Masih Ada Orang Baik di Taipei

Monday, January 21st 2008

Tentunya bukan orang yang dengan sengaja ngambil sepeda saya tanpa ijin beberapa bulan yang lalu. Entah karena sudah tua sehingga daya ingat berkurang, atau memang lagi apes sehingga dengan cerobohnya saya meninggalkan barang itu di kelas. Foto bersama di kelas beberapa minggu yang lalu, tepatnya di hari Rabu tanggal 9 di kelas Prof. Feng, adalah hari terakhir di mana saya melihat barang berharga itu. Sudah cukup tua memang, dibeli 4 tahun yang lalu di Roxy, Jakarta. Tapi bukan masalah tua atau tidaknya sehingga barang itu masih berharga buat saya sampai sekarang, melainkan karena barang itu adalah hasil jerih payah menabung selama beberapa tahun dari uang jajan yang saya sisihkan.

Mungkin dia sengaja menghilang, melarikan diri dari saya. Sekitar bulan Desember ketika ada pertandingan olahraga antar Overseas Chinese di Taida, dia pernah jatuh terpelanting dan kemudian terlindas oleh sepeda yang saya naiki karena saya terburu-buru untuk sampai ke lapangan. Atau dia sebal karena dicuekin setiap kali dia mencoba membangunkan saya untuk salat Subuh. Mungkin itu sebabnya dia ngambek dan nggak mau melihat saya untuk beberapa saat. Memberikan sedikit pelajaran kepada saya bahwa segala sesuatu baru akan terasa sangat berharga ketika dia menghilang. Apa mungkin dia bisa membaca pikiran saya? Mumpung lagi di Taiwan, elektronik murah, saatnya beli yang baru >:)

Saya pernah baca blog-nya Pak Budi di mana dia menamai laptop dan komputer miliknya serta memberinya jenis kelamin. Kalau barang yang saya miliki ini, saya rasa dia perempuan. Buktinya, dia ngambek karena saya berpikir akan berpoligami. Tapi saya pikir2, repot juga kalo poligami. Toh kalo di sini yang bisa dipakai hanya satu, karena yang lainnya hanya bisa dipakai di Indonesia.

Saat dia menghilang, asa muncul dan tenggelam silih berganti. Ternyata sulit juga untuk bersikap ikhlas. Ikhlas bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kehendak-Nya. Sesekali bersikap ikhlas, tapi lain kali tidak ikhlas. Atau ikhlas dengan catatan, berharap mendapatkan yang lebih baik. Hmmm… seharusnya kan tidak begitu, kalo begitu sih sama saja tidak ikhlasnya.

Alhamdulillah, dia berada di tangan yang benar. Yang mengambilnya punya niat baik untuk mengembalikan kepada pemiliknya. Masih anak Taida juga, satu jurusan. Tadi pagi saya terima emailnya, lalu saya balas. Saya rasa dia tahu email saya dari profil yang saya tulis di situ. Malamnya dia telfon ke dormitory, saya bilang saya akan ambil ke lab-nya, di gedung EE2 ruang 232. Dan di situ lah saya bertemu kembali dengannya setelah lebih dari 10 hari menghilang. Ya, ya… tampaknya masih harus mengurungkan niat buat beli yang baru…


Si dia yang menghilang dan telah kembali.

Jumat kemarin, entah karena sudah tua sehingga daya ingat berkurang, atau memang lagi apes sehingga dengan cerobohnya saya meninggalkan barang yang lainnya di masjid. Payung saya ketinggalan di sana, dan baru sadar ketika sampai di dorm. Yo wis lah, berharap saja, semoga masih ada orang yang baik (lainnya) di Taipei…