Do You Treasure Childhood?

Thursday, October 7th 2010

Jadi ceritanya di subuh hari ini saya penasaran dengan sebuah film yang ingin saya tonton di akhir minggu ini, Legend of The Guardians : The Owl of Ga’Hoole. Film animasi 3 dimensi yang diangkat dari kisah novel. Terkesan childish memang untuk anak-anak seukuran saya menonton film ini, tapi ada suatu rasa penasaran yang teramat sangat yang nggak bisa saya ungkapkan yang mendorong saya untuk nonton film ini. Pokoknya, HARUS. Seperti dulu ketika nonton film Kung fu Panda, saking penasarannya saya sampai minggat ke Bandung karena di Jakarta sudah sulit dicari. Mungkin waktu itu memang sudah saatnya Kung fu Panda turun panggung karena memang sudah terlalu lama nongkrong di bioskop. Tapi masalahnya, saya belum nonton.

Yang pertama yang saya cari untuk survei film ini adalah plot atau alur ceritanya. Wikipedia cukup banyak membantu saya memberikan spoiler dari sisi alur cerita secara utuh. Soalnya, terkadang saya nggak ngerti keseluruhan isi film yang baru saja ditonton. Lost in translation and conversation. Yah, akibat bahasa Inggris saya yang nggak terlalu bagus. Setelah spoiler, biasanya saya mencari trailer. Yup, dari mana lagi kalau bukan dari “Kamu Tabung”. Karena dari trailer film kita bisa mengintip-intip, apa sih atau gimana sih film ini nantinya, siapa saja yang main, atau bagaimana bentuk visualisasinya. Hingga akhirnya survei kecil-kecilan itu berujung pada sebuah trailer tentang The Smurfs.

Masih ingat dengan Smurf kan ya? Komunitas makhluk biru kecil yang tinggal di hutan. Masing-masing Smurf memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Ada yang pintar, ada yang jago masak, ada yang pemalas, ada yang pemarah, ada Papa Smurf si kepala suku, dan lain-lain yang katanya berjumlah 99. Dulu saya mengenal Smurf dari komik. Walaupun katanya ada juga versi animasinya. Entah lupa entah memang belum pernah melihat, yang jelas memori saya tidak bisa mengingatnya. Cerita-cerita si Smurf lucu dan sederhana.

Balik lagi tentang trailer film Smurf yang gosipnya akan dirilis musim panas tahun depan. Juli 2011. Di trailer tersebut dikatakan bahwa film ini juga mengusung teknologi 3 dimensi. Dan di trailer tersebut juga diperlihatkan bahwa para Smurf sedang berada di kota. Awalnya, saya mengira respon-respon yang diberikan akan positif. Pertama, mereka (produser dan orang-orang di belakang layar) membangkitkan kembali kenangan masa lalu. Kedua, film ini dikembangkan dengan teknologi terkini. Namun ternyata respon yang didapat malah sebaliknya. Kolom komentar dipenuhi umpatan dan cacian. Ada juga sih yang mendukung dan memberikan apresiasi. Tapi overall, banyak yang tidak suka dengan adanya film Smurf 3 dimensi yang ada di kota itu. Dan kebanyakan, mereka yang tidak suka adalah orang-orang yang memang menjalani masa-masa ketika Smurf menjadi salah satu icon yang berkesan.

Alasan utama yang bisa saya tangkap, Smurf itu karya klasik. So, just let it be classic as it was. Karena memang begitulah mereka dulu dinikmati dan begitulah cara mereka memberi kesan tersendiri bagi para penggemarnya. Lewat komik berwarna maupun lewat layar kaca. Tidak perlu repot-repot dibuat versi 3 dimensinya. Sehingga para penikmatnya juga tidak perlu ke bioskop menggunakan kacamata 3 dimensi yang menurut beberapa orang malah membuat mereka merasa pusing ketika memakainya.

Latah teknologi? Mentang-mentang film-film sekarang banyak yang menggunakan efek 3D. Atau latah dengan kesuksesan beberapa film yang juga mengadopsi film-film zaman dulu dan diproduksi ulang dengan teknologi animasi terbaru. Alvin and the Chipmunks? Garfield? Scooby Doo? Transformers? Well, I thought sometimes it worked, and sometimes it didn’t. Hollywood, produce anything to make money. But anyhow, that is Hollywood’s problem, and I don’t have problem with them. As long as it is entertaining, I am gonna watch it.

The lesson is, nggak semua yang modern, yang mutakhir, dan yang terkini itu selalu baik dan bernilai positif. Ada kalanya, justru sebaliknya, yang jadul dan yang kuno lah yang dicari. Karena di situlah nilai kesan dan kenangannya. Seru juga kalau ada mesin waktu dan kita bisa kembali ke masa lalu. Menunggu jemputan sekolah sambil nonton My Little Pony atau Alvin and The Chipmunks. Atau menyewa video betamax untuk nonton Goggle V, Sarivan, atau Gaban, bareng tetangga-tetangga di kampung.