Bahasa Indonesia (baca: Én.do.né.sya)

Saturday, October 30th 2010

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali kalau sekolahnya di luar negeri. Tapi yang saya heran, kenapa hampir semua orang Indonesia di Indonesia ini -selain media massa-, dalam berkomunikasi jarang banget atau bahkan langka yang menggunakan bahasa Indonesia? Maksud saya, bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Perkara lama sih sebenarnya. Dari dulu sejak bisa ngomong sampai sekarang, saya juga begitu. Bahasa Indonesia hanya dipakai di ruang-ruang formal. Maksudnya begini, waktu saya belajar bahasa asing entah itu Inggris, Jerman, atau Mandarin, bahasa yang diajarkan itulah bahasa yang memang digunakan untuk menulis ataupun bercakap-cakap, baik ruang formal maupun non-formal. Teknik serta teori yang diajarkan di kelas bahasa itu secara langsung memang bisa dipraktikkan. Tapi kalau bahasa Indonesia? Kita mungkin akan aneh mendengar percakapan dalam keseharian yang menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya. Misalkan saja antara seorang tukang bajaj yang lagi bernegosiasi dengan calon penumpangnya, sebut saja namanya Mawar.

Mawar : “Pak, saya ingin pergi ke Pondok Indah Mall. Berapakah harga yang harus saya bayar?”

Tukang bajaj : “Dua puluh ribu rupiah, nona.”

Mawar : “Bagaimana jika sepuluh ribu rupiah saja, Pak? Karena jarak dari sini ke sana kan tidak sampai 2 kilometer.”

Tukang bajaj : “Mengapa nona tidak berjalan kaki saja kalau memang Anda merasa jaraknya dekat?”

Aneh, kan? Dan akan wajar kalau percakapan yang terjadi seperti ini,

Mawar : “Bang, ke PIM berapa duit?”

Tukang bajaj : “noban lah neng…”

Mawar : “ya elah bang… ceban aja lah, ke PIM doang ini… tuh, keliatan dari sini… ngesot dikit juga nyampe…”

Tukang bajaj : “muke lo deket! itu bulan juga keliatan dari sini…”

Nah, itu salah satu contoh keseharian kita di dunia nyata yang menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah diajarkan di bangku-bangku sekolah itu menjadi tidak praktikal ketika diterapkan dalam masyarakat. Dan sebelum kita melihat perilaku berbahasa di dunia maya, mari kita ambil telepon genggam kita masing-masing dan buka menu ‘Messages’ atau ‘SMS’. Kemudian pilih menu ‘inbox’. Yakin seyakin-yakinnya, akan banyak sekali ditemukan kata-kata yang disingkat. Dan karena kita sudah sangat terlatih, saya yakin pesan singkat di bawah ini akan sangat mudah terbaca maksudnya.

Oi, btw bsk jd ke bdg ga?

Jd, gmn lo jd mo brg ga?

Teknologi merubah budaya. Dulu kita mengenal pager. Teknologi yang belum sempat mem-booming dan segera tergantikan oleh telepon genggam yang laris manis bak kacang goreng. Pager dan fitur Short Message Service pada telepon genggam ini menuntut kita mengirimkan pesan sependek-pendeknya. Dan cara termudah adalah dengan menyingkat kata-kata yang bisa disingkat. Konsep sederhananya, menghilangkan huruf-huruf vokal pada sebuah kata. Sampai akhirnya tanpa disadari kita terbiasa menggunakan singkatan-singkatan itu.

Tidak cukup lama setelah kata SMS cukup sering terdengar, internet mulai mudah diraih. Berkenalanlah kita dengan salah satu produk internet yang memudahkan kita berhubungan dengan orang lain. Email dan chat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS dan ber-chatting ria di internet ini melebur. Keduanya ini dicurigai merupakan cikal bakal gaya berbahasa di dunia maya anak muda masa kini. Dengan sentuhan kreatifitas jiwa muda, terlepas dari namanya yang entah diambil dari mana, kita kini mengenal Bahasa Alay. Contoh sederhananya dengan mudah bisa kita temukan di status-status facebook anak-anak yang sedang menginjak usia remaja, yang sekarang ini lebih sering disebut ababil. Sebuah contoh di bawah ini saya kutip dari email seorang teman yang katanya dia dapat dari facebook seseorang. Percakapan virtual seorang alay, dengan seorang normal.

Alay : Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

Normal : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)

Alay : Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

Normal : Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

Alay : Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ’emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(

Males kan ya bacanya? Dan rasanya lebih layak disebut pesan rahasia yang terenkripsi dari pada sebuah bahasa suatu negara. Dengan bahasa yang disingkat-singkat saja kita masih harus mengira-ngira maksudnya, apalagi ini hurufnya diganti angka, simbol, dan huruf besar-kecil yang sifatnya acak. Hal lain lagi yang masih menyangkut gaya bahasa ber-facebook, mengapa pada komentar-komentar atau status, banyak sekali kita temukan deretan titik-titik hampir di setiap akhir kalimat?

Itu kesalahan mayor yang terjadi dalam tata bahasa kita dalam dunia digital. Sedangkan yang minor-minor juga ada, namun biasanya tidak kentara karena terlihat lazim. Kejadian ini sering saya temukan di blog, di note-note facebook, atau di artikel-artikel lepas yang ada di internet. Sekedar meluruskan, saya tidak sedang mempermasalahkan orang-orang yang mengadopsi gaya bahasa non-formal dalam blog-blognya, seperti menggunakan kata ‘ngerjain’, dan bukan ‘mengerjakan’; ‘nyupir’ dan bukan ‘mengendarai’; ‘make’ dan bukan ‘memakai’; dll. Tapi yang membuat saya sangat terganggu adalah penggunaan ‘di’ yang salah.

Banyak sekali yang masih tidak dapat membedakan bagaimana cara menggunakan ‘di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dan ‘di-‘ sebagai imbuhan yang membuat sebuah kalimat menjadi pasif. Bahasa Indonesia saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu buruk, tapi setidaknya saya masih bisa menggunakan ‘di’ sesuai dengan fungsinya.

Seingat saya -dan saya yakin masih benar sampai saat ini-, penggunaan ‘di’ sebagai keterangan tempat itu dipisahkan dari nama benda atau nama tempat itu. Contoh:

  1. Teman saya membalas twitter temannya di kamar mandi.
  2. Kertas itu tertumpuk di meja.

Sedangkan ‘di’ sebagai imbuhan, cara menggunakannya adalah dengan menyambungkannya dengan kata yang diimbuhi. Contoh:

  1. Teman saya ditampar pacarnya.
  2. Mobil itu ditabrak sepeda.

Mudah sebenarnya untuk memeriksa apakah ‘di’ itu seharusnya disambung atau dipisah. Caranya dengan mengubah kalimat itu menjadi bahasa Inggris. ‘Di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dalam bahasa Inggris akan terpisah dengan sendirinya karena berubah menjadi ‘in’, ‘on’, atau ‘at’. Sedangkan ‘di’ yang digunakan sebagai imbuhan, tidak demikian.

Lucu juga ketika saya menemukan sebuah blog yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh seorang asing Australia di sini. Tidak tahu berapa lama telah dia habiskan waktu di Indonesia hingga bisa sefasih itu dalam menggunakan bahasa pergaulan. Yang jelas butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengadopsi bahasa Indonesia non-formal itu karena gaya bahasanya tidak akan ada di buku panduan berbahasa Indonesia.

Wajar saja kalau bahasa Indonesia selama ini selalu menjadi salah satu momok dalam Ujian Nasional. Banyak yang jatuh nilainya di mata pelajaran ini dibandingkan mata pelajaran eksak lainnya. Karena memang kita tidak pernah melatihnya, dan kita lebih sering mengacuhkannya karena kita merasa kita bisa. Padahal, bahasa yang biasa kita gunakan bukanlah bahasa Indonesia yang benar. Mungkin bahasa yang kita gunakan adalah bahasa sebuah negara yang sering diteriakkan para supporter sepakbolanya ketika bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Éndonésya!