Winner without Trophy

Tuesday, December 18th 2007

Sabtu-Minggu kemarin, di NTU diselenggarakan turnamen olahraga antar para student yang berasal dari overseas chinese (i.e., Hongkong, Macau, Malaysia, dll). NTUFSA diundang untuk berpartisipasi dalam acara ini. Ada 5 cabang yang dipertandingkan, badminton, pingpong, basket, voli, dan sepakbola. Saya ikut cabang yang disebutkan terakhir.

Sabtu, hari pertama diselenggarakannya turnamen ini, tim NTUFSA dari cabang lain mulai berguguran. Tim voli dan basket terkena diskualifikasi karena kurangnya jumlah peserta. Sedangkan tim badminton tidak mampu berbicara banyak, dan hanya menyisakan satu nomor yang berhasil survive yaitu di ganda putra yang diwakili oleh pasangan Malaysia-Vietnam. Harapan lain bertumpu pada tim sepakbola. Pertandingan pertama dilalui dengan minimnya gol. Tim kami hanya mampu menang satu gol atas tim gabungan Hongkong-Macau. Mungkin karena belum ada saling pengertian dan kerjasama yang baik antar pemain. Maklum, tidak ada persiapan menjelang kompetisi ini. Di pertandingan kedua, tim kami sukses menghancur leburkan tim Malaysia dengan 5 gol tanpa balas. 2 kemenangan itu membuat kami masuk ke semifinal.

Berkomposisikan skuad dari 4 benua (minus Australia) mewarnai sebuah permainan sepakbola gado2 dari tim ini. Skuad NTUFSA terdiri dari 2 orang Spanyol, 1 Kosta Rika, 4 Vietnam, 2 Indonesia, 1 Kolumbia, 1 Irak, 1 Afrika Selatan. Tidak salah kalau Spanyol merasa memiliki 2 agama di negaranya. Agama sebagai kepercayaan, dan juga sepakbola. Karena kedua orang Spanyol itu lah inspirator tim ini. Kami bermain dengan formasi 2-3-2 (8 orang/tim) menggunakan setengah lapangan.

Hari kedua, pada pertandingan semifinal entah lawan tim mana, setelah unggul 1-0 dan kemudian disamakan menjadi 1-1, akhirnya babak pertama berakhir dengan kemenangan, 3-1. Di babak kedua tim kami menambah 4 gol lagi tanpa kebobolan. Hasil akhir, 7-1.

Jam 12 lewat 15, matahari bertahta di tengah langit Taipei. Debu pasir terbang hilir mudik di tengah lapangan yang sudah tidak menyisakan rumput. Seperti di makan kambing2 kurban. Siang itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pertandingan final pun akhirnya dilangsungkan. Babak pertama berlangsung mudah bagi kami, 3-0. Tapi indahnya babak pertama tak seindah babak kedua. Tim kami mencetak 2 gol lagi. Tidak, kita tidak menambah selisih gol jadi 5, tapi mengurangi selisih gol menjadi 1! karena 2 gol itu bersarang di gawang sendiri. Untungnya ketika saat wasit meniup peluit panjang, hasil akhir tidak berubah. Kami menang 3-2.

Mimpi mengangkat piala selayaknya juara Piala Dunia diiringi lagu We Are The Champion, serta menerima medali pun ter-bayang2 oleh teman2 ketika kita sedang bersantai sebelum pertandingan final di mulai. Sayangnya, mimpi tinggal lah mimpi. Tim kami didiskualifikasi karena koordinator kami ikut bermain di babak final karena kekurangan orang akibat ada pemain kami yang cedera. Yo wis lah… mungkin memang sudah nasib…

Minggu malam, badan serasa remuk redam. Akumululasi rasa capek akibat main bola 2 hari berturut-turut, dan ditambah bersepeda ke Jiantan di hari Sabtu paginya. Kaki-tangan-badan pegel2 semua, tapi MU vs Liverpool nggak boleh terlewatkan untuk disaksikan. Akhirnya nebeng nonton di kantin NTUST. It was worth it, MU menang. Tapi walaupun toh MU menang, badan ini nggak merasa lebih baik. Tetep aja pegel2.

Tags: