Archive for 2009

Random Thoughts

Monday, June 1st, 2009

 

Sun Moon Lake

Selain mulut, semua organ tubuh ini adalah makhluk yang jujur. Seperti perut misalnya. Perut tidak bisa berbohong atau dibohongi, dia akan protes jika haknya tidak diberikan. Malam itu aku meninggalkan penginapan di tepi Danau Matahari dan Bulan untuk membungkam bunyi-bunyian dalam perutku ini. Tujuh-Sebelas, kapan pun di mana pun selalu bisa menjadi pilihan terakhir saat warung-warung pasar malam di sekitar danau sudah menutup rapat pintunya. Sepotong pizza super seafood yang tidak pernah kutemukan di Seven-Eleven mana pun, kurasa cocok untuk mengganjal lambungku. Pilihan tepat ternyata, cocok di lidah, kenyang di perut, ringan di kantong, nyaman di hati. Oke, aku harus jujur, bukan hanya sepotong pizza tapi juga ditambah sepotong kue dan juga cokelat panas Barista dengan marshmallow yang mengapung-apung di atasnya. Si cokelat kehilangan dua potong temannya setelah beberapa menit di dalam mini market itu, yang tersisa tinggal lah bungkusnya. Kasihan dia, sendirian. Kuajak saja dia menikmati dinginnya angin danau di malam hari.

Bersama segelas cokelat, tubuh ini duduk di sebuah kayu panjang tepat menghadap danau. Dan dimulailah parade random thought. Pikiran-pikiran acak bermunculan. Berlari-lari di kepala. Menari-nari sesuka hati. Timbul lalu tenggelam. Andaikan pena imajinasi menuliskannya, mungkin sebuah novel “Angan dan Harapan Seorang Jaya” dengan seketika terbit di malam itu juga. Dukungan kelap-kelip ribuan bintang di angkasa membuatnya semakin menggila dan menjadi-jadi. Ditambah lagi rangsangan dari cahaya Sang Rembulan yang juga sangat cantik malam itu, walaupun bukan purnama. Suasana di tepi danau di malam itu memang paling cocok guna mengumbar mimpi di kala tersadar, sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Satu kata, sempurna. Kontemplasi kah itu namanya? Atau bengong lebih tepatnya? Muhasabah sedikit banyaknya.

Seperempat abad bukan lah waktu yang lama ketika kita telah melaluinya. Setidaknya, menurutku begitu. Bill Gates sedang semangat-semangatnya membesarkan bisnisnya di seperempat abadnya. Begitu juga sang rival Steve Jobs yang terus mengembangkan Apple-nya yang telah dibentuk empat tahun sebelum seperempat abadnya. Duet Larry Page dan Sergey Brin mendirikan bisnis raksasa Google di umur peraknya. Masih banyak lagi tentunya nama-nama hebat dengan segudang prestasi hebat yang telah dicapai di umurnya yang seperempat abad. Namun yang paling menjadi perhatianku adalah keteladanan Rasulullah di umur dua puluh lima. Manusia paling sempurna di dunia menyempurnakan separuh agamanya. 150% sempurna.

Wondering what will happen in my life for the next one year…

Saturday at 7-10 am (Taiwan Time)

Tuesday, May 19th, 2009

Stay tune di radionya anak bangsa, satu cinta, satu Indonesia… :)

Xi-Tou Trip

Monday, May 4th, 2009

Perjalanan di akhir minggu kemarin sedikit banyak membuat saya mengerti cara menikmati traveling di pulau yang kecil ini. Yang dulu kala bangsa Portugis menyebutnya Ilha Formosa atau Pulau yang Indah. Cuma satu resepnya, jangan over expectation. Jangan berharap sesuatu yang wow! atau yang wuih! Turunkan ekspektasi hingga pada level cukup bagus atau, cukup menarik. Karena hanya dengan cara itu traveling kita tidak akan terasa sia-sia. Mengapa? Dengan meminjam istilah dalam bahasa gaul, maka saya akan menyebutnya… lebay.

Tempat-tempat wisata di Taiwan bukannya tidak menarik. Beberapa bahkan sangat menarik seperti Taipei 101 dengan teknologi penahan gempanya, atau National Palace Museum yang menjadi saksi bisu cerita sejarah Cina. Namun kalau sudah bicara tentang wisata yang berhubungan dengan alam, bersiaplah untuk menerapkan resep saya di atas. Kecuali jika tujuannya untuk menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga, dan tidak menghiraukan tentang bagaimana keindahan yang ditawarkan oleh obyek wisata di tempat tujuan.

Sabtu kemarin rombongan NTU-ISIS dan NTU-FSA melakukan 2 days trip ke Xi-Tou/Chi-Tou/溪頭. Tujuan utamanya adalah “The National Taiwan University, College of Bioresources and Agriculture, Experimental Forest”. Hutan percobaan seluas 32.781 ha ini memanjang dari utara ke selatan. Sungai Chen-Yu-Lan membatasi bagian timurnya, sedangkan gunung Lin-Tou dan gunung Chang-Kong-Lun membatasi sebelah baratnya. Variasi ketinggiannya dibatasi oleh aliran sungai Chou-Shui pada 220 m di atas permukaan laut, sebagai batas bawahnya. Puncak gunung Morrisin (YuShan) pada ketinggian 3.952 m menjadi batas tertinggi Experimental Forest tersebut.

Banyak site-site yang mereka tawarkan untuk dinikmati keindahannya. Sayangnya karena keterbatasan waktu, maka hanya ekspedisi kunang-kunang di malam hari, giant tree yang berumur lebih dari 3000 tahun, bamboo cottage, dan university pond yang sempat dijelajahi.

the giant (dying) tree

the giant (dying) tree

Merendahkan Diri Meningkatkan Mutu

Thursday, April 23rd, 2009

“Ah merendah meningkatkan mutu…” (AR, 2009)

“Merendahkan diri meninggikan mutu ya…” (TY, 2009)

Dua cuplikan kalimat yang ditujukan ke saya saat chatting itu teringat waktu membaca salah satu artikel di website tentang si raja tanah liat bertangan kidal, Rafael Nadal. Setahun yang lalu anak muda kelahiran Mallorca (Spanyol) ini berhasil menyingkirkan pemain favorit saya selama 6 tahun terakhir ini dari kursi kebesarannya sebagai pemain tenis nomor wahid. Oke, mungkin sebagian kita (para fans Roger Federer) berdalih bahwa ini adalah masalah umur yang berujung pada ketahanan fisik. Tapi hei (sanggah fans Nadal), bukankah lebih tua berarti lebih berpengalaman? Lebih banyak makan asam garam. Yang pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa dua masalah ini -fisik dan pengalaman- tentulah bukan akar penyebabnya.

Perlu diakui memang kalau Federer sudah tidak muda lagi, 28 tahun dan sekarang sedang berproses menjadi seorang suami sekaligus seorang calon ayah. Maksudnya, saya sedang mencari kambing hitam atas menurunnya prestasi Federer selama 1,5 tahun terakhir ini. Memulai atau merintis sebuah keluarga berarti akan mengesampingkan karir, sedikit banyak. Kim Clijsters bahkan gantung raket setelah memutuskan untuk menikah. Walaupun ada juga yang sudah menikah namun prestasinya juga masih oke di masanya seperti Justin-Henin, Lindsay Davenport, atau Andre Agassi yang menjadi suami Steffi Graf. Sedangkan Rafa, dengan statusnya yang masih lajang, dia tidak terbebani dengan urusan lain selain fokus dengan profesinya sebagai pemukul bola tenis. Kesimpulan saya sampai poin ini adalah konsentrasi. Konsentrasi Federer tidak lagi terfokus pada tenis, dan Nadal memanfaatkan momen tersebut.

Jika pecahnya konsentrasi Federer juga bukan penyebabnya, lalu apa? Skill? Tidak mungkin. Federer sudah memenangi 13 Grand Slam selain French Open, sedangkan Nadal telah membawa pulang Grand Slam di semua jenis lapangan kecuali di US Open, jadi anggap lah skill keduanya seimbang. Walaupun saya lebih suka one-handed-backhand milik Roger, dan masih cenderung beranggapan bahwa skill Federer lebih komplit dengan pukulan slice-nya dan penempatan-penempatan service-nya yang brilian. Namun begitu, Rafa punya penangkalnya. Pukulan-pukulan yang powerful ditambah determinasi tinggi untuk mengejar bola di setiap sudut lapangan adalah jawaban bagi setiap penantangnya.

Karena begitulah permainan tenis, selama kita masih bisa mengembalikan bola maka saat itulah kita bisa berharap untuk survive dan menang. Rafa membuktikan itu dengan permainannya menuju nomor satu dunia. Seperti kejadian menarik di Rotterdam kemarin ketika menghadapi Andy Murray di final. Kala itu di awal-awal set kedua Rafa mengalami cedera. Bukannya memutuskan untuk mundur, dia malah nekad maju dengan terpincang-pincang. Pergerakannya menjadi terbatas, namum anehnya ia bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah sebelumnya tertinggal satu set. Walaupun akhirnya di set ketiga Rafa benar-benar dihabisi dengan diberikan skor telur oleh Murray. Mungkin karena cedera kaki Rafa semakin parah. Di akhir pertandingan, Murray bergurau, “bahkan dengan kondisi cedera, dia bisa mengalahkanku.”

Lalu apa hubungannya ini semua dengan dua petikan kalimat di atas? Baiklah, ini mengenai sisi lain Rafa. Masih ingat dalam memory saya ketika saat itu untuk ke sekian kalinya Rafa menaklukkan Federer (Australia Open 2009), kata-kata yang muncul dari seorang juara saat itu adalah sanjungan kepada rivalnya. You are still the great player. Dan dia tidak pernah memuji dirinya sendiri dengan mengatakan dia lebih baik daripada lawannya. Atau yang terbaru ini saat dia memenangkan Monte Carlo Masters (lapangan tanah liat) untuk kali kelima secara berturut-turut, ketika ia merendah bahwa juara di sana bukan jaminan untuk kembali menggondol Grand Slam di Perancis tanggal 24 Mei – 7 Juni nanti, padahal seperti kita tahu, dialah juara French Open 4 kali berturut-turut.

Ya, seperti itulah Rafa di setiap komentar-komentar yang dia berikan pada pers, selalu merendah, tidak besar kepala. Ini juara yang unik. Menurut saya, juara sejati. Padahal seorang juara kan harusnya punya rasa percaya diri tinggi. Paling tidak untuk memupuk mental bertanding. Membuat sugesti bahwa dia bisa mengalahkan lawannya atau bahkan menakut-nakuti dan mengintimidasi untuk membuat lawan jiper duluan. Buktinya, kita bisa mencontoh dua manajer klub papan atas liga Inggris yang terus menerus adu  argumen seiring persaingan merebut gelar juara Liga Premier. Saling merasa superior dibanding yang lain. Di lain pihak, yang bekerja anak buahnya. Atau, komentar para petinju yang akan naik ring. Mana ada yang merendahkan dirinya?

So, ini kesimpulan terakhir saya. Sisi rendah hati Rafa lah yang menjadikan prestasinya terus meningkat. Merendah, “mengecilkan kepala”. Dan meningkatnya mutu dan prestasi hanya lah efek samping, bukan tujuan dari merendah itu sendiri. Kelihatannya nggak nyambung ya? Tapi mungkin ini yang namanya keseimbangan. Ada ilmu padi, maka ada pula kebalikannya. Semakin merunduk semakin berisi.

Tentang LongGang & Makanan

Monday, April 13th, 2009
Masjid Longgang

Masjid Longgang

Ternyata ajang pameran foto-foto di blog membuahkan hasil juga. Bukan, bukan penghargaan ataupun hadiah yang saya hasilkan, melainkan foto-foto tersebut cukup mampu mengelabui seorang teman untuk berpikiran bahwa saya bisa moto. Sehingga untuk ketiga kalinya, fotografer gadungan ini berjodoh lagi dengan Long-gang, dan masjidnya. Dan dengan status ke-gadungan-nya itu maka imbalan yang diterima bukanlah uang ribuan NT, ataupun barang berharga lainnya. Jaminan makan gratis selama kontrak sudah bisa membungkam mulut mahasiswa rantau ini untuk tidak minta macam-macam. Gratis, enak, dan halal, what more do you expect?

Berdasarkan pengalaman 3 kali kunjungan dalam sebulan, ketemulah julukan yang pas yang bisa saya berikan untuk Long-gang : “The number one provider of abundant free halal food, in Taiwan“. Entah kebetulan atau memang sudah rejeki saya yang berdiam di sana, hampir setiap kali ke masjid itu saya selalu bisa kembali ke Taipei dalam keadaan kenyang. Mungkin gurauan Pak ‘Presiden’ benar adanya, di sana kita harus tega untuk menolak kalau tidak ingin mati kekenyangan. Sekilas ke belakang, kunjungan pertama disuguhi : soto ayam, lontong tahu with saus kacang, bubur ayam, dan nasi+sayur+telur balado. Kunjungan kedua seminggu yang lalu tidak kalah berkesan, saya kurang paham mengenai asal muasal masakan, namun cita rasa masakannya seperti khas masakan Thailand-Taiwan. Sedangkan kunjungan minggu ini lebih wow lagi…

Walaupun hanya jadi bagian dari seksi dokumentasi tidak resmi, ada privilege khusus yang diberikan oleh si manajer acara. Yang mana akhirnya, tibalah juga kesempatan untuk mencicipi hidangan di salah satu restoran halal di daerah Long-gang. Plus, berbincang-bincang dengan Hadad Alwi beserta kru-nya. Santap malam yang mengesankan, dan mengenyangkan. Sarapan paginya juga bukan sarapan biasa. Seorang dermawan asal Pakistan yang menikah dengan orang Indonesia, menyumbangkan roti prata yang menjadi menu pagi itu ditemani dengan teh susu, keduanya menu khas India. Ditambah telur dadar plus sambel pecel, jadi lah roti prata dengan sensasi Indonesia. So, supaya benar-benar seperti di tanah air, setelah menu utama habis, tanpa ragu-ragu dilanjutkan dengan nasi pecel pakai telur dadar.

Saya kira 1 dari 2000 nasi box yang sudah disiapkan panitia semalam akan mampir ke tangan dan menjadi akhir penutup wisata kuliner minggu ini. Tapi ternyata takdir berkata lain. Di tengah kesibukan kerja di siang itu, BTS terdekat mengirimkan pesan singkat ke handphone saya : ‘J mau burger plus kentang g? Murid gw ad yg ultah niy :D‘. Dengan sigap pesan dibalas, tanda persetujuan. Kalau saja SMS itu masuk untuk kedua kalinya, rasanya jawaban yang dikirim akan berbeda : ‘Kalo burger n kentangnya diganti nasi Padang bisa nggak?’ Karena memang nasi Padang di daerah Taoyuan sana sudah menjadi sasaran yang belum sempat dijajal. (Lagi menunggu SMS : ‘J mau duren gak?’)

Bagaikan gula dan semut,
ibarat rumput dan ilalang,
seperti pasar dan keramaian,
begitu lah adanya Long-gang dan makanan…