Ngedorama Again…

Friday, August 20th 2010

Waktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang mirip salah seorang kakak kelas yang cantik- yang bercerita tentang seorang lelaki yang meninggal dan ruh-nya meminjam tubuh orang lain untuk menyelesaikan misi yang belum sempat terlaksana sewaktu dia masih hidup. Membuat gw merasa de javu ketika nonton Love is Cinta. Yup, film Indonesia yang dibintangi Irwansyah dan Acha. Nyesel juga nontonnya, karena isinya cuma adegan nangis2an yang nggak berlebihan juga kalo dibilang lebay.

Densha Otoko, itu judul dorama yang membuat gw terjerumus di dunia sinetron Jepang. Entah ada berapa puluhan judul yang sudah terkoleksi dalam hardisk khusus untuk dorama. Dorama itu adiktif. Ceritanya unik, nilai moralnya juga bagus-bagus, pemeran2nya enak dipandang, aktingnya juga tidak seadanya -seperti kebanyakan sinetron2 Indonesia yang hanya menjual tampang dengan menyorot ke bagian wajah saja kemudian diiringi monolog dalam hati dan juga musik yang diharapkan menggugah emosi-. Sisi lain yang menarik dari dorama adalah sponsor. Dorama2 Jepang disponsori oleh perusahaan2 mapan, biasanya dimunculkan di awal2 dan di akhir2 film. Maka nggak heran bila efek2 yang digunakan dan properti2 yang dipakai juga terlihat menguras kantong.

Gara2 salah seorang teman yang merekomendasikan film Hotaru no Hikari, gw jadi keterusan nonton dorama lagi. Tadinya dia merekomendasikan Hotaru no Hikari season 2 yang baru tayang sejak bulan Juli kemarin. Tapi karena gw belum nonton season 1-nya, jadi lah gw coba ikutin dulu awal cerita dorama ini. Nggak nyangka, 10 episode bisa tamat gw tonton dalam 2 hari. Freak. Habis gimana dong? dorama2 Jepang ini memang selalu adiktif. Baru bisa berhenti setelah kita nonton sampai tamat. Menurut teman gw yang merekomendasikan film ini, dorama ini lucu banget. Tapi setelah gw tonton, ternyata nggak terlalu lucu juga. Lucu sih, tapi dikit.

Jadi ceritanya tentang seorang wanita karir yang punya kebiasaan yang berbeda ketika dia aktif bekerja dan ketika dia di rumah. Di kantor, kelakuannya seperti layaknya wanita karir yang bekerja sesuai aturan, cekatan, rajin dan kreatif. Namun di rumah, dia berubah menjadi urakan. Minum bir, bersendawa, barang2 berserakan, makan2an instant, menggunakan kaos dan training dekil, yang mungkin bisa membuat orang yang mengenalnya di kantor jadi ilfil. Kemudian karena suatu dan lain hal, dia harus tinggal bersama manajernya yang sedang merencanakan perceraian. Hal ini dirahasiakan oleh keduanya untuk menghindari konflik.

Suatu hari si Hotaru berkenalan dengan seorang staf baru yang baru datang dari Inggris. Hingga akhirnya keduanya sama2 suka, dan seterusnya mereka berpacaran. Bagaimana dengan manajer yang tinggal serumah tadi? Yes, di episode2 akhir si Hotaru ini mengalami dilema. Apakah dia harus mempertahankan hubungannya dengan si cowok baru tadi, atau dia akan memilih si manajer yang selalu bersama dia di rumah ketika pulang dan sebelum berangkat ke kantor. Si manajer mengenal Hotaru luar-dalam, sedangkan si cowok baru itu hanya mengenal luarnya saja.

Oke, langsung intinya saja ya… Sebenernya banyak sih kalo mau disampaikan satu per satu, tapi yang paling gw tangkep dari film ini adalah bahwa ada 2 jenis cinta. Yang pertama, Yuuka -salah satu tokoh dalam dorama ini- menyebutnya heart-beating type of love [@episode 10]. Cinta yang selalu bisa membuat jantung kita dag dig dug ketika kita mendengar suara, atau melihat wajah, atau bahkan ketika kita mendengar seseorang menyebut nama dari seseorang yang kita cintai. Perasaan ini diwakili oleh perasaan si Hotaru ke Teshima, si cowok baru. Yang kedua, adalah cinta karena terbiasa. Seperti perasaan antara Hotaru dan si manajer. Bahasa Jawa-nya, witing tresno jalaran soko kulino. Atau bahasa Zigaz-nya, sahabat jadi cinta. Cinta jenis ini membuat penderitanya lebih mudah menjalaninya karena tidak perlu jaim2an.

Satu lagi kata2 yang gw suka dari dorama ini adalah ketika Yamada -seniornya Hotaru di tempat kerja- berkata pada si Hotaru [@episode 9], “There is no perfect answer to love. The answer that you come up with is the correct answer.”