang cepat dan tidak rinci. Banyak adegan-adegan yang dipotong agar cerita yang setebal 390 halaman itu bisa rampung dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Seperti ketika Slamet akhirnya memutuskan untuk memilih Siti Zulaeha ketimbang Dewi, di saat Slamet mengalami kebimbangan antara pilihannya sendiri dengan pilihan ibunya. Proses yang melibatkan Pak dhe-nya dalam mengambil keputusan itu tidak diungkap dalam film, padahal di situlah titik krusial bagi Slamet yang akhirnya memilih Eha. Selain pemotongan adegan, ada juga yang perubahan-perubahan yang dilakukan dalam film tersebut. Seperti adegan ketika Ria marah di restoran hotel yang sebenarnya tidak diceritakan dalam novel, juga adegan Poltak yang terlambat masuk kelas yang mana dosen yang menegurnya saat itu seharusnya adalah dosen pria dan bukan dosen wanita -yang diperankan oleh Nurul Arifin-. Embel-embel cinta dan alur flashback yang coba dibawakan dalam versi filmnya juga sepertinya agak dipaksakan.

Dibandingkan versi filmnya -yang mana keadaan saat ini sudah terlalu modern untuk menghadirkan kembali suasana tempo dulu-, versi bukunya saya rasakan lebih banyak memanggil memori-memori lama seputar kampus ITB. Suasana OSPEK, praktikum, ekskul atau kegiatan unit, ujian, dosen killer (saya suka bagian joke tentang nilai, di mana nilai A hanya untuk Tuhan, nilai B untuk dosennya, maka mahasiswanya paling banter hanya dapat nilai C), semangat mengerjakan tugas akhir, menjadi kumpulan chapter yang cukup bisa merangkum segala kejadian yang dialami oleh mahasiswa ITB. Kemudian tentang acara Iota Tau Beta, memang dulu ada ya? Apa ini sama dengan Open House Unit? Mungkin karena setting waktunya yang berada jauh ke belakang -bahkan waktu saya belum direncanakan muncul ke dunia-, jadi ya dalam beberapa bagian saya sempat kehilangan bayangan untuk menggambarkannya dalam imajinasi saya.

Ria, Fuad, Slamet, Benny, Gun Gun, dan Poltak, enam tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berasal dari daerah dan budaya yang berbeda-beda, tingkat ekonomi yang berbeda, jurusan yang berbeda, seolah ingin menggambarkan keragaman yang ada di ITB. Perkenalan sesaat ketika pendaftaran yang berujung pada persahabatan abadi. Sangat disayangkan, novelnya sangat datar. Tidak jelas karakter mana yang mau dibangun. Terlalu memaksakan kalau keenamnya semua dijadikan karakter utama. Maka jadi lah novel ini seperti kumpulan cerita pendek dari enam tokoh yang memiliki masalahnya sendiri-sendiri yang kemudian dikemas dalam satu buku dan sengaja dicari-cari benang merah di antara keenamnya. Alur cerita yang terjadi juga tidak karuan. Lompat-lompat tidak jelas. Tidak ada surprise, bahkan bagian-bagian yang (mungkin) diharapkan bisa menjadi klimaks cerita jadi terkesan datar. Saya rasa bukan saya saja yang tidak terpancing emosinya. Di lain sisi, novel ini bisa menjadi bacaan yang ringan sambil ngeteh-ngeteh di sore hari sambil makan pisang goreng. Atau untuk menunggu pesanan makanan datang, atau juga untuk dibaca sambil menunggu MRT datang.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terbaca melalui pesan yang coba dibawakan oleh novel ini di akhir-akhir cerita.

Saya tidak bisa bilang buku ini jelek, tapi agak berat juga untuk mengatakan buku ini bagus. Karena walaupun banyak celah dalam buku ini, namun banyak juga knowledge baru, joke-joke yang baru saya tahu, dan sejarah ITB yang disampaikan oleh Pak Dermawan. Selain itu ada juga kutipan-kutipan hadist, dan salah satunya adalah hadist Nabi yang berbunyi,

Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberi tahu bahwa ia mencintainya
(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)