Archive for April, 2009

Merendahkan Diri Meningkatkan Mutu

Thursday, April 23rd, 2009

“Ah merendah meningkatkan mutu…” (AR, 2009)

“Merendahkan diri meninggikan mutu ya…” (TY, 2009)

Dua cuplikan kalimat yang ditujukan ke saya saat chatting itu teringat waktu membaca salah satu artikel di website tentang si raja tanah liat bertangan kidal, Rafael Nadal. Setahun yang lalu anak muda kelahiran Mallorca (Spanyol) ini berhasil menyingkirkan pemain favorit saya selama 6 tahun terakhir ini dari kursi kebesarannya sebagai pemain tenis nomor wahid. Oke, mungkin sebagian kita (para fans Roger Federer) berdalih bahwa ini adalah masalah umur yang berujung pada ketahanan fisik. Tapi hei (sanggah fans Nadal), bukankah lebih tua berarti lebih berpengalaman? Lebih banyak makan asam garam. Yang pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa dua masalah ini -fisik dan pengalaman- tentulah bukan akar penyebabnya.

Perlu diakui memang kalau Federer sudah tidak muda lagi, 28 tahun dan sekarang sedang berproses menjadi seorang suami sekaligus seorang calon ayah. Maksudnya, saya sedang mencari kambing hitam atas menurunnya prestasi Federer selama 1,5 tahun terakhir ini. Memulai atau merintis sebuah keluarga berarti akan mengesampingkan karir, sedikit banyak. Kim Clijsters bahkan gantung raket setelah memutuskan untuk menikah. Walaupun ada juga yang sudah menikah namun prestasinya juga masih oke di masanya seperti Justin-Henin, Lindsay Davenport, atau Andre Agassi yang menjadi suami Steffi Graf. Sedangkan Rafa, dengan statusnya yang masih lajang, dia tidak terbebani dengan urusan lain selain fokus dengan profesinya sebagai pemukul bola tenis. Kesimpulan saya sampai poin ini adalah konsentrasi. Konsentrasi Federer tidak lagi terfokus pada tenis, dan Nadal memanfaatkan momen tersebut.

Jika pecahnya konsentrasi Federer juga bukan penyebabnya, lalu apa? Skill? Tidak mungkin. Federer sudah memenangi 13 Grand Slam selain French Open, sedangkan Nadal telah membawa pulang Grand Slam di semua jenis lapangan kecuali di US Open, jadi anggap lah skill keduanya seimbang. Walaupun saya lebih suka one-handed-backhand milik Roger, dan masih cenderung beranggapan bahwa skill Federer lebih komplit dengan pukulan slice-nya dan penempatan-penempatan service-nya yang brilian. Namun begitu, Rafa punya penangkalnya. Pukulan-pukulan yang powerful ditambah determinasi tinggi untuk mengejar bola di setiap sudut lapangan adalah jawaban bagi setiap penantangnya.

Karena begitulah permainan tenis, selama kita masih bisa mengembalikan bola maka saat itulah kita bisa berharap untuk survive dan menang. Rafa membuktikan itu dengan permainannya menuju nomor satu dunia. Seperti kejadian menarik di Rotterdam kemarin ketika menghadapi Andy Murray di final. Kala itu di awal-awal set kedua Rafa mengalami cedera. Bukannya memutuskan untuk mundur, dia malah nekad maju dengan terpincang-pincang. Pergerakannya menjadi terbatas, namum anehnya ia bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah sebelumnya tertinggal satu set. Walaupun akhirnya di set ketiga Rafa benar-benar dihabisi dengan diberikan skor telur oleh Murray. Mungkin karena cedera kaki Rafa semakin parah. Di akhir pertandingan, Murray bergurau, “bahkan dengan kondisi cedera, dia bisa mengalahkanku.”

Lalu apa hubungannya ini semua dengan dua petikan kalimat di atas? Baiklah, ini mengenai sisi lain Rafa. Masih ingat dalam memory saya ketika saat itu untuk ke sekian kalinya Rafa menaklukkan Federer (Australia Open 2009), kata-kata yang muncul dari seorang juara saat itu adalah sanjungan kepada rivalnya. You are still the great player. Dan dia tidak pernah memuji dirinya sendiri dengan mengatakan dia lebih baik daripada lawannya. Atau yang terbaru ini saat dia memenangkan Monte Carlo Masters (lapangan tanah liat) untuk kali kelima secara berturut-turut, ketika ia merendah bahwa juara di sana bukan jaminan untuk kembali menggondol Grand Slam di Perancis tanggal 24 Mei – 7 Juni nanti, padahal seperti kita tahu, dialah juara French Open 4 kali berturut-turut.

Ya, seperti itulah Rafa di setiap komentar-komentar yang dia berikan pada pers, selalu merendah, tidak besar kepala. Ini juara yang unik. Menurut saya, juara sejati. Padahal seorang juara kan harusnya punya rasa percaya diri tinggi. Paling tidak untuk memupuk mental bertanding. Membuat sugesti bahwa dia bisa mengalahkan lawannya atau bahkan menakut-nakuti dan mengintimidasi untuk membuat lawan jiper duluan. Buktinya, kita bisa mencontoh dua manajer klub papan atas liga Inggris yang terus menerus adu  argumen seiring persaingan merebut gelar juara Liga Premier. Saling merasa superior dibanding yang lain. Di lain pihak, yang bekerja anak buahnya. Atau, komentar para petinju yang akan naik ring. Mana ada yang merendahkan dirinya?

So, ini kesimpulan terakhir saya. Sisi rendah hati Rafa lah yang menjadikan prestasinya terus meningkat. Merendah, “mengecilkan kepala”. Dan meningkatnya mutu dan prestasi hanya lah efek samping, bukan tujuan dari merendah itu sendiri. Kelihatannya nggak nyambung ya? Tapi mungkin ini yang namanya keseimbangan. Ada ilmu padi, maka ada pula kebalikannya. Semakin merunduk semakin berisi.

Tentang LongGang & Makanan

Monday, April 13th, 2009
Masjid Longgang

Masjid Longgang

Ternyata ajang pameran foto-foto di blog membuahkan hasil juga. Bukan, bukan penghargaan ataupun hadiah yang saya hasilkan, melainkan foto-foto tersebut cukup mampu mengelabui seorang teman untuk berpikiran bahwa saya bisa moto. Sehingga untuk ketiga kalinya, fotografer gadungan ini berjodoh lagi dengan Long-gang, dan masjidnya. Dan dengan status ke-gadungan-nya itu maka imbalan yang diterima bukanlah uang ribuan NT, ataupun barang berharga lainnya. Jaminan makan gratis selama kontrak sudah bisa membungkam mulut mahasiswa rantau ini untuk tidak minta macam-macam. Gratis, enak, dan halal, what more do you expect?

Berdasarkan pengalaman 3 kali kunjungan dalam sebulan, ketemulah julukan yang pas yang bisa saya berikan untuk Long-gang : “The number one provider of abundant free halal food, in Taiwan“. Entah kebetulan atau memang sudah rejeki saya yang berdiam di sana, hampir setiap kali ke masjid itu saya selalu bisa kembali ke Taipei dalam keadaan kenyang. Mungkin gurauan Pak ‘Presiden’ benar adanya, di sana kita harus tega untuk menolak kalau tidak ingin mati kekenyangan. Sekilas ke belakang, kunjungan pertama disuguhi : soto ayam, lontong tahu with saus kacang, bubur ayam, dan nasi+sayur+telur balado. Kunjungan kedua seminggu yang lalu tidak kalah berkesan, saya kurang paham mengenai asal muasal masakan, namun cita rasa masakannya seperti khas masakan Thailand-Taiwan. Sedangkan kunjungan minggu ini lebih wow lagi…

Walaupun hanya jadi bagian dari seksi dokumentasi tidak resmi, ada privilege khusus yang diberikan oleh si manajer acara. Yang mana akhirnya, tibalah juga kesempatan untuk mencicipi hidangan di salah satu restoran halal di daerah Long-gang. Plus, berbincang-bincang dengan Hadad Alwi beserta kru-nya. Santap malam yang mengesankan, dan mengenyangkan. Sarapan paginya juga bukan sarapan biasa. Seorang dermawan asal Pakistan yang menikah dengan orang Indonesia, menyumbangkan roti prata yang menjadi menu pagi itu ditemani dengan teh susu, keduanya menu khas India. Ditambah telur dadar plus sambel pecel, jadi lah roti prata dengan sensasi Indonesia. So, supaya benar-benar seperti di tanah air, setelah menu utama habis, tanpa ragu-ragu dilanjutkan dengan nasi pecel pakai telur dadar.

Saya kira 1 dari 2000 nasi box yang sudah disiapkan panitia semalam akan mampir ke tangan dan menjadi akhir penutup wisata kuliner minggu ini. Tapi ternyata takdir berkata lain. Di tengah kesibukan kerja di siang itu, BTS terdekat mengirimkan pesan singkat ke handphone saya : ‘J mau burger plus kentang g? Murid gw ad yg ultah niy :D‘. Dengan sigap pesan dibalas, tanda persetujuan. Kalau saja SMS itu masuk untuk kedua kalinya, rasanya jawaban yang dikirim akan berbeda : ‘Kalo burger n kentangnya diganti nasi Padang bisa nggak?’ Karena memang nasi Padang di daerah Taoyuan sana sudah menjadi sasaran yang belum sempat dijajal. (Lagi menunggu SMS : ‘J mau duren gak?’)

Bagaikan gula dan semut,
ibarat rumput dan ilalang,
seperti pasar dan keramaian,
begitu lah adanya Long-gang dan makanan…

Second Visit at Long-Gang Masjid

Sunday, April 5th, 2009

Lagi, sekali lagi dalam 2 minggu terakhir ini, Masjid LongGang membuka pintunya lebar-lebar untuk memuliakan tamunya yang datang berkunjung di hari itu. Seperti dua minggu yang lalu ketika masjid ini menjadi tuan rumah yang baik untuk kegiatan tahunan Formmit. Sedangkan kali ini, menurut berita dari Bu Guru yang menelantarkan murid-muridnya yang harus tampil pada acara itu, akan ada perayaan Maulid Nabi di sana. Beberapa tamu undangannya berasal dari Taipei, Taichung, dan Kaohsiung. Dan saya, adalah tamu yang datangnya tak diundang, pulangnya tak diantar.

Gerbang Masjid LongGang

Namun begitu, cukup lah berita makan-makan gratis dan shalawat-an anak-anak Taiwan yang lucu dan menggemaskan, memantapkan langkah untuk meninggalkan hangatnya belaian selimut di peraduan, di hari minggu pagi yang dingin. Beberapa menit menuju pukul 10 pagi, bus 112 mengantarku tepat ke pintu gerbang masjid itu, setelah sebelumnya kereta express atau semi-express membawaku dari Taipei menuju ChungLi selama 40 menit. Capek, hampir setengah perjalanan harus berdiri karena tiket yang kubeli adalah tiket untuk local train.

Sesampainya di sana, persiapan sudah hampir selesai. Meja-meja sudah tertata, bazarnya sudah siap ‘buka warung’, anak-anak kecil bersiap-siap dengan kerudung-kerudungnya dan peci-pecinya, tinggal para ‘ahli dapur’ yang masih terlihat sibuk dengan urusannya. Di dekat pintu masuk, beberapa saudari kita dari Indonesia mempersiapkan barang jualannya berupa pakaian muslim, kerudung, dan peci.

Mbak-mbak dari Indonesia ikut menyemarakkan Bazar

Mbak-mbak dari Indonesia ikut menyemarakkan Bazar

Wajah yang pernah kukenal bersama dua temannya yang berparas timur tengah, datang beberapa menit setelahku. Burhan, yang ternyata orang Turki, meminta tolong kepadaku untuk mengambil foto mereka bertiga di depan background panggung ‘Islamic Unite’. Dan akhirnya kami pun berkenalan. Orang yang pernah kulihat wajahnya itu ternyata juga ingat aku, Faiz namanya, dari Thailand. Kami bertemu di Taipei Grand Masjid ketika Hari Raya Idul Adha yang lalu. Satu lagi adalah Umuz, juga orang Turki. Ketiganya kuliah di Taichung, di Asia University. Tidak lama setelah itu, acara pun di mulai pada pukul 10.30.

Full team

Full team

Variasi ekspresi sebelum mulai

Variasi ekspresi sebelum mulai

Selain bershalawat mereka juga membacakan beberapa surah dari Juz Amma

Selain bershalawat mereka juga membacakan beberapa surah dari Juz Amma

Tetap semangat walau tanpa Bu Guru-nya hilang satu...

Tetap semangat walau Bu Guru-nya hilang satu...

Lagi khusyuk...

Yang depan lagi khusyuk...

Islamic unite, itu lah yang kami inginkan

Islamic unite, that is what we want

Ceramah oleh Imam Masjid LongGang

Ceramah oleh Imam Masjid LongGang

Ceramah oleh Imam Masjid KaohSiung

Ceramah oleh Imam Masjid KaohSiung

Diselingi break salat Dzuhur, tibalah juga pada puncak acara…

Acara utama

Acara utama : ikan, ayam, daging, nyaaam nyaaaaaam...

Faiz diceritakan oleh temannya yang orang lokal kalau di sekitar Masjid ini lah komunitas terbesar umat Islam lokal di Taiwan, dia menceritakannya kembali padaku. Dan sebagai konsekuensi dari besarnya komunitas, maka menurutnya banyak juga gadis-gadis muslimah yang cantik yang bisa ditemui di sana, katanya. Ternyata itu toh sebabnya Ratno betah tiap minggu ke Masjid. Pantesan, pertanyaannya waktu tadi pertama ketemu, ‘Hunting foto apa hunting jodoh, Jay?’

Dua-duanya… :d

The Books and Its Influence

Thursday, April 2nd, 2009

In the opening chapter of Malcolm Gladwell’s book which is titled Outliers -the story of success-, there is a story about the Rosetans (people of Roseto, Pennsylvania). Malcolm tried to lead the readers to understand more about the meaning of Outliers by using the story of Roseto. There is a reason behind, it is because uncommon things were happened with the people which were living in there. Which was, the Rosetans were dying because of old age. That’s it.

Maybe now you can say that the people dying of old age is a common thing, but looking back to 1950s when the statistical fact said that most American were dying because of heart attack. And it was rare to find the Rosetan dying because of it. It was also hard to find an old people (above 55) in Roseto which had signs and indications of heart disease. Stewart Wolf, a physician, had tried many predictions and any kind of possibilities to find the answer about why this anomaly was happened. His research found a dead end when gene, food and and any other theories could not explain this Rosetan’s phenomenon. Until he realized that the magical things is the Roseto itself. So, what were they doing?

In a short saying, they were living their life. Compared to modern life style, their life is kind of unique. From grandparent to grandchild living under one roof. They would stop and chat while they met each other. Cooking together and sharing each other in their backyards. Visiting their neighbors and relatives. And many activities that could strengthen their bond. Nobody feels that they live for their own. Muslim have known this as silaturahim, or ukhuwah.

After read that book, I felt lucky when I did not have any freedom to cook in my room anymore. Thus, I can visit my friend place to spend my weekend for certain times. And for certain purposes. We’re cooking together (we cooked siomay last week, and gado2 three weeks ago), talked about anything, made jokes, learned how to play bridge, and so on that could aside us from our daily routines. Or, took a short vacation or a trip with some friends which was covered by “hunting” purpose. So, do not feel curious if, lately, my posts contain of “jalan-jalan” report (although in some reports I did it alone).

Another book which gave influence to me is Dale Carnegie’s book, as I reviewed before. Do not know why, after read that book I’d like to rethink what I have written when I chat with someone, either when I wrote an email. Sometimes I tried to place myself into his/her position. I imagined whether this word or sentence will suit to him/her or not. I am just trying not to do the wrong things to anyone I interact with. Even maybe I could be careless, I was not meant to do that. Another side of this book that I ever read its comment said, it guides you to be another person. But in my opinion, as long it guides us to become better and better, why not?

I’d like to analyze and guessing the character of the people around me as a result of reading Personality Plus. And what I could learned from this book is, we can be somebody else by imitating the personality which is not belong to us. Even somehow it is hard to be done. Another lesson that I absorbed, we can treat people in a proper way when we know their personality.

The Google Success Story book also has influence on me. Since the founding fathers of Google studied in Stanford University, even though it seems almost impossible for me to reach the university, my desire to follow their steps are becoming stronger and stronger. Do not see the result right? See the process (self-defense statement). Actually the trigger why I want to go there is not that book and the story inside, it was my grandteacher, the Maha Guru Berkemeja Putih.

Last but not least, Kelik Pelipurlara’s book which is titled Plesetan Republik Indonesia. Kelik is the master of plesetan (help me find the proper English for this word), and I was honored to become his apprentice by studying his book. Children love plesetan, I also did (or do?). Climb its 4 or 5 tiny ladder-step, take a sit position while straighten two legs, take a deep breath, then… mleset! (krik… krik… krik… I wonder you know what I mean).

Well, that is a few books of mine which somewhat has given a little impact into my life. How about you?