Thankful

Tuesday, December 9th 2008

Sekali lagi perasaan ini muncul. Rasa syukur yang tak terhingga akan karunia Allah. Ya, saya sangat tidak menyesal atas kedatangan saya di pulau kecil ini. Begitu cantik skenario yang dibuat oleh-Nya untuk menyenangkan hidup seorang anak manusia yang masih belum jelas menerawang masa depannya ini. Entah kenapa saya sangat bahagia akhir2 ini. Jangan salah sangka, bukan masalah itu. Ini adalah tentang orang2 di sekitar saya dalam 1,5 tahun terakhir. (Orang2 = kata jamak; bukan seseorang = kata tunggal)

Tidak terasa, sepertinya baru kemarin surat penerimaan dari kampus berlogo lonceng dan pohon palem ini saya terima. Rencana memberi surprise buat orangtua, gagal. Padahal saya mau bilang ke mereka setelah semua selesai diurus dan tinggal berangkat. Tapi apa daya, tidak ada waktu untuk memutar otak agar white lie yang keluar dari mulut. Malam hari ketika email diterima, mereka menanyakan hasil aplikasi yang saya kirim ke Taiwan. Spontanitas yang keluar. Saya katakan seadanya kalau saya diterima di luar negeri. Reaksi mereka biasa saja, tapi saya yakin dalam hatinya bahagia luar biasa. Yah, orangtua mana yang nggak khawatir anaknya luntang lantung nggak jelas selama beberapa bulan terakhir setelah dikeluarkan dari universitasnya yang lama. 

Itu sekedar intermezzo. Pernahkah saya utarakan kegelisahan sewaktu di atas pesawat? Banyak pikiran nggak jelas. Bagaimana cara mencari tiket langsung balik ke Jakarta, setelah ambil koper. Di mana si cabin attendant menyembunyikan parasut? Kalau sudah sampai laut, seberapa jauh harus berenang buat sampai ke pulau terdekat. Yah, nggak sampai se-ekstrim itu lah. Saya lupa mikir apa waktu itu. Tapi yang jelas ada ketakutan tersendiri.

Orang-orang di sekitar saya 1,5 tahun ini 95% adalah teman baru. Itu perhitungan ngasal sih, tapi sebagai gambaran bahwa hampir semuanya adalah orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sama sekali. Dan dari 95% itu, 100% adalah orang baik. At least, baik sama saya. Dan dari semuanya itu, ada yang sangat baik sekali, ada yang sangat baik, dan ada yang baik2 saja. Di tahun pertama saja, tidak jarang kiriman lauk pauk mampir ke kamar saya, yang waktu itu masih harus berbagi rejeki dengan teman sekamar. Atau terkadang kalo berlebih, bisa berbagi dengan tambahan 2 orang Indonesia yang masih satu asrama. Bagi mereka yang tidak perlu saya sebut namanya, semoga Allah membalasnya jauh lebih banyak kebaikan dari apa yang telah kalian berikan pada kami. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Walaupun sebagian teman saya itu sudah pergi dari Taipei, ternyata penggantinya juga tidak kalah baiknya. Dan masih, ada teman2 baru yang sangat baik pada saya. Masih ada paket2 khusus yang mampir ke kamar. Dan kali ini, sepertinya bisa saya nikmati sendiri. Biarlah Allah, malaikat Raqib, saya dan teman2 yang baik hati yang tahu rahasia kami. Menerima kebaikan orang lain memang mudah semudah melupakannya. Semudah mengingat kebaikan kita pada orang lain.

PR kita justru ada di arah sebaliknya. Bagaimana untuk mengingat kebaikan orang lain, dan mudah melupakan kebaikan kita kepadanya. Saya sedang mencoba, bagaimana caranya agar dapat mengingat kebaikan itu lebih lama. Selama ini saya membuat pemberian mereka adalah sesuatu yang special. Sangat special di mata saya. Karena special, maka akan lebih lama terekam di otak atau secara tak sadar masuk ke alam bawah sadar. Bagaimana membalasnya? Kalau ini sih sudah ada caranya dari dulu, dan dari dulu caranya gampang2 susah. Akan mudah melupakan kebaikan kita selama kita ikhlas. Kalau masih diingat-ingat atau teringat-ingat, jangan2 masih ada yang kurang ikhlas.

Sebenarnya orang-orang baik itu curang, mengambil jatah pahala sesuka hati mereka. Ternyata dalam hal berbuat baik juga berlaku hukum : siapa cepat dia dapat (lebih banyak).