Amir dan Hassan
Hassan : What’s the story about?
Amir : It’s about a man who finds a magic cup. And he learns that if he weeps into the cup, his tears turn to pearls. He’s very poor, you know? And, at the end of the story, he’s sitting on a mountain of pearls with a bloody knife in his hand and his dead wife in his arms.
Hassan : So he killed her?
Amir : Yes, Hassan.
Hassa : So that he’d cry and get rich.
Amir : Yes, you’re very quick. What?
Hassan : Nothing, Amir agha. Are you done with breakfast?
Amir : What?
Hassan : Well, will you permit me to ask a question about the story?
Amir : Of course.
Hassan : Why did the man have to kill his wife?
Amir : Because each of his tears becomes a pearl.
Hassan : Yes, but why couldn’t he just smell an onion?
*****
Hassan kecil, anak yang baik, walaupun dia bukan orang yang jujur. Setia, yang karena kesetiaannya kepada sahabatnya sekaligus saudaranya (Amir) menjadikan dia tidak jujur. Bodoh, tapi justru karena kebodohannya itu membuatnya lebih lapang hati. Amir kecil adalah storyteller yang genius, begitu kata Pamannya. Dia banyak membaca buku dan membuat cerita. Namun dari dialog di atas, saya pikir Hassan menang telak dari Amir. Tingginya tumpukan ide di kepala Amir dikalahkan oleh rendahnya hati Hassan.
Setelah Hassan diusir dari rumah Baba, saya jadi kehilangan selera tuk melanjutkan nonton. Tapi sudah kadung penasaran dengan pesan Pamannya Amir (Rahim Khan) di telepon, “There is a way to be good again, Amir.” Setelah selesai nonton, kok rasanya ingin protes ke Khaled Hosseini. Protes karena membuat karakter Hassan terlalu lemah hingga tidak bisa melawan Assef dan dua kawannya yang menjijikkan. Protes karena membuat karakter yang begitu polos dan berhati malaikat seperti Hassan. Dan protes karena telah membunuh karakter Hassan di bagian akhir novelnya dengan cara yang sangat tragis. Aaaaarrgh, kenapa orang baik harus berakhir seperti itu???
Gara-gara film ini, saya jadi harus merelakan uang 234 NT untuk sebuah novel yang saya beli kemarin.






Mozilla Firefox 3.0.5 Windows Vista
hah, baru baca?
gpp gpp…
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows Vista
Mozilla Firefox 1.0.4 Windows XP
waah…hi hi..gue blom baca or nonton pilemnya ‘malah Tan he he…
Mozilla Firefox 1.0.4 Windows XP
Internet Explorer 7.0 Windows XP
tengkiu jay spoilernya,,
berarti bukan termasuk buku yg dbaca ato film yg dtonton,,
drpd jd emosi jiwa kekekeke
Internet Explorer 7.0 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
belom baca kok tan…
baru nonton filmnya…
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
ternyata ada yg lebih ketinggalan dari gw…
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
lha qon, memang film atw novel yg bagus itu yg bisa bikin pemirsanya kebawa emosi…
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
iya harusnya..tp klo emosinya kebangetan ato kebanyakan drama aku males..
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows Vista
Pelem and novel ini nggak kebanyakan dramanya kok mbak,,, justru sangat realistis. dan karena itu juga sangat sukses mengaduk-aduk emosi pembacanya (pengalaman gw yg nangis mumbai pas nonton and bc niy pelem and novel),, qeqeqe
Btw drama disini maksudnya apa yah??
*pdhl dah komentar,, qeqeqe*
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows Vista
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Saya sudah baca bukunya, The Kite Runner, kan?
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
100 persen betul mbak, nggak salah lagi…
Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP