Passion

Monday, September 20th 2010

Banyak cara dan kata untuk menafsirkan “passion”. Namun baru dalam beberapa hari ini saya punya arti yang lain untuk satu kata ajaib itu. Adalah cerita Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas, serta obrolan dengan seorang teman lama yang belum pernah bertemu sebelumnya, di Bandung, beberapa waktu yang lalu. Ada hal yang sama yang saya tangkap dari keduanya. Kugy dan teman saya itu, memiliki passion yang serupa, tapi tak sama.

Membaca karakter Kugy, terus terang saya tidak keberatan kalau nanti novel ini dibuat versi filmnya, saya tidak akan menolak kalau disuruh memerankan tokoh Ojos, Remi, atau Keenan. Tiga orang yang beruntung yang pernah mengisi hati Kugy. Walaupun dua nama di awal hanya bertugas mengisi kekosongan sebelum hatinya diisi oleh cinta sejatinya. Bisa dikatakan si Kugy ini adalah makhluk mungil yang cantik, bersemangat, tukang khayal, tidak peduli apa kata orang – terutama dalam masalah penampilan, dan punya mimpi yang tinggi terhadap passion-nya : menulis dongeng. Salah satu hobi yang langka di antara penduduk Indonesia yang seperempat milyar ini.

Pertemuan Kugy dengan Keenan seperti pertemuan keong dengan rumah cangkangnya. Yang satu mengisi dan melengkapi yang lain. Lukisan-lukisan Keenan menyempurnakan daya khayal tingkat tinggi Kugy. Tidak sulit, karena ada “chemistry”. Mereka menemukannya sejak awal perjumpaannya di Stasiun Kereta Bandung. Alur yang naik turun maju mundur dalam novel ini pun seolah hanya terkesan sebagai penyempurna dahsyatnya arus sungai yang dilewati perahu kertas Kugy. Hingga akhirnya ia bermuara di lautan lepas, yang tenang, bersama mimpinya. Dan cintanya.

Setelah novel itu tuntas saya baca, ingatan ini kembali ke menyusuri masa kurang lebih satu minggu sebelumnya. Saya bertemu Kugy dalam dunia nyata, walau tidak sepenuhnya Kugy. Lengkap dengan cerita dengan Keenan-nya, walau hanya separuh Keenan. Sama-sama doyan menulis. Bedanya, yang satu menulis dongeng, yang satu lagi menulis… apapun. Mungkin ada lagi kesamaannya, keduanya sama-sama suka bercerita. Karena di malam itu di kafe itu, dia lah yang mendominasi obrolan. Sedangkan saya, walaupun sudah dipaksakan untuk setel mode RAMAI, tetap saja dikomentari “kok, lu diem banget sih… gw ngerasa tertipu, padahal di radio, lu cerewet.” Well, tampaknya saya harus menyadari bahwa diam adalah bakat alami saya yang terpendam, yang sewaktu-waktu bakat itu bisa muncul sendirinya.

Diamnya saya bukan diam biasa. Diamnya saya adalah diam mendengarkan dan diam membayangkan, diam menganalisa dari apa yang keluar dari mulutnya. Cerita tentang cita-citanya menjadi jurnalis yang harus bertepuk sebelah tangan, tentang temannya yang sedikit gila dengan membuat statistik tulisan yang dia hasilkan ketika dalam pengasingan, tentang soulmate-nya dalam bermusik, serta cerita tentang ingin kembali melakukan apa yang dia inginkan : menulis. Kekaguman saya tumbuh sedikit demi sedikit seiring waktu yang menuntunnya bercerita. Anak ini tahu benar apa yang dia lakukan adalah apa yang dia sukai. Bahkan sampai meminta kerjaan untuk membuat essay atau tulisan, tanpa imbalan. Meski pernah juga menghasilkan beberapa lembar Euro hasil dari beberapa tulisannya di media. Terlepas dari dia teman saya, saya cukup bisa menikmati tulisan-tulisannya, yang terkadang sarat akan abstraksi.

Berbeda antara Keenan-nya Kugy dalam Perahu Kertas, dan Keenan-nya si teman saya ini. Dari beberapa topik pembicaraan, dia paling bersemangat ketika berbicara tentang soulmate-nya dalam bermusik. Lagi-lagi “chemistry”. Mereka memiliknya. Dalam ceritanya, saya bisa membayangkan ketika keduanya bertemu. Tanpa perlu berkata-kata, mereka bisa berdialog dengan hati dan telepati, saling mengerti satu sama lain. Sambil membawa perasaan bahagia tiada tara. Bedanya lagi, Keenan adalah soulmate sejati Kugy, sedangkan Keenan-nya teman saya adalah soulmate sejati hanya dalam bermusik.

Awalnya saya mengira si “Kugy” teman saya itu hanya memiliki passion dalam bermusik. Namun saya salah ketika tahu dia rela tidak dibayar untuk membuat essay untuk tugas teman-temannya. Dia berpikir itu lah kesempatan dia mengasah passion-nya. Mirip, seperti Kugy yang rela tidak dibayar dalam mengurusi Sakola Alit sambil menikmati pembuatan dongeng Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Mereka melakukannya dengan kesenangan hati. Tanpa pamrih, tanpa dibayar.