Tentang LongGang & Makanan

Monday, April 13th 2009
Masjid Longgang

Masjid Longgang

Ternyata ajang pameran foto-foto di blog membuahkan hasil juga. Bukan, bukan penghargaan ataupun hadiah yang saya hasilkan, melainkan foto-foto tersebut cukup mampu mengelabui seorang teman untuk berpikiran bahwa saya bisa moto. Sehingga untuk ketiga kalinya, fotografer gadungan ini berjodoh lagi dengan Long-gang, dan masjidnya. Dan dengan status ke-gadungan-nya itu maka imbalan yang diterima bukanlah uang ribuan NT, ataupun barang berharga lainnya. Jaminan makan gratis selama kontrak sudah bisa membungkam mulut mahasiswa rantau ini untuk tidak minta macam-macam. Gratis, enak, dan halal, what more do you expect?

Berdasarkan pengalaman 3 kali kunjungan dalam sebulan, ketemulah julukan yang pas yang bisa saya berikan untuk Long-gang : “The number one provider of abundant free halal food, in Taiwan“. Entah kebetulan atau memang sudah rejeki saya yang berdiam di sana, hampir setiap kali ke masjid itu saya selalu bisa kembali ke Taipei dalam keadaan kenyang. Mungkin gurauan Pak ‘Presiden’ benar adanya, di sana kita harus tega untuk menolak kalau tidak ingin mati kekenyangan. Sekilas ke belakang, kunjungan pertama disuguhi : soto ayam, lontong tahu with saus kacang, bubur ayam, dan nasi+sayur+telur balado. Kunjungan kedua seminggu yang lalu tidak kalah berkesan, saya kurang paham mengenai asal muasal masakan, namun cita rasa masakannya seperti khas masakan Thailand-Taiwan. Sedangkan kunjungan minggu ini lebih wow lagi…

Walaupun hanya jadi bagian dari seksi dokumentasi tidak resmi, ada privilege khusus yang diberikan oleh si manajer acara. Yang mana akhirnya, tibalah juga kesempatan untuk mencicipi hidangan di salah satu restoran halal di daerah Long-gang. Plus, berbincang-bincang dengan Hadad Alwi beserta kru-nya. Santap malam yang mengesankan, dan mengenyangkan. Sarapan paginya juga bukan sarapan biasa. Seorang dermawan asal Pakistan yang menikah dengan orang Indonesia, menyumbangkan roti prata yang menjadi menu pagi itu ditemani dengan teh susu, keduanya menu khas India. Ditambah telur dadar plus sambel pecel, jadi lah roti prata dengan sensasi Indonesia. So, supaya benar-benar seperti di tanah air, setelah menu utama habis, tanpa ragu-ragu dilanjutkan dengan nasi pecel pakai telur dadar.

Saya kira 1 dari 2000 nasi box yang sudah disiapkan panitia semalam akan mampir ke tangan dan menjadi akhir penutup wisata kuliner minggu ini. Tapi ternyata takdir berkata lain. Di tengah kesibukan kerja di siang itu, BTS terdekat mengirimkan pesan singkat ke handphone saya : ‘J mau burger plus kentang g? Murid gw ad yg ultah niy :D‘. Dengan sigap pesan dibalas, tanda persetujuan. Kalau saja SMS itu masuk untuk kedua kalinya, rasanya jawaban yang dikirim akan berbeda : ‘Kalo burger n kentangnya diganti nasi Padang bisa nggak?’ Karena memang nasi Padang di daerah Taoyuan sana sudah menjadi sasaran yang belum sempat dijajal. (Lagi menunggu SMS : ‘J mau duren gak?’)

Bagaikan gula dan semut,
ibarat rumput dan ilalang,
seperti pasar dan keramaian,
begitu lah adanya Long-gang dan makanan…

Tags: