Archive for February, 2010

Kang Abik di Taipei

Wednesday, February 24th, 2010

Ingatan saya kembali ke pertengahan tahun 2007, di mana ketika itu saya mendatangi salah satu acara launching sebuah buku berjudul “Dalam Mihrab Cinta”. Dalam beberapa hari berikutnya saya menuliskan resensinya di sini. Di Istora Senayan, tempat acara itu berlangsung, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan sosok di balik guratan-guratan pena dari pengarang novel best seller “Ayat-Ayat Cinta” dan juga novel dwilogi “Ketika Cinta Bertasbih”. Siapa sangka jika hari Senin kemarin atas izin-Nya saya dipertemukan kembali dengan pria sederhana nan berwibawa itu. Ustadz Habiburrahman El Shirazy.

Adalah para pahlawan devisa di bumi Formosa ini lah yang mengundang Beliau untuk memberikan tauziah kepada mereka. Kemudian sehari sebelum kepulangan Kang Abik (nama akrab Beliau, red.) ke tanah air, mahasiswa muslim Taiwan yang berada di Taipei berinisiatif mengundang Kang Abik untuk sharing dan berbagi ilmu. Tema yang dibahas di depan mahasiswa dan beberapa pejabat KDEI itu adalah, Agar Cinta Tak Bermasalah. Inti dari diskusi pendek itu adalah, mencintailah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian diskusi pun berlanjut, yaitu mengenai cita-cita Kang Abik dalam menciptakan hasil karya yang dapat menumbuhkan Need for Achievement (N-Ach) di alam bawah sadar para pembacanya. Karena konon menurut suatu penelitian, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang mampu memberikan kesadaran akan N-Ach itu kepada para generasi penerusnya. Beliau berharap 20-30 tahun ke depan, akan bermunculan banyak Fahri-Fahri baru di Indonsia, yang tidak hanya cerdas namun juga berakhlak mulia.

Contoh ironi dari N-Ach adalah bangsa kita, Indonesia. Dari kecil kita disuguhi cerita tentang “Kancil mencuri timun”. Maka, jangan heran bila sekarang banyak koruptor-koruptor merajalela. Legenda Candi Prambanan dan Tangkuban Perahu, ditengarai merupakan sebab dari kebiasaan para pelajar Indonesia dalam menggunakan saat-saat terakhirnya untuk mengerjakan tugas atau ketika akan menghadapi ujian. Atau dongeng “Si Kancil yang sombong melawan Siput yang cerdik”, yang diperkirakan sebagai tradisi kita untuk menghalalkan segala cara untuk melawan kesombongan.

Sedikit bocoran dari pertemuan kemarin, kata Beliau kemarin mulai minggu ini novel terbarunya yang berjudul “Bumi Cinta” sudah beredar. Adakah yang berkenan mengirimkannya ke Taipei? :P

Dan berikut ini, ada video dari seorang reporter wannabe yang agaknya memang nggak cocok untuk jadi reporter. O ya, thanks to Cak Alief yang sudah bersedia sebagai camera-man.