Aku/Saya/Gua/Gue/Gw

Saturday, November 10th 2007

Aku/Saya/Gua/Gue/Gw, sampai sekarang saya masih bingung pakai yang mana kalo mau nulis di blog ini. Bukan apa2, cuma kok bacanya agak janggal aja. Kata “aku” misalnya, ketika dipakai sebagai kata ganti orang pertama tunggal (pelajaran SD banget…) rasanya terlalu kaku. Kalo pakai kata “saya”, hmmm… kurang luwes dan kesannya terlalu formal. Pakai kata “gua” atau “gue” (“gw” merupakan gaya penulisan “gue” yang lain), sense-nya nggak enak ah kalau dibaca sama orang2 yang lebih tua. Kaya’ banyak yang baca aja…

Kalau seandainya kata2 tersebut dikastakan menjadi 3 bagian di mana tingkat tertinggi (3) adalah paling formal, dan tingkat paling bawah (1) adalah gaya bahasa yang non-formal, maka aku akan memasukkan kata “aku” dan “saya” ke level 3, sedangkan “gua” dan “gue”, masuk ke level 1. Terus ke mana level 2? Buat gua, no options suitable for level 2.

Terus terang, Philips terang terus, gue lebih suka dengan bahasa Inggris yang hanya punya dua jenis kata sebagai kata ganti orang pertama yaitu, “I” dan “me”. Dan 2 kata itu sudah punya fungsinya masing2 dalam sebuah kalimat yang tidak mungkin bisa di-tukar2. Jadi mau formal ataupun non-formal, semua bisa dicover dengan “I” or “me”. Ini lah yang paling cocok untuk masuk ke level 2 dalam kasta yang saya bikin di paragraf sebelumnya.

Diversity, keanekaragaman suku dan budaya memang membuat bangsa Indonesia kaya dalam bahasa. Dan secara tidak terasa, ada bahasa2 daerah yang masuk mempengaruhi sense dalam berbahasa sehari-hari. Seperti “gua” dan “gue” yang sudah menjadi bahasa resmi warga Jakarta, meskipun kebanyakan dari mereka bukan orang Betawi. Kata tersebut juga menjadi pilihan untuk para remaja baik di sekolah maupun di kampus dalam pergaulan sehari-hari. Ya, karena pergaulan tidak butuh bahasa resmi yang kaku.

So, mungkin kita perlu mengadaptasi bahasa (daerah atau negara) lain untuk bisa menempati kasta level 2 untuk kata ganti orang pertama tunggal. Seperti “awak” misalnya…