Archive for March, 2008

Belajar Sabar dengan Memasak

Saturday, March 29th, 2008

Mungkin salah satu sebab mengapa Yang Maha Kuasa menakdirkan laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam sebuah rumah tangga adalah karena si perempuan diyakini lebih sabar dari si laki-laki. Seperti api dan air, yang satu membara, yang lainnya menyejukkan. Dan mungkin, salah satu resep mengapa si perempuan lebih sabar adalah karena mereka, pada umumnya, telah ditraining dalam suatu ruangan bernama dapur. Pengalaman saya beberapa bulan ini membuahkan pemikiran demikian.

Mulai bosan dengan makanan-makanan yang ada di sekitar dorm dan rindu akan cita rasa nusantara memaksa saya untuk memasak sendiri meskipun minim jam terbang. Dengan adanya bumbu-bumbu instant, memasak memang menjadi lebih mudah. Sudah beberapa kali saya bereksperimen membuat nasi goreng, nasi kuning, kari dan gulai, semuanya berhasil dengan sukses. Sangat mudah, tinggal ikuti prosedur yang ada di kemasan tersebut dan dalam hitungan menit maka gambar pada kemasan bumbu tersebut akan terealisasi.

Kira-kira seminggu yang lalu saya kedatangan paket. Isinya adalah bumbu semur dan bumbu rendang. Sepertinya teman saya ini kasihan terhadap nasib yang menimpa saya waktu kembali ke Taiwan, makanya dia kirim bumbu rendang. Sebelum membuat masakan dengan bumbu-bumbu itu, si empunya resep saya telpon dulu untuk menanyakan how to-nya. Yang saya masak pertama adalah semur, dengan bahan ayam sebagai pelengkapnya. Kecil…, tinggal ngikuti seperti apa yang diinstruksikan. Nggak perlu ngulek-ngulek, ngiris-ngiris, tinggal cemplang-cemplung, aduk-aduk, tunggu hingga matang, dan siap dinikmati. Sampai di sini tingkat kesabaran dalam memasak memang belum akan teruji, sebab perbedaan waktu yang dihabiskan untuk memasak tidak terlalu signifikan dengan waktu yang digunakan untuk menghabiskan masakan.

Hingga akhirnya saya coba untuk memasak bumbu yang kedua, yaitu bumbu rendang, baru lah saya tahu kalau memasak itu butuh kesabaran yang luar biasa. Pada percobaan pertama masak rendang, hasilnya Gatotkaca makan bubur, gagal total kacau balau hancur lebur. Saya bukan orang yang terlalu suka eksperimen kalau belum pernah berhasil dalam membuat sesuatu. And saya nggak neko-neko waktu masak rendang itu pertama kali. Semua sesuai dengan petunjuk si mbak yang jagoan aikido itu. Sebagai juru masak amatir, walaupun nilai tataboga waktu SMP paling kecil 8, saya pakai cara yang sama dengan cara membuat semur.

Karena ini pengalaman pertama, awalnya saya heran, karena setelah mengikuti petunjuk, kok santannya banyak banget? Dan seingat saya yang namanya rendang itu tidak berkuah. Pikir saya, ini beneran bumbu rendang atau bumbu opor? Saya aduk-aduk terus, tapi kok santannya nggak asat asat… Setelah habis kesabaran, saya tinggal masakan itu beserta rice cooker yang masih dalam keadaan cooking. Bau-bau tidak sedap muncul beberapa menit kemudian, ya… bau hangus. Begitu saya buka tutup rice cooker, sepertinya no problemo. Tapi begitu lihat bagian bawahnya, harapan makan rendang pun sirna. Untung ayamnya masih bisa diselamatkan. Jadinya bukan makan rendang ayam, tapi opor ayam rasa rendang.

Cek n ricek, ternyata benar, ada yang salah di prosedur masaknya. Seharusnya diaduk-aduk terus supaya ampas santannya tidak gosong. But I still had second chance because of the bumbu is for 2 times cooking. Today, I tried once more. I used beef that I bought at masjid yesterday. I spent more than one hour to cook it. Aduk-aduk masakan selama lebih dari satu jam. Tangan kanan ngaduk-ngaduk, sedangkan tangan kiri chatting atau browsing. Walaupun kurang begitu sempurna karena dagingnya keburu hancur jadi daging cincang, tapi secara rasa sudah sangat enak. Entah yang bikin enak karena bumbunya memang sudah enak atau memang karena bikinan sendiri (selain bumbunya lho ya). Hmmm… mungkin dua-duanya…

An Apple a Day Keeps the Doctor Away

Sunday, March 16th, 2008

Such some weeks ago I got sick. This sickness was very bad because it made me uncomforted to do any activities, and I also felt guilty to surroundings because made the air polluted by the virus that I spread out. I had light fever and cough, plus little bit runny nose at night. I thought home medicines (Decolsin, Bisolvon) that I brought from Indonesia would easily makes me well in a short of time, but it didn’t work along a week. I gave up and went to see the doctor in my campus. The clinic lies nearby the main library. I knew it from Mbak Yuhana. She was from there with same problem, some days ago before me.

4 kinds of drugs (not “drugs” of course) that the Doctor gave me. I asked my friend who studies at Faculty of Medicine – University of Indonesia about the medicines that the Doctor gave to me, she said most of them are medicines to heal influenza. Specifically, one is for healing the cough, two are for turning the fever down, and another one is for healing the seasonal allergic. Then she suggested me if I were not getting better after consuming those drugs, it is better to do healthy life. Which means, consumes nutritious foods (4 health 5 perfect?), do not sleep late at night, and do not work/study too tired. I admit that I eat fruits rarely, and did oppositely with her suggestions. I prefer juice instead of fresh fruits with flexibility reason, but it also not often to be done.

Yesterday when I watched tennis tournament in my campus, there were surprise market (how to say “pasar kaget” in English?) besides the tennis courts. They sold many things. Vegetables, fruits, “arak”, traditional foods, etc. Remembered by my friend’s message, then I tended to buy apples. As it’s name, surprise market, I really surprised when I picked some apples in a plastic which was contained 6 apples and I asked its price, he said that it was $200 NT! ($1 NT= +/- Rp 290.) What a very very very expensive apple!!! But I won’t take my words back. I had picked them and said that I would buy it.

Now, I am trying to entertain myself by searching the benefits of an apple. I want to make a story inside of my head that an apple has so many good reasons, therefore I do not regret that I have bought them. There is a word saying “an apple a day makes the Doctor keeps away.” No, it doesn’t mean you throw the doctor’s head by an apple to get the doctor away. An apple, indeed has many advantages to be consumed. I found a site which lists what makes this fruit is different with others. You can read the complete version here, but I will also write it down as a resume with additional comments at some points.

1. contains Vitamin C.

which has more? an apple or an orange?

2. prevent heart disease.

it is very useful to start a relationship, we can be prevented before our partner make a pain in our heart

3. low in calories.

good for diet

4. prevent cancers.

except : cantong cerings

5. contain phenols : reduces bad cholesterol, increases good cholesterol.

good news for meat eaters

6. prevent tooth decay.

that’s why either apple and dentist are expensive

7. protects your brain from brain disease.

if you realize your friends already have crazy symptoms, give them apples quickly before getting worse. this effect does not work on people who are in love, because they already lose their mind

8. healthier lungs.

good news for smokers, bad news for passive smokers

9. they taste great.

it is subjective opinion, so it is alright if you don’t agree

Ultimate Thursday

Thursday, March 13th, 2008

Dalam sepakbola liga Inggris dikenal adanya istilah Super Sunday yang menandakan bahwa pada hari itu (Minggu) digelar pertandingan yang dianggap “seru”. Biasanya mempertemukan klub-klub papan atas atau juga pertandingan antar klub sekota alias derby. Di Amerika, istilah Super Tuesday digunakan dalam rangka kampanye bagi para calon Presiden untuk menarik massa sebanyak-banyaknya. Sedangkan Ultimate Thursday adalah istilah yang saya gunakan untuk hari Kamis saya selama satu semester ini.

Semester kemarin semua kuliah yang saya ambil kebetulan semuanya adalah kuliah siang. Baru pukul 1.20 pm atau 2.20 pm kelas dimulai. Tentunya jadwal ini sangatlah menunjang kestabilan aktivitas mahasiswa dengan jam “aktif” di malam hari dan jam tidur menjelang pagi. Tidak seperti dulu ketika masih mengenakan seragam putih-merah, putih-biru, dan putih-abu-abu. Semuanya serba teratur. Bangun subuh, mandi pagi, sarapan, terus berangkat sekolah. Dalam perjalanan, melanjutkan tidur. Dalam kelas, ketika guru menjelaskan, tidur lagi. Malam hari pun tidurnya juga tidak terlalu larut. Pelajaran moral : pakai seragam sekolah ketika kuliah memungkinkan bisa membuat hidup mahasiswa jadi lebih teratur.

Amat disayangkan, pada semester ini 2 dari 3 kuliah yang saya pilih adalah kuliah pagi. Masuk pukul 9.10 am. Dan jam 9 pagi di Taiwan, suasananya seperti jam 7 di Indonesia. Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, saya bakal kewalahan mengatur jam aktif dan jam tidur karena tidak teratur. Dan Rabu minggu kemarin, perkiraan itu memenuhi fungsi Boolean : TRUE. Which means, I didn’t attend the class because of overslept! Kalau dihitung untung ruginya, jelas saya tidak rugi karena saya tidak bayar kuliah. Tapi, saya juga tidak untung karena tidak bisa mengambil manfaat dari kesempatan ini.

Hari Kamis di Arab mungkin seperti hari Sabtu karena hari Jumatnya libur. Karena Jumat libur, maka Kamis di Arab bisa dikatakan sebagai akhir pekan alias weekend. Buat saya hari Kamis juga bisa dikatakan sebagai akhir pekan, dengan catatan setelah jam 9 malam. Hari Kamis adalah hari super sibuk dan super produktif dalam semester ini. Ada 3 kelas yang harus saya ikuti, masing-masing 2,5 sampai 3 jam, tergantung mood dosen. Jam 9.10 pagi ada kuliah sampai 12.10. Dilanjutkan pukul 2.20-5.20 pm. Ditambah lagi kelas bahasa Mandarin (di luar SKS), jam 6.30-9.00 pm. Waktu netto berjumlah kurang lebih 8 jam. Selama itulah otak ini diperas buat mikir, dicekoki ilmu-ilmu.

Kalau di Indonesia sepertinya ilmu lebih mudah masuk karena tidak perlu lagi membuka dictionary yang tersimpan pada memory di kepala. Di negara orang yang mother tongue-nya sama-sama bukan bahasa Inggris, untuk mengerti bahasa Inggris yang disampaikan dosen juga perlu effort yang lebih. Otak ini serasa dipaksa bekerja lebih dari 2 kali. Pertama, si otak bekerja menerjemahkan bahasa. Kedua, mencerna untuk dimengerti. Ketiga, ia bekerja ketika vocabularies yang terdengar tidak ada dalam daftar library di memory kepala. Kalau ada yang jual spare-part memory, boleh lah saya beli. Tambah 2 giga sekalian biar mikirnya lebih cepat. Kalau perlu pakai DDR3.

Itulah mengapa saya katakan hari Kamis adalah hari yang ultimate. Saya ulangi, karena hari Kamis adalah hari yang sangat menguras tenaga, hati, dan pikiran.

Creathink

Sunday, March 9th, 2008

Creathink (read: keriting) is creative thinking, that is what I mean from this title. I just found an article about creative thinking written by Claude Shannon. Nope, I have not read all of them. Just read half, but could get something from it. Dia mengibaratkan otak manusia bagaikan sebuah uranium. Yang ketika berada dalam critical lap, apabila ia ditembakkan sebutir neutron, maka akan terjadi ledakan yang dahsyat. Apabila diibaratkan dalam ilmu elektronika, maka keadaan seperti ini mirip prinsip kerja dioda avalans.

Menurut Shannon, ada 3 hal yang membuat ledakan ide itu terjadi. Neutron-neutron perangsang ledakan itu adalah : training and experience (1), intelligence/IQ (2), and motivation (3). Mereka bertigalah yang melahirkan tokoh-tokoh jenius di abad modern ini. Sebut saja Einstein dan Newton.

Mungkin Taipei sedang mengalami transisi dari musim dingin ke musim semi, ditandai dengan cuaca yang semakin hangat dan jarang turun hujan. Tapi entah kenapa otak ini masih beku tidak bisa berpikir. Bukan, bukan sekedar berpikir, tapi berpikir kreatif. Masalahnya, sampai saat ini topik riset belum juga saya tentukan. Padahal sudah masuk minggu ketiga semester dua. Artinya, tinggal 15 minggu lagi semester 2 ini berakhir dan liburan musim panas menjelang.

Motivasi saya adalah membuat riset yang berguna buat banyak orang. Berarti faktor ketiga dari peluru neutronnya Shannon sudah tersedia, walaupun masih setengah-setengah. Kecerdasan, anggap sudah tersedia. Berarti faktor kedua juga oke. Training and experience, I think I lack of them. Benar-benar kurang. Harusnya perbanyak baca paper atau buku-buku kuliah, yang ada malah mengkhatamkan 3 buku tetraloginya Andrea Hirata, minus halaman 209-210 di buku Edensor! Mana potongan buku Edensor-nya miring lagi! Makanya, hati-hati sebelum membeli buku di Palasari. Okay nevermind, I got two lessons here. Teliti sebelum membeli. Murah kok mau enak…