Archive for May, 2010

Sepakbola dan Pendeteksi Cahaya

Friday, May 28th, 2010

Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai.

Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai saja dari klasifikasi materi/bahan berdasarkan sifatnya dalam menghantarkan listrik. Ada konduktor, semikonduktor, dan insulator. Konduktor adalah penghantar listrik yang baik, seperti kawat timah pada kabel contohnya, besi dan juga baja. Biasanya selain baik dalam menghantarkan listrik, dia juga bagus dalam menghantarkan panas. Berkebalikan dengan insulator. Insulator merupakan penghantar listrik yang buruk. Sebut saja kertas, kayu, plastik, dan kaca. Di antara kedua sifat itu, ada yang namanya semikonduktor. Sifatnya bisa sebagai insulator dan juga sebagai konduktor, bergantung pada situasi dan kondisi.

Sifat dari semikonduktor yang unik ini, membuat dia memiliki banyak sekali kegunaan. Dia bisa digunakan sebagai sumber cahaya (LED : Light Emitting Diode), sebagai penyearah arus, sebagai saklar, dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi cahaya. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang sifat unik semikonduktor (pada umumnya menggunakan Silikon) sebagai pendeteksi cahaya. Bagaimana cahaya dideteksi? Jawaban singkatnya, cahaya harus diubah dulu bentuknya menjadi arus listrik. Bagaimana cara mengubahnya? Bayangkan sebuah pertandingan sepakbola.

Dalam pertandingan sepakbola, ada pemain, ada lapangan bola, dan juga ada fans, atau supporter, atau penonton. Yah, kalau mau disebut semua sih bisa saja, ada wasit lah, ada pelatih lah, ada gawang, ada anak gawang, dan lain-lain, namun sesungguhnya yang saya perlukan dalam penjelasan kali ini adalah pemainnya itu sendiri, lapangan bolanya dan juga dukungan suara dari supporter.

Julukan pemain ke-12 sering kali dialamatkan untuk supporter. Mengapa? Karena walaupun dia tidak ikut masuk ke dalam lapangan, supporter sering menjadi faktor X dari kemenangan sebuah tim. Supporter lah yang membuat para pemain bersemangat, lupa bahwa dia sebetulnya sudah kehabisan energi untuk berlari. Para pemain menjadi berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati supporter yang telah membelanya. Pemain tim idaman aktif mengejar bola dan selalu bergerak tanpa henti, seakan-akan energi suara dan teriakan supporter mereka diserap oleh kaki-kaki para pemainnya, dan juga memperpanjang nafas para pemainnya yang hampir habis.

Peristiwa ini mirip halnya dengan sebuah pendeteksi cahaya. Pada sekeping Silikon, terdapat elektron-elektron yang memiliki ikatan kovalen (bisa diibaratkan sebuah wadah berisi bola-bola kecil yang terikat satu sama lain). Lupakan tentang kata kovalen, pada intinya ikatan ini membuat si elektron malas bergerak. Ibaratnya, dia pemain bola yang malas berlari. Lalu suatu saat, si keping Silikon ini mendapatkan cahaya. Asal cahayanya bisa dari mana-mana, bisa dari lampu atau pun dari sinar matahari. Sinar ini memiliki apa yang disebut dengan energi optik (optical energy). Ketika cahaya tersebut menimpa Silikon, sebagian cahaya itu diserap, sebagian lainnya dipantulkan. Energi optik dari cahaya yang diserap oleh Silikon ini membuat elektron-elektron di dalamnya memiliki energi yang lebih untuk melepaskan ikatan kovalennya, dan siap untuk bergerak. Masih ingat tentang para pemain yang mendapatkan energi tambahan dari teriakan supporter, kan?

Saat si elektron-elektron berubah dari keadaan terikat menjadi elektron-elektron bebas ini lah, Silikon yang tadinya bersifat sebagai insulator berubah sifatnya menjadi konduktor. Si elektron-elektron yang muncul dari penyerapan energi optik ini lah yang nantinya akan bertindak sebagai arus listrik.

Surat vs Email

Wednesday, May 26th, 2010

Salah satu bagian tak terpisahkan dalam dunia internet adalah adanya surat elektronik atau yang biasa kita kenal dengan email. Mungkin hampir setiap dari kita para netters, satu hal yang pasti dilakukan ketika terhubung dengan internet adalah mengecek inbox email kita (hmmm… atau cuma saya saja ya?) Apalagi kalau email tersebut juga kita gunakan untuk berlangganan mailing list dari kelompok organisasi tempat kita terlibat aktif di dalamnya. Mengunjungi inbox seakan bertransformasi menjadi kebutuhan primer. Karena jika inbox tidak ditengok beberapa hari saja, bisa-bisa gunungan email akan berjejalan di sana dan membuat malas untuk membacanya satu persatu serta mengikuti alur cerita yang sedang didiskusikan.

Email sangat menunjang pekerjaan baik dari segi efektivitas dan efisiensi. Cepat, praktis, mudah, murah. Kita tidak perlu lagi pergi ke kantor pos atau pun kotak surat terdekat hanya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang. Kita juga tidak perlu capek2 membeli perangko dan juga tidak perlu bingung memilih perangko yang mana yang bisa dipakai untuk mengirim ke kota A atau kota B, negara C atau negeri D.

Dengan email kita juga tidak perlu khawatir apakah pesan kita terkirim atau tidak, karena kalau ternyata alamat email tersebut tidak terdaftar, maka dengan seketika kita akan mendapatkan email yang menginformasikan bahwa email kita tertolak dan alamat email yang dikirim sebenarnya tidak lah ada. Dalam hitungan detik, email bisa langsung dibaca dan kemudian dikirim balasannya. Bandingkan dengan jasa pos. Jangankan segera dibalas, sekedar tahu kapan surat itu akan sampai pun masih menjadi teka-teki.

Namun dengan segala kemudahan dan keuntungan dari email serta berbagai kekurangan dari surat pos, ternyata kartu pos, kantor pos dan tukang pos masih bisa bertahan hingga saat ini. Kartu pos masih banyak dijual di toko buku-toko buku dan di tempat-tempat memperoleh souvenir, dengan berbagai variasi gambar dan bentuknya. Dan tukang pos, di hari-hari kerja dia masih sibuk mengantar surat atau pun paket dari rumah ke rumah, dari gedung satu ke gedung lainnya. Perangko, sebagai aksesoris dalam surat menyurat pun juga masih tetap sama eksisnya dengan segala keunikan gambar serta kelangkaannya.

Awalnya saya apatis terhadap hal-hal yang berbau pos tersebut. Ribet lah, nggak praktis lah, nggak bisa diandalkan lah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya akhirnya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada kantor pos beserta perangkat penunjangnya, serta menemukan keasyikan tersendiri dalam berkorespondesi menggunakan jasa pos. Bukan karena pesimis, melainkan ada rasa kurang percaya dengan jasa pos karena banyak faktor manusia di sana. Mulai dari tulisan tangan pengirim yang bisa salah dibaca, kemudian pegawai pos yang bisa salah memilah milih surat sesuai dengan kategori tujuan, atau bisa saja surat itu terjatuh ketika dalam perjalanan sewaktu diantar tukang pos.

Nah, justru di situ lah menariknya. Surat konvensional melibatkan banyak orang. Atau bahasa Jawa-nya, nge-wongke. Lebih me-manusia-kan orang. Ada sapaan ramah ketika kita memasuki kantor pos, dan ketika kita bertanya, “saya mau mengirim surat ke sana dan sini, bagaimana caranya?” maka si petugas akan menjawab dengan lengkap dari A sampai Z. Ada juga lelah dari pengawai pos ketika mengelompokkan surat berdasarkan tujuan. Dan terakhir, ada tetesan keringat si tukang pos yang muter-muter ke pelosok-pelosok daerah demi menyampaikan amanah. Semua emosi itu terakumulasi dalam selembar kertas dalam timbangan gram.

Kemudian di saat menerima surat, ternyata emosi itu menular dan mengalir. Setidaknya begitu lah yang saya rasakan setelah beberapa kali menerima kartu pos dari teman-teman. Walaupun mungkin yang disampaikan hanya sekedar bertanya kabar, saling menyemangati dalam belajar, atau hal-hal tidak penting lainnya yang mungkin bisa kita lakukan ketika chatting. Namun dengan surat atau kartu pos itu, ada “yang lain” yang saya rasakan. Kalau surat dari teman saja sudah begitu membuat kita senang, bagaimana dengan surat dari seseorang yang special. Pasti rasanya lebih dari sekedar senang.

Jadi teringat jauh ke masa-masa puber awal, ketika saya mendapatkan kartu pos (entah kartu lebaran atau ulang tahun ya?) buatan tangan dari seorang teman sekelas. Saya jawab surat itu dengan surat beramplop merah transparan buatan tangan. Saya masukkan ke dalam kotak pos berwarna jingga di dekat rumah. Entah terkirim atau tidak, sampai sekarang masih misteri.