Setahun Yang Lalu…

Thursday, November 15th 2007

Postingan ini adalah repost dari setahun yang lalu di blog saya yang lain. Saya publish kembali dengan tujuan me-recharge energi saya yang hilang. Ya… energi untuk menjadi seperti Beliau, walaupun tidak akan pernah sama seperti Beliau. Energi untuk meneruskan cita2 Beliau, even though it must be hard to fulfill. He was my Grand Teacher. The teacher of my previous supervisor when I was in STEI-ITB, Pak Irman Idris. Ketika saya masih asyik2nya nge-lab di PAU buat ngerjain skripsi, setahun yang lalu di tanggal yang sama dengan hari ini di tempat lain, telah pergi Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih…

(In memoriam Prof. Samaun Samadikun, 1931-2006)
Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof. Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta. Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah berakhir.

Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu… Kastam sebenarnya tidak pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini nanti ya… OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We need these laughters for the things to come…

Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang menyiapkan diri. Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat kehilangan beliau betul-betul merasuk….

Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah semua tenang.

Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.

Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai. Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti. Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno. Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup? Tidak heran, banyak memilih diam…

Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah. Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan. Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari teknologi ini.

Ah, deru perang membahana. Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini teknologi tinggi. Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika. Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa… Sang panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya. Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama…

September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi. Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan tiba di puncak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai memanggilnya pulang….

November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk. Wah prof Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof. Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat. “Take good care of your health”, katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan seperti itu, so I better listen. “I will be watching you form above..” katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, “tidak pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!” Rupanya itu percakapan terakhir…

Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahagiakannya daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this war.

Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang lain itu bukan saja basah… tsunami, pak… Bukan saja kecipratan, bapak menghindarpun akan basah kuyup.

Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting daripada memperkaya diri sendiri. Oh boy, how he has lived through this credo…

Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah… If you ever need to preach about living full of integrity, just visit his house for five minutes folks.

Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe me or not, I don’t really care.. pokoknya tidak pernah.

Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh diketawai. Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain sama dengan kita? We felt so stupid.

Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat. Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.

Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth, beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah mencapai Rp. 400 juta lebih. Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!

Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.

Betapa kaya nya Prof Samaun. Semua membantu beliau dengan diam-diam. Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Saya tidak pernah tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua. Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya. Ah, sang mahaguru, dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari….

Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah, betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya. Terimakasih… Terimakasih….

Di ufuk barat awan kembali memerah… Dari kejauhan ia melambaikan tangannya. Bala tentara melambaikan penghormatan pada panglima besar. Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang. Ah, Ia sudah menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia sudah tiba di sana… panglima kita sudah tiba di sana…

Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75 tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.

Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangani saya. Kamu punya eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih. Betul kan, seminggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis. Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau kompromi.

Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur, terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun.

Terimakasih Tuhan, terimakasih…

Bandung, 20 November 2006.
AZRL

*****

Artikel yang saya publish ini sudah mendapatkan izin dari penulis aslinya, yaitu Armein ZR Langi. Beliau adalah dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika – ITB, dan juga merupakan pengajar saya ketika tingkat 3 untuk mata kuliah Pengolahan Sinyal Digital.