Archive for January, 2009

Quiet in Taipei, Crowded at Melbourne

Tuesday, January 27th, 2009

Experiencing Chinese new year holiday in couple days makes me believe what people told about this town turning into silent, is true. At last Sunday, I was disappointed by two big stores which I usually go to in purpose to stock foods and daily needs. Because as everybody advised, we need to stock our foods when the holiday comes since it will be hard to find restaurants either stores which keep open. So I went out of my room at 6 o’clock in the evening and planned to obey their advise. Without forgetting to put my bag with two shopping-handy bag. I had bad feeling when I came out. I could not see anybody until I saw the highway near my dorm. It was a good place to make horror movie at that time. The environment would support the setting which is needed. Thus, this feeling directed me into a prejudice if those two stores would be closed. But I did not believe it, I wanted a proof.

Waiting for the bus at the bus stop, started staring surround. So quiet, or maybe too quiet. Even some stores still opened, but the number of people were extremely reduced. Hmmm… maybe around one-fourth were remained. Similar scheme inside the bus, many seats unoccupied, and very spacious. When I arrived, what my feeling predicted before was correct. The Geant store was closed. I thought because this store is rather big, therefore it might be open. Then I realized if I was not cleverer than a donkey who never fell twice. Stick on my plan to go to another store. I took MRT to go to Xiaonanmen station, the nearer station to reach my second destination. Inside MRT was like the situation in the bus, you can move from seat to seat along your way. Believe it or not, when I arrived at Xiaonanmen MRT station, there were only two people. The station officer and I. It reminds me a half year ago when I watched Kungfu Panda movie at Blitz PVJ. There were only two people inside the studio. Or three perhaps. The man who checked the ticket, the man who run the film, and the one and only viewer, the owner of this blog. Only one seat occupied, the rest were empty. Still wondering what their management was thinking to keep the movie played even nobody expects to watch it longer.

at Xiaonanmen MRT Station

at Xiaonanmen MRT Station

In front of station’s gate, after took few steps I could see the store directly. The second big store named Jia-Le-Fu aka Carrefour, was also closed. Before, I argued if it wont be too late to go there that night, because the national holiday would begin at Monday. But the reality sometimes bitter, it does not suit with what you thought. Later, for some matters, I have to entrust my feeling instead of my curiosity. Luckily, another mini market near my campus kept open. Altough not as complete as those two, I still could find what I needed. Put some vegetables, fruits, spices, squid, etc. to the basket. I will have experiments in my room, that was I thought. Beef soup, squid with oyster sauce, and beef curry, are the list of menu which I would like to make. At this kind of cold weather, to go out of my room is the last option to be picked. Cooking while watching Australian Open is a perfect match to do in this whole week. I can see and hear the crowd of supporters at Melbourne on my laptop. Coz nobody wants to be lonely, right?

And yesterday, I had no choice left beside to bury my dream deeply. Nightmare had come. The second rice cooker which I bought at the beginning of this semester, was broken.

Well, at least I still can enjoy the game, enjoy the play of the magnificent tennis players over the world. What I regret up to now is, no more beautiful women players can be watched. I just hope those two prodigy of recent tennis era, Rafael Nadal and Roger Federer, will meet (again) at the top stage of the tournament. A classic match.

Met Albert Fert

Thursday, January 22nd, 2009

Officially, liburan sudah tiba sejak awal minggu ini. Sejak email dari kampus mengumumkannya Jumat yang lalu. 19 Januari sampai 13 Februari, cuma 4 minggu. Bukan waktu yang lama. Walaupun, masih ada urusan2 unofficial lainnya seperti lab meeting, atau menyelesaikan tugas2 yang belum beres. Deadline-nya Jumat ini ketika semua nilai harus disetor ke bagian akademik. Dan Jumat sore esok, adalah hari yang mendebar2kan karena nilai2 akan mulai bisa dilihat di website.

Dari 3 kuliah yang saya ambil di semester ini, yang satu saya yakin lulus, yang satu lagi lulus secara dramatis, dan satu lagi lainnya masih tanda tanya. Ada sinyal2 meragukan apakah akan lulus mata kuliah itu atau tidak. Di lab meeting kemarin Professor seperti biasa mengingatkan, you should work harder. Tapi bukan itu yang bikin deg2an. Melainkan sebelumnya, ketika dia bilang kalau final exam saya dan teman saya kemarin, is not so good. Di akhir lab meeting saya lapor ke Professor, “Prof, I have finished all my courses. So, maybe I can start to do research.” Dia seperti mengulang pernyataanku dan bertanya untuk meyakinkan. Saya menjawabnya, “Except if I failed in your course.” Dia tertawa. Apakah ini pertanda?

Maaf, mukadimahnya terlalu banyak dan tidak sesuai judul. Sekarang mari kembali ke topik.

Albert Fert at NTU

Albert Fert. Siapakah dia? Kalau di keseharianmu tidak bisa lepas dari benda yang bernama komputer atau saudara2nya, maka pantaslah untuk berterimakasih pada orang ini. Dua tahun yang lalu dia dianugrahi pernghargaan tertinggi dunia di bidang fisika, sebuah Nobel Prize. Berbagi dengan ilmuwan Jerman, Peter Grunberg. Orang Perancis ini diganjar separuh Nobel atas keberhasilannya menemukan Giant Magnetoresistance yang merupakan prinsip kerja hard drive atau hard disk.

Dan pagi ini, kesempatan untuk mencicipi kuliah umum dari seorang Nobel Laureate itu tiba. Dengan bahasa Inggris yang dicampur aksen Perancis-nya yang kental, seperti pengucapan2 huruf ‘R’ yang tipis, selama hampir 2 jam dia mencoba untuk menjelaskan prinsip2 spintronics. Sayang, saya duduk agak belakang dan sedikit ngantuk. Jadi kurang bisa mengikuti kuliahnya. Di umurnya yang menginjak 70 tahun, dia masih terlihat segar. Bahkan waktu yang disiapkan panitia tidak cukup untuk meng-cover semua bahan presentasi yang dia siapkan. Mungkin harusnya cukup. Tapi karena adanya translator ke bahasa Cina, waktunya butuh 2 kali lipat. Secara keseluruhan, kuliahnya menarik dari sisi keilmuwan. Sedikit kurang menarik karena tanpa disertai wejangan2, kata2 bijak, atau bumbu2 humor.

Suka duka ikut dalam acara ini. Sukanya, acaranya gratis, dapat kaos, dapat konsumsi, dan bertemu langsung dengan seorang peraih Nobel. Dukanya, nggak sempet foto bareng eksklusif.

Amir dan Hassan

Monday, January 19th, 2009

Hassan : What’s the story about?

Amir : It’s about a man who finds a magic cup. And he learns that if he weeps into the cup, his tears turn to pearls. He’s very poor, you know? And, at the end of the story, he’s sitting on a mountain of pearls with a bloody knife in his hand and his dead wife in his arms.

Hassan : So he killed her?

Amir : Yes, Hassan.

Hassa : So that he’d cry and get rich.

Amir : Yes, you’re very quick. What?

Hassan : Nothing, Amir agha. Are you done with breakfast?

Amir : What?

Hassan : Well, will you permit me to ask a question about the story?

Amir : Of course.

Hassan : Why did the man have to kill his wife?

Amir : Because each of his tears becomes a pearl.

Hassan : Yes, but why couldn’t he just smell an onion?

*****

Hassan kecil, anak yang baik, walaupun dia bukan orang yang jujur. Setia, yang karena kesetiaannya kepada sahabatnya sekaligus saudaranya (Amir) menjadikan dia tidak jujur. Bodoh, tapi justru karena kebodohannya itu membuatnya lebih lapang hati. Amir kecil adalah storyteller yang genius, begitu kata Pamannya. Dia banyak membaca buku dan membuat cerita. Namun dari dialog di atas, saya pikir Hassan menang telak dari Amir. Tingginya tumpukan ide di kepala Amir dikalahkan oleh rendahnya hati Hassan.

Setelah Hassan diusir dari rumah Baba, saya jadi kehilangan selera tuk melanjutkan nonton. Tapi sudah kadung penasaran dengan pesan Pamannya Amir (Rahim Khan) di telepon, “There is a way to be good again, Amir.” Setelah selesai nonton, kok rasanya ingin protes ke Khaled Hosseini. Protes karena membuat karakter Hassan terlalu lemah hingga tidak bisa melawan Assef dan dua kawannya yang menjijikkan. Protes karena membuat karakter yang begitu polos dan berhati malaikat seperti Hassan. Dan protes karena telah membunuh karakter Hassan di bagian akhir novelnya dengan cara yang sangat tragis. Aaaaarrgh, kenapa orang baik harus berakhir seperti itu???

Gara-gara film ini, saya jadi harus merelakan uang 234 NT untuk sebuah novel yang saya beli kemarin.

Minggu Terakhir Kuliah (Semoga…)

Tuesday, January 6th, 2009

Akhirnya… sampailah di penghujung semester ini. Semester yang bisa dibilang cukup berat karena tugas2nya lumayan banyak dibandingkan semester kemarin (jelas aja, kemarin 2 mata kuliah, sekarang 3). Dan semester ini saya rasa cukup berkesan, dari 3 kuliah yang saya ambil, yang seharusnya semuanya berbahasa Inggris, namun tidak begitu adanya.

Satu kuliah malam totally berbahasa Mandarin. Secara sebagai seorang warga negara yang berbeda dari lingkungan sekitar, Profesor di kelas malam ini suka sesekali menyapa atau bertanya kepada saya. Macam2lah pertanyaannya. Dari mulai vocab bahasa Inggris, vocab bahasa Cina, atau materi yang sedang diterangkan. Jawaban saya cuma dua, mengangguk dan bilang “yes”, atau menggeleng dan bilang “no” atau “I don’t know”. Kebanyakan jawaban saya adalah yang kedua. Dan seperti yang saya bilang tadi, karena bahasanya full Chinese (sebenarnya ada sesi Inggrisnya, tapi cuma 15 menitan dan itu tidak menyangkut pelajaran, tapi isu2 seputar teknologi terkini) jadilah di kelas kerjaannya cuma bengong2 sambil mengira-ngira apa yang diomongin Prof. Alternatif lainnya, main sudoku di handphone, atau browsing2 kalo bawa laptop. Yang membuat saya tetap kekeuh mengambil mata kuliah ini adalah adanya soal2 master tahun lalu. Oneday, saya pernah bilang ke teman saya orang India. Dia baru masuk semester ini. Dia nggak mau ngambil kelas berbahasa Mandarin dengan alasan nggak akan dapat ilmunya. Saya bilang, “when you get here, it is no longer about knowledge… it is about how to survive…”

Kelas lainnya, setengah Inggris setengah Chinese. Ini di kelas Prof merangkap advisor saya. Memang begitu cara mengajarnya. Dia akan berbicara bahasa Inggris, lalu diperjelas dengan bahasa Chinese. Ibarat paragraf, dia mengutarakan “main idea”-nya dalam bahasa Inggris, dan “supporting idea”-nya dalam bahasa Chinese. Jadi, saya terkadang nggak nangkep maksudnya. Cara mengajarnya juga beda dengan dosen2 lain, tidak terstruktur. Pernah seharian isinya nurunin satu rumus (seharian itu maksudnya 3 jam kuliah). Mana kalo ujian susahnya minta ampun.

Kelas terakhir adalah kelas yang full berbahasa Inggris. Tapi bukan berarti kelas ini lebih menyenangkan dari 2 kelas sebelumnya. Ini adalah kelas pagi. Which means, masuk kelas masih ngantuk2. Saya pernah ketinggalan 1 sesi kuliah (50 menit) akibat bantal yang nggak mau lepas dari kepala. Ini kuliah lanjutannya Fabrikasi IC nya Pak Irman dulu waktu masih duduk manis di bangku S1. Mungkin dosennya terlalu perfeksionis. Bahannya buanyak buanget. Sepertinya dari 14 chapter yang dia targetkan, nggak akan selesai secara sekarang masih chapter 12-an dan pertemuan tinggal sekali lagi di esok Jumat pagi. Dan karena materi berbanding lurus dengan tugas, jadi lah sekalinya ngasih tugas, lumayan banyak.

Secara ini merupakan minggu terakhir kuliah, maka tidak lain dan tidak bukan, minggu depan adalah minggu UAS. Doa kan saya ya…

Yosh… saatnya Kung Fu Fighting!!!