Smuggling

Thursday, August 28th 2008

好久不見! (baca: hao jiu bu jian) atau dalam bahasa Inggris-nya: long time no see! How are you readers? Fine? Semoga begitu. Hampir 2 bulan pulang kampung, rasanya kok cepet bener waktu berlalu. 2 minggu lagi masuk semester 3, aaaaaarghhh… (teriak histeris).

Senin kemarin, untuk ketiga kalinya saya naik penerbangan Jakarta-Taipei. Dan penerbangan terakhir ini saya kira adalah penerbangan yang mendebarkan. Bukan, bukan karena cuaca buruk yang mengganggu kendali pesawat yang bisa meresahkan penumpang. Melainkan perjalanan kali ini adalah perjalanan yang disertai aksi penyelundupan. Flash back ke bulan februari yang lalu, di saat seekor anjing berhasil dengan gemilangnya menggagalkan impian makan2 rendang enak anak2 Indonesia di dorm NTU.

Sampai di Taoyuan airport, berbagai peringatan untuk membuang produk2 olahan dari hewan dan tumbuhan sering banget ditemukan. Berbekal pengalaman buruk waktu itu, tercetuslah ide jenius untuk menyangkal si petugas itu jikalau dia pengen menyita barang2 terlarang (abon, paru, dendeng, dll) tersebut. Berikut ini percakapan yang diperkirakan sang penyelundup.

Petugas airport yang bawa anjing (Payba) : Excuse me Sir, can you open your luggage? Our dog smells that you probably bring products from meat…
Sang penyelundup (Sp) : Okay, wait a minute…
Payba : (Sambil memegang bungkusan abon dan paru) What are these made from, Sir?
Sp : cows…
Payba : Do you know that you are prohibited to bring all products from plant and animal?
Sp : even from plants?
Payba : Yes.
Sp : So, why don’t you catch all the passengers? all of them are wearing clothes that were made from cotton or silk or anything from plants. Or their handbags, or their belts which were made from animal’s skin, why???
Payba : Eee… mmm… eeemmm… Okay, Sir. I won’t take anything from you. You can go.
Sang penyelundup pun tersenyum lebar, tanda kemenangan.

Syukurlah peristiwa itu nggak terjadi kemarin, karena kalopun terjadi palingan saya manut2 aja disuruh nyerahin makanan2 itu. Mungkin karena setelan pakaian yang saya pakai lebih mirip eksekutip berjas keren, jadi mereka segan untuk meriksa2 barang bawaan saya. Atau karena masih inget muka saya mereka jadi mikir, “halah dia lagi, palingan rendang lagi sama abon… udah bosen, cari yang dari negara lain aja…” Rugi banget mereka. Mereka baru aja meloloskan dendeng, paru, keripik bayem, keripik kentang, sambel tomat dan belut bawaan saya. Ditambah lagi jahe, kunyit, rendang ikan, kering tempe, sambel, ikan teri mentah sekantong gede, sereh, dll, titipan ibunya temen saya.

Yang jelas saya bersyukur kemarin nggak ada pemeriksaan di terminal kedatangan. Jadilah semua persediaan makanan berhasil diamankan buat perbekalan 1-2 bulan mendatang. Walaupun di bulan Ramadhan yang menyenangkan nanti perbekalan bakalan bisa dihemat sehemat2nya karena ada buka puasa gratis di mesjid.

Menyambut bulan suci Ramadhan, saya menghaturkan mohon maaf lahir batin atas kesalahan2 yang saya perbuat selama ini. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Amin. :-)