Antara Bandung-Taipei

Friday, April 4th 2008

Percaya kah kalo dari Bandung ke Taipei cuma butuh 8 jam? Rinciannya begini: Bandung-Cengkareng (2 jam) + Cengkareng-Taoyuan (5 jam) + Taoyuan-Taipei (1 jam). Deket kan? Cuma 8 jam. Sama seperti Bandung-Boyolali, cuma beda di ongkos. Karena kedekatannya itu aura belajar sewaktu di Bandung masih nempel sampai sekarang. Aura ini bisa dibilang sebagai pembawa energi negatif, yang mana energi ini menyebabkan: (1) mengerjakan tugas mepet2 deadline, (2) kebanyakan bobo’, dan (3) kebanyakan mengerjakan yang seharusnya dikurangi untuk dikerjakan.

Saya punya alibi untuk kasus yang pertama. Ditemukan sebuah rumus tentang kreatifitas yang berkaitan dengan waktu sekarang dan tenggat waktu yang dimiliki. Rumusnya saya ambil dari salah seorang alumni 2 tingkat di atas saya. Itu lah mengapa biarpun deadliner, tugas selalu bisa dikumpulkan “tepat waktu”. Sisi positif lain deadliner dari sisi kesehatan yaitu, kita nggak perlu lari2 atau exercise lainnya untuk melatih jantung kita karena secara otomatis degupnya akan semakin meningkat seiring menipisnya waktu. Aliran darah ke otak juga semakin lancar, bahkan tekanannya meningkat. Tapi hati2, jangan sampe stres. Remember, practice makes perfect.

Walaupun termasuk orang yang sudah sangat terlatih dalam hal seperti itu, saya tetap menyarankan kepada Anda2 sekalian untuk tidak melakukannya. Waspadalah terhadap faktor X. Sebab kalau faktor X ini muncul, bisa2 mission Anda akan failed. Minggu kemarin saya hampir mengalaminya. Untungnya x kecil, bukan X besar. Seperti biasa, setiap hari kamis ada tugas yang harus dikumpulkan sebelum jam 11.59 pm. Biasanya saya baru mulai mengerjakan semalam sebelumnya atau pagi2nya. Kadang2 PR-nya saya bawa ke kuliah (kelas sore) karena belum selesai dan memang hari Kamis adalah harsh day buat saya.


Ngerjain PR di kelas. Maaf Prof…

Malam2 setelah les Mandarin saya langsung ngambil sepeda di parkiran dorm terus ke Computer Center buat ngeprint. Well, sampai di CC ternyata saya merasa ketinggalan KTM, karena setelah periksa semua kantong baik celana maupun jaket hasilnya nihil. Karena tanpa KTM kita nggak bisa akses kompie, sehingga tanpa pikir panjang saya balik ke dorm. Sampai di dorm, periksa meja beserta laci-lacinya, hasilnya juga nihil. Tiba2 secercah ingatan tiba2 muncul, KTM itu ada di tas yang kubawa2 dari tadi ke sana kemari…

Termasuk malam kemarin, aku sengaja ninggalin sepedaku di parkiran dorm dalam keadaan nggak terkunci dengan maksud supaya bisa langsung ngacir ke gedung EE 2 buat ngumpulin tugas setelah ngambil steples di kamar. Pantesan pas mau ke CC perasaan ada yang lupa dibawa, baru sadar ketika habis ngeprint kalau steplesnya ketinggalan, makanya balik lagi ke dorm. Padahal dari CC ke EE 2 tinggal ngesot dikit, sedangkan dari CC ke dorm harus ngesot banyak. Dan begitu mau berangkat ke EE 2 dari dorm, secara refleks malah kugembok tuh sepeda… baru nyadar pas sepedanya mau dinaikin…

Untuk masalah berikutnya saya ingin mengulik-ngulik sedikit tentang fisika (lagi). Kalo pernah mengalami jaman SMA dan masuk kelas IPA, atau kuliah di kampus di sebelah kebun binatang Bandung, mungkin pernah denger yang namanya hukum gravitasi. Menurut hukum gravitasi, 2 buah benda yang mempunyai massa memiliki gaya tarik menarik yang besarnya sebanding dengan massa yang dimiliki. Anehnya, nggak di Bandung nggak di Taipei, hukum gravitasi itu nggak berlaku di kamarku. Karena gaya tarik terbesar teteup dimiliki oleh tempat tidur, kasur beserta perangkat alat tidur lainnya.

Salah seorang dosen di Inggris pernah menyatakan bahwa internet berpengaruh buruk terhadap generasi muda. Menurutnya, para mahasiswa jadi lebih banyak mengandalkan komputer beserta internetnya dibanding melakukan penelitian dengan membaca buku2 perpustakaan. Setuju. Internet memang banyak efek negatifnya. Salah satunya membuat kita jadi tidak konsen dengan apa yang seharusnya kita kerjakan dengan komputer ini. Terbukti kan sekarang? Harusnya saya lagi ngerjain tugas bikin program untuk minggu depan, lah ini… malah nulis blog lagi…