Empathy and Sympathy for Diversity

Sunday, October 17th 2010

Ketika ingin memulai menulis artikel ini, saya merasakan sedikit keraguan. Saya khawatir menggunakan judul yang sama dengan peserta writing contest Pesta Blogger 2010 lainnya. Sebab saya takut dikira nggak kreatif, atau bahkan disebut plagiat. Karena di era serba canggih sekarang ini, gampang sekali menyulap karya milik orang lain menjadi milik pribadi. Tinggal tekan Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada keyboard, dan voila! Maka dalam sekejap, jadilah karya plagiat milik kita. Oleh sebab itu, sebelum saya memulai menulis, saya perhatikan dulu satu per satu daftar karya peserta yang sudah masuk ke website. Sambil berdoa tentunya, semoga tidak ada judul yang sama dengan judul yang sedang saya pikirkan. Setelah sampai pada halaman akhir daftar peserta beserta judul karyanya, ternyata keraguan saya sama sekali tidak beralasan. Lebih dari 200 tulisan yang sudah masuk, tidak ada satupun judul yang sama dengan judul tulisan yang ada dalam benak saya. Saya bertanya dalam hati, apakah ada yang aneh dengan cara berpikir saya. Sebab saya mengira, dengan tema tulisan sudah ditentukan oleh panitia, maka akan besar kemungkinan para peserta akan memilih judul yang sama. Walaupun probabilitasnya sangat kecil, kemungkinan itu tetap saja ada.

Saya teringat dengan sebuah buku tentang tips berbicara yang pernah saya baca yang ditulis oleh Larry King, seorang Amerika yang malang melintang di dunia penyiaran. Dalam bukunya yang berjudul Seni Berbicara Kepada Siapa Saja 1, ia memberikan tips-nya untuk mencari teman ngobrol yang enak dengan orang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dan salah satu tips-nya adalah agar kita mencari tahu bidang ketertarikan yang disukai oleh lawan bicara. Galilah terus arah pembicaran hingga menemukan suatu hal atau bidang yang membuat kedua belah pihak sama-sama tertarik untuk membicarakannya. Dengan begitu akan terjalin pertukaran ide dan informasi yang berkesinambungan antara keduanya, karena mereka menyukainya. Tips yang gampang-gampang susah bukan?

Mungkin akan mudah, jika penampilan dan tingkah laku lawan bicara kita secara nampak langsung mencerminkan bidang ketertarikannya. Contoh, dia menggunakan kostum kesebelasan favorit misalnya, atau menggunakan gadget pemutar MP3 yang mencirikan bahwa dia menyukai musik. Mungkin itu juga sebabnya di halaman profil di Facebook atau di jaringan sosial lainnya mencantumkan kolom isian untuk “interest” agar kita dapat dengan mudah berteman dengan orang lain yang bidang ketertarikannya sama dengan kita. Gender juga sedikit banyak memberikan clue untuk membuka percakapan. Namun akan sulit bagi kita ketika kita bertemu seseorang yang tidak menonjolkan ketertarikannya melalui penampilan dan perilakunya. Satu kesimpulan kecil dari tips ini adalah, bahwa mencari kesamaan kita dengan orang lain sedikit lebih sulit dari pada mencari perbedaan.

Berbeda dengan Larry King, Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain 2, memberikan alternatif cara yang berbeda dalam berkenalan dengan orang yang baru kita kenal. Alih-alih mencari kesamaan antara kita dengan lawan bicara, tidak ada salahnya kita memelihara perbedaan itu tetap ada di dalam topik pembicaraan. Caranya yaitu dengan membuat lawan bicara kita merasa menguasai topik yang sedang dibicarakan. Buat lawan bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan oleh Dale dan Larry tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cara dari Larry mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama agar berhasil. Karena sekali lagi, mencari kesamaan lebih sulit dan membutuhkan proses. Tidak seperti saran dari Dale yang membiarkan perbedaan itu tetap ada dan apa adanya, sehingga kemungkinan berhasil menjadi lebih cepat. Lalu, apa keuntungan dari cara Larry? Saya kira cara itu bisa membuat ikatan pertemanan menjadi lebih kuat. Kita bisa langsung nyambung ketika bertemu dengannya di lain waktu. Sedangkan cara dari Dale, menurut saya hanya dapat bekerja sementara waktu saja. Setidaknya kita punya teman ngobrol di suatu tempat yang asing bagi kita ketika kita sedang merasa sendiri. Karena percayalah, kita tidak ingin selamanya merasa bodoh ketika berbicara dengan orang lain.

Namun tentunya akan lebih baik lagi apabila kita sanggup mengkombinasikan kedua cara itu -mencari kesamaan dan membiarkan perbedaan- agar bersinergi secara optimal. Sebuah grup street dance asal Inggris, Diversity, tahu benar cara memanfaatkan keragaman anggotanya menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengantarkan mereka menjuarai ajang Britain’s Got Talent di tahun 2009 lalu. Anggotanya terdiri dari anak-anak hingga remaja, dari anak sekolahan hingga mahasiswa strata dua di sebuah perguruan tinggi. Bermodalkan ketertarikan dan kecintaan yang sama pada street dance, mereka bisa bekerjasama merangkai tarian yang sangat asyik untuk dinikmati. Dan saya yakin mereka juga menikmatinya.

Kita, bangsa Indonesia, juga punya contoh yang nyata untuk itu. Seperti dulu ketika para pahlawan kita merebut kemerdekaan. Berbekal semangat persatuan dan kesatuan yang berlandaskan kesamaan nasib dan kesamaan tujuan, mereka berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Setelah merdeka, mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau. Agama yang dipeluk penduduknya pun berbeda-beda. Maka akan sangat bijak dengan menerima keragaman suku, agama, dan ras itu dalam suatu landasan dasar negara. Hingga terciptalah Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun belakangan ini, setelah negeri tetangga menobatkan dirinya sendiri sebagai the truly Asia, saya merasa bangsa kita latah dan terkesan sombong dengan mengklaim dirinya sebagai bangsa yang paling beragam, the ultimate in diversity. Tapi kalau sebutan keren itu hanya membuat bangsa ini semakin mundur, membuat kerusuhan semakin banyak, lalu apa gunanya?

Keragaman, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada. Karena toh, dari munculnya kita ke dunia ini saja kita sudah diciptakan berbeda. Masalah apakah keragaman itu nantinya akan menjadi anugerah atau musibah, hanya tinggal bagaimana kita memperlakukannya. Dengan sedikit empati dan simpati, rasanya cukup untuk menjadikan bumi Indonesia yang penuh keragaman ini menjadi penuh akan kedamaian dan kreatifitas.

*****

1. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere.
2. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Win Friends and Influence People.