Semoga Untuk Yang Terakhir Kalinya…

Tuesday, September 21st 2010

Saya berhitung, dalam 3 tahun terakhir ini saya sudah bolak-balik Indonesia-Taiwan sebanyak 5 kali. Setiap tahunnya, mulai dari 2008, saya selalu pulang 2 kali ke Indonesia. Tapi tahun ini baru satu kali, dan semoga untuk yang terakhir kalinya. Dari maskapai yang umum digunakan seperti China Air dan Eva Air, sampai maskapai yang nggak umum, Cebu Pacific, pernah saya coba. Namun belakangan ini pilihan saya jatuh pada AirAsia. Beberapa benefit yang saya rasakan -dengan mengesampingkan bahwa AirAsia adalah budget airlines- adalah, harganya lebih murah untuk ukuran tiket sekali jalan, makanannya dijamin halal karena merupakan maskapai Malaysia, tidak akan ada kendala bahasa dengan kru pesawat karena mereka menguasai bahasa Melayu, dan tentunya para kru pesawat yang selalu mencoba tampil segar dan menarik. Ada juga sih nggak enaknya terbang dengan AirAsia, tapi sepertinya Anda juga sudah mengerti itu. Jadi, kita tidak usah membahas itu. Mari saya lanjutkan saja, cerita di hari yang mungkin sulit untuk saya lupakan…

*****

Indonesia, 19 September 2010…

Satu koper besar sekitar 16-17 kg, masuk ke dalam bagasi mobil yang akan membawanya ke Soekarno-Hatta. Jam menunjukkan hampir pukul setengah 10, namun mobil itu belum juga ada penumpangnya. Padahal, dalam 2 jam lagi si penumpang pemilik koper itu sudah harus tinggal landas menuju Malaysia.

Dalam beberapa menit kemudian, satu per satu masuk ke dalam mobil. Seorang Bapak bertopi, istrinya, dan ketiga anaknya. Sang Bapak memang suka memakai topi Pak-Tino-Sidin ketika mengendarai mobil. Dia menyebutnya kostum supir taksi. Sang istri duduk di sampingnya, sedangkan ketiga anaknya berada di belakangnya. Pukul setengah sepuluh pagi, akhirnya mobil itu keluar dari kandang. Menuju kandang raksasa burung-burung besi.

Sambil harap-harap cemas di kursi belakang, sesekali aku mengintip jam tanganku atau jam digital yang ada di panel mobil. Memastikan, apakah masih ada waktu setidaknya untuk berlari-lari dari counter check-in tiket, counter bebas fiskal, counter imigrasi, hingga ruang tunggu keberangkatan, sampai akhirnya masuk ke pesawat tanpa harus dipelototi penumpang lainnya.

Maklum, perjalanan dari rumah ke bandara sangatlah panjang. Dari Ciputat ke Cengkareng biasa ditempuh 40-50 menit, jika dan hanya jika jalanan sangat-sangat lancar. Karena kalau di hari kerja normal, waktu tempuh 2 jam itu sudah cukup bagus. Syukurlah hari itu jalanan lancar. Kami tiba di bandara pukul setengah 11 kurang 10 menit. Masih 70 menit lagi sebelum keberangkatan.

Hadangan pertama yang kuhadapi adalah penjaga pintu masuk yang bertugas memeriksa paspor dan tiket. Gara-gara belum terbiasa, 10 menit lebih waktuku habis untuk mencari email booking di BlackBerry lungsuran Bapak. Sebenarnya sengaja tidak kucetak tiket yang ada di email itu, karena toh pada akhirnya tidak akan terpakai juga seperti waktu di Taiwan dulu. Jangankan dilihat kode bookingnya, dilirik kertasnya saja tidak oleh si penjaga counter.

Akhirnya walaupun emailnya belum ketemu, aku langsung bergegas masuk karena waktu terus menipis. Sampai tepat di depan si penjaga pintu masuk, ternyata yang dilihat hanya paspornya. Sigh, merasa percuma mencari email di inbox yang baru ketemu di halaman ke-8 atau ke-9, dari 20-an email yang ditampilkan per halamannya.

Beberapa orang petugas maskapai AirAsia berdiri di sekitar mesin mirip mesin ATM. Mesin itu adalah alat untuk check-in. Waktu yang terus bergerak membuatku tertarik menggunakan mesin itu karena tidak ada antrian di sana. Seorang petugas mempersilahkanku memasukkan kode booking tiket. Waduh, email booking tadi ternyata perlu juga, pikirku. Dengan tampang sedikit panik, langsung kuambil lagi BB dari saku celana dan scroll atas bawah-atas bawah mencari-cari email dengan subject AirAsia. Si Mas petugas bertanya, “ngecek inbox ya?” sambil tersenyum kecil memaklumi tingkah laku anak muda jaman sekarang yang memiliki slogan, gadget is my life.

Yup, got it, 6 huruf ajaib itu berhasil kutemukan dengan segera. Si Mas petugas memintaku membacakan kode booking tersebut. Zorro-Delta-Queen-… satu demi satu aku eja. Tombol “confirm” ditekannya. Mesin berproses. Kode booking tidak ditemukan. Petugas yang lain datang, mencoba hal yang sama. Dia lihat layar ponsel dalam genggamanku. Dengan hati-hati dia masukkan huruf-huruf itu. Tombol “confirm” ditekan. Mesin berproses. Kode booking tidak ditemukan. Mereka menyerah dan menyuruhku untuk langsung pergi ke counter check-in yang memang biasa digunakan.

Untung hanya menunggu 1-2 antrian. Tapi tiba-tiba muncul 2 orang ibu-ibu menyerobot layaknya angkot yang memang tidak pernah mau tahu aturan. Mungkin mereka sedang terburu-buru, kucoba berbaik sangka. Kini tiba lah giliranku, kutaruh koper besar di timbangan bagasi, angka menunjukkan 16,6. Masih kurang 3,4 kg dari batas maksimal bagasi. “Ke Kuala Lumpur Mas…” sambil menyerahkan paspor pada penjaga counter.  “Jam 11?” tanyanya. “Setengah 12, Mas…” jawabku. Dengan cekatan dia membereskan segala sesuatunya mulai dari bagasi, boarding pass, kartu keberangkatan, dan lain-lain.

Dokumen-dokumen itu aku tukar dengan uang 150 ribu rupiah sebagai pembayaran pajak bandara. Sambil menyerahkan dokumen itu, dia juga memperlihatkan waktu boarding pesawat di boarding pass milikku. “Boarding-nya 10.50, harap dipercepat ya Pak” katanya. Kuangkat tangan kananku, jam menunjukkan pukul 10.45… What?!?!

Seingatku setahun yang lalu counter itu masih di ujung terminal. Sedikit berlari aku menuju counter bebas fiskal yang kukira ada di ujung terminal ini. Belum sampai di ujung, kulihat banyak orang mengantri sambil membawa beberapa helai kertas. Rupanya counternya sudah pindah. Ada beberapa antrian, aku pilih yang paling lengang. Dokumen-dokumen seperti fotokopi NPWP dan KK kupersiapkan. Tidak sampai 5 menit, urusanku dengan pajak fiskal sudah beres.

Waktu menunjukkan hampir pukul 11. Aku belum berpamitan kepada orangtua, dan 2 orang laki-laki yang mengantarku -kakak dan adikku. Aku kembali lagi ke pintu tempat masuk tadi. “Mau keluar sebentar Pak” ujarku. “Oh, lewat pintu sebelah sana, Dik…” kata si Bapak Petugas Bandara sambil menunjuk arah yang jauh. “Aaargh, di mana lagi itu?” tanyaku dalam hati, menggerutu. Ternyata aku harus melewati jalan yang sama, melewati counter check-in otomatis dan counter bebas fiskal. Rugi tenaga 2 kali.

Kurang lebih 100 meter dari tempat aku keluar, aku menemukan Ibu, Kakak, dan Adik. Kutanyakan pada Ibu, “Bapak mana, Bu?” Menuding ke arah belakangku, ibuku menjawab “itu.” Sedikit kujelaskan bahwa waktuku tak banyak lagi. Mereka pun mengerti, dan kemudian aku langsung berpamitan.

Kutunjukkan paspor dan boarding pass kepada si petugas penjaga pintu yang berbeda dengan petugas yang kulalui sebelumnya. Saatnya menuju counter pemeriksaan bebas fiskal, sebelum menuju counter imigrasi. Kusadari bahwa aku memiliki penyakit kronis setiap ke bandara, tidak bawa pulpen. Benda krusial untuk mengisi kartu keberangkatan. Kulihat orang di belakangku menjepitkan pulpen di saku bajunya. “Boleh pinjam pulpennya, Mas?” tanyaku. Dia menyodorkan pulpennya dengan senyuman. Seandainya saja dia perempuan muda, mungkin pertanyaannya akan kutambah “boleh minta nomer telfonnya, Mbak?”, atau “punya facebook, Mbak?”

Bebas dari pemeriksaan fiskal, pulpen itu kukembalikan kepada pemiliknya. Dengan terburu-buru dan belum sempat kuucapkan terimakasih, dia malah meminta maaf, “sorry…” Dia menuju counter yang tidak ada antriannya. Ternyata dia memang punya hak untuk diperlakukan khusus. Sedangkan aku, harus menunggu di antrian yang cukup mengular, belasan orang.

Menunggu adalah hal yang mengesalkan. Apalagi ketika kita sedang sendirian dan diburu oleh waktu. Jam di atas counter imigrasi menunjukkan pukul 11 lewat, sedangkan antrian didepanku masih sangatlah banyak. Lebih dari satu menit untuk memproses satu orang. Sambil menghitung jumlah antrian di depanku, aku mengalikannya dengan 1 menit. Perkiraan, 10 menit sebelum lepas landas aku baru bisa keluar dari counter ini. Siap-siap berlari sekuat tenaga karena ruang tunggu pesawat dengan nomer penerbangan QZ 7696 yang akan kutumpangi berada sangat jauh di ujung terminal. Jaraknya sekitar 1 kali lapangan bola dari tempatku berdiri saat ini.

Beberapa menit aku menunggu, seorang Bapak membuka pembatas jalan. Tampaknya counter layanan yang persis di sebelahku mengantri mulai dibuka. Sebagian antrian di depanku beralih ke sana. Aku, tetap setia di counter yang sama. Tidak sampai 5 orang di lagi, tibalah giliranku. Fyuuuh, pukul 11 lewat 10 menit aku terbebas dari pos itu. Selepas itu, seorang petugas AirAsia menanyakan tujuan keberangkatanku, “AirAsia… ke mana Pak?” Segera kujawab, “Kuala Lumpur.” “Segera ya Mas, sudah ada panggilan.” Aku berjalan, sedikit berlari.

Di boarding pass tertulis bahwa aku harus menunggu di ruang D7, namun tadi aku mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan kutumpangi menunggunya di ruang tunggu D4. Sebelum masuk ke ruang tunggu, masih ada pemeriksaan barang terakhir untuk memastikan bahwa tidak ada penumpang yang memasukkan barang-barang yang memang tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kabin pesawat. Detektor di tempat pemeriksaan ini sangat sensitif. Ikat pinggang harus dilepaskan agar lolos sensor detektor logam. Bikin repot saja, gumam dalam hati.

Seksama kuperhatikan TV kecil di depan ruang tunggu D4. Tidak ada tanda bahwa penerbangan ke Malaysia akan diberangkatkan dari ruang tunggu ini. Langsung saja kubergegas ke ruang D7 dengan melewati eskalator mendatar sambil sibuk memasang kembali ikat pinggang yang tadi kulepaskan. Ternyata benar, di ruang ini lah seharusnya aku menunggu, D7.

Sampai di dalam, masih ramai orang. Seorang calon penumpang bertanya dengan nada sedikit protes pada petugas, mengapa pesawatnya terlambat. Wajar pikirku kalau dia protes, karena dia masih harus meneruskan penerbangannya lagi. Sama dengan keadaanku. Karena kalau pesawat dari sini terlambat, apalagi terlambat cukup lama, maka hanguslah tiket yang telah kupesan untuk penerbangan berikutnya. Benarlah kata tukang becak, murah kok njaluk selamet 1.

Untungnya tidak berapa lama setelah aku duduk, penumpang mulai berdatangan dari pesawat yang akan kunaiki. Pesawat telah tiba. Masih ada waktu untuk sekedar santai-santai dan memastikan semuanya terbawa. Ada perasaan janggal seketika, ketika aku mengingat-ingat proses check-in dan pengurusan bebas fiskal tadi. Aku menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai identitas, bukan Alien Residence Card (ARC).

Panik. Kuperiksa kembali isi dompet. Kurogoh-rogoh isi tas backpack walaupun kutahu semua usaha itu tidak akan ada hasilnya. Ya, karena seingatku, ARC, kartu mahasiswa, dan ATM Taiwan milikku itu masih berada di card holder warna biru, di samping tempat tidur, di dalam kamar, di rumah. Lesson learned, I need private assistant.

Teknologi, salah satu harapan yang kupikir akan bisa menolongku. Tentunya, dengan izin Yang Maha Kuasa. Segera kutelfon ibu. Nada sambung terdengar, namun tidak diangkat. Ah, aku lupa. Tadi di mobil kan ibu bilang kalau dia lupa bawa handphone. Lalu kutelfon kakakku. Yap, diangkat. Kujelaskan apa yang terjadi dan meminta tolong kepadanya untuk melakukan beberapa hal. Pertama, scan kartu-kartu tersebut. Kedua, kirimkan lewat email. Hanya itu yang terpikir olehku, sambil memikirkan strategi-strategi berikutnya, dan juga hal terburuk yang mungkin terjadi.

Kira-kira pukul 12, akhirnya kami dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Waktuku di Malaysia berkurang setengah jam. Semoga saja waktu 2,5 jam di sana dapat kumanfaatkan sebaik mungkin.

QZ 7696, Indonesia-Malaysia

30D. Nomor tempat dudukku sama persis dengan salah satu model kamera Single-Lens Reflex keluaran Canon. Letaknya di ujung belakang, satu baris sebelum baris terakhir. Di kursi 30F, kudapati ada seorang gadis sedang membaca novel berbahasa Inggris, bertemankan sinar cahaya matahari yang masuk melalui jendela di sampingnya. Sepertinya ia mahasiswi. Kukira ia temanku. Rambut serta bentuk tubuhnya sangat mirip. Hati kecilku berdoa semoga dia adalah teman yang kumaksud.

Dia menengok ke arahku. Mata kami beradu tatap sebentar, lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Ternyata dia bukan temanku. Dan sayangnya lagi, dia bukan tipeku. Kursi kosong di antara kami berdua memang seolah telah sengaja diatur sedemikan rupa oleh Yang Maha Mengatur untuk menghalangi agar getaran-getaran halus dalam hati ini tidak saling menginterupsi.

Awak pesawat yang akan mengantarku ke LCCT Kuala Lumpur ini terdiri dari satu orang pramugara dan tiga orang pramugari. Yang sepertinya keempatnya berkewarganegaraan Indonesia. Aku menerka itu dari cara mereka berbicara. Tidak ada unsur-unsur melayu yang kental. Terdengar sangat Indonesia sekali. Tidak seperti sang pilot yang menyapa kami tidak dengan bahasa Indonesia. Mungkin dia memang bukan Indon. Ups, maksud saya, Indonesian.

Perjalanan ini akan ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Sama seperti perjalanan dari Jakarta ke Bandung lewat tol Cipularang. Bedanya, di pesawat ini kalau kita mau makan atau minum, kita tidak perlu berhenti di Rest Area. Para awak kabin akan menawarkan apa-apa yang bisa dibeli untuk dimakan, sambil membunyikan peringatan bahwa penumpang tidak boleh membawa makanan atau minuman dari luar pesawat.

Tidak seperti penerbanganku sebelumnya yang tidak memesan makanan lewat pemesanan tiket online, kali ini aku memesan nasi lemak. Perutku sudah membunyikan alarmnya. Pertanda persediaan bahan energi di perut sudah menipis. Saat itu juga mataku yang terpejam kembali terbuka karena hidungku mengendus sesuatu yang merangsang kelenjar air liur bekerja lebih aktif. Mereka datang, pramugari itu dengan kereta makanannya.

Kompensasi duduk di barisan belakang adalah mendapatkan pelayanan di urutan belakang. Kereta makanan yang tadinya penuh, tinggal terisi kurang dari setengahnya. Sebelum berada dekat denganku, seorang pramugari bertanya pada penumpang di sekitarnya, “ada yang sudah memesan? tolong boarding pass-nya…” Aku berdiri membuka bagasi kabin tepat di atas tempat duduk, kemudian memasukkan sebelah tanganku ke dalam ransel sambil meraba-raba sesuatu yang berbentuk buku kecil, sebuah paspor. Di paspor itu kuselipkan boarding pass yang dimaksud oleh si pramugari. Kuambil kertas boarding pass itu, sedangkan paspor dan ransel serta bagasi kabin, kukembalikan pada posisinya semula.

Sang pramugari kini tepat berada di sebelahku. Rambutnya sebahu, pipinya membulat dan mengembang. Membuka daftar nama dan memanggil namaku, “Wijayanto Budi…” Kuberikan kertas yang tadi kuambil kepadanya. Berkoordinasi dengan teman kerja yang ada di depannya dengan suara yang dipelankan. Si rekan kerja yang berparas oriental dengan model rambut yang sama dengan pramugari di sebelahku, memberikan satu wadah makanan bertutupkan alumunium foil dengan tulisan “Not For Sale”. Sepasang sendok garpu serta air minum kemasan kecil menyusul di belakangnya.

Asap mengepul dari panasnya nasi lemak yang tutupnya baru saja kubuka. Ikan teri yang tidak asin, sambal, dan daging berbumbu menemani nasi putih yang mirip nasi uduk dengan alas daun pisang di bawahnya. Rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi lemak yang pernah kurasakan 3 minggu sebelumnya di rumah Datuk. Seorang melayu Malaysia yang kukenal di warung Indonesia dekat masjid kecil di Taipei.

Mungkin dengan melihatku makan, si gadis pembaca novel itu juga ikut merasa lapar. Dia tidak pesan online. Berkali-kali mencoba memanggil si pramugari sambil melambaikan tangan, namun terus diacuhkan. Bagaimana si pramugari mau dengar, suaranya sangat lembut selembut sutra yang bahkan tidak akan terdengar oleh semut di sampingnya. Aku menawarkan bantuan, “mau pesen?” Dia hanya mengangguk. Aku colek lengan pramugari berparas oriental yang kini berada di sebelahku. Si pramugari berbalik, “ya?” Aku menunjuk ke arah gadis pembaca novel, “ada yang mau pesen.”

Gadis itu memesan nasi lemak. Si pramugari menawarkan nasi lemak sotong karena nasi lemak seperti yang kupesan tampaknya sudah habis. Si gadis terdiam, berpikir untuk memilih lainnya. Pramugari menawarkan menu yang lain, “ada chicken rice, pizza, hotdog…” Si gadis memilih chicken rice. Ditambah sebotol Nu Green Tea. Transaksi keuangan terjadi di depan mataku. Si pramugari meminta maaf padaku, “maaf, Pak…”

Walaupun porsinya kecil untuk ukuran pria, nasi lemak itu berhasil membungkam suara-suara dari perutku. Kenyang. Aku melirik ke arah meja si gadis. Hanya ayamnya yang habis. Nasinya utuh. Halah, kenapa tadi tidak pesan chicken without rice saja? Kesalku. Aku terkadang kesal dengan orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya. Apakah dia tidak tahu kalau di Afrika sana banyak yang mati kelaparan?

Setelah selesai makan, kulihat jam tanganku. Perjalanan masih satu jam lagi. Sisa-sisa peperangan bersenjatakan sendok dan garpu plastik masih tergeletak di depanku. Ludes. Tadi sudah kuminta untuk dibereskan, namun si pramugari itu menolak karena akan ada waktu tersendiri untuk membereskan sisa-sisa makanan dan minuman. Kulanjutkan saja memikirkan antisipasi tentang hal-hal yang akan kulakukan setelah tiba di Malaysia nanti.

Pramugari itu datang mengenakan sarung tangan plastik di tangan kanannya. Di tangan kirinya menggenggam plastik besar. Cekatan dan terkesan sedikit seramapangan, dia membereskan sisa-sisa makanan dari meja-meja lipat para penumpang. Setelah mejaku bersih dan kulipat, kulanjutkan tidur siangku yang tidak nyenyak.

LCCT, Malaysia

Jam tangan kusesuaikan dengan waktu Malaysia yang satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat. 3 sore waktu Malaysia. Hampir tepat 2 jam pesawat ini melintasi langit Indonesia-Malaysia. Pesawat belum sepenuhnya berhenti, namun sebagian penumpang sudah kalang kabut mengambil barang bawaannya di bagasi kabin. Tidak lama setelah pesawat selesai parkir, para penumpang sudah membuat antrian sepanjang lorong pesawat. Menunggu dibukanya pintu keluar.

Pintu depan dan pintu belakang dibuka oleh para awak kabin. Aku yang duduk di belakang, tentu memilih keluar lewat pintu belakang yang letaknya tidak sampai 10 langkah dari kursiku. Panas, sedikit lembab. Cuaca di sana tidak berbeda jauh dengan di Jakarta. Dengan mudahnya aku berkeringat, padahal baru berjalan beberapa langkah selepas menuruni tangga pesawat. Aku tak tahu harus ke mana. Kuikuti saja langkah orang-orang di depanku.

Seorang pramugari yang parasnya mirip salah seorang pembawa berita di Metro TV menerima kedatangan kami di pintu masuk lorong terminal. Sesekali ia sedikit membungkukkan badannya dan berucap, “terima kasih… terima kasih….” Menunjukkan ke mana aliran arus para penumpang itu harus berjalan. Dia satu dari tiga pramugari yang satu pesawat denganku tadi. Subyektif memang, menurutku dia yang paling manis.

BlackBerry Bold 9700, kukeluarkan dari saku celanaku. Celana yang kubeli di Solo Square, mall baru di kota Surakarta. Kunyalakan BB hitam di tangan dan kutelfon kakakku. Email sudah dikirim katanya. Ia menyarankan agar aku mencetak hasil scan kartu-kartu penting itu. ARC dan juga kartu mahasiswa. Sejalan dengan yang kupikirkan, memang itu lah yang kurencanakan. Aku sedikit lega.

Pengumuman di pesawat tadi menginformasikan bahwa mereka kehabisan stok kartu kedatangan. Para penumpang diminta untuk mengambilnya sendiri ketika sudah tiba di bandara. Sesampainya di depan halaman counter imigrasi, arus kerumunan penumpang tadi kini berhamburan tanpa arah. Mencari-cari kartu kedatangan yang harus diisi sebelum menuju ke antrian counter imigrasi. Aku juga ikut menyebar. Mengikuti refleks. Seolah-olah sudah hafal apa yang harus dilakukan. Mendekati meja-meja yang biasanya tersedia kertas-kertas kecil berserakan, dan beberapa pasang pena. Meja demi meja kudekati, tapi tidak ada tanda-tanda penampakan dari kartu kedatangan.

Setelah berputar-putar, aku sampai pada kesimpulan konyol. Apakah kita harus menunggu kartu-kartu itu datang dari percetakan. Untungnya sesaat kemudian aku melihat seseorang bertanya pada seorang petugas. Mengisyaratkan agar langsung menuju antrian. Argh, harusnya mereka membuat pengumuman tertulis yang terbaca oleh para penumpang yang baru saja datang. Agar orang-orang ini tidak bingung seperti anak ayam kehilangan induknya.

Antrianku cukup sedikit. Kalau sambil membaca buku, satu halaman saja tidak dapat. Yang melayani di counterku ini seorang melayu. Aku hanya menyerahkan paspor. Tanpa kartu identitas lainnya. Dia bertanya, “berapa lame di Malaysia?” Harusnya kujawab dua setengah jam. Tapi aku takut berbeda pemahaman. Maka kujawab saja, “3 jam.”

Aku menuju tempat pengambilan bagasi yang berada satu lantai di bawah ruang counter imigrasi. Tak perlu kuambil trolley yang sempat berjejer menghalangi jalanku, karena toh aku hanya membawa satu koper dan satu backpack yang sudah tergendong di punggung. Aku memilih tempat yang agak sepi. Di ujung mulut lubang tempat koper-koper besar itu kembali masuk apabila tidak diambil oleh pemiliknya. Sambil melihat menyusuri barisan koper-koper yang berjalan, aku baru sadar kalau si gadis pembaca novel itu berada di dekatku. Di sebelah kiriku, hanya dalam beberapa jengkal saja jaraknya. Sempitkah dunia?

Kurang kerjaan. Aku menganalisa sistem keluar masuk koper ini. First-in-first-out, atau kah first-in-last-out. Aku termasuk orang yang bisa dikatakan baru memasukkan koper menjelang deadline. Dan tampaknya di deretan koper-koper awal tadi tidak ada koperku. Lamanya kumenunggu memberikan jawaban yang jelas, first-in-first-out. Last in, last out. Koperku baru saja keluar dari mulut lubang keluarnya koper-koper, setelah keramaian di tempat pengambilan bagasi berangsur-angsur sepi. Sebelum aku keluar dari terminal kedatangan itu, ada satu lagi pos pengecekan barang. Namun, banyak yang mengabaikan. Mungkin karena petugasnya sendiri sudah malas. Aku, ikut dengan orang kebanyakan. Mengabaikan.

Seperti biasa, di pintu keluar terminal kedatangan akan kita jumpai wajah-wajah penuh penantian. Menanti sanak saudara yang datang. Menunggu teman baik yang sudah lama tidak bersua. Atau, menjemput seorang tamu dari perusahaan tempat bekerja. Aku mencari temanku. Teman yang baru satu kali bertemu. Aku berjanji membelikannya sebuah buku. Namun janji itu tak bisa kutepati, karena beberapa hari terakhir ini aku tidak sempat ke toko buku. Kalau bertemu, aku ingin meminta maaf telah mengingkari janji yang telah kusampaikan padanya 4 hari yang lalu. Sejauh penglihatanku, dia tidak kutemukan. Memang sebelum berangkat, aku tidak ada kontak dengannya. Dan sebenarnya aku juga berharap dia tak datang. Takut dia kecewa karena buku yang sangat ingin dia baca tidak jadi kubelikan.

Terminal keberangkatan di LCCT memiliki 2 pintu masuk. Aku masuk melalui pintu masuk di sebelah McD, dan langsung mencari counter layanan informasi. Tidak sulit kutemukan letaknya. Kulihat di situ ada dua orang puan duduk di depan meja kerjanya. Dan dua orang tuan berdiri di samping depannya. Salah satu laki-laki itu menyadari keberadaanku, dan menawarkan bantuan dalam bahasa melayu. Aku merespon sedikit gugup, antara ingin menjawab dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bahasa melayu bukan pilihanku karena tidak ada dalam kamus di otakku. Akhirnya keluarlah kata-kata dalam bahasa Inggris dari mulutku. Kalau bukan karena sengketa dua negara tetangga yang nggak pernah ada habisnya itu, mungkin aku bisa merasa aman menggunakan bahasa Indonesia.

“I need to print some documents, where is the place?” Ucapanku yang pertama itu tampaknya tidak terdengar jelas. Aku mengulanginya. Dia mengerti maksudku. Dia mengarahkanku ke tempat itu dengan bahasa Inggris berlogat melayu ditambah dengan bahasa tangan, ke depan lalu ke kiri. Plaza Premium Lounge. Dia sebutkan nama tempat itu beberapa kali.

Aku ikuti petunjuk petugas tadi. Kutelusuri bagian dalam terminal yang ramainya kukira tidak kalah dengan terminal kereta api di waktu musim mudik Lebaran. Aku menemukan sebuah ruangan kecil di pojok deretan ruangan-ruangan kantor di ujung terminal ini. Di situ tertulis, Plaza Premium Lounge.

Tempat itu cukup sepi. Ada 3 unit personal computer. Satu terpakai, dua menganggur. Seorang wanita berusia antara 20-30an ditugaskan mengurusi tempat itu. Gemuk dan berwajah melayu. Lagi-lagi dengan bahasa Inggris sekedarnya, kukatakan aku ingin mencetak beberapa dokumen. Dia menjawab, satu lembar 3 Ringgit. Aku bertanya lagi, bagaimana kalau mau menggunakan internet. Ia menunjuk ke sebuah kertas yang tertulis mirip menu makanan. Di situ tertulis paket-paket berdasarkan lamanya waktu pemakaian. Aku memilih paket di urutan paling atas. Paling cepat, paling murah. 30 menit, 25 Ringgit.

Kuparkirkan koper besar yang kuseret-seret sejak tadi di belakang kursi tempatku duduk sekarang. Belum juga aku sempat membuka browser internet, si petugas tadi memberiku secuil kertas bertuliskan alamat email. Untuk apa pikirku? Password untuk login? Rasanya tidak, komputer ini tidak di-protect dengan username dan password untuk mengaksesnya. Kubiarkan saja kertas itu dan kulanjutkan pekerjaanku, mengunduh hasil scan kartu-kartu penting yang tertinggal di rumah.

Baris paling atas di daftar inbox emailku tertulis : ID card. Isinya sesuai harapanku, hasil scan ARC dan kartu mahasiswa, bolak-balik. Aku unduh 4 file tersebut dalam sebuah file kompresi. Ku-extract dalam sebuah folder yang sepertinya bebas digunakan oleh siapapun pengguna komputer ini. File-filenya sangat besar. Tidak mungkin aku cetak masing-masing satu halaman. Aku butuh aplikasi office seperti MS Word, Open Office, atau apa pun itu untuk menggabungkan file-file tadi. Aku cari aplikasi office yang ada di komputer itu melalui menu yang ada di pojok kiri bawah. Nihil.

Mari berterimakasih pada salah satu perusahaan IT terbesar di dunia, Google. Dia memiliki layanan office berbasis cloud computing, yaitu Google Docs. Fiturnya memang sangat mendasar sekali, namun cukup komplit untuk melakukan hal-hal yang mendasar seperti mengimpor file gambar. Fitur yang kubutuhkan saat ini. Setelah selesai menyusun 4 file gambar tadi menjadi 2 halaman, aku meng-convert-nya menjadi file PDF. Aku berharap bisa kubuka di Adobe Reader dan langsung mencetaknya. Harapanku terwujud, file itu bisa kubuka di sana. Sayangnya, tidak ada pilihan printer yang harus kupilih, tidak ada printer yang tersambung dengan komputer yang kugunakan.

Tiga orang tamu masuk menghampiri si penjaga lounge. Bercakap-cakap dengan bahasa melayu. Rupanya salah satu dari tamu tersebut juga ingin mencetak dokumen. Tapi bedanya, dia membawa filenya dalam flash disk. Aku menoleh ke belakang dan, aaah… secercah ide tiba-tiba muncul di kepalaku, aku pinjam saja flash disk-nya. Aku berbalik kembali ke monitor sambil memastikan file mana yang akan kupindahkan ke flash disk itu. Kusadari secuil kertas bertuliskan alamat email itu masih berada di tempat asalnya, di depanku persis. Lalu baru aku mengerti apa maksud si penjaga tadi. Kirimkan file-nya ke alamat itu, cah bagooos…

Di google docs, kita tidak perlu repot-repot mendownload file yang telah kita buat lalu melampirkannya dalam email. Ada fitur “Share”, dan kita tinggal memilih sub-menu “Email as attachment..” sehingga kita tidak perlu repot 2 kali. Cukup software mereka yang repot. Tentunya kita harus memasukkan alamat email yang kita tuju, serta subject dari email kita. Tidak butuh waktu lama bagi si penjaga lounge itu untuk mengerjakan apa yang kumaksud. Dua lembar kertas A4 bergambar hasil scan kartu-kartu penting itu dia berikan padaku.

Urusanku di sini hampir beres, tinggal membayar 31 Ringgit saja. 25 Ringgit untuk internet, dan 6 Ringgit untuk 2 lembar cetak dokumen. Dengan santai aku buka dompetku. Kalau tidak salah, aku masih menyimpan beberapa lembar Ringgit di sana. Setelah kutengok, ternyata tidak ada. Kini giliran tasku yang kuperiksa. Seingatku lagi, aku menyimpan beberapa mata uang asing di sana. Kutaruh di dompet warna cokelat yang mirip amplop. Aku temukan dompet itu. Masih ada berlembar-lembar mata uang Filipina. Di sisi lainnya, kutemukan 2 lembar Ringgit Malaysia. Hanya 2 lembar. Masing-masing 1 Ringgit.

Aku panik lagi. Kubuka-buka lagi dompet. Kuraba-raba segala penjuru tas ransel yang kubawa. Tingkahku seperti orang kehilangan sesuatu. Kalap. Penyesalan selalu datang terlambat memang. Sehari sebelumnya, ibu menawarkan uang Ringgit-nya untuk aku bawa, tapi aku tolak. Aku merasa ingatanku tidak mungkin salah. Aku masih memiliki uang Ringgit itu lumayan banyak. Aku mengingatnya ketika lembaran-lembaran itu kupindahkan dari dompet, dan ditukar isinya dengan Rupiah. Masalahnya, aku lupa di mana menaruh uang-uang Ringgit itu. Jelas bukan? Selain asisten pribadi, aku juga butuh Menteri Keuangan pribadi.

Malu-malu aku minta izin pada si penjaga lounge untuk menukarkan uangku dulu. Dia bilang, “okay”. Koperku kupercayakan saja padanya, kutinggalkan di lounge itu karena jika kubawa-bawa akan menghambat mobilisasiku. Aku tidak bertanya siapa-siapa, kuikuti saja intuisiku mengikuti alunan langkah kaki yang membawa tubuhku pergi. Beberapa kali kepalaku mendongak, mencari tanda atau gambar atau simbol yang berhubungan dengan uang. Kutemukan money changer itu tidak jauh dari counter informasi. Kuberikan 2 lembar uang seratus ribu rupiah kepada penjaga kasir, dan dia memberikan aku 60 sekian Ringgit setelah memencet-mencet tombol di kalkulatornya. Ringgit itu tidak kuhitung kembali atau pun kucocokkan lagi dengan kertas yang ia berikan padaku. Aku tidak punya waktu untuk itu, pikirku terburu-buru.

Aku kembali lagi ke Plaza Premium Lounge. Menyerahkan selembar 50 Ringgit kepada penjaga lounge. Dia mengembalikan 25 Ringgit. Tampaknya dia tidak menghitung 2 lembar dokumen yang kucetak. Kukirimkan sesimpul senyum dan juga ucapan thank you kepadanya. Dia pun tersenyum sambil berkata, “welcome”. Kuseret lagi koperku, dan kutinggalkan Plaza Premium Lounge.

Kini aku sedikit lega. Waktu senggang ini kumanfaatkan untuk solat zuhur yang dijamak dengan ashar. Dengan langkah pasti aku menuju surau yang masih kuhafal betul lokasinya. Tempatnya belum pindah, masih di tempatnya yang lama, di luar terminal keberangkatan, di ujung gang yang dekat dengan toilet pria. Tiga minggu yang lalu, di seberang gang itu aku menunggu temanku yang sedang solat. Spot yang strategis untuk memfoto pramugari-pramugari yang baru keluar dari terminal kedatangan secara candid.

Selesai solat, kulihat waktuku masih tersisa lebih dari satu jam lagi. Dengan santai aku masuk lagi ke terminal kedatangan, mencari di manakah aku harus check-in. Daftar keberangkatan di layar monitor di depan pintu terminal keberangkatan itu memberiku petunjuk. Aku harus ke counter bernomor S43. Sedikit berputar-putar awalnya, namun setelah mengikuti pola yang ada, akhirnya kutemukan counter itu. Counter check-in untuk pesawat tujuan Taiwan. Dekat dengan Plaza Premium Lounge yang tadi kusinggahi.

Wow, antrian di counter itu panjang bukan main. Di ujung antrian, aku melihat wajah yang kukenal. Tapi aku agak meragu. Pertama, kami jarang bertemu. Kedua, orang yang pernah kukenal itu memiliki kumis. Sedangkan ia tidak. Kami sempat bertatapan, merasa saling kenal. Mungkin keraguanku terserap olehnya, sehingga ia pun juga ragu. Akhirnya ia mencoba mencairkan atmosfer yang dingin yang menyelimuti kami, “ke Taipei juga ya?” Aku mengangguk. “Kuliah di mana?” tanyanya. “NTU”, kujawab. Akhirnya kami bersalaman dan saling mengenalkan diri.

Agus Andria. Sudah kuduga, aku mengenalnya. Presiden Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan. Mana mungkin aku tidak mengenalnya. Sudah 3 generasi aku woro-wiri di organisasi itu, walaupun hanya benar-benar aktif selama setahun. Itu pun karena dulunya diminta bantu-bantu oleh seorang calon profesor wanita dari ITS, hingga akhirnya ikut kecemplung di sana. Pak Agus nampaknya familiar dengan wajahku. Dia bilang dia pernah melihatku sebelumnya. Ternyata aku masih cukup terkenal juga.

Sebelum aku datang, Pak Agus sudah punya teman ngobrol. Seorang gadis berjilbab merah jambu, berkacamata. Sekilas, aku kenal wajah itu, tapi tidak dengan namanya. Aku pernah melihatnya di foto-foto kegiatan Formmit Selatan. Ketika Pak Agus mencoba mengenalkanku dengan menyebutkan namaku, si gadis itu malah menyeletuk, “DJ Radio PPI Dunia itu ya?” Aku mengangguk. Terus terang aku tidak pernah memperkenalkan diriku sebagai salah satu penyiar di radio pelajar itu kepada orang lain, kecuali memang ketika sedang bertugas. Yang masih membuatku heran, seterkenal itu kah aku?

Teman si gadis itu tidak lama kemudian datang. Jadi lah si gadis itu punya teman ngobrolnya sendiri. Sedangkan aku, ngobrol atau lebih tepatnya melakukan tanya jawab dengan Pak Agus. Dia bertanya, aku menjawab. Atau sebaliknya, aku bertanya, dia menjawab. Pertanyaan-pertanyaan itu entah mengapa tidak bisa menjadi rangsangan untuk membentuk sebuah topik diskusi yang hangat. Satu pertanyaanku yang terkadang muncul adalah, apakah dalam bergaul dengan seseorang, kita juga butuh yang namanya chemistry?

Antrian yang cukup panjang itu hampir memakan waktu 30 menit sendiri. Kejadian yang mirip dengan kejadian di Soekarno-Hatta sepertinya akan terulang. 30 menit lagi pesawat akan lepas landas, dan aku masih di counter check-in. Antrianku tepat di belakang Pak Agus. Setelah ia selesai dengan urusannya, aku maju ke counter itu. Yang melayani di counter itu adalah wanita muda dari ras kuning.

Aku hanya menyerahkan pasporku saja, dan menaruh koperku di timbangan bagasi. Ketika dia hampir menyelesaikan semuanya, dia periksa kembali pasporku. Mungkin visa yang dicarinya. Dia bertanya padaku, apakah aku punya kartu identitas lain. Saatnya kertas scan ARC beraksi. Aku menunjukkan kertas itu kepadanya. Dia bertanya lagi, apakah aku punya aslinya. Aku mencoba menjelaskan bahwa ARC-ku tertinggal di Indonesia. Ia pun tampak ragu-ragu dengan keputusan yang akan dibuatnya. Hingga kemudian ia memanggil supervisornya yang mondar-mandir tak jauh dari situ.

Entah aku yang salah dengar, atau memang Mr.X namanya. Seketika, pria India Malaysia itu datang ke counter kami. Si wanita muda itu menjelaskan keadaanku kepada supervisornya. Dia juga bimbang pada awalnya, lalu dia bertanya apa yang kukerjakan di Taiwan. Aku menjawab, study. Sambil kuperlihatkan juga kepadanya fotokopi kartu mahasiswaku. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Mr.X memberikan izinnya membolehkan aku untuk ikut serta di pesawat bernomor D7 2674 itu. Keraguan kini malah muncul pada si wanita penjaga counter, “are you sure?” tanyanya pada Mr.X. Mr.X menjawab sekenanya kurasa, mengingat aku seorang mahasiswa, jadi tidak perlu dipersulit.

Di counter sebelahku, temanku si gadis berkerudung merah jambu yang entah siapa namanya itu juga mengalami nasib yang hampir serupa. Bedanya, dia sedang memperpanjang ARC-nya sehingga yang dia bawa hanya lah tanda terima bahwa ARC-nya telah dibayar dan sedang dalam proses. Syukurlah budi baik yang dimiliki Mr.X tidak hanya diberikannya padaku, tapi juga pada temanku.

Setelah itu, tidak ada lagi masalah yang kutemui antara counter check-in hingga ruang tunggu keberangkatan. Karena masalah sedang menungguku, setibanya aku di Taiwan.

D7 2674, Malaysia-Taiwan

Perusahaan yang mapan biasanya memperlakukan dirinya seperti orangtua. Orangtua yang memiliki anak-anak. Demikian juga dengan maskapai berbudget murah milik Malaysia ini, walaupun dari segi umur masih bau kencur tapi anak-anaknya sudah cukup banyak. Ada Indonesia AirAsia, Thai AirAsia, AirAsia X, dan lain sebagainya. Memang dalam pemesanan tiket kita tidak akan tahu, anak perusahaan yang mana yang akan kita gunakan. Semuanya hanya dikenal dengan satu nama, nama Bapaknya, AirAsia.

Perjalanan lanjutanku ke Taiwan kali ini akan diantarkan oleh pesawat dengan tipe Airbus 330-300 milik AirAsia X. Kapasitasnya cukup besar, bisa menampung kurang lebih 380 penumpang dengan 2 kelas layanan berbeda, premium dan ekonomi. Untuk kelas ekonomi, setting tempat duduknya adalah 3-3-3. Jadi ada 2 lorong jalan yang membelah tiap 3 deretan kursi. Tidak seperti pesawat yang sebelumnya kunaiki dari Jakarta menuju Kuala Lumpur. Pesawat tipe Airbus 320-200 milik Indonesia AirAsia. Berkapasitas hanya 180 penumpang, dengan konfigurasi kursi 3-3.

Aku mendapatkan nomor kursi 34B. Tepat di depannya terdapat pintu darurat. Bagasi di atasku tidak dapat diisi, karena sudah terisi barang yang menjadi properti pesawat ini. Aku tak punya pilihan selain menaruh ranselku di bagasi yang masih kosong. Kupilih yang terjangkau olehku dalam sekali langkah.

Di sampingku kananku, di kursi 34C, seorang ibu separuh baya sedang membaca sebuah buku berbahasa Inggris. Entah novel, entah non-fiksi, aku tidak terlalu jelas memperhatikan. Sepasang cowok dan cewek datang mendekat ke kursi di deretanku. Si cewek duduk di sebelah kiriku. Bertetangga dengan jendela. Si cowok yang mendapat kursi di bagian tengah, kebingungan karena kursinya sudah diisi oleh orang lain, seorang wanita. Ia pun bertanya pada pramugari di dekat kami. Si cowok diminta untuk menunggu oleh si pramugari.

Aku tidak begitu mengerti akar permasalahannya. Apakah terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan terjadinya double seat, atau entahlah. Yang jelas masalahnya menjadi menular kepada penumpang lain. Si cowok tadi dipersilakan duduk di tempat yang masih kosong. Dia duduk di kursi 33D. Kemudian datanglah seorang perempuan yang memegang paspor RRC, dia terlihat bingung karena kursinya sudah diduduki oleh si cowok. Perempuan itu bertanya pada pramugari yang hilir mudik di lorong pesawat. Perempuan itu pun akhirnya diminta menunggu juga oleh si pramugari.

Kasihan juga perempuan itu, mungkin sudah lebih dari 5 menit dia menunggu tanpa kepastian. Berdiri lagi. Sudah dua kali pula pramugari-pramugari itu berseliweran dengan alat penghitung yang di Indonesia kadang digunakan sebagai tasbih. Mengecek, apakah jumlah penumpang yang telah check-in sudah masuk semuanya atau belum. Mereka terkesan tidak menghiraukan keberadaan si perempuan berpaspor RRC itu.

Nyatanya memang perempuan itu tidak dibiarkan begitu saja. Beberapa menit kemudian seorang pramugari berparas melayu menghampirinya, mengarahkan dia ke tempat duduk yang sudah disediakan khusus. Sudah tidak ada lagi yang berdiri sekarang, semuanya duduk di tempatnya masing-masing. Tinggal menunggu pesawat ini bergerak, meninggalkan negeri yang mendeklarasikan dirinya sendiri lewat iklan-iklan di media massa, sebagai the truly Asia.

Ketika pesawat sedang berjalan untuk memposisikan dirinya pada landasan pacu, kapten pilot memberikan sambutan dan juga sebuah pengumuman. Pengumuman yang cukup penting. Ini berkenaan dengan informasi yang kuterima beberapa hari yang lalu di sebuah milis yang kuikuti. Taiwan akan diterpa taifun. Dan tidak tanggung-tanggung, cakupannya meliputi seluruh pulau Formosa. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, namun dari percakapanku dengan Pak Agus di LCCT tadi, dia berkata bahwa hari minggu ini lah puncaknya. Great!!!

Yang dikatakan pilot adalah, penerbangan ini akan ditempuh dengan waktu yang lebih lama dari biasanya. Di jadwal tertulis, pesawat ini berangkat pukul 5.35 PM dan seharusnya akan tiba pada pukul 10.15 PM. 4 jam 40 menit. Itu idealnya. Nah, ide dari si kapten pesawat dan mengapa penerbangan ini akan menjadi lebih melelahkan adalah, dia akan membawa pesawat ini sedikit berputar ke timur melintasi langit Filipina untuk menghindari terpaan dahsyat angin taifun dari arah lautan Pasifik. Ibaratnya, kita akan mengekori arah yang ditempuh oleh taifun itu.

Airbus 330-300 cukup besar dan nyaman. Terkadang aku setengah tertidur dan setengah terbangun. Sekalinya aku terbangun, aku diminta untuk bertukar kursi oleh si ibu disampingku, maksudnya agar di cowok dan cewek tadi bisa bersebelahan. Mungkin karena si ibu itu juga merasa terganggu oleh ulah si cowok yang sesekali menyapa ceweknya itu. Menghancurkan konsentrasinya membaca. Jadi lah aku pindah ke tempat ibu itu, ibu itu pindah ke kursi si cowok, dan si cowok pindah ke kursiku. Yah, dan pertukaran ini secara tidak kusadari akan membuat perjalananku terasa semakin lama. Semakin lama karena harus menjadi saksi bisu kemesraan mereka berdua. Sigh…

Kurang lebih 2 jam setelah pesawat ini take-off, tiba lah waktunya makan. Untuk penerbangan kali ini aku memesan chicken rice. Pramugari menawarkan jualan makanannya kepada penumpang di sekitarnya. Aku bilang aku sudah pesan. Kuberikan boarding pass-ku pada seorang pramugrasi berambut pendek berwajah melayu. Ada bagian yang dia coret dari boarding pass-ku. Menandai bahwa pesananku telah diberikan.

Cukup enak, namun tidak cukup mengenyangkan. Aku memesan segelas milo hangat ketika pramugari itu lewat di sebelahku untuk kali ke dua. “Bla bla bla Ringgit…” kudengar. “In Ringgit?” tanyaku. “Yeah, eleven Ringgit.” Kukeluarkan 15 Ringgit dari dompet. Si pramugri malah tertawa, dia hanya mengambil selembar uang 5 Ringgit di tanganku dan membesarkan volume suaranya, “hanya 5 Ringgit ya… kecuali nak mau beli lebih…” Dia nampak senang melihatku yang agak bingung. Yah, aku juga senang melihatnya tertawa.

Oh ya, aku belum cerita tentang pramugari-pramugarinya. Karena pesawat ini cukup besar, maka pramugarinya juga cukup banyak. Tapi yang pasti, pramugari-pramugarinya mewakili kemajemukan Malaysia. Yaitu terdiri dari 3 ras berbeda, ras melayu, cina, dan india. Deri segi lekuk tubuh, mereka layak untuk terjun sebagai model. Tinggi, dengan berat proporsional. Walau mungkin tidak sekurus model-model catwalk. Tidak dipungkiri lagi, dari segi penampilan, mereka selalu tampil segar dan menarik.

Tiba-tiba waktu serasa berhenti. Jam di tanganku bergerak pelan sekali. Ini karena aku ingin cepat sampai. Meninggalkan sepasang muda-mudi yang sedari tadi pamer kemesraan di sebelahku. Selain itu juga karena aku memang tidak menikmati perjalanan ini. Sedari tadi pemandangan di pesawat hanyalah melihat orang-orang bergantian keluar masuk toilet. Ada dua macam toilet sebenarnya, toilet untuk umum dan toilet untuk disable atau orang cacat. Namun toh tidak ada yang terlalu memperhatikan itu. Keduanya sama-sama dipakai untuk umum.

Belakangan, toilet untuk umum yang tepat di depanku jarang dipakai. Beberapa orang pernah mencoba untuk masuk, namun ketika pintunya dibuka, pandangannya langsung berubah. Seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. Kemudian biasanya ia langsung pindah ke toilet untuk disable, atau mencari toilet di tempat lain. Ada juga sih yang cuek bebek, tanpa menghiraukan sesuatu yang menjijikkan itu dan tetap menggunakan toilet. Untungnya aku bisa tahan untuk tidak ke toilet selama di pesawat.

Waktu yang terasa lama kulalui saja dengan kontemplasi dan juga mimpi yang entah akan terjadi, atau hanya membuai dalam angan-angan. Setidaknya berhasil menyita waktuku hingga akhirnya sang kapten memberikan pengumuman bahwa pesawat akan mendarat. Pesawat terasa terbang merendah sedikit demi sedikit. Semakin merendah semakin banyak turbulence yang dirasakan. Sisa-sisa taifun ternyata belum sepenuhnya pergi. Pesawat sering kali bergoyang. Tanda kenakan sabuk pengaman pun menyala cukup lama. Tidak seperti ketika di atas awan, yang terbang dengan tenangnya.

Mudah sekali bagi Sang Pencipta membuat makhluk-Nya ketakutan. Dari sekian banyak jenis ketakutan yang ada, sepertinya takut mati masih menjadi primadona di kalangan manusia. Angin yang menggoyang-goyang pesawat sedari tadi salah satunya, menimbulkan sedikit ketakutan itu pada diriku. Goyangannya terasa tidak wajar. Terjadi selama 30 menit lebih. Dan ya, aku jadi ingat mati, dan aku masih takut akan kematian. Takut masuk ke dalam neraka-Nya. Karena merasa bekalku belum cukup untuk mengantarkanku ke surga-Nya.

Pukul 11 waktu Taiwan, pesawat ini akhirnya mendarat juga. Utuh dan selamat. Perjalanan yang cukup panjang, lima setengah jam perjalanan dari Malaysia ke Taiwan. Molor tiga per empat jam dari waktu yang dijadwalkan dengan alasan keamanan. Bisa dipertanggungjawabkan. Pesawat memang telah mendarat, namun masih berjalan menuju tempat parkir. Seorang kakek dengan santainya mencoba untuk masuk ke toilet. Pramugari yang duduk berhadapan di depanku tidak membolehkan dia untuk masuk ke sana dengan nada yang agak keras. Seolah kehilangan keramahan, meninggalkan kemarahan.

Kini pesawat sudah berhenti dengan sempurna. Para penumpang bergerak serempak mengambil bawaannya di bagasi atas, lalu berbaris teratur sepanjang lorong jalan. Menunggu untuk keluar dari perut pesawat. Lagi-lagi ada penumpang bikin ulah, ia menyalakan telepon genggamnya sebelum keluar dari pesawat. Pramugari yang tadi di depanku kembali memberikan peringatan pada si penumpang bandel, “you can only turn on your phone inside the terminal yaaa…” Senyumnya menghilang, berganti wajah kesal.

Pintu pesawat dibuka. Barisan mulai berjalan meninggalkan pesawat. Ada yang tak sabar bertemu dengan keluarganya. Ada yang tak sabar bertemu dengan tempat sekolahnya yang baru. Ada yang tak sabar menikmati liburan. Ada juga yang berharap-harap cemas apakah dia bisa masuk ke Taiwan, atau tidak…

Taoyuan Airport, Taiwan

Kalau ada sebuah tempat yang aku merasa tidak cukup aman untuk memasukinya, maka salah satu dari tempat itu adalah terminal kedatangan di Taoyuan Airport, Taiwan. Sepanjang jalan yang menuntun kita hingga pintu keluar dari terminal ini, kita akan disuguhi beberapa poster pengumuman yang melarang kita untuk membawa hasil olahan daging, buah, dan sayur-sayuran. Tidak cukup banyak jumlahnya, namun letak dan tampilannya cukup untuk menarik perhatian para penumpang yang berbondong-bondong berjalan menuju counter imigrasi. Pos pertama yang harus dilalui oleh semua mantan penumpang.

Adalah kenangan burukku. Trauma masa lalu sewaktu aku tiba di Taiwan ini untuk kedua kalinya. Itu lah yang membuatku selalu merasa was-was tiap kali berada di sini. Dua tahun yang lalu, sekelompotan petugas bandara dibantu beberapa ekor anjing pelacak menghancurkan impian indahku bersama teman-teman. Menghancurkan asa dan harapan untuk menikmati masakan paling lezat sedunia. Masakan yang bumbunya tidak pernah dijual di mana-mana, namun diberikan oleh pemiliknya secara cuma-cuma. Masakan yang tidak ada bandingannya. Masakan dengan bumbu cinta, dari seorang ibu kepada anaknya.

Waktu itu aku sedang menunggu kedatangan koperku di tempat pengambilan bagasi. Feeling-ku tak enak melihat seorang petugas wanita membawa anjing kecil berlari-lari kesana-kemari. Begitu kuambil koperku dan sempat berjalan beberapa langkah, si petugas dan anjing itu mendekatiku. Anjing itu mengendus-endus koper hijau tua milikku, dan aku disuruhnya untuk membuka koper itu di tempat penggeledahan barang yang tak jauh dari sana.

Tidak sedikit yang mengalami nasib serupa sepertiku. Aku melihat deretan buah-buah segar dan juga beberapa ikat sayur, serta makanan-makanan lainnya tersusun berantakan di meja pemeriksaan. Kalau semuanya dikumpulkan, rasanya bukan tidak mungkin sebuah restoran, atau minimal warung makan kecil yang menyediakan masakan internasional dari berbagai negara bisa didirikan di salah satu penjuru terminal kedatangan. Abon dan rendang diambil oleh mereka karena terbuat dari daging. Sedangkan ikan dan kacang-kacangan masih diperbolehkan untuk dibawa. Karena itu lah aku jadi rajin menolak jika ibu menawarkanku untuk membawa masakan atau makanan dari rumah.

Masalahnya, bukan hanya bekal penyelamat hidup satu-satunya selama beberapa minggu milikku saja yang disita. Titipan milik temanku yang susah payah diantar ke rumahku oleh kedua orangtuanya, dan berhasil aku bawa ke Taiwan, juga tidak bisa lolos dari hadangan mereka. Lebih parahnya lagi, titipan temanku ukurannya hampir 2 kali lebih besar dari milikku. Rendang yang sebenar-benarnya rendang yang dibuat oleh ibu temanku yang berasal dari Sumatra Barat itu, harus tersia-siakan di sudut bandara. Tak ada yang mau menyentuh.

Namun kali ini, aku sedikit nekad. Kuambil resiko. Kuiyakan saja ketika ibu menyuruhku membawa chicken cordon bleu yang dibuatnya kemarin, dan juga sosis Solo yang baru dimasak pagi tadi. Sebagai gambaran, kuceritakan sedikit apa itu sosis Solo. Makanan ringan ini bahan dasarnya adalah telur dan daging. Boleh menggunakan daging sapi atau pun daging ayam. Daging dimasak dengan bumbu-bumbu sehingga memberikan cita rasa sedikit manis, sedikit asin, dan berwarna kecokelatan. Sedangkan telur dikocok dengan santan dan sedikit garam, kemudian digoreng tipis melebar bundar. Fungsi telur adalah sebagai kulit yang menyelimuti adonan daging tadi.

Nah, bedanya dengan buatan ibuku pagi itu, adonan dagingnya dicampur dengan makaroni. Kukira makaroni yang kemarin dibelinya bersamaku itu akan digunakan memasak macaroni schotel. Tidak perlu kuceritakan bukan apa itu macaroni schotel? Dan jadi lah cordon bleu dan sosis Solo itu melengkapi kecemasan keduaku kala ini. Setelah kecemasan utama telah membuatku pasrah terhadap nasib.

Mendekati counter imigrasi, para mantan penumpang tersedot ke meja-meja yang menyediakan kertas-kertas yang luasnya seukuran paspor. Di kertas itu, ada data-data penumpang yang harus ditulis. Seperti nama, nama pemberian, nama keluarga, nomor identitas, nomor paspor, alamat tinggal, dan data-data lain yang menurut pihak keimigrasian cukup penting untuk mendata orang-orang yang lalu lalang lintas negara. Biasanya untuk menghindari kehebohan beratus-ratus orang di depan counter imigrasi, kertas itu dibagikan di pesawat.

Penyakit tidak membawa pulpen membuatku harus menunggu seorang wanita menyelesaikan pengisian kartu itu. Hampir tidak ada budaya antri di sini. Setiap orang harus sedikit memaksakan diri agar bisa menggunakan pulpen yang memang disediakan untuk umum. Tiba-tiba dari sisi kiri, aku hampir diserobot oleh perempuan yang usianya mungkin sedikit lebih tua di atasku. Namun kali ini aku tidak mau mengalah, aku sudah menunggu giliranku lebih lama darinya. Setelah wanita di depanku selesai mengisi kolom-kolom di kartu kedatangan, dia melihat ke arah sekitarnya. Bimbang, ingin memberikan pulpen itu pada siapa. Aku mengulurkan tanganku, dan dia juga sepertinya sadar, aku telah menunggunya sejak lama. Dan ia pun memberikan pulpen itu padaku.

Tidak sampai 5 menit aku isi kolom-kolom kosong di kertas itu. Aku mengisinya tidak dengan sempurna, terkesan asal-asalan dan terburu-buru. Bahkan kolom tanda tangan saja belum sempat kuisi. Kusadari itu setelah pulpen yang kugunakan sudah berganti tangan. Tapi bukankah petugas imigrasi itu memang tidak terlalu memperhatikan data-data kita secara mendetail? Yang dia lihat dan cocokkan, mungkin hanya bagian-bagian yang sangat penting. Karena akan sangat memakan waktu untuk memeriksa keseluruhan data dari kartu tersebut. Padahal, antrian di counter imigrasi ini kan hampir tidak pernah ada habisnya. Antrian bertambah dan bertambah setiap ada pesawat yang baru mendarat.

Aku mencoba memilih antrian yang terpendek. Antrian terpendek ternyata hanya diperuntukkan kepada diplomat, pejabat, atau tamu negara. Tidak mungkin aku masuk lewat situ. Ada juga antrian yang kosong, untuk para disable, manula, dan anak-anak. Lagi-lagi aku tidak bisa memilih counter itu. Hampir semua counter untuk foreigner yang dibuka, antriannya panjang bukan kepalang. Satu antrian, panjangnya bisa lebih dari dua kesebelasan.

Jauh di depanku ada serombongan orang-orang berusia senja. Dilihat dari gerak-geriknya, mereka sedang berwisata. Well, kalau boleh jujur, Taiwan bukanlah tempat yang tepat untuk menikmati wisata panorama. Keindahan alam dan pemandangan yang ditawarkan di negeri kecil ini bisa dikatakan sangat minim. Belum kutemukan tempat yang bisa membuatku terkagum-kagum dan terbayang-bayang untuk menjadikannya sebagai tempat untuk bulan maduku nanti.

Indonesia masih jauh lebih indah. Keindahan matahari terbit di Bromo misalnya, seribu kali lebih indah dari pada menanti matahari terbit di spot terbaik yang dimiliki negeri ini. Atau dramatisnya saat-saat matahari turun tahta di pantai Kuta. Sejuta kali lebih mempesona dibandingkan menikmatinya di pantai terbaik di pesisir pulau Formosa. Namun, walaupun Taiwan kalah jauh dari segi sumber daya alam, mereka memiliki kekuatan dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi terlihat luar biasa. Aku pun sering tertipu dengan iklan-iklan, brosur-brosur, dan website-website yang menawarkan wisata alam Taiwan.

Antrian memendek sedikit demi sedikit. Kali ini di depanku masih diisi oleh manula-manula yang ingin berwisata itu. Tidak tahu persisnya berasal dari mana, mungkin Hongkong, atau Cina daratan. Visa mereka agak aneh, tidak bersatu dalam paspor, namun berupa lembaran kertas yang terpisah. Rombongan wisatawan lainnya yang berada di antrian berbeda denganku, mengalami masalah ketika berhadapan dengan petugas imigrasi. Ada beberapa hal yang seharusnya mereka lakukan, namun belum dikerjakan. Mereka diusir dari antrian oleh petugas lainnya yang tidak sedang berjaga di dalam counter.

Antrianku terkena imbasnya. Beberapa orang di depanku menyingkir, mungkin karena memiliki masalah yang sama dengan antrian di sebelah kirinya. Lenyapnya mereka dari hadapanku membuat jarakku dengan counter imigrasi semakin dekat. Tapi ada juga yang tidak terima dengan kenyataan itu. Seorang wanita yang dari raut mukanya sewajarnya sudah bercucu, tiba-tiba memotong antrianku. Awalnya dia datang untuk bertanya pada temannya yang berdiri di depanku, hingga akhirnya dia ikut mengantri. Salah budaya di tempat asalnya, atau kah memang individunya yang salah?

Aku berdiri membatasi 2 budaya berbeda. Membatasi zona percakapan 2 bahasa yang berbeda. Jika di depanku bahasanya cukup kukenal semenjak berada di Taiwan, maka bahasa yang digunakan oleh orang-orang di belakangku adalah bahasa yang diajarkan kepadaku sedari kecil, hingga duduk di bangku perkuliahan tingkat 1. Bahasa Indonesia.

Ada tiga orang yang bercakap-cakap di balik punggungku. Seorang wanita dan dua orang pria. Salah satu pria itu adalah pria yang sempat melancarkan protes di Soekarno-Hatta siang tadi karena pesawat telat datang. Seorang pria lagi sepertinya mahasiswa baru di Taiwan. Aku menebaknya dari percakapan awal mereka. Ternyata mereka satu universitas. Universitas yang letaknya jauh dari Taipei. Mereka kuliah di Taichung, Taiwan bagian tengah, 2 jam dari Taipei. Wajah mereka tidak ada yang kukenal. Tidak dipungkiri, setahun terakhir ini aku tidak cukup bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa baru di Taiwan.

Dalam hidup, ada kalanya kita bisa memilih, dan ada kalanya kita tak punya pilihan. Kali ini aku memilih, memilih untuk diam. Memilih untuk tidak berbaur dengan diskusi yang cukup ramai di belakangku. Memilih untuk tidak mencoba mengenal mereka, dan memilih untuk tidak mereka kenal. Memilih untuk dicap sombong. Karena aku memilih untuk memikirkan nasibku yang akan ditentukan beberapa saat lagi.

Saatnya giliranku berhadap-hadapan dengan petugas imigrasi. Lelaki tua berambut putih, dan tentunya berkacamata. Di kota besar seperti Taipei ini, jarang kujumpai orang Taiwan tanpa kacamata. Tempat tinggal mereka yang sempit merupakan salah satu penyebabnya. Alasan itu berasal dari orang Taiwan di sebuah grup diskusi antar budaya yang pernah kuikuti di kampusku. Tapi jangan kira semua orang berkacamata itu penderita rabun jauh. Di Taiwan ini kacamata bukan hanya sebagai alat bantu melihat, namun juga sebagai alat bantu bergaya. Ya, aku pernah melihat di MRT, seorang lelaki berkacamata tanpa kaca.

Kuserahkan sebuah paspor berwarna hijau yang sudah kuselipkan kartu kedatangan yang ada di tangan kananku kepada si petugas. Sedangkan salinan ARC dan kartu mahasiswa masih kutahan, baru akan kuberikan apabila diminta. Aku berharap dia tidak menyadarinya. Sayang beribu sayang, dia memang tidak bisa dikelabui. Aku diminta memberikan kartu identitasku. Salinan ARC kuberikan padanya. Dia cermati perlahan. Dia bolak-balik kertas itu. Namun dia masih tidak terima. Dia memintaku memberikan yang asli. Aku bilang, aku tidak membawanya.

Komunikasi kami tidak nyambung. Berjalan satu arah. Dia tidak mengerti bahasaku, dan aku sedikit mengerti bahasanya. Kucoba lagi untuk menjelaskan dengan kemampuan bahasa Inggris terbaikku bahwa aku tidak membawa ARC karena tertinggal di rumah. Dia masih nampak bingung. Kali ini kucoba menjelaskan dengan bahasa Mandarinku yang buruk, yang telah kupelajari selama setahun di awal kedatanganku di Taiwan. Akhirnya dia sedikit mengerti. Namun dia juga tidak bisa memutuskan, apakah aku diperbolehkan untuk mendapatkan cap tanda boleh memasuki wilayah Taiwan, atau tidak.

Selang beberapa detik kemudian, dia menyuruhku pergi ke counter pertama. Counter di salah satu ujung deretan counter imigrasi. Aku bengong sejenak. Mencoba memahami apa yang dia katakan. Bahasa Inggris bercampur Mandarin yang sangat tidak enak didengar dan sulit dipahami. Untunglah di sampingnya ada seorang petugas imigrasi yang cakap bahasa Inggris. “Go to the first counter,” kata seorang wanita muda yang kecakapannya berbahasa tidak kalah dengan kecakepannya. Seketika aku merasa menyesal mengantri di counter si bapak tua ini. Apabila waktu bisa berjalan ke belakang, rasanya aku ingin memilih counter yang diisi oleh si wanita itu.

Beberapa orang di belakangku mengikuti arah ke mana aku bergerak. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi denganku. Aku berjalan menuruti satu persatu counter-counter itu hingga aku tidak lagi menemukan jalan untuk melanjutkannya. Sebelum aku benar-benar tiba di counter yang dimaksud oleh si petugas tadi, aku bertanya pada seorang petugas wanita yang menjaga sebuah counter yang sepi. Counter bagi orang-orang yang diberikan prioritas. Kujelaskan masalahku kepadanya, dan dia mengarahkanku pada counter di sebelahnya, yang benar-benar berada di sudut.

Dari segi rupa, aku menerka pria yang dihadapanku ini berumur antara kepala tiga atau kepala empat. Lebih muda dari lelaki yang menyuruhku ke tempat ini. Ini kesekian kalinya aku menjelaskan masalahku. Aku tidak membawa ARC, dan hanya selembar kertas salinan ARC yang kuberikan padanya sebagai bukti. Lagi-lagi pria yang kuhadapi ini tidak mahir berbahasa Inggris. Tapi masih lebih baik dari bapak tua di counter tadi, pria ini mengerti sedikit yang apa kusampaikan.

Dia bertanya, apakah aku punya visa. Aku bilang aku punya. Kutunjukkan visa resident yang kudapatkan yang sejak dulu kuurus di TETO. Dia tampak menimbang-nimbang dalam keraguan. Dalam keraguannya, dia bilang kepadaku, “you can not enter Taiwan.” Sudah kuduga, akan sulit menerobos ketatnya aturan di negeri ini. Negeri yang memiliki disiplin tinggi. Kalau dalam aturan tertulis A, ya pelaksanaannya harus A. Dan petugas ini, ia lebih memilih untuk taat pada aturan, ketimbang memberikan sedikit toleransi pada anak muda ceroboh yang ada di hadapannya.

Kemudian datang seorang pria lagi. Berkacamata dan sudah kehilangan sebagian rambut masa mudanya. Tampak dia lebih senior dibanding pria yang di depanku saat ini. Si petugas lalu memberikan dokumen-dokumenku pada seniornya, sambil sedikit menertawakan kebodohanku. Mereka berbincang-bincang, membincangkan ada apakah gerangan denganku. Si senior membolak-balikkan pasporku, dan juga melihat seksama salinan ARC yang kubawa.

Si senior bertanya kepadaku, mana ARC-ku yang asli. Aku jawab seadanya. Dia tanya lagi, kenapa aku tidak membawanya. Aku jawab sejujurnya. Dia juga bertanya hal yang sama tentang visa. Jawabanku juga masih sama dengan sebelumnya. Aku merasa dengan pengalamannya yang segudang, hal-hal seperti ini mungkin juga pernah terjadi, dan ia belajar dari sana. Sehingga aku berpikir, si senior ini akan menyelamatkanku keluar dari airport ini. Namun, pikiranku berbeda 180 derajat dengan kenyataan.

Si senior berkata hal yang serupa dengan junior-nya tadi. Serupa tapi tak sama. “I can not let you enter Taiwan.” Aku berusaha sedikit fight, “my friend will bring it a few days later”. “But I can not wait”, jawabannya. Aku coba lebih fight lagi, “how if I send it to you tomorrow? I bring it to this airport” sambil berpikir untuk meminta kakakku mengirimkannya lewat jasa kiriman kilat dan langsung diantar ke airport. Dia tetap menolak dan melarangku masuk ke Taiwan. Aku pasrah dan bertanya, “so what should I do?” Dia menjawab enteng, “you have to go back to Malaysia.”

Si senior seperti ingin menulis sesuatu. Dia menulis sambil membolak-balikkan pasporku. Seolah-olah sedang membuat surat keterangan bahwa aku akan dideportasi segera karena tidak memiliki izin tinggal. Saat itu ide jeniusku muncul. Aku ingin fight sekali lagi untuk membuktikan salinan ARC-ku itu memang asli. Aku ingin mengajak mereka menggunakan media video call. Ingin kuperlihatkan ARC-ku yang asli itu secara live dari rumah.

Aku juga berpikir dampak terburuk seandainya aku benar-benar akan dipulangkan. Ada beberapa opsi yang sempat terpikirkan. Pertama, aku langsung kembali ke Indonesia. Mungkin untuk sehari dua hari. Kedua, aku kembali ke Malaysia. Dengan pertimbangan, ongkos pesawat pulang perginya lebih murah daripada ongkos pesawat ke Indonesia. Sedangkan untuk akomodasinya, sedikit mengemis-ngemis dengan kawan-kawan di sana. Ketiga, aku menepi sementara ke Hongkong. Pertimbangannya adalah, jaraknya dekat dengan Taiwan, tiket PP juga tergolong murah, dan bisa masuk tanpa visa. Namun masalahnya adalah di akomodasinya. Aku tidak punya kenalan di sana. Dan dari segi makanan, sulit mencari yang halal. Keempat, mencoba survive di terminal kedatangan sampai salah satu temanku membawakan ARC itu. Layaknya Tom Hanks di film The Terminal.

Waktu bengongku terusik sejenak ketika seorang pria yang berbeda datang ke counter yang aku tongkrongi sejak tadi. Dia pria yang duduk di sebelah wanita di priority-counter. Ia kemudian bercakap-cakap dengan petugas yang kusebut si junior. Lagi-lagi aku ditanya hal yang sama seperti, di mana ARC-ku yang asli, mengapa bisa tertinggal. Aku putar lagi tombol rewind di mulutku. Dia berkata, “you can not leave your ARC, you must bring it.” Nada bicaranya datar, namun terkesan tegas. Kali ini reaksi si junior sedikit berbeda setelah berbincang-bincang dengannya. Tiba-tiba ia seperti membereskan dokumen-dokumen milikku. Dan pasporku akhirnya diberi cap, tanda diizinkan masuk.

Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Entah apa yang dikatakan si petugas yang baru datang itu kepada si junior. Jelas-jelas baru saja dua petugas imigrasi tadi menolakku. Mungkin dia tidak tega melihatku terlantar, atau mungkin dia merasa sebaiknya masalahku tidak perlu dipersulit. Apa pun yang dirasakannya terhadapku atau masalah yang menimpaku, aku benar-benar berterimakasih padanya. Ketika pasporku kudapatkan kembali dan dia berjalan di depanku untuk kembali ke pos asalnya, sempat kuutarakan rasa terimakasihku padanya, “thank you, Sir…” Satu kecemasan telah hilang. Kecemasan lain masih menunggu di bagian pengambilan bagasi.

Tempat pengambilan bagasi terlihat sangat lengang. Banyak yang sudah meninggalkan tempat ini. Memang urusanku tadi cukup memakan waktu untuk melenyapkan para penumpang yang satu pesawat denganku di tempat pengambilan bagasi ini. Syukurlah, aku tidak melihat ada petugas yang berlari-lari membawa anjing. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, si anjing pun sedang tidur dengan pulasnya. Tidak sulit kutemukan koper besarku. Langsung kuangkat dari rel berjalan, dan kuseretkan rodanya pada lantai bandara.

Aku masih tegang sebenarnya, karena tepat sebelum kita keluar dari terminal kedatangan, masih ada sebuah mesin sinar-X yang biasa digunakan untuk memeriksa isi tas dan koper para penumpang. Jalan menuju keluar pun biasanya dijaga oleh petugas dan dipisah menjadi 2 jalur. Satu jalur untuk penumpang yang memiliki “nothing to declare”, satu jalur lainnya adalah untuk penumpang yang memiliki “something to declare”.

Dulu aku pernah dengan tenangnya melewati jalur “nothing to declare”. Namun tiba-tiba seorang petugas memintaku untuk memasukkan koperku ke dalam mesin sinar-X. Dan ia pun ingin melihat isi tasku secara langsung. Untungnya aku tidak membawa makanan dari daging-dagingan. Sehingga koperku bisa keluar dari pintu kedatangan secara utuh, walaupun isinya jadi lebih berantakan akibat pemeriksaan.

Kali ini aku keluar melalui jalur “nothing to declare” dengan wajah tak bersalah. Syukurlah, rasa was-wasku kali ini boleh jadi tidak beralasan. Tak ada petugas yang curiga dengan barang-barang bawaanku. Chicken cordon bleu dan sosis Solo yang kubawa dari rumah, berhasil kuselamatkan. Setidaknya bisa menjadi pendamping nasi untuk 2 hari ke depan, atau menjadi camilan untuk mengganjal perut ketika sedang lapar. Dan dua kecemasan terbesarku di terminal kedatangan ini, akhirnya habis tak bersisa. Aku bisa keluar dengan selamat, tak kurang suatu apa pun.

Perjalanan ini belum sepenuhnya usai. Aku masih di bandara. Masih ada perjalanan darat yang harus kutempuh. Tadinya aku berpikir ingin naik taksi saja. Ingin cepat sampai asrama dan berpetualang ke dunia mimpi. Melepaskan lelah yang semakin menyelimuti. Aku berpikir ulang. Taksi bukan lah pilihan tepat jika sedang ingin berhemat. Aku memang sedang ingin hemat-hematnya, karena aku tak tahu masih berapa lama lagi di sini, dan aku segan untuk menadahkan tanganku kepada orangtuaku lagi.

Aku putuskan untuk naik bus. Selain karena kukira bus-bus itu selalu ada selama 24 jam, harganya sepersepuluh dari harga taksi. Sangat ekonomis walau harus sedikit angkat-angkat dan seret-seret koper lagi. Tempat pemesanan tiket bus berada di salah satu sudut terminal. Aku berjalan ke sana mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada. Tempat pemberangkatan bus ini cukup ramai, namun tinggal satu saja counter pembelian tiket yang masih buka. Dan tampaknya, jurusan yang dilalui bus yang tiketnya dijual di counter itu juga terbatas. Sayangnya aku tidak pernah menggunakan bus yang counternya masih buka itu. Jadi, aku tidak mau mengambil resiko tersasar malam-malam sambil membawa-bawa koper.

Aku melihat sekeliling tempat itu. Kulihat ada temanku yang berkerudung merah jambu sedang duduk bersama temannya. Rupanya mereka memilih untuk menunggu hingga counter bus lainnya buka. Yang artinya, mereka akan menginap di bandara. Setelah kupikir-pikir, kuurungkan niatku untuk naik bus. Aku kembali kepada rencanaku semula. Taksi.

Kuikuti kembali petunjuk-petunjuk yang ada yang akan mengantarkanku ke tempat pemesanan taksi. Tiba-tiba, entah mengapa aku teringat di mana aku menaruh uang Ringgitku yang sempat menghilang itu. Aku duduk melihat kursi-kursi di ruang tunggu kedatangan. Kubuka koper besarku yang di dalamnya terdapat koper kecil titipan temanku. Di dalam koper kecil itu berisi tas laptop. Kuangkat tas laptopku itu dan kubuka bagian tengahnya. Ternyata benar, harta karun Ringgit Malaysia itu tersembunyi di sana. Bersama lembaran-lembaran dollar Taiwan yang diberikan temanku sebagai pembayaran tiket kepulangan ke Indonesia 3 minggu sebelumnya.

Sebelum ke tempat pemesanan taksi, aku berpamitan sebentar kepada Pak Agus yang kutemui di ruang tunggu. Dia sedang asyik dengan laptop-nya, entah apa yang sedang dikerjakan. Sama seperti temanku yang berkerudung merah jambu, dia memilih untuk menghabiskan malam di bandara. Seseorang di dekatnya dengan wajah yang pernah kukenal, tersenyum mengantarkan kepergianku. Aku mambalasnya dengan anggukan dan senyuman.

Benarlah bahwa hanya ada dua cara menghadapi dunia ini. Bersyukur dan bersabar. Puji syukurku kehadirat-Nya telah memudahkanku dalam perjalanan ini. Mudah, walaupun tidak terlalu mulus. Setelah bersyukur, aku harus kembali bersabar. Karena yang kujumpai di tempat pemesanan taksi adalah sederetan panjang manusia yang minta diantar ke tempatnya masing-masing, dengan taksi. Panjang antriannya mungkin selebar lapangan sepakbola. Hingga kira-kira 15 sampai 20 menit aku harus menunggu tibanya giliranku untuk mendapatkan taksi.

Aku tiba di asrama pukul setengah 2 malam. Bantal, kasur, dan selimut sudah menyapaku dengan mesra. Namun bukan mereka yang kudatangi, melainkan si laptop 15 inci, temanku yang kurindukan. Setelah berurusan dengan dunia maya, kuselesaikan kewajibanku kepada Yang Maha Pencipta. Kupasangkan sarung bantal dan sprei yang dulu kucuci sebelum aku meninggalkan kamar ini. Dan berakhirlah perjalanan panjangku di hari itu. Perjalanan yang melelahkan mental dan fisik.

Banyak pelajaran yang bisa kuambil dalam perjalanan penuh kenangan dan tantangan ini. Hampir ketinggalan pesawat, kelupaan kartu penting, ancaman tiket hangus, kehilangan lembaran-lembaran Ringgit, duduk di samping pasangan mesra, terancam dideportasi dan harus ngeyel-ngeyelan dengan petugas imigrasi, ancaman penyitaan makanan, kehabisan bus, sampai mau naik taksi juga harus antri, benar-benar kejadian yang “made my day”. Aku cuma berharap, semoga apa yang terjadi kemarin itu adalah untuk yang terakhir kalinya…

Tamat.

———-

1) Murah kok minta selamat.