Makanan Pokok

Wednesday, October 13th 2010

Setelah hampir satu bulan kembali ke Taiwan, pagi tadi saya kangen dengan salah satu menu sarapan di sebuah restoran franchise terkenal berinisial M. Biasanya saya memesan paket nomor 4 yang terdiri dari 3 lembar pancake lengkap dengan butter beserta maple syrup-nya, sepotong hash brown potato, dan segelas minuman. Seringnya saya memilih nai cha (teh susu) panas untuk minumnya karena saya suka dengan aroma dan rasanya. Nggak bisa dipungkiri soalnya, semakin lama kita berada di luar negeri, maka gaya hidup juga mau tidak mau harus menyesuaikan. Secara gitu ya, di sini nggak ada yang jualan nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, atau bubur ayam buat sarapan. Well, mungkin kalau tinggalnya di apartemen atau di kontrakan yang ada dapurnya, kita masih bisa masak sendiri buat sarapan. (Wait… kita? lo doang kali, kalau gw sih tetep males.)

Nah, berhubungan dengan menu sarapan yang saya sebutkan di atas -yang hampir semuanya diawali dengan kata : nasi-, kemarin saya membaca berita menarik tentang rencana Pemerintah untuk mewacanakan kampanye One Day No Rice (ODNR). Keren banget memang, di tengah-tengah berita yang membooming tentang Indomie, Pemerintah melakukan manuver dengan menyegarkan kembali isu lama yang fantastis. Alasan yang disebutkan dalam artikel itu sangat logis, yaitu menurunnya produksi beras dalam negeri yang disebabkan perubahan iklim global di mana curah hujan Indonesia menjadi sangat tinggi yang akhirnya menyebabkan seringnya gagal panen (bingung?). Dan alih-alih diatasi dengan menaikkan laju impor, diversifikasi jenis makanan pokok dinilai menjadi solusi lain yang lebih baik. Nice idea.

Di artikel lain yang masih berhubungan dengan isu di atas, disebutkan bahwa konsumsi beras di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Lebih dari 2 kali lipat dari rata-rata konsumsi beras dunia. Sangat masuk akal. Orang Indonesia khususnya yang tinggal di daerah barat, makan nasi 3 kali sehari. Sarapan, makan siang, sampai makan malam, semua harus ada nasinya. Sampai ada pepatah -yang entah dari mana asalnya- yang menyatakan, “orang Indonesia itu belum makan kalau belum makan nasi”.

Pertanyaannya, bisakah orang Indonesia hidup tanpa makan nasi. Secara ilmiah, jawabannya pasti bisa. Selama dia terus mengonsumsi air dan mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lainnya, seseorang dijamin bisa tetap hidup. Tapi secara nggak ilmiah, sudah pasti jawabannya nggak bisa. Karena untuk kasus ini bukan lagi kebiasaan yang ingin diubah, tapi budaya. Dan selama ini belum ada kan budaya orang Indonesia yang bisa diubah secara signifikan? Mengubah budaya makan nasi menurut saya mirip dengan menghilangkan budaya KKN. Hampir pasti nggak mungkin karena sudah mengakar dan mendarah daging. Kecuali…

Begini, ada sebuah cerita tentang seorang bule Australia yang cukup lama tinggal di Indonesia. Selama di Indonesia dia bisa bertahan untuk makan nasi 3 kali sehari. Padahal di negaranya dulu, dia hanya makan nasi 3 kali seminggu. Sedangkan saya di Taiwan ini jarang sarapan pakai nasi karena memang terbatasnya pilihan menu sarapan yang berasal dari beras. Bukannya tidak ada, ada namun terbatas. Jadi intinya, lingkungan bisa membentuk budaya. Begitu juga dengan wacana ODNR tadi. Selama lingkungan kita mendukung untuk tidak mengonsumsi beras secara berlebih dan selama pemerintah bisa mengkondisikan keadaan seperti itu, program ini kemungkinan bisa berhasil.

Kemudian mengenai diversifikasi pangan nasional tadi, kira-kira apa ya yang cocok untuk menggantikan nasi? Indomie? Jangan salah, mie yang satu itu boleh berbangga hati karena sudah terbukti telah berjasa dalam mengantarkan perjalanan hidup seorang mahasiswa PhD -yang hampir tiap hari makan Indomie atau saudara sebangsanya- yang saya kenal hingga lulus.