3 Buah Cerita dari Steve Jobs (Bagian 3-Akhir)

Friday, February 22nd 2008

Dari 3 buah cerita yang disampaikan, menurut saya cerita terakhir ini adalah punch line-nya. Cerita ini tentang sebuah kata, kata yang membuat setiap manusia bergidik setiap mendengar atau mengingatnya. Kata ini adalah suatu peristiwa pertemuan yang hanya akan dialami setiap makhluk-Nya, sekali seumur hidup. Yaitu sebuah pertemuan dengan… Malaikat Izrail.

Cerita ketiga : kematian (death). Pada saat usianya 17 tahun, Steve menemukan sebuah quote yang bunyinya kira-kira seperti ini : “Apabila engkau menjalani hidup ini sebagaimana hari terakhirmu, suatu hari kau akan merasa bahwa itu baik/benar.” Selama 33 tahun kehidupannya, setiap pagi di depan cermin, ia selalu menanyakan kepada dirinya sendiri bahwa apakah ia telah menjalani hari-harinya sebagaimana menjalani hari terakhirnya. Dan ketika jawabannya adalah “Tidak”, maka ia tahu bahwa ia harus merubah sesuatu agar jawabannya menjadi “Ya”.

Beberapa tahun yang lalu, Steve didiagnosis menderita kanker. Hasil scan memperlihatkan dengan jelas tumor di pankreasnya. Dokter mengatakan kepadanya bahwa kanker jenis ini hampir pasti tidak dapat disembuhkan, dan diperkirakan sisa hidupnya tidak lebih dari 3 sampai 6 bulan. Dokter menyuruhnya untuk segera pulang dan membereskan segala urusan, seperti memberikan isyarat untuk menyiapkan kematian, agar semuanya berjalan mudah bagi keluarga yang akan ditinggalkannya. Dokter yang aneh, mana ada yang mudah untuk sebuah perpisahan?

Suatu sore Steve melakukan biopsy, sebuah metode kedokteran untuk mengambil sedikit sampel sel/jaringan dari dalam tubuh untuk diperiksa. Pemeriksaan dokter dengan mikroskop kali ini memberikan analisis lain, sel kanker-nya berubah sedemikian rupa sehingga menjadi kanker pankreas yang dapat disembuhkan dengan operasi. Maka Steve melakukan operasi itu, dan ia sembuh. Itu lah saat-saat terdekat yang pernah dialaminya di hadapan kematian.

Berikut ini adalah kata-kata Steve tentang pelajaran berharga yang didapatnya.

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Konsep mengingat kematian pada dasarnya adalah konsep menggunakan waktu sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, terlalu sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan tepat. Mungkin dengan cara memanfaatkan hidup ini dengan menjadi manfaat bagi diri sendiri, dan orang lain tentunya. Sehingga kesuksesan akan semakin tertarik mendekati pusat gravitasi orang-orang ini, seiring dengan semakin luasnya manfaat yang diberikan.

Dan kemudian, bisakah kata “manfaat” ini diganti dengan kata “amal”? Kalau bisa, maka saya ingin mengucapkan : Selamat beramal…

*** End ***

Reference :
http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505