Surat vs Email

Wednesday, May 26th 2010

Salah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan mailing list dari kelompok organisasi tempat kita terlibat aktif di dalamnya. Mengunjungi inbox seakan bertransformasi menjadi kebutuhan primer. Karena jika inbox tidak ditengok beberapa hari saja, bisa-bisa gunungan email akan berjejalan di sana dan membuat malas untuk membacanya satu persatu serta mengikuti alur cerita yang sedang didiskusikan.

Email sangat menunjang pekerjaan baik dari segi efektivitas dan efisiensi. Cepat, praktis, mudah, murah. Kita tidak perlu lagi pergi ke kantor pos atau pun kotak surat terdekat hanya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Kita juga tidak perlu capek2 membeli perangko dan juga tidak perlu bingung memilih perangko yang mana yang bisa dipakai untuk mengirim ke kota A atau kota B, negara C atau negeri D.

Dengan email kita juga tidak perlu khawatir apakah pesan kita terkirim atau tidak, karena kalau ternyata alamat email tersebut tidak terdaftar, maka dengan seketika kita akan mendapatkan email yang menginformasikan bahwa email kita tertolak dan alamat email yang dikirim sebenarnya tidak lah ada. Dalam hitungan detik, email bisa langsung dibaca dan kemudian dikirim balasannya. Bandingkan dengan jasa pos. Jangankan segera dibalas, sekedar tahu kapan surat itu akan sampai pun masih menjadi teka-teki.

Namun dengan segala kemudahan dan keuntungan dari email serta berbagai kekurangan dari surat pos, ternyata kartu pos, kantor pos dan tukang pos masih bisa bertahan hingga saat ini. Kartu pos masih banyak dijual di toko buku-toko buku dan di tempat-tempat memperoleh souvenir, dengan berbagai variasi gambar dan bentuknya. Dan tukang pos, di hari-hari kerja dia masih sibuk mengantar surat atau pun paket dari rumah ke rumah, dari gedung satu ke gedung lainnya. Perangko, sebagai aksesoris dalam surat menyurat pun juga masih tetap sama eksisnya dengan segala keunikan gambar serta kelangkaannya.

Awalnya saya apatis terhadap hal-hal yang berbau pos tersebut. Ribet lah, nggak praktis lah, nggak bisa diandalkan lah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada kantor pos beserta perangkat penunjangnya, serta menemukan keasyikan tersendiri dalam berkorespondesi menggunakan jasa pos. Bukan karena pesimis, melainkan ada rasa kurang percaya dengan jasa pos karena banyak faktor manusia di sana. Mulai dari tulisan tangan pengirim yang bisa salah dibaca, kemudian pegawai pos yang bisa salah memilah milih surat sesuai dengan kategori tujuan, atau bisa saja surat itu terjatuh ketika dalam perjalanan sewaktu diantar tukang pos.

Nah, justru di situ lah menariknya. Surat konvensional melibatkan banyak orang. Atau bahasa Jawa-nya,¬†nge-wongke. Lebih me-manusia-kan orang. Ada sapaan ramah ketika kita memasuki kantor pos, dan ketika kita bertanya, “saya mau mengirim surat ke sana dan sini, bagaimana caranya?” maka si petugas akan menjawab dengan lengkap dari A sampai Z. Ada juga lelah dari pengawai pos ketika mengelompokkan surat berdasarkan tujuan. Dan terakhir, ada tetesan keringat si tukang pos yang muter-muter ke pelosok-pelosok daerah demi menyampaikan amanah. Semua emosi itu terakumulasi dalam selembar kertas dalam timbangan gram.

Kemudian di saat menerima surat, ternyata emosi itu menular dan mengalir.¬†Setidaknya begitu lah yang saya rasakan setelah beberapa kali menerima kartu pos dari teman-teman. Walaupun mungkin yang disampaikan hanya sekedar bertanya kabar, saling menyemangati dalam belajar, atau hal-hal tidak penting lainnya yang mungkin bisa kita lakukan ketika chatting. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu membuat kita senang, bagaimana dengan surat dari seseorang yang special. Pasti rasanya lebih dari sekedar senang.

Jadi teringat jauh ke masa-masa puber awal, ketika saya mendapatkan kartu pos (entah kartu lebaran atau ulang tahun ya?) buatan tangan dari seorang teman sekelas. Saya jawab surat itu dengan surat beramplop merah transparan buatan tangan. Saya masukkan ke dalam kotak pos berwarna jingga di dekat rumah. Entah terkirim atau tidak, sampai sekarang masih misteri.