3 Minggu

Lirikan sapi IPB

Lirikan sapi IPB

Kasihan bener blog ini… blog semata wayang yang jarang dibelai sama yang punya. Mentang-mentang lagi asik sama blog tetangga. Banyak yang mau diomongin sebenernya, namun suka ditunda-tunda. Jadi deh, cuma tertimbun dalam pikiran dan angan-angan… Pelan tapi pasti, hilang begitu saja dari kepala. Aha, mumpung lagi muncul sedikit nih, dan lagi sempat, tulis sekarang ah… Halah, pengen ngemeng ape sih lo Jay??? Aku mau ngomong pengalaman liburan yang cuma 3 minggu itu…

Mungkin 3 minggu adalah waktu yang terlalu lama bagi sebuah keluarga baru yang sedang menunggu anak pertamanya yang akan lahir. Terlalu lama bagi sepasang kekasih yang sedang menunggu untuk segera beranjak ke pelaminan pada hari yang telah ditentukan. Terlalu lama bagi seorang perantau yang sedang menunggu untuk kembali ke kampung halaman. Terlalu lama bagi seorang tahanan yang sedang menunggu untuk segera dibebaskan. Atau terlalu lama bagi seorang anak kecil menunggu kedatangan ayahnya dari luar negeri yang berjanji membelikan oleh-oleh untuknya.

Namun, 3 minggu juga bisa terlalu cepat. Terlalu cepat bagi seorang mahasiswa yang sedang mempersiapkan ujian thesisnya. Terlalu cepat bagi seorang mahasiswa yang merantau yang sedang menikmati liburannya di tanah air. Terlalu cepat bagi seorang anak SMP yang sedang berlibur ke Australia. Terlalu cepat bagi seorang dosen yang sedang study tour ke Jepang untuk mempersiapkan S3-nya di sana, sehingga nggak sempat shopping berlama-lama. Atau terlalu cepat bagi hamba Allah yang sedang menikmati keindahan dan kenikmatan bulan Ramadhan, takut Ramadhan ini segera berakhir.

Aneh ya? Sama2 tiga minggu, sama2 dua puluh satu hari. Tapi kenapa bisa terasa cepat atau terasa lambat? Hmmm… mungkin 2 hal inilah yang membedakan mengapa waktu bisa begitu relatif, menunggu atau tidak menunggu. Menunggu membuat waktu berjalan seperti siput, pelaaan… lambaaaaat… seperti ogah maju. Menunggu semenit terasa sejam. Menunggu sedetik terasa terasa setahun. Itu lah menunggu. Berkebalikan 180 derajat dengan ketika kita tidak sedang menunggu, atau ketika kita berharap agar sang waktu tidak datang dengan segera. Contoh paling real adalah ketika dikejar deadline. Atau ketika kita punya planning seabrek-abrek. Satu hari bagaikan satu jam. Satu minggu bagaikan sekedipan mata.

So, gimana kemarin 3 minggu di Indonesia? Kurang? Lebih? Atau cukup? Yah, dicukup-cukupin lah. Walaupun sebenarnya memang cukup. Cukup untuk berkumpul dengan keluarga. Cukup untuk mengenal sahabat baru dengan sedikit lebih dalam. Cukup untuk bolak-balik Jakarta-Bogor dan bertemu mahasiswi2 IPB yang manis2. Cukup untuk pulang kampung lebih awal ke Boyolali dan bertemu keluarga besar, kakek-nenek, sepupu2, om2 dan bulik2. Cukup untuk mengurus SIM dan KTP yang raib. Cukup untuk bermain-main dengan kamera dan menambah koleksi lensa. Cukup untuk memenuhi janji lama. Cukup untuk kena tegur Bapak gara2 thesis yang progress-nya lambat. Tapi setelah cerita kalau 2 temenku yang sudah lulus, dan berbarengan ketika masuk NTU, adalah para laki2 beristri, sepertinya Bapak jadi sedikit memaklumi…

Eh, tapi kok rasanya belum cukup ya…??? Masih ada unfinished business di sana. Masih belum cukup untuk menunggu kapan kepastian kaos kru radioppidunia bisa diambil. Masih belum cukup untuk bertemu teman2 lama. Masih ada janji yang belum dipenuhi. Dan masih belum cukup untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan…

7 Responses to “3 Minggu”

  1. ratna Says:

    JAYACHIMARUUUUUU !!!!!……………>:p

  2. dhien Says:

    sampe sampe Sapi pun melirik dirimu ya Jayyy,….

  3. ervin Says:

    OOT: kapan2 pinjem manuale po’o, tak copy :d
    hiks…mosok ngandelin tombol (?) ndik cam tok :(
    :) suwun :)

  4. dzaia-bs Says:

    ya? ada apa mbak Ratnaruti…?? :D

  5. dzaia-bs Says:

    sapinya lagi jaim tu mbak, sok2 gak pengen difoto…
    kok, nggak sesuai sama Fakultas Ilmu Narsis dan Tebar Pesona ya…?
    beda banget sama sampeyan… :P

  6. dzaia-bs Says:

    siaaap… tapi kapan kapan2nya itu?

  7. blog.dzaia-bs.com » Blog Archive » Ramadhan Tahun Ini Says:

    [...] Setahun kemarin, Ramadhan-ku separuh awal di Indonesia, sehari di Malaysia, dan separuh akhirnya di Taiwan. Mushola di depan rumah yang baru saja rampung, menjadi tempat salat tarawih yang baru. Walaupun tempatnya kecil, tapi cukup nyaman. Kalau pun kehabisan tempat di dalam, tinggal ambil karpet dari rumah dan digelar di pelataran mushola. Di pertengahan Ramadhan saat itu, aku kembali ke Taiwan sambil mampir 2 hari 1 malam di Malaysia. Pertama kali naik AirAsia ke Malaysia, sampai2 salah terminal waktu berangkat. Sangkanya setiap penerbangan AirAsia akan lewat terminal 3, si terminal baru itu. Tapi ternyata setiap penerbangan internasional apapun maskapainya masih tetap lewat terminal 2-D. Puasa di Malaysia mirip2 di Indonesia, beberapa restoran menutup jendelanya dengan gorden, walaupun ada juga yang tidak. Kembali ke Taiwan, kembali mengulang lagi rutinitas puasa tahunan di Taiwan: sahur sendiri, buka puasa dan tarawih di masjid, dan tidak lupa sesekali ikutan tim cuci piring. Hingga akhirnya raihan prestasi Bang Toyib yang 3 kali Lebaran nggak pulang2 berhasil kusamai. [...]

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( :d/ :x 8-| /:) :o :-? :-^" :-w ;) [-( :)>- more »

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word