3 Buah Cerita dari Steve Jobs (Bagian 2)

Friday, February 22nd 2008

Melanjutkan cerita kemarin, masih ada 2 cerita lagi hutang saya. Kali ini saya bayar satu dulu.

Cerita kedua : cinta dan kehilangan (love and loss). Cinta yang diungkapkan Steve di sini bukanlah cinta sepasang muda mudi yang sedang di mabuk asmara dengan nuansa merah jambu. Saya lebih suka menyebutnya posesif daripada cinta. Steve sangat menyukai dengan apa yang dia lakukan. Bersama Steve Wozniak, mereka berdua memulai usaha dari sebuah garasi rumah orangtuanya (seperti kebanyakan entrepreneur muda yang memulai usahanya di Silicon Valley, sebutlah Hewlett-Packard di masa lalu, atau Google-guys di akhir abad ke-20).

Kecintaannya kepada apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang fantastis. 10 tahun setelah Steve memulai usahanya, perusahaannya mampu menghasilkan 2 milyar USD dengan lebih dari 4000 pegawai. Hal ini ditandai dengan lahirnya Macintosh, ketika Steve berusia 30 tahun. Seiring berkembangnya perusahaan, maka semakin bercabang pula visi yang ingin diraih oleh perusahaan. Sebuah kejadian yang sangat tidak biasa ketika akhirnya Steve yang notabene adalah seorang pendiri Apple, dikeluarkan dari perusahaan itu akibat berseberangan visi dengan Board of Directors yang dia angkat dan pilih sendiri. Kalau Anda pernah membaca The Google Story, mungkin kasus Steve ini menjadi pelajaran berharga bagi Brin dan Page dengan tidak menyerahkan posisi tertinggi pada orang lain. Saya kira di sini lah roda nasib kesuksesan Steve bergulir menuju sisi terendah.

Namun ia orang yang beruntung. Dalam masa pahitnya, Steve masih mencintai apa yang telah meninggalkannya. Kecintaannya terhadap dunia IT membangunkan kembali semangatnya untuk memulai perusahaan baru. Tidak tanggung-tanggung, 5 tahun berikutnya ia memulai NeXT dan Pixar. Pixar berhasil menjadi pionir dalam film animasi 3-dimensi dengan filmnya di tahun 1995 yang berjudul Toy Story. Dan yang namanya jodoh memang tak akan lari ke mana, Steve berjodoh (lagi) dengan Apple dengan diakuisisinya NeXT oleh Apple.

Seperti sebelumnya, paragraf terakhir dari cerita kedua ini saya kutip dari sumbernya.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

Cerita kali ini menggambarkan bagaimana sebuah kesuksesan tidak pernah berjalan mulus. Jangan pernah berharap sampai ke puncak gunung kalau tidak mau melewati semak belukar dan kerikil-kerikil tajam. Dengan sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai fungsi kenikmatan dalam hidup, maka hidup ini bagaikan kurva sinus. Walaupun kurva tiap orang berbeda seperti apa yang tertulis pada Lauhul Mahfuz. Tapi intinya, kadang di atas kadang di bawah. Bersyukurlah ketika di atas, bersabarlah ketika di bawah.

*****