About Eat Pray and Love

Sunday, April 18th 2010

Akhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku di radio, judulnya Eat, Pray, Love -One Woman’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia-. “Kenapa kok beli buku tentang Janda?”

Melihat dari judul buku dan sub-judulnya, maka yang ada dalam pikiran saya ketika kira-kira setahun yang lalu menemukan buku ini, ini adalah buku tentang jalan-jalan. Bagaimana si penulis menikmati hidup dan menikmati makanan-makanan di berbagai negara disertai pengalaman-pengalaman menarik di dalamnya. Yup, sebagian memang benar. Di dalamnya memang diceritakan bagaimana si Liz Gilbert menghabiskan waktunya di Itali dengan makan, makan, dan makan. Kemudian di India, Liz menghabiskan waktunya dengan bermeditasi dan mencari sesuatu yang dia sebut Tuhan.

Namun, sebagian yang lain menceritakan tentang keluh kesah dia dalam menghadapi hancurnya perkawinan yang baru seumur jagung. Ditambah curhat-curhat dia yang kadang-kadang saya anggap konyol dan bertanya-tanya, serumit itu kah persoalan cinta? Berkali-kali Liz terlihat seperti bimbang dalam menentukan. Ketika dia bercerai dengan suaminya, ketika dia bersama David, dan ketika dia bertemu Felipe yang akhirnya menjadi cintanya di akhir novel ini, semua diiringi kebimbangan. Dua kebimbangan pertama diatasi dengan bertanya kepada Tuhan, sedangkan kebimbangan ketiga diatasi oleh waktu.

Salah satu poin menarik dalam cerita ini, adalah bagaimana Liz merasakan pertemuan dengan Sang Pencipta. Yaitu ketika dia ditunjukkan sebuah tempat rahasia di Ashram oleh temannya si tukang pipa. Di tempat itu lah Liz berdoa agar masalah-masalah yang menjadi pikirannya selama ini dapat diselesaikan. Saat itu muncul suara-suara bisikan hati kecilnya, yang berduel dengan suara-suara ego dalam pikiran. Suara hati dan pikiran bertarung, suara hati dia lambangkan dengan suara malaikat, sedangkan suara pikiran digambarkan dengan suara setan. Dua suara dalam satu jiwa.

Di saat lain dalam meditasinya, imajinasi Liz akan Tuhan mungkin akan sulit untuk dibayangkan. Dia bertemu dengan Tuhan ketika bermeditasi, ketika ruh-nya meninggalkan tubuhnya, terbang melintasi angkasa dan tiba pada suatu ruang hampa. “The void was God, which means that I was inside God. But not in a gross, physical way-not like I was Liz Gilbert stuck inside a chunk of God’s thigh muscle. I just was part of God.” Begitu lah kira-kira Liz Gilbert mendeskripsikan pertemuannya dengan Tuhan.

Sesekali saya merasa, apa yang dilakukan Liz ketika bermeditasi mirip ketika saya berdoa dan merasa khusyuk. Berada dalam sebuah ruang kosong, hampa, gelap (karena merem), merasakan kesendirian di tengah keramaian, dan berdialog dengan sosok yang tak berwujud. Merasakan kedekatan dengan-Nya, merasakan segala curahan hati didengarkan oleh-Nya. Pengalaman rohani memang unik, karena berhubungan dengan hal yang tidak kasat mata. Perasaan dan pikiran kita lah yang merasakannya.

Poin menarik lainnya dari buku ini adalah cerita tentang Indonesia. Dan ya, ini lah salah satu alasan saya mencomot buku ini dari tumpukan buku yang dipajang. Selain memperkenalkan adat Bali yang patriarki dan budaya serta tradisi Bali, Liz juga sedikit menyoroti tentang sejarah Bali dan juga kebobrokan moral orang Indonesia, yang ternyata korupsi di Indonesia sudah begitu terasa oleh para wisatawan.

All in all, this is a good book, though not so awesome.