Met Albert Fert

Thursday, January 22nd 2009

Officially, liburan sudah tiba sejak awal minggu ini. Sejak email dari kampus mengumumkannya Jumat yang lalu. 19 Januari sampai 13 Februari, cuma 4 minggu. Bukan waktu yang lama. Walaupun, masih ada urusan2 unofficial lainnya seperti lab meeting, atau menyelesaikan tugas2 yang belum beres. Deadline-nya Jumat ini ketika semua nilai harus disetor ke bagian akademik. Dan Jumat sore esok, adalah hari yang mendebar2kan karena nilai2 akan mulai bisa dilihat di website.

Dari 3 kuliah yang saya ambil di semester ini, yang satu saya yakin lulus, yang satu lagi lulus secara dramatis, dan satu lagi lainnya masih tanda tanya. Ada sinyal2 meragukan apakah akan lulus mata kuliah itu atau tidak. Di lab meeting kemarin Professor seperti biasa mengingatkan, you should work harder. Tapi bukan itu yang bikin deg2an. Melainkan sebelumnya, ketika dia bilang kalau final exam saya dan teman saya kemarin, is not so good. Di akhir lab meeting saya lapor ke Professor, “Prof, I have finished all my courses. So, maybe I can start to do research.” Dia seperti mengulang pernyataanku dan bertanya untuk meyakinkan. Saya menjawabnya, “Except if I failed in your course.” Dia tertawa. Apakah ini pertanda?

Maaf, mukadimahnya terlalu banyak dan tidak sesuai judul. Sekarang mari kembali ke topik.

Albert Fert at NTU

Albert Fert. Siapakah dia? Kalau di keseharianmu tidak bisa lepas dari benda yang bernama komputer atau saudara2nya, maka pantaslah untuk berterimakasih pada orang ini. Dua tahun yang lalu dia dianugrahi pernghargaan tertinggi dunia di bidang fisika, sebuah Nobel Prize. Berbagi dengan ilmuwan Jerman, Peter Grunberg. Orang Perancis ini diganjar separuh Nobel atas keberhasilannya menemukan Giant Magnetoresistance yang merupakan prinsip kerja hard drive atau hard disk.

Dan pagi ini, kesempatan untuk mencicipi kuliah umum dari seorang Nobel Laureate itu tiba. Dengan bahasa Inggris yang dicampur aksen Perancis-nya yang kental, seperti pengucapan2 huruf ‘R’ yang tipis, selama hampir 2 jam dia mencoba untuk menjelaskan prinsip2 spintronics. Sayang, saya duduk agak belakang dan sedikit ngantuk. Jadi kurang bisa mengikuti kuliahnya. Di umurnya yang menginjak 70 tahun, dia masih terlihat segar. Bahkan waktu yang disiapkan panitia tidak cukup untuk meng-cover semua bahan presentasi yang dia siapkan. Mungkin harusnya cukup. Tapi karena adanya translator ke bahasa Cina, waktunya butuh 2 kali lipat. Secara keseluruhan, kuliahnya menarik dari sisi keilmuwan. Sedikit kurang menarik karena tanpa disertai wejangan2, kata2 bijak, atau bumbu2 humor.

Suka duka ikut dalam acara ini. Sukanya, acaranya gratis, dapat kaos, dapat konsumsi, dan bertemu langsung dengan seorang peraih Nobel. Dukanya, nggak sempet foto bareng eksklusif.