Archive for October, 2010

Bahasa Indonesia (baca: Én.do.né.sya)

Saturday, October 30th, 2010

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Bah, baris ketiga dari isi Sumpah Pemuda itu mana laku lagi zaman sekarang? Walaupun saya yakin, dari sejak mulai ke sekolah pakai celana pendek warna merah sampai seumuran ke kampus pakai celana jeans, ada satu mata pelajaran yang pasti diajarin, yaitu Bahasa Indonesia. Terkecuali kalau sekolahnya di luar negeri. Tapi yang saya heran, kenapa hampir semua orang Indonesia di Indonesia ini -selain media massa-, dalam berkomunikasi jarang banget atau bahkan langka yang menggunakan bahasa Indonesia? Maksud saya, bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Perkara lama sih sebenarnya. Dari dulu sejak bisa ngomong sampai sekarang, saya juga begitu. Bahasa Indonesia hanya dipakai di ruang-ruang formal. Maksudnya begini, waktu saya belajar bahasa asing entah itu Inggris, Jerman, atau Mandarin, bahasa yang diajarkan itulah bahasa yang memang digunakan untuk menulis ataupun bercakap-cakap, baik ruang formal maupun non-formal. Teknik serta teori yang diajarkan di kelas bahasa itu secara langsung memang bisa dipraktikkan. Tapi kalau bahasa Indonesia? Kita mungkin akan aneh mendengar percakapan dalam keseharian yang menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya. Misalkan saja antara seorang tukang bajaj yang lagi bernegosiasi dengan calon penumpangnya, sebut saja namanya Mawar.

Mawar : “Pak, saya ingin pergi ke Pondok Indah Mall. Berapakah harga yang harus saya bayar?”

Tukang bajaj : “Dua puluh ribu rupiah, nona.”

Mawar : “Bagaimana jika sepuluh ribu rupiah saja, Pak? Karena jarak dari sini ke sana kan tidak sampai 2 kilometer.”

Tukang bajaj : “Mengapa nona tidak berjalan kaki saja kalau memang Anda merasa jaraknya dekat?”

Aneh, kan? Dan akan wajar kalau percakapan yang terjadi seperti ini,

Mawar : “Bang, ke PIM berapa duit?”

Tukang bajaj : “noban lah neng…”

Mawar : “ya elah bang… ceban aja lah, ke PIM doang ini… tuh, keliatan dari sini… ngesot dikit juga nyampe…”

Tukang bajaj : “muke lo deket! itu bulan juga keliatan dari sini…”

Nah, itu salah satu contoh keseharian kita di dunia nyata yang menjelaskan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah diajarkan di bangku-bangku sekolah itu menjadi tidak praktikal ketika diterapkan dalam masyarakat. Dan sebelum kita melihat perilaku berbahasa di dunia maya, mari kita ambil telepon genggam kita masing-masing dan buka menu ‘Messages’ atau ‘SMS’. Kemudian pilih menu ‘inbox’. Yakin seyakin-yakinnya, akan banyak sekali ditemukan kata-kata yang disingkat. Dan karena kita sudah sangat terlatih, saya yakin pesan singkat di bawah ini akan sangat mudah terbaca maksudnya.

Oi, btw bsk jd ke bdg ga?

Jd, gmn lo jd mo brg ga?

Teknologi merubah budaya. Dulu kita mengenal pager. Teknologi yang belum sempat mem-booming dan segera tergantikan oleh telepon genggam yang laris manis bak kacang goreng. Pager dan fitur Short Message Service pada telepon genggam ini menuntut kita mengirimkan pesan sependek-pendeknya. Dan cara termudah adalah dengan menyingkat kata-kata yang bisa disingkat. Konsep sederhananya, menghilangkan huruf-huruf vokal pada sebuah kata. Sampai akhirnya tanpa disadari kita terbiasa menggunakan singkatan-singkatan itu.

Tidak cukup lama setelah kata SMS cukup sering terdengar, internet mulai mudah diraih. Berkenalanlah kita dengan salah satu produk internet yang memudahkan kita berhubungan dengan orang lain. Email dan chat client. Kedua produk ini fungsinya berbeda seiring waktu. Email digunakan untuk hal-hal yang lebih serius dan resmi, sedangkan chat client atau client messenger lebih banyak digunakan untuk bersosialisasi.

Cara kita ber-SMS dan ber-chatting ria di internet ini melebur. Keduanya ini dicurigai merupakan cikal bakal gaya berbahasa di dunia maya anak muda masa kini. Dengan sentuhan kreatifitas jiwa muda, terlepas dari namanya yang entah diambil dari mana, kita kini mengenal Bahasa Alay. Contoh sederhananya dengan mudah bisa kita temukan di status-status facebook anak-anak yang sedang menginjak usia remaja, yang sekarang ini lebih sering disebut ababil. Sebuah contoh di bawah ini saya kutip dari email seorang teman yang katanya dia dapat dari facebook seseorang. Percakapan virtual seorang alay, dengan seorang normal.

Alay : Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

Normal : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)

Alay : Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

Normal : Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

Alay : Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ’emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(

Males kan ya bacanya? Dan rasanya lebih layak disebut pesan rahasia yang terenkripsi dari pada sebuah bahasa suatu negara. Dengan bahasa yang disingkat-singkat saja kita masih harus mengira-ngira maksudnya, apalagi ini hurufnya diganti angka, simbol, dan huruf besar-kecil yang sifatnya acak. Hal lain lagi yang masih menyangkut gaya bahasa ber-facebook, mengapa pada komentar-komentar atau status, banyak sekali kita temukan deretan titik-titik hampir di setiap akhir kalimat?

Itu kesalahan mayor yang terjadi dalam tata bahasa kita dalam dunia digital. Sedangkan yang minor-minor juga ada, namun biasanya tidak kentara karena terlihat lazim. Kejadian ini sering saya temukan di blog, di note-note facebook, atau di artikel-artikel lepas yang ada di internet. Sekedar meluruskan, saya tidak sedang mempermasalahkan orang-orang yang mengadopsi gaya bahasa non-formal dalam blog-blognya, seperti menggunakan kata ‘ngerjain’, dan bukan ‘mengerjakan’; ‘nyupir’ dan bukan ‘mengendarai’; ‘make’ dan bukan ‘memakai’; dll. Tapi yang membuat saya sangat terganggu adalah penggunaan ‘di’ yang salah.

Banyak sekali yang masih tidak dapat membedakan bagaimana cara menggunakan ‘di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dan ‘di-‘ sebagai imbuhan yang membuat sebuah kalimat menjadi pasif. Bahasa Indonesia saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu buruk, tapi setidaknya saya masih bisa menggunakan ‘di’ sesuai dengan fungsinya.

Seingat saya -dan saya yakin masih benar sampai saat ini-, penggunaan ‘di’ sebagai keterangan tempat itu dipisahkan dari nama benda atau nama tempat itu. Contoh:

  1. Teman saya membalas twitter temannya di kamar mandi.
  2. Kertas itu tertumpuk di meja.

Sedangkan ‘di’ sebagai imbuhan, cara menggunakannya adalah dengan menyambungkannya dengan kata yang diimbuhi. Contoh:

  1. Teman saya ditampar pacarnya.
  2. Mobil itu ditabrak sepeda.

Mudah sebenarnya untuk memeriksa apakah ‘di’ itu seharusnya disambung atau dipisah. Caranya dengan mengubah kalimat itu menjadi bahasa Inggris. ‘Di’ sebagai partikel penunjuk keterangan tempat dalam bahasa Inggris akan terpisah dengan sendirinya karena berubah menjadi ‘in’, ‘on’, atau ‘at’. Sedangkan ‘di’ yang digunakan sebagai imbuhan, tidak demikian.

Lucu juga ketika saya menemukan sebuah blog yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh seorang asing Australia di sini. Tidak tahu berapa lama telah dia habiskan waktu di Indonesia hingga bisa sefasih itu dalam menggunakan bahasa pergaulan. Yang jelas butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengadopsi bahasa Indonesia non-formal itu karena gaya bahasanya tidak akan ada di buku panduan berbahasa Indonesia.

Wajar saja kalau bahasa Indonesia selama ini selalu menjadi salah satu momok dalam Ujian Nasional. Banyak yang jatuh nilainya di mata pelajaran ini dibandingkan mata pelajaran eksak lainnya. Karena memang kita tidak pernah melatihnya, dan kita lebih sering mengacuhkannya karena kita merasa kita bisa. Padahal, bahasa yang biasa kita gunakan bukanlah bahasa Indonesia yang benar. Mungkin bahasa yang kita gunakan adalah bahasa sebuah negara yang sering diteriakkan para supporter sepakbolanya ketika bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Éndonésya!

Empathy and Sympathy for Diversity

Sunday, October 17th, 2010

Ketika ingin memulai menulis artikel ini, saya merasakan sedikit keraguan. Saya khawatir menggunakan judul yang sama dengan peserta writing contest Pesta Blogger 2010 lainnya. Sebab saya takut dikira nggak kreatif, atau bahkan disebut plagiat. Karena di era serba canggih sekarang ini, gampang sekali menyulap karya milik orang lain menjadi milik pribadi. Tinggal tekan Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada keyboard, dan voila! Maka dalam sekejap, jadilah karya plagiat milik kita. Oleh sebab itu, sebelum saya memulai menulis, saya perhatikan dulu satu per satu daftar karya peserta yang sudah masuk ke website. Sambil berdoa tentunya, semoga tidak ada judul yang sama dengan judul yang sedang saya pikirkan. Setelah sampai pada halaman akhir daftar peserta beserta judul karyanya, ternyata keraguan saya sama sekali tidak beralasan. Lebih dari 200 tulisan yang sudah masuk, tidak ada satupun judul yang sama dengan judul tulisan yang ada dalam benak saya. Saya bertanya dalam hati, apakah ada yang aneh dengan cara berpikir saya. Sebab saya mengira, dengan tema tulisan sudah ditentukan oleh panitia, maka akan besar kemungkinan para peserta akan memilih judul yang sama. Walaupun probabilitasnya sangat kecil, kemungkinan itu tetap saja ada.

Saya teringat dengan sebuah buku tentang tips berbicara yang pernah saya baca yang ditulis oleh Larry King, seorang Amerika yang malang melintang di dunia penyiaran. Dalam bukunya yang berjudul Seni Berbicara Kepada Siapa Saja 1, ia memberikan tips-nya untuk mencari teman ngobrol yang enak dengan orang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dan salah satu tips-nya adalah agar kita mencari tahu bidang ketertarikan yang disukai oleh lawan bicara. Galilah terus arah pembicaran hingga menemukan suatu hal atau bidang yang membuat kedua belah pihak sama-sama tertarik untuk membicarakannya. Dengan begitu akan terjalin pertukaran ide dan informasi yang berkesinambungan antara keduanya, karena mereka menyukainya. Tips yang gampang-gampang susah bukan?

Mungkin akan mudah, jika penampilan dan tingkah laku lawan bicara kita secara nampak langsung mencerminkan bidang ketertarikannya. Contoh, dia menggunakan kostum kesebelasan favorit misalnya, atau menggunakan gadget pemutar MP3 yang mencirikan bahwa dia menyukai musik. Mungkin itu juga sebabnya di halaman profil di Facebook atau di jaringan sosial lainnya mencantumkan kolom isian untuk “interest” agar kita dapat dengan mudah berteman dengan orang lain yang bidang ketertarikannya sama dengan kita. Gender juga sedikit banyak memberikan clue untuk membuka percakapan. Namun akan sulit bagi kita ketika kita bertemu seseorang yang tidak menonjolkan ketertarikannya melalui penampilan dan perilakunya. Satu kesimpulan kecil dari tips ini adalah, bahwa mencari kesamaan kita dengan orang lain sedikit lebih sulit dari pada mencari perbedaan.

Berbeda dengan Larry King, Dale Carnegie dalam bukunya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain 2, memberikan alternatif cara yang berbeda dalam berkenalan dengan orang yang baru kita kenal. Alih-alih mencari kesamaan antara kita dengan lawan bicara, tidak ada salahnya kita memelihara perbedaan itu tetap ada di dalam topik pembicaraan. Caranya yaitu dengan membuat lawan bicara kita merasa menguasai topik yang sedang dibicarakan. Buat lawan bicara kita seolah-olah yang paling tahu dan superior. Dengan begitu diharapkan dia bisa menikmati jalannya pembicaraan, walaupun harus diakui bahwa kita harus sedikit berkorban dengan ketidaktahuan yang kita miliki dari topik pembicaraan tersebut. Dale Carnegie dan Larry King mempunyai caranya masing-masing, namun intinya tetap sama, yaitu bagaimana membuat lawan bicara kita menikmati pembicaraan yang sedang kita lakukan bersamanya.

Dua pendekatan yang disampaikan oleh Dale dan Larry tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Cara dari Larry mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama agar berhasil. Karena sekali lagi, mencari kesamaan lebih sulit dan membutuhkan proses. Tidak seperti saran dari Dale yang membiarkan perbedaan itu tetap ada dan apa adanya, sehingga kemungkinan berhasil menjadi lebih cepat. Lalu, apa keuntungan dari cara Larry? Saya kira cara itu bisa membuat ikatan pertemanan menjadi lebih kuat. Kita bisa langsung nyambung ketika bertemu dengannya di lain waktu. Sedangkan cara dari Dale, menurut saya hanya dapat bekerja sementara waktu saja. Setidaknya kita punya teman ngobrol di suatu tempat yang asing bagi kita ketika kita sedang merasa sendiri. Karena percayalah, kita tidak ingin selamanya merasa bodoh ketika berbicara dengan orang lain.

Namun tentunya akan lebih baik lagi apabila kita sanggup mengkombinasikan kedua cara itu -mencari kesamaan dan membiarkan perbedaan- agar bersinergi secara optimal. Sebuah grup street dance asal Inggris, Diversity, tahu benar cara memanfaatkan keragaman anggotanya menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengantarkan mereka menjuarai ajang Britain’s Got Talent di tahun 2009 lalu. Anggotanya terdiri dari anak-anak hingga remaja, dari anak sekolahan hingga mahasiswa strata dua di sebuah perguruan tinggi. Bermodalkan ketertarikan dan kecintaan yang sama pada street dance, mereka bisa bekerjasama merangkai tarian yang sangat asyik untuk dinikmati. Dan saya yakin mereka juga menikmatinya.

Kita, bangsa Indonesia, juga punya contoh yang nyata untuk itu. Seperti dulu ketika para pahlawan kita merebut kemerdekaan. Berbekal semangat persatuan dan kesatuan yang berlandaskan kesamaan nasib dan kesamaan tujuan, mereka berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Setelah merdeka, mereka menyadari bahwa Indonesia terdiri dari suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau. Agama yang dipeluk penduduknya pun berbeda-beda. Maka akan sangat bijak dengan menerima keragaman suku, agama, dan ras itu dalam suatu landasan dasar negara. Hingga terciptalah Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun belakangan ini, setelah negeri tetangga menobatkan dirinya sendiri sebagai the truly Asia, saya merasa bangsa kita latah dan terkesan sombong dengan mengklaim dirinya sebagai bangsa yang paling beragam, the ultimate in diversity. Tapi kalau sebutan keren itu hanya membuat bangsa ini semakin mundur, membuat kerusuhan semakin banyak, lalu apa gunanya?

Keragaman, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada. Karena toh, dari munculnya kita ke dunia ini saja kita sudah diciptakan berbeda. Masalah apakah keragaman itu nantinya akan menjadi anugerah atau musibah, hanya tinggal bagaimana kita memperlakukannya. Dengan sedikit empati dan simpati, rasanya cukup untuk menjadikan bumi Indonesia yang penuh keragaman ini menjadi penuh akan kedamaian dan kreatifitas.

*****

1. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere.
2. Versi terjemahan Bahasa Indonesia dari buku How to Win Friends and Influence People.

Makanan Pokok

Wednesday, October 13th, 2010

Setelah hampir satu bulan kembali ke Taiwan, pagi tadi saya kangen dengan salah satu menu sarapan di sebuah restoran franchise terkenal berinisial M. Biasanya saya memesan paket nomor 4 yang terdiri dari 3 lembar pancake lengkap dengan butter beserta maple syrup-nya, sepotong hash brown potato, dan segelas minuman. Seringnya saya memilih nai cha (teh susu) panas untuk minumnya karena saya suka dengan aroma dan rasanya. Nggak bisa dipungkiri soalnya, semakin lama kita berada di luar negeri, maka gaya hidup juga mau tidak mau harus menyesuaikan. Secara gitu ya, di sini nggak ada yang jualan nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, atau bubur ayam buat sarapan. Well, mungkin kalau tinggalnya di apartemen atau di kontrakan yang ada dapurnya, kita masih bisa masak sendiri buat sarapan. (Wait… kita? lo doang kali, kalau gw sih tetep males.)

Nah, berhubungan dengan menu sarapan yang saya sebutkan di atas -yang hampir semuanya diawali dengan kata : nasi-, kemarin saya membaca berita menarik tentang rencana Pemerintah untuk mewacanakan kampanye One Day No Rice (ODNR). Keren banget memang, di tengah-tengah berita yang membooming tentang Indomie, Pemerintah melakukan manuver dengan menyegarkan kembali isu lama yang fantastis. Alasan yang disebutkan dalam artikel itu sangat logis, yaitu menurunnya produksi beras dalam negeri yang disebabkan perubahan iklim global di mana curah hujan Indonesia menjadi sangat tinggi yang akhirnya menyebabkan seringnya gagal panen (bingung?). Dan alih-alih diatasi dengan menaikkan laju impor, diversifikasi jenis makanan pokok dinilai menjadi solusi lain yang lebih baik. Nice idea.

Di artikel lain yang masih berhubungan dengan isu di atas, disebutkan bahwa konsumsi beras di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Lebih dari 2 kali lipat dari rata-rata konsumsi beras dunia. Sangat masuk akal. Orang Indonesia khususnya yang tinggal di daerah barat, makan nasi 3 kali sehari. Sarapan, makan siang, sampai makan malam, semua harus ada nasinya. Sampai ada pepatah -yang entah dari mana asalnya- yang menyatakan, “orang Indonesia itu belum makan kalau belum makan nasi”.

Pertanyaannya, bisakah orang Indonesia hidup tanpa makan nasi. Secara ilmiah, jawabannya pasti bisa. Selama dia terus mengonsumsi air dan mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lainnya, seseorang dijamin bisa tetap hidup. Tapi secara nggak ilmiah, sudah pasti jawabannya nggak bisa. Karena untuk kasus ini bukan lagi kebiasaan yang ingin diubah, tapi budaya. Dan selama ini belum ada kan budaya orang Indonesia yang bisa diubah secara signifikan? Mengubah budaya makan nasi menurut saya mirip dengan menghilangkan budaya KKN. Hampir pasti nggak mungkin karena sudah mengakar dan mendarah daging. Kecuali…

Begini, ada sebuah cerita tentang seorang bule Australia yang cukup lama tinggal di Indonesia. Selama di Indonesia dia bisa bertahan untuk makan nasi 3 kali sehari. Padahal di negaranya dulu, dia hanya makan nasi 3 kali seminggu. Sedangkan saya di Taiwan ini jarang sarapan pakai nasi karena memang terbatasnya pilihan menu sarapan yang berasal dari beras. Bukannya tidak ada, ada namun terbatas. Jadi intinya, lingkungan bisa membentuk budaya. Begitu juga dengan wacana ODNR tadi. Selama lingkungan kita mendukung untuk tidak mengonsumsi beras secara berlebih dan selama pemerintah bisa mengkondisikan keadaan seperti itu, program ini kemungkinan bisa berhasil.

Kemudian mengenai diversifikasi pangan nasional tadi, kira-kira apa ya yang cocok untuk menggantikan nasi? Indomie? Jangan salah, mie yang satu itu boleh berbangga hati karena sudah terbukti telah berjasa dalam mengantarkan perjalanan hidup seorang mahasiswa PhD -yang hampir tiap hari makan Indomie atau saudara sebangsanya- yang saya kenal hingga lulus.

Do You Treasure Childhood?

Thursday, October 7th, 2010

Jadi ceritanya di subuh hari ini saya penasaran dengan sebuah film yang ingin saya tonton di akhir minggu ini, Legend of The Guardians : The Owl of Ga’Hoole. Film animasi 3 dimensi yang diangkat dari kisah novel. Terkesan childish memang untuk anak-anak seukuran saya menonton film ini, tapi ada suatu rasa penasaran yang teramat sangat yang nggak bisa saya ungkapkan yang mendorong saya untuk nonton film ini. Pokoknya, HARUS. Seperti dulu ketika nonton film Kung fu Panda, saking penasarannya saya sampai minggat ke Bandung karena di Jakarta sudah sulit dicari. Mungkin waktu itu memang sudah saatnya Kung fu Panda turun panggung karena memang sudah terlalu lama nongkrong di bioskop. Tapi masalahnya, saya belum nonton.

Yang pertama yang saya cari untuk survei film ini adalah plot atau alur ceritanya. Wikipedia cukup banyak membantu saya memberikan spoiler dari sisi alur cerita secara utuh. Soalnya, terkadang saya nggak ngerti keseluruhan isi film yang baru saja ditonton. Lost in translation and conversation. Yah, akibat bahasa Inggris saya yang nggak terlalu bagus. Setelah spoiler, biasanya saya mencari trailer. Yup, dari mana lagi kalau bukan dari “Kamu Tabung”. Karena dari trailer film kita bisa mengintip-intip, apa sih atau gimana sih film ini nantinya, siapa saja yang main, atau bagaimana bentuk visualisasinya. Hingga akhirnya survei kecil-kecilan itu berujung pada sebuah trailer tentang The Smurfs.

Masih ingat dengan Smurf kan ya? Komunitas makhluk biru kecil yang tinggal di hutan. Masing-masing Smurf memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Ada yang pintar, ada yang jago masak, ada yang pemalas, ada yang pemarah, ada Papa Smurf si kepala suku, dan lain-lain yang katanya berjumlah 99. Dulu saya mengenal Smurf dari komik. Walaupun katanya ada juga versi animasinya. Entah lupa entah memang belum pernah melihat, yang jelas memori saya tidak bisa mengingatnya. Cerita-cerita si Smurf lucu dan sederhana.

Balik lagi tentang trailer film Smurf yang gosipnya akan dirilis musim panas tahun depan. Juli 2011. Di trailer tersebut dikatakan bahwa film ini juga mengusung teknologi 3 dimensi. Dan di trailer tersebut juga diperlihatkan bahwa para Smurf sedang berada di kota. Awalnya, saya mengira respon-respon yang diberikan akan positif. Pertama, mereka (produser dan orang-orang di belakang layar) membangkitkan kembali kenangan masa lalu. Kedua, film ini dikembangkan dengan teknologi terkini. Namun ternyata respon yang didapat malah sebaliknya. Kolom komentar dipenuhi umpatan dan cacian. Ada juga sih yang mendukung dan memberikan apresiasi. Tapi overall, banyak yang tidak suka dengan adanya film Smurf 3 dimensi yang ada di kota itu. Dan kebanyakan, mereka yang tidak suka adalah orang-orang yang memang menjalani masa-masa ketika Smurf menjadi salah satu icon yang berkesan.

Alasan utama yang bisa saya tangkap, Smurf itu karya klasik. So, just let it be classic as it was. Karena memang begitulah mereka dulu dinikmati dan begitulah cara mereka memberi kesan tersendiri bagi para penggemarnya. Lewat komik berwarna maupun lewat layar kaca. Tidak perlu repot-repot dibuat versi 3 dimensinya. Sehingga para penikmatnya juga tidak perlu ke bioskop menggunakan kacamata 3 dimensi yang menurut beberapa orang malah membuat mereka merasa pusing ketika memakainya.

Latah teknologi? Mentang-mentang film-film sekarang banyak yang menggunakan efek 3D. Atau latah dengan kesuksesan beberapa film yang juga mengadopsi film-film zaman dulu dan diproduksi ulang dengan teknologi animasi terbaru. Alvin and the Chipmunks? Garfield? Scooby Doo? Transformers? Well, I thought sometimes it worked, and sometimes it didn’t. Hollywood, produce anything to make money. But anyhow, that is Hollywood’s problem, and I don’t have problem with them. As long as it is entertaining, I am gonna watch it.

The lesson is, nggak semua yang modern, yang mutakhir, dan yang terkini itu selalu baik dan bernilai positif. Ada kalanya, justru sebaliknya, yang jadul dan yang kuno lah yang dicari. Karena di situlah nilai kesan dan kenangannya. Seru juga kalau ada mesin waktu dan kita bisa kembali ke masa lalu. Menunggu jemputan sekolah sambil nonton My Little Pony atau Alvin and The Chipmunks. Atau menyewa video betamax untuk nonton Goggle V, Sarivan, atau Gaban, bareng tetangga-tetangga di kampung.