Volunteering

Monday, November 22nd 2010

Sabtu kemarin saya menghadiri seminar kecil yang dihadiri kurang lebih sekitar 500-an orang di Yue-han Hall yang diadakan oleh Youth Vision Taiwan. Tentu saja bukan karena kurang kerjaan setelah kuliah saya di kampus yang sebenarnya sudah habis sejak setahun lebih yang lalu, melainkan karena topik yang dibawakan cukup menarik buat saya. Dan yang terpenting, seminar ini dibawakan dalam bahasa Inggris. Melihat bencana yang terjadi di Indonesia kurang lebih dalam sebulan belakangan ini (Mentawai, Wasior, dan Merapi) sedikit mengusik sisi keingintahuan saya dalam hal volunteering. Karena kejadian di Indonesia kemarin itu sempat membuat saya terpikir sesaat untuk menjadi relawan, suatu saat nanti. Pada kesempatan itu topik yang diambil adalah “Idealism or Self-interest? Critical Views on International Volunteerism.”

Seminar tersebut menghadirkan 2 orang tokoh yang sudah malang melintang di dunia volunteering. Sam Lai, lahir dan besar di Taiwan, mengenalkan dirinya sebagai seorang explorer dan suka berteman dengan orang-orang. Sam memulai petualangannya sebagai volunteer sejak dia bersekolah di Inggris ketika sedang melanjutkan studi masternya. Pengalamannya sebagai volunteer di perbatasan Thailand dan Burma (Myanmar) membuat dia kembali terjun ke dunia sosial setelah sekolahnya tuntas dan memutuskan untuk bergabung dengan Taipei Overseas Peace Service. Pembicara lainnya adalah Daniel Siegfried. Daniel berasal dari negerinya Roger Federer, ia adalah seorang mantan bankir yang meninggalkan pekerjaannya ketika ia berada di puncak sukses sebagai direktur termuda yang pernah dimiliki oleh sebuah bank terkemuka di Swiss, UBS. Terlahir di Eropa membuatnya mandiri lebih cepat. Mulai bekerja di usia 15 tahun, dan akhirnya bisa menghidupi dirinya sendiri sebelum usianya berkepala dua. Daniel mendirikan Child’s Dream Foundation, organasasi non-profit yang peduli terhadap pendidikan anak-anak di Thailand dan sekitarnya. Sebagai moderator, seorang gadis Taiwan bernama Pei-Ru Kuo yang juga pernah mencicipi dunia volunteering dalam beberapa waktu.

Saya mulai dulu dari cerita yang disampaikan Sam. Kasus yang terjadi di perbatasan Thailand dan Burma -yang belum pernah saya dengar sebelumnya- adalah topik utama yang disampaikan oleh Sam sebagai pangalamannya selama menjadi volunteer. Daerah perbatasan Thailand-Burma merupakan daerah pengungsian yang sayangnya kebanyakan dari pengungsinya adalah ilegal. Pengungsi-pengungsi ilegal tanpa identitas ini seiring waktu membentuk komunitas yang makin lama makin membesar. Statusnya yang ilegal membuat mereka sulit bergerak, sulit mendapatkan pendidikan bagi anak-anak, serta sulit mendapatkan pekerjaan formal dan layak bagi yang berusia produktif. Di sini lah peran para pekerja sosial diperlukan, yaitu untuk memberikan pendampingan kepada para pengungsi dalam berbagai hal. Menjelang akhir sesi presentasinya, Sam menyampaikan bahwa pada akhirnya kita tetap tidak akan dapat merubah dunia walaupun dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Karena dunia tidak ingin kita merubahnya. Apa yang bisa didapat dari pengorbanannya sebagai volunteer adalah, learning and understanding. Belajar dan mengerti.

Sesi berikutnya giliran Daniel -si Swiss- yang mendapat kesempatan bercerita. Mendengar kisah-kisah awal Daniel terjun ke dunia sosial, mengingatkan saya pada orang terkaya yang juga mendirikan organisasi sosial bernama Bill & Melinda Gates Foundation. Saya sempat amazed dengan orang ini -seperti juga teman, kerabat, serta keluarganya yang terheran-heran dengan keputusannya-, meninggalkan seluruh kekayaan dan kesuksesannya untuk membantu anak-anak yang kesulitan mendapatkan pendidikan. Jika dulu uangnya bisa dikatakan lebih dari cukup, maka sekarang hanya cukup untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Orang-orang mengira seolah Daniel mendapatkan panggilan spiritual atau apa lah yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Dalam pengakuannya dia mengatakan bahwa bekerja sebagai pekerja sosial adalah passion-nya. Daniel sedikit banyak bercerita tentang Child’s Dream Foundation yang didirikannya. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai volunteer, persiapan yang matang adalah hal yang terpenting.

Tak terasa satu putaran jarum panjang jam dinding berlalu. Di jam kedua ini saatnya para pengunjung mangajukan pertanyaan. Pertanyaan yang mengalir cukup beragam, mulai dari mengapa mendirikan organisasi baru dan tidak bergabung dengan yang sudah ada; kontribusi apa yang bisa dilakukan seorang wanita karir atau seorang anak di tingkat 9; kesulitan-kesulitan yang dihadapi; cerita-cerita menarik yang ditemui; dll. Sayang, beberapa kali acungan tangan saya di antara tangan-tangan yang terangkat tidak sempat mendapat perhatian dari moderator. Mungkin lain kali saya harus mengenakan pakaian yang lebih ngejreng supaya bisa mendapat kesempatan bertanya. Padahal saya ingin bertanya, “have you achieved what you want to achieve?” Saya amat penasaran.

Saya baru tahu kalau ada passion semacam yang dimiliki Daniel. Karena selama ini yang saya kira, bekerja sosial hanyalah panggilan hati nurani sebagai manusia. Wujud nyata dari empati dan simpati. Dan bukan passion. A lesson learned.