Archive for August, 2010

First Photo @FN

Friday, August 27th, 2010

Taipei Grand Mosque

Sudah lama juga sebenarnya saya join fotografer-dot-net. Hanya saja karena dulu masih malu2 dan ragu2, jadinya setiap berkunjung ke website itu kerjaannya hanya ngintipin hasil karya orang2. Hingga akhirnya, pagi kemarin saya berhasil meng-upload foto saya yang pertama. Dan foto pertama saya di website itu adalah foto masjid besar Taipei. Harus dimaklumi fotonya masih jauh dari bagus.

Sejak dulu hasrat menjepret masjid itu telah ada, namun belum kesampaian saja. Nah, karena saat ini sedang musim panas, yang mana langit di musim panas adalah langit paling keren untuk di-foto, saya pikir bolehlah untuk dicoba. Meskipun agak ragu juga waktu berangkat, karena takut lensa kit (18-105 mm) kurang wide untuk mengambil keseluruhan bangunan masjid. Sampai di sana langsung cari2 angle yang pas, tapi kok susah banget ya. Selalu ada saja obyek yang menghalangi bangunan. Setelah di coba2 beberapa angle, akhirnya dipilihlah angle dari sudut depan. Sayangnya, masih ada sebagian bangunan yang tertutup pohon. Bikin gemes aja tuh pohon…

Menarik juga upload foto di FN, karena foto kita akan dikomentari dan diberikan feedback oleh member2 lainnya. FN seperti forum belajar fotografi. Para membernya diharuskan memberikan minimal 2 komentar atau feedback sebelum meng-upload fotonya. Feedback2nya pun sebagian besar positif dan tentunya ini membuat kita bersemangat untuk meningkatkan kemampuan fotografi kita. Yah, walaupun komentarnya juga terkesan gitu2 aja seperti, cakep, cantik, mantab, yang ditambahkan sedikit komentar di belakangnya.

Sebenarnya belajar fotografi ini adalah untuk mendukung ide yang pernah terlintas itu. Jadi, sampai ketemu di FN dan saling belajar…

Sekilas Yang Terlintas

Friday, August 27th, 2010

Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Pernah mendengar pepatah atau kalimat tersebut? Mungkin para perfeksionis sangat mengerti dan memahami kalimat itu. Hingga di setiap tindakannya harus ada rencana. Setiap proyek harus ada blue-print nya. Namun mungkin itu juga yang membuat para perfeksionis selalu mengulur-ulur waktunya sampai rencananya benar2 sempurna, sebelum akhirnya dia mengeksekusi rencana tersebut. Maka jangan heran jika banyak perfeksionis2 di dunia ini yang belum berhasil dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Karena sesungguhnya dia sedang mencari seseorang yang sempurna, menurut pandangan dia sendiri.

Tapi bukan itu masalah yang mau saya bahas sebenarnya. Beberapa hari terakhir ini salat tarawih saya sedang tidak khusyuk2nya. Ide2 liar bermunculan di kepala di tengah2 keasyikan sang imam membacakan ayat2 suci Al-Quran. Ide yang muncul belakangan ini adalah tentang apa yang saya ingin lakukan setelah nanti lulus. Terdengar terlalu optimis, namun ya begitulah. Saya melihat peluang melalui fenomena semakin banyak beredarnya undangan pernikahan dari teman2. Di era internet 2.0 ini, undangan pernikahan yang beredar saat ini bukan hanya undangan berbentuk fisik, namun mulai banyak juga yang berupa data digital. Seperti undangan melalui facebook, email, dan website.

Sayangnya, saya melihat website2 pre-wedding sering kali tidak dibuat dan di-maintain dengan serius. Padahal, banyak yang bisa kita lakukan dengan website. Video testimonial teman2 dan saudara2, foto2 kenangan masa lalu, lagu2 nostalgia, guests book, semua bisa dikumpulkan dalam website dan tentunya merupakan sesuatu hal yang menarik karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sampai sekarang ide ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sambil mengasah lagi ilmu2 serta mengumpulkan modal2 yang diperlukan.

Ide ini saya bocorkan karena saya juga belum tentu akan merealisasikannya atau tidak. Jadi ya monggo2 saja kalau ada yang mau memulainya. Toh, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.

Ngedorama Again…

Friday, August 20th, 2010

Waktu masih di kampus ganesha dulu, gw mulai berkenalan dengan yang namanya dorama Jepang. Sebelumnya juga pernah sih, sewaktu salah satu stasiun televisi swasta masih rajin menayangkan sinetron-sinetron impor itu. Tokyo Love Story, salah satu judul yang masing gw ingat, namun tidak dengan isi ceritanya. Ada lagi dorama yang masih ingat -karena pemeran wanitanya yang mirip salah seorang kakak kelas yang cantik- yang bercerita tentang seorang lelaki yang meninggal dan ruh-nya meminjam tubuh orang lain untuk menyelesaikan misi yang belum sempat terlaksana sewaktu dia masih hidup. Membuat gw merasa de javu ketika nonton Love is Cinta. Yup, film Indonesia yang dibintangi Irwansyah dan Acha. Nyesel juga nontonnya, karena isinya cuma adegan nangis2an yang nggak berlebihan juga kalo dibilang lebay.

Densha Otoko, itu judul dorama yang membuat gw terjerumus di dunia sinetron Jepang. Entah ada berapa puluhan judul yang sudah terkoleksi dalam hardisk khusus untuk dorama. Dorama itu adiktif. Ceritanya unik, nilai moralnya juga bagus-bagus, pemeran2nya enak dipandang, aktingnya juga tidak seadanya -seperti kebanyakan sinetron2 Indonesia yang hanya menjual tampang dengan menyorot ke bagian wajah saja kemudian diiringi monolog dalam hati dan juga musik yang diharapkan menggugah emosi-. Sisi lain yang menarik dari dorama adalah sponsor. Dorama2 Jepang disponsori oleh perusahaan2 mapan, biasanya dimunculkan di awal2 dan di akhir2 film. Maka nggak heran bila efek2 yang digunakan dan properti2 yang dipakai juga terlihat menguras kantong.

Gara2 salah seorang teman yang merekomendasikan film Hotaru no Hikari, gw jadi keterusan nonton dorama lagi. Tadinya dia merekomendasikan Hotaru no Hikari season 2 yang baru tayang sejak bulan Juli kemarin. Tapi karena gw belum nonton season 1-nya, jadi lah gw coba ikutin dulu awal cerita dorama ini. Nggak nyangka, 10 episode bisa tamat gw tonton dalam 2 hari. Freak. Habis gimana dong? dorama2 Jepang ini memang selalu adiktif. Baru bisa berhenti setelah kita nonton sampai tamat. Menurut teman gw yang merekomendasikan film ini, dorama ini lucu banget. Tapi setelah gw tonton, ternyata nggak terlalu lucu juga. Lucu sih, tapi dikit.

Jadi ceritanya tentang seorang wanita karir yang punya kebiasaan yang berbeda ketika dia aktif bekerja dan ketika dia di rumah. Di kantor, kelakuannya seperti layaknya wanita karir yang bekerja sesuai aturan, cekatan, rajin dan kreatif. Namun di rumah, dia berubah menjadi urakan. Minum bir, bersendawa, barang2 berserakan, makan2an instant, menggunakan kaos dan training dekil, yang mungkin bisa membuat orang yang mengenalnya di kantor jadi ilfil. Kemudian karena suatu dan lain hal, dia harus tinggal bersama manajernya yang sedang merencanakan perceraian. Hal ini dirahasiakan oleh keduanya untuk menghindari konflik.

Suatu hari si Hotaru berkenalan dengan seorang staf baru yang baru datang dari Inggris. Hingga akhirnya keduanya sama2 suka, dan seterusnya mereka berpacaran. Bagaimana dengan manajer yang tinggal serumah tadi? Yes, di episode2 akhir si Hotaru ini mengalami dilema. Apakah dia harus mempertahankan hubungannya dengan si cowok baru tadi, atau dia akan memilih si manajer yang selalu bersama dia di rumah ketika pulang dan sebelum berangkat ke kantor. Si manajer mengenal Hotaru luar-dalam, sedangkan si cowok baru itu hanya mengenal luarnya saja.

Oke, langsung intinya saja ya… Sebenernya banyak sih kalo mau disampaikan satu per satu, tapi yang paling gw tangkep dari film ini adalah bahwa ada 2 jenis cinta. Yang pertama, Yuuka -salah satu tokoh dalam dorama ini- menyebutnya heart-beating type of love [@episode 10]. Cinta yang selalu bisa membuat jantung kita dag dig dug ketika kita mendengar suara, atau melihat wajah, atau bahkan ketika kita mendengar seseorang menyebut nama dari seseorang yang kita cintai. Perasaan ini diwakili oleh perasaan si Hotaru ke Teshima, si cowok baru. Yang kedua, adalah cinta karena terbiasa. Seperti perasaan antara Hotaru dan si manajer. Bahasa Jawa-nya, witing tresno jalaran soko kulino. Atau bahasa Zigaz-nya, sahabat jadi cinta. Cinta jenis ini membuat penderitanya lebih mudah menjalaninya karena tidak perlu jaim2an.

Satu lagi kata2 yang gw suka dari dorama ini adalah ketika Yamada -seniornya Hotaru di tempat kerja- berkata pada si Hotaru [@episode 9], “There is no perfect answer to love. The answer that you come up with is the correct answer.”

Ramadhan Tahun Ini

Wednesday, August 11th, 2010

3 tahun lalu, Ramadhan-ku saat itu sepenuhnya dihabiskan di Taipei. Ramadhan pertama (dalam 23 tahun) yang jauh dari keluarga. Agak aneh memang merasakan puasa di lingkungan baru, karena saat itu juga aku baru beberapa hari tiba di Taiwan. Masih jelas dalam ingatan, waktu pertama kali ke masjid dan bertemu dengan Pak Zul. Pertemuan di masjid di seberang taman Da-an itu begitu menggembirakan karena kabarnya ada buka puasa gratis di masjid selama bulan puasa. Bukan gratisnya yang menyenangkan (walaupun itu juga termasuk hitungan), namun suasana Ramadhan itu lah yang ingin kualami. Sahur bersama, berbuka bersama, dan tarawih berjamaah. Dan ternyata sebulan itu bukan waktu yang lama, hingga akhirnya dapatlah satu kredit yang apabila dikumpulkan selama tiga tahun maka berhak untuk dicap dengan stempel ‘Bang Toyib’.

2 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Ramadhan dan Lebaran di Taipei. Sahur di kamar, buka puasa di masjid, cuci piring bersama setelah makan, tarawih 20 rakaat plus witr 3 rakaat, kemudian terkadang berlanjut dengan chit-chat bareng teman setelah pulang tarawih. Ada juga dalam seminggu itu hari-hari istimewanya. Maksudnya, agak berbeda dengan hari2 puasa biasa. Untuk hari rabu misalnya, salah satu kantor perwakilan Indonesia di Taiwan mengundang mahasiswa2 untuk berbuka bersama dan salat tarawih berjamaah. Dan untuk hari sabtu, ada masakan-masakan Indonesia atau India/Pakistan yang bergantian menyuguhi orang-orang yang datang di masjid kecil. Lebaran saat itu pun hanya dirayakan sekedarnya bersama teman2 yang lebih memilih tinggal di Taiwan daripada harus ikut berjibaku menghadapi fenomena tahunan, arus mudik dan arus balik.

Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai.

Tahun ini, rencananya Ramadhan-ku 60% awal di Taipei, 2 hari 1 malam di Malaysia, dan sisanya, sudah diputuskan untuk kembali ber-Lebaran di Indonesia. Untuk Ramadhan kali ini, sahurnya bareng2 dengan teman2 di kampus tetangga. Cari suasana sahur baru. Sedangkan rutinitas lainnya, mirip 1, 2, dan 3 tahun sebelumnya.

Untuk Lebaran, mental ini harus dipersiapkan dengan baik karena akan banyak sekali pertanyaan2 yang -haduh pastinya- bikin malas menjawabnya. Lebaran tahun ini perasaanku bakalan campur2. Di satu sisi senang, karena akan bertemu dengan keluarga dekat, keluarga jauh, dan teman2. Di sisi lain, aku malas menghadapi pertanyaan2 klasik -yang entah akan muncul dari siapa nantinya- ketika seseorang sudah mengalami masa seperempat abad. Apalagi ditambah masalah studi yang belum selesai juga. Whatever nanti lah… semoga saja nanti tidak semengerikan yang kubayangkan.

Bukan ketupat yang menjadi makanan khas saat Lebaran di kampung kakek/nenek-ku, Boyolali. Kalau nggak salah Lebaran ketupat itu baru seminggu setelah hari H. Jadi biasanya sebelum salat Ied, pagi2 sekali, nenek biasanya memasak ketan warna-warni. Dan sepulang salat Ied, kita disambut oleh bubur lemu/gemuk -bubur beras yang dimasak dengan santan- sambil ditemani opor ayam dan sambel goreng ati dan kemudian ditaburi bubuk kedelai yang gurih. Satu suapan bubur bergantian dengan gigitan kerupuk udang. Sedangkan hidangan khas Lebaran di sana adalah tape ketan yang dibungkus daun pisang. Beeeeeuuuh… I miss those things.

The Last One

Sunday, August 1st, 2010

Mau nggak mau, suka nggak suka, dan setelah dipikir masak-masak, beberapa waktu yang lalu akhirnya gw memutuskan untuk mengakhiri karir di Radio PPI Dunia. Decision has been made, and it’s time for the young ones. It’s time for regeneration. Yes, berakhir sudah kerja sampingan yang menurut gw lebih mirip kerja beneran, cuma beda di pendapatan aja dan beda kepuasan. Dan, ya… saya puas!

Well, I’ve got what I wanted there, I’ve learned more than I expected. I’ve got a new family, I’ve got a lot of experiences, I’ve got a lot of valuable learning. Lumayan buat modal menghadapi masa depan yang tentunya lebih menantang. Yah, mungkin karena ketinggian impian dibanding usaha kali ya?

Siaran terakhir di hari kamis ini, entah kenapa perasaannya seneng banget. Melebihi sebelum-sebelumnya. Walaupun di akhir2 siaran, gw gak sadar mata gw berkaca2 dan hidung rada meler2. Tapi tetep gw bilang sama listener bahwa gw nggak nangis. Boys don’t cry.

Kenapa sih Jay cabut? Pertanyaan yang ditanyakan hampir semua orang yang mengenal saya di radio ini. Klasik sebenernya jawaban dari saya. Studi. Loh, emang kenapa? Selama ini radio menghambat studi kah? For me, yes it is. Tadinya gw berharap dengan bergabung dengan radio, gw bisa belajar memanajemen waktu dengan baik. Bisa mendahulukan yang mana yang prioritas, dan mana yang sampingan. Teorinya, studi adalah prioritas, dan radio adalah secondary. Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Apa2 yg berhubungan dengan radio, langsung gw kerjain. Mulai dari otak-atik website, persiapan tes siaran, persiapan event2 khusus, ngasih tutorial, dan macem2 hal lainnya. Belum lagi waktu kelabakan kalo server radio atau server website mulai rewel atau down. I found what I like in here, and enjoyed what I did. Sedangkan untuk masalah studi, kayanya mulai hilang pegangan.

Kalau hidup itu adalah tentang saya dan aku, mungkin keputusan keluar dari radio ini nggak akan pernah ada sampai saya lulus atau keluar dari universitas. Namun, hidup bukan tentang diri sendiri kan ya? Hidup itu tentang kita dan orang-orang di sekitar kita, keluarga, teman, sahabat, relasi, yang semuanya tidak ingin melihat kita gagal. Karena itu lah, untuk kembali on track terhadap mimpi2 gw dulu dan mewujudkan harapan2 orang2 terdekat, saya memutuskan untuk merelakan kontribusi di radio ini.

Dengan terbentuknya manajemen yang baru di sana, rasanya saat ini memang timing yang tepat untuk melepas radio. Di tangan2 teman2 yg semangatnya masih menggebu2, radio ini berada di tangan orang yg tepat.

I’m gonna miss to say, “Radio PPI Dunia, Suara Anak Bangsa, Satu Cinta, Satu Indonesia…

Last Show – Part 1 :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Last Show – Part 2 :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Last Show – Part 3 :

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

*lanjutan Part 2 tentang Suara Muda Indonesia untuk M-Radio bisa disimak di sini.