Ramadhan Tahun Ini

Wednesday, August 11th 2010

3 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru beberapa hari tiba di Taiwan. Masih jelas dalam ingatan, waktu pertama kali ke masjid dan bertemu dengan Pak Zul. Pertemuan di masjid di seberang taman Da-an itu begitu menggembirakan karena kabarnya ada buka puasa gratis di masjid selama bulan puasa. Bukan gratisnya yang menyenangkan (walaupun itu juga termasuk hitungan), namun suasana Ramadhan itu lah yang ingin kualami. Sahur bersama, berbuka bersama, dan tarawih berjamaah. Dan ternyata sebulan itu bukan waktu yang lama, hingga akhirnya dapatlah satu kredit yang apabila dikumpulkan selama tiga tahun maka berhak untuk dicap dengan stempel ‘Bang Toyib’.

2 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Ramadhan dan Lebaran di Taipei. Sahur di kamar, buka puasa di masjid, cuci piring bersama setelah makan, tarawih 20 rakaat plus witr 3 rakaat, kemudian terkadang berlanjut dengan chit-chat bareng teman setelah pulang tarawih. Ada juga dalam seminggu itu hari-hari istimewanya. Maksudnya, agak berbeda dengan hari2 puasa biasa. Untuk hari rabu misalnya, salah satu kantor perwakilan Indonesia di Taiwan mengundang mahasiswa2 untuk berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah. Dan untuk hari sabtu, ada masakan-masakan Indonesia atau India/Pakistan yang bergantian menyuguhi orang-orang yang datang di masjid kecil. Lebaran saat itu pun hanya dirayakan sekedarnya bersama teman2 yang lebih memilih tinggal di Taiwan daripada harus ikut berjibaku menghadapi fenomena tahunan, arus mudik dan arus balik.

Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai.

Tahun ini, rencananya Ramadhan-ku 60% awal di Taipei, 2 hari 1 malam di Malaysia, dan sisanya, sudah diputuskan untuk kembali ber-Lebaran di Indonesia. Untuk Ramadhan kali ini, sahurnya bareng2 dengan teman2 di kampus tetangga. Cari suasana sahur baru. Sedangkan rutinitas lainnya, mirip 1, 2, dan 3 tahun sebelumnya.

Untuk Lebaran, mental ini harus dipersiapkan dengan baik karena akan banyak sekali pertanyaan2 yang -haduh pastinya- bikin malas menjawabnya. Lebaran tahun ini perasaanku bakalan campur2. Di satu sisi senang, karena akan bertemu dengan keluarga dekat, keluarga jauh, dan teman2. Di sisi lain, aku malas menghadapi pertanyaan2 klasik -yang entah akan muncul dari siapa nantinya- ketika seseorang sudah mengalami masa seperempat abad. Apalagi ditambah masalah studi yang belum selesai juga. Whatever nanti lah… semoga saja nanti tidak semengerikan yang kubayangkan.

Bukan ketupat yang menjadi makanan khas saat Lebaran di kampung kakek/nenek-ku, Boyolali. Kalau nggak salah Lebaran ketupat itu baru seminggu setelah hari H. Jadi biasanya sebelum salat Ied, pagi2 sekali, nenek biasanya memasak ketan warna-warni. Dan sepulang salat Ied, kita disambut oleh bubur lemu/gemuk -bubur beras yang dimasak dengan santan- sambil ditemani opor ayam dan sambel goreng ati dan kemudian ditaburi bubuk kedelai yang gurih. Satu suapan bubur bergantian dengan gigitan kerupuk udang. Sedangkan hidangan khas Lebaran di sana adalah tape ketan yang dibungkus daun pisang. Beeeeeuuuh… I miss those things.