Amir dan Hassan

Monday, January 19th 2009

Hassan : What’s the story about?

Amir : It’s about a man who finds a magic cup. And he learns that if he weeps into the cup, his tears turn to pearls. He’s very poor, you know? And, at the end of the story, he’s sitting on a mountain of pearls with a bloody knife in his hand and his dead wife in his arms.

Hassan : So he killed her?

Amir : Yes, Hassan.

Hassa : So that he’d cry and get rich.

Amir : Yes, you’re very quick. What?

Hassan : Nothing, Amir agha. Are you done with breakfast?

Amir : What?

Hassan : Well, will you permit me to ask a question about the story?

Amir : Of course.

Hassan : Why did the man have to kill his wife?

Amir : Because each of his tears becomes a pearl.

Hassan : Yes, but why couldn’t he just smell an onion?

*****

Hassan kecil, anak yang baik, walaupun dia bukan orang yang jujur. Setia, yang karena kesetiaannya kepada sahabatnya sekaligus saudaranya (Amir) menjadikan dia tidak jujur. Bodoh, tapi justru karena kebodohannya itu membuatnya lebih lapang hati. Amir kecil adalah storyteller yang genius, begitu kata Pamannya. Dia banyak membaca buku dan membuat cerita. Namun dari dialog di atas, saya pikir Hassan menang telak dari Amir. Tingginya tumpukan ide di kepala Amir dikalahkan oleh rendahnya hati Hassan.

Setelah Hassan diusir dari rumah Baba, saya jadi kehilangan selera tuk melanjutkan nonton. Tapi sudah kadung penasaran dengan pesan Pamannya Amir (Rahim Khan) di telepon, “There is a way to be good again, Amir.” Setelah selesai nonton, kok rasanya ingin protes ke Khaled Hosseini. Protes karena membuat karakter Hassan terlalu lemah hingga tidak bisa melawan Assef dan dua kawannya yang menjijikkan. Protes karena membuat karakter yang begitu polos dan berhati malaikat seperti Hassan. Dan protes karena telah membunuh karakter Hassan di bagian akhir novelnya dengan cara yang sangat tragis. Aaaaarrgh, kenapa orang baik harus berakhir seperti itu???

Gara-gara film ini, saya jadi harus merelakan uang 234 NT untuk sebuah novel yang saya beli kemarin.